
Nathan mengerjakan semua pekerjaannya dengan bibir yang mengerucut sebal. Bahkan sesekali sisi bibirnya terangkat sembari bergumam tak jelas. Sedari pagi juga dia mengomel untuk hal-hal remeh yang bahkan sebelumnya dia tidak pernah perduli. Entah dari mana sosok lain itu datang, seakan Nathan pendiam dan dingin itu berubah menjadi nenek-nenek penagih uang kontrakan. Apalagi saat Sammy atau yang lain mengatakan dokumen yang salah. Dia tidak henti-hentinya mengoceh tak karuan sembari menunjuk-nunjuk dengan jari telunjuknya.
Sammy membanting pintu ruangannya dengan kasar. Ini benar-benar pertama kali untuk Sammy menyaksikan Nathan yang dalam sehari bisa berubah seratus delapan puluh derajat. Lama Sammy memikirkan sebab yang membuat Nathan menjadi gila. Dan pada akhirnya dia bisa menyimpulkan apa alasan Nathan berubah drastis.
" Ivi! " Sammy tersenyum lalu mengangguk-angguk karena sepertinya dia sudah paham sebab dari Nathan yang dulunya adalah patung batu berlumut, sekarang sedikit demi sedikit mulai melentur dan terisi nyawa.
" Aku rasa gadis ayam goreng itu benar-benar berguna ya? sepertinya takdir akan terus mendekatkan mereka. Dan akulah takdirnya hahaha. Berly, sebentar lagi cinta monyet mu akan memiliki pasangan. Kita juga harus jadi pasangan loh ya.. " Sammy terkekeh sendiri dengan ucapannya.
***
" Hatchi...! hatchi....! hatchi.... " Ivi yang sedari tadi ingin menyuap makan siangnya kesusahan karena harus menggosok hidungnya yang terasa gatal karena terus saja bersin.
" Bangkai buduk! siapa sih yang sedari tadi membicarakan ku tanpa henti?! heh! pasti salah satu pengemar ayam goreng alias Upin dan Ipin. "
Setelah hidungnya berhenti bersin, Ivi dengan cepat menyuapkan nasi dan lauk kedalam mulutnya. Seperti biasa, dia hanya akan memakan makanan yang sudah di siapkan oleh Ibunya. Bukan tanpa alasan, semenjak Ayahnya divonis sakit paru-paru, Ivi dan Dodi bekerja sama untuk mencari uang dan mencoba sekuat tenaga untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Ivi memberikan semua gajinya kepada Ibunya untuk kebutuhan dapur, Dodi memberikan semua gajinya untuk biaya pengobatan Ayahnya. Sebenarnya Ayah mereka bukanya tidak berpenghasilan, hanya saja karena kondisi yang tidak meyakinkan, dia memutuskan untuk mencari uang dengan cara yang mudah dan tidak menguras tenaga. Seperti yang sedang Ayah lakoni sekarang ini, dia hanya duduk menunggu tempat pemancingan.
Setelah menghabiskan makan siangnya, Ivi langsung merah sebotol air mineral dan menenggaknya. Jika saja ada Ibunya, dia pasti akan mengomel karena cara makan Ivi seperti preman dan terkesan buru-buru. Sebenarnya keadaan ini juga bukan dia yang mau. Takdir kejam lah yang memaksanya untuk jadi seperti sekarang ini. Dia tidak lagi memiliki waktu untuk merias wajah atau bahkan memakai baju feminim yang modis. Apalagi setelah terang-terangan Bien menolaknya kemarin, dia benar-benar merasa tidak penting memikirkan percintaan yang mengaitkan. Fokusnya hanya mencari uang yang banyak sampai tangannya kejang setiap kali menghitung uang miliknya.
" Ngomong-ngomong, kerja apa ya yang bisa menghasilkan banyak uang tapi santai? " Ivi memangku wajahnya mencari jawaban dari pertanyaannya.
" Merampok? siapa yang mau aku rampok? Bos Ira? hah tidak mungkin. Hipnotis, tidak punya keahlian itu. Ah! kriminal semua yang ada di otakku! "
Ivi mengacak rambutnya frustasi. Sebenarnya dia sangat membutuhkan uang untuk biaya pengobatan Ayahnya. Pagi tadi dia mendengar Ibu dan Ayahnya membicarakan soal penyakit Ayahnya yang semakin memburuk. Ivi memang selalu terlihat tegar dan lugu, tapi dibalik itu semua juga ada sisi yang lain. Sisi yang terpuruk karena masa lalu yang menyakitkan. Tapi karena pria yang ia panggil Ayah itu selalu memberinya semangat dan kebahagian lewat canda tawa serta kasih sayang yang ia berikan dengan begitu lembut. Lalu bagaimana dia bisa membiarkan Ayahnya pergi meninggalkannya?
Ivi tertunduk karena tak kuasa menahan air mata yang jatuh ke pipinya.
" Dasar air mata sialan! berani sekali keluar tanpa izin! " Ivi menghapus air matanya dan mengambil nafas teratur agar tak lagi menangis.
" Ayah, aku akan menjadi Cinderella agar punya banyak uang. Sampai saat itu tiba, tolong bertahanlah. "
Seorang pria yang tak senagaja mendengar itu akhirnya tersenyum penuh makna.
" Wah, mencuri waktu untuk pergi ke Hot chicken ternyata bisa dapat banyak untung ya? " Ucap pria itu yang tak lain adalah Sammy.
Perlahan Sammy berjalan mendekati Ivi yang masih saja menggerutu tak jelas. Sammy menepuk pundak Ivi dan membuat gadis itu menoleh ke arah Sammy. Ivi menghela nafas kasarnya karena merasa sebal dengan adanya pria yang sudah ia terapkan sebagai Upin.
" Upin, akhir-akhir ini kau seperti oksigen ya? ada dimana-mana. "
Sammy tersenyum lalu duduk disamping Ivi. Tentulah Ivi langsung memalingkan padangan karena tak mau ada yang menyadari jika dia sempat menangis sebelumnya.
" Cita-citamu sangat unik ya? tapi aku bisa membantu mu loh. " Sammy menaikan kedua alisnya dengan bibir tersenyum.
" Apa maksud mu? kau akan mempertemukan ku dengan pangeran tampan yang kaya raya dan hidup serta tinggalnya di kastil begitu? "
Sammy menghela nafasnya sebelum memulai ucapannya. Bagaimana tidak? otak Ivi itu terlalu ke kanak-kanakkan. Kastil? memang benar sih rumah milik Nathan Chloe itu mirip kastil. Apalagi furniture nya yang didatangkan dari beberapa belahan dunia.
" Pangeran tampan yang aku maksud adalah pria yang tinggal di rumah mewah. Apa kau tertarik? "
" Tertarik untuk apa? " Tanya Ivi bingung.
" Tidak mungkinkan gadis imut dengan tubuh aduhai bak papan pengilasan ini dinikahkan dengan paksa? aku ini terlalu imut untuk di nikahkan sekarang. Lagi pula usiaku baru dua puluh tiga tahun loh. "
Sammy berdecih heran mendengarnya. Dilihat dari manapun, Ivi memang tidak memiliki kelebihan dari penampilan. Tapi caranya berucap begitu sopan meski dengan nada yang cenderung mengajak ribut. Tidak tahu memang apa yang bisa membuat Nathan berubah karena Ivi? tapi tidak ada salahnya jika di coba lebih jauh dan melihat bagaimana hasil akhirnya.
" Aku ingin pagi, siang, dan malam kau mengantar Ayam goreng untukku dan teman ku. "
" Apa?! kalian benar-benar Upin dan Ipin ya? kenapa kalian suka sekali ayam goreng? "
Sammy menarik nafas dan menghembuskan perlahan. Dia mencari kekuatan untuk menjelaskan apa maksud dari permintaanya tadi.
" Begini, kau hanya perlu banyak muncul dihadapan teman ku. "
Ivi mengeryit bingung mendengar permintaan aneh Upin di depannya itu.
" Maksudnya?! kau mau membuatku menjadi gadis penggoda?! harusnya kau lihat dulu betapa tidak pantasnya aku menjadi wanita seperti itu. "
Kembali Sammy mengelus dada agar bisa lebih sabar lagi.
" Aku kan hanya meminta kau sering datang, bukan menggoda. Lagi pula, apa laki-laki akan tergoda dengan tubuh mu yang seperti angka satu itu. "
Ivi mendengus kesal mendengar ucapan Sammy yang seeatus persen benar. Tapi kan tidak perlu terllau jujur kalau hasilnya akan menyakiti. Batin Ivi menggerutu.
" Apa imbalannya untukku? " Tanya Ivi yang sudah enggan berbosa-basi.
" Aku akan memberikan uang sebanyak yang kau butuhkan. Tapi, kau tidak boleh mundur sebelum aku memerintahkannya. "
To Be Continued.