Touch Me!

Touch Me!
Ready



Lexi dan si gadis cantik yang baru ia ketahui namanya adalah, Karin. Mereka kini tengah menikmati makan siang bersama di kantin kantor. Mereka asik mengobrol kesana kemari tak jelas. Sesekali tertawa dan si gadis dengan malu-malu memukul lengan Lexi.


Sialan! disini tertawa se enak jidat! dan kau menyuruh ku mengerjakan tugasmu yang belum selesai? sungguh suami miskin akhlak! Lihat saja bagaimana aku menghancurkan momen bahagia mu!.


Devi membawa sepiring nampan yang tentu saja sudah berisi makanan. Dia berjalan dengan percaya dirinya menuju meja di ujung ruangan yang hanya berisikan Lexi dan si gadis cantik secantik putri duyung itu, hah! karena dia sudah menggoda suaminya, tentu saja bukan putri duyung, bagaimana kalau dugong?


" Aku mau makan disini juga! " Seru Devi yang kini sudah berada disamping Lexi, dia menatap Lexi tajam seolah berkata, Geser! Lexi hanya bisa pasrah menggeser tubuhnya. Jujur, dia tidak merasa terganggu dengan adanya Devi. Kenapa? karena dia benar-benar tidak nyaman harus mengobrol dan berpura-pura mengerti seolah tertarik dengan topik yang Karin bicarakan sedari tadi.


Tentu saja kehadiran Devi sangat membuat Karin keberatan. Gadis itu menatap Devi sebal. Ini adalah momen paling langka di perusahaan Chloe, karena sebelumnya Lexi ataupun Nath tidak pernah mau makan di kantin bersama pegawai lain.


" Asisten sekretaris ya? " Gadis itu bertanya tapi dengan wajah sebal.


" Iya. " Jawabnya jutek. Devi meraih sendok dan garpu lalu membalas tatapan tak suka dari Karin. Bukan Devi namanya jika merasa takut hanya karena tatapan bocah tengil seperti Karin.


" Bisakah makan di tempat lain? "


Jlep...!


Devi menusuk kuat potongan daging hingga membuat piringnya bergetar, gadis itu menyuapkan daging dari garpunya dengan tatapan layaknya singa yang sudah mengintai Mangsa selanjutnya. Tentu saja, Karin merasa takut melihat wajah Devi yang seperti seorang pembunuh manusia sedang menikmati dagingnya.


" Setahuku, semua yang ada di gedung perusahaan Chloe, adalah milik keluarga Chloe. Kau siapa melarang ku? " Gadis itu mengibaskan rambutnya dan terlihatlah tanda merah yang Leci tinggalkan untuknya.


Gadis itu tersenyum sembari menatap jijik tanda merah yang sudah jelas kalau itu bekas ciuman dai pria.


" Assek, " Atau kependekan dari Asisten sekretaris.


" Apa kau tidak mendapatkan kepuasan semalam? " Gadis itu melemparkan senyum sinis kepada Devi.


Kompak saja, Devi dan Lexi tersedak secara bersamaan. Mereka sesaat saling menatap. Lexi memilih untuk kembali fokus menikmati makan siangnya dan hanya menjadi pendengar. Sementara Devi, dia menjadi lebih semangat dibuatnya.


" Dari mana kau tahu? "


Karin berdecih sinis. " Melihat tanda merah di lehermu yang hanya satu itu, aku rasa kekasihmu sudah menyerah sebelum berperang. "


Lexi membulatkan mata menatap Karin yang asal bicara.


Mana ada aku menyerah?! aku tidak selemah itu loh ya! itu semua karena nenek lampir yang datang tiba-tiba!


" Sebenarnya, suamiku itu adalah seorang homo. "


Kini Lexi menatap Devi tajam.


" Aku juga penasaran, tongkat ajaibnya berdiri atau tidak ya saat aku berciuman semalam? "


Gadis itu tersenyum dengan maksud menghina.


" Mungkin suamimu itu impoten, atau dia tidak memiliki hasrat karena kawan ranjangnya adalah kau. "


Devi hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.


Leci hanya bisa menahan nafas dan menghembuskannya kasar.


Impoten? aku impoten? sialan! kenapa kau manggut-manggut?! yang sedang dia hina adalah suamimu!!!


" Aku sepat berpikir, apa aku cari pria lain dulu saja ya? " Ujar Devi sembari berpikir.


" Kau sudah gila atau apa?! mau cari pria lain untuk apa?! memuaskan mu? aku bisa melakukanya! jangan sembarangan mengiyakan jika ada orang lain yang mengatai suamimu impoten! kau menyumpahi suamimu atau apa?! " Tanya Lexi yang sudah tidak tahan lagi mendengar pembicaraan mereka.


Karin melongo mendengar Lexi bertanya dengan suara yang sangat lantang. Bukan hanya Karin, bahkan hampir semua pegawai yang ada disana menatap Lexi dengan tatapan bingung. Berbeda dengan Devi. Gadis itu tersenyum seolah sudah bisa menebak apa yang akan terjadi.


" Sekretaris Lexi, kenapa anda marah? kita sedang membicarakan suaminya Assek kok. " Karin yang kebingungan hanya bisa mencoba menenangkan Lexi yang terlihat marah.


Lexi menjauhkan nampan makan siangnya.


" Aku sudah selesai. " Pria itu berjalan meninggalkan meja makan dan berlalu tanpa mengakan apapun lagi.


Devi juga menjauhkan nampan makan siangnya lalu mengikuti langkah kaki Lexi. Tak mengatakan apapun juga, kakinya hanya melangkah tepat dibelakang pria tinggi besar itu. Matanya terus menatap punggung Lexi sembari mengamatinya.


Benar juga yang Vanya dan Sherin katakan. Tubuh Lexi memang bagus, dia juga selalu wangi di setiap saat.


Mereka masih tak bicara sampai mereka sampai diruang kerja. Lexi kembali fokus dengan pekerjaannya begitu juga dengan Devi. yah, walaupun mereka kadang masih mencuri pandang. Kegiatan itu berlangsung hingga sampai waktunya pulang kerja. Lexi yang sebenarnya masih kesal karena apa yang terjadi di kantin, hanya bisa berkata mengenai pekerjaan. itu juga dia ucapkan sesingkat mungkin. Sementara Devi, lama kelamaan dia menjadi merasa bersalah. Jujur, dia memang menikmati apa yang dia lakukan tadi, tapi melihat Lexi yang hanya diam, membuatnya merasa tak enak hati dan merasa bersalah.


Diperjalanan pulang pun dia tetap diam. Ditambah Devi yang tidak bisa mencairkan suasana, malah membuat keheningan itu semakin terasa. Bahkan, helaan nafas yang halus juga begitu terdengar. Devi benar-benar tidak habis pikir karena Lexi yang begitu sensitif itu.


" Kau mau tunggu disini atau mau ikut ke dalam? " Tanya Lexi, kebetulan harus mengantar beberapa file ke apartemen Nath.


Tentu saja gadis itu memilih untuk ikut dari pada menunggu di parkiran. Lexi dan Devi tidak masuk ke apartemen karena Nath sudah memberikan pesan untuk tidak mengganggunya terlalu lama. Tentu saja Lexi sudah paham apa maksutnya. Pria itu hanya bisa mendendam karena iri.


Sesampainya dirumah, Lexi lebih dulu mandi dan berharap semua yang kurang menyenangkan ikut bersih dari dirinya. Setelah Lexi selesai, Devi juga melakukan hal yang sama. Saat mandi Devi terus saja berpikir, yang dia lakukan memang sangat keterlaluan. Tapi dia juga sulit menahan diri untuk tidak menimbrung acara makan siang Lexi dan Karin. Entah perasaan apa yang ia miliki untuk Lexi. Dia tidak pernah mengalai semua ini, perasaan aneh yang dia sendiri tidak mengerti.


Saat Devi keluar dari kamar mandi, dilihatnya Lexi yang sedang tertidur tapi membelakangi arahnya. Devi menarik nafas lalu berjalan mendekati lemari. Dengan segenap keberanian yang terkumpul, Devi meraih lingerie pemberian Vanya. Sebenarnya dia benar-benar tidak sudi memakai ini, tapi apalagi yang bisa ia lakukan jika tidak mengikuti saran Vanya? tidak ada pilihan kain, Devi memakai lingerie itu meski dia benar-benar sangat malu melihat tubuhnya yang seperti tidak ada penghalang untuk menjaga jarak pandang.


Devi menarik nafas dan menghembuskan perlahan mengusir rasa gugupnya. Perlahan dia naik ke atas tempat tidur dan duduk bersimpuh di depan punggung Lexi.


"Lex, " Devi meraih lengan Lexi lalu menggoyangkannya.


Lexi yang sebenarnya juga belum tidur hanya bisa menjawabnya singkat. " Hem? "


" Aku ingin bicara. "


Nampak terdengar helaan nafas Lexi sebelum menjawab. " Apa? "


Sialan! terpaksa aku harus melupakan harga diriku yang setinggi langit itu.


" Bicara saja, telingaku akan mendengar. "


" Tidak bisa! bangun dan lihat aku! "


Lexi kembali menghela nafas tanpa ingin membalikkan tubuhnya. Devi yang sudah merasa kesal, akhirnya tidak mau lagi membuang tenaga untuk membujuk. Dia meraih lengan Lexi. Menariknya dan membuat tubuh Lexi berubah posisi menjadi terlentang. Devi naik ke atas tubuh Lexi dengan wajah yang tertunduk malu.


Lexi menatap tubuh Devi yang benar-benar terlihat begitu transparan walau ada kain tipis yang menghalanginya. Sungguh, Lexi tidak bisa mengontrol dirinya karena melihat tubuh Devi. Terlebih, Devi menduduki sesuatu yang harusnya tidak boleh ia singgung.


Lexi membangkitkan setengah tubuhnya dan meraih tengkuk Devi. Pria itu tanpa permisi langsung menyergap bibir yang kemarin membuatnya tidak karuan. Devi yang sudah bisa menebak hanya bisa mengikuti apa yang seharusnya ia lakukan.


Lexi melepas panggutan nya dan menatap Devi.


" Pastikan ini tidak akan gagal, kalau sampai itu terjadi, maka aku akan benar-benar menjadi gila. "


Devi mengangguk pasrah. Untunglah dia sempat membaca pesan Vanya untuk mengunci pintu sebelum Lexi keluar dari kamar mandi.


To Be Continued.


Hallo Reader,...


Tadinya mau aku up buat besok, tapi karena hari ini othor sedang bahagia, maka jadilah othor up lagi.


Jangan lupa komen dan Like yang banyak ya...🤭


Se u and lopek you kesayangan ❤️


Jangan lupa bahagia dan jaga kesehatan ya ❤️❤️