
Ivi dan Nathan duduk berdampingan dengan perasaan gugup. Iya tentu saja gugup. Tanpa mereka sadari, ternyata Ayah, Ibu, Sammy dan dua adik kembarnya menguping, oh bukan! menonton secara langsung saat dia dan Ivi tengah berbicara. Untung saja, Nathan dan Ivi tidak terlalu kelepasan seperti biasanya. Batin Nathan bersyukur.
Vanya dan Nath, atau yang sekarang memiliki gelar sebagai Tuan dan Nyonya Chloe, hanya bisa memandangi sepasang anak manusia yang tengah canggung dan malu. Benar, rasanya seperti ada sesuatu yang menggelitik bagi Nath dan Vanya. Rasanya kembali muda saat melibat Nathan dan Ivi dalam keadaan seperti ini. Tak bisa dipungkiri, melihat Nathan yang tertarik dengan Ivi membuat mereka lebih bahagia dari pada apapun.
" Jadi, kapan kalian akan menikah? " Tanya Vanya. Sebenarnya kalau boleh menikahkan mereka malam ini juga, maka sudah pasti akan Vanya lakukan. Kenapa? tentu saja dia takut anak laki-laki satu-satunya itu berubah pikiran. Maklum saja, Nathan juga termasuk orang yang plin-plan kalau mengenai wanita.
Ivi menatap manik mata Vanya atau calon Ibu mertuanya dengan tatapan bingung. Dia pikir, Vanya adalah wanita kaya dengan Image yang memang sudah terkenal seperti kebanyakan orang kaya lainya. Tidak disangka, selain cantik, dan terlihat muda, Nyonya Vanya memiliki tutur kata yang baik kepada semua orang. Bahkan dia bisa begitu lembut kepada Ivi yang baru pertama kali ia temui.
" Nyo Nyonya tidak keberatan memiliki menantu sepertiku? " Tanya Ivi heran. Iya tentu saja dia heran. Kalau dibandingkan dengan Salia, tentu saja bagaikan hama dan pohon kelapa yang menjulang tinggi.
" Kami malah berterimakasih padamu, anak manis. Takutnya kalau bukan menikah dengan mu, anak kami akan menjadi bujang lapuk. " Sela Nath tanpa ekspresi. Dan ya, tentulah Ivi kebingungan mengartikan kata-kata Tuan Chloe. Dia ini ia sedang bercanda atau apa sih? batin Ivi.
Vanya menahan tawanya lalu menyikut lengan suaminya. Tentulah Vanya sangat paham kalau Nath tengah bercanda. Sementara Nathan, pria itu tak henti-hentinya menatap sebal kepada sang Ayah yang selaku saja mengejeknya. Memang hanya sebatas itu mereka berdua, terlihat jarang sekali akur seperti kucing dan anjing yang tidak ada alasan untuk bersama. Tapi lain hal kalau Nathan sedang berada di dalam masalah. Nath akan benar-benar menjadi sosok pria tangguh yang tidak kenal takut demi putra dan juga putrinya.
" Jadi, bagaimana kalau kalian menikah lusa? kau tenang saja, Ivi. Semua keperluan pernikahan kalian akan ada orang yang mengurusnya. Sekarang kalian hanya perlu datang ke butik dan mencari gaun yang cocok untuk mu. " Ucap Vanya lalu menyentuh punggung tangan Ivi dengan lembut.
Nyonya Chloe, saya tidak menyangka kalau anda adalah orang sebaik ini.
Ivi tersenyum lalu mengangguk.
" Baik, Nyonya Chloe. "
Vanya mengeryit lalu mengusap pipi Ivi pelan.
" Bukan Nyonya, tapi Ibu. "
Ivi semakin dibuat terperangah kagum dengan sikap lembut calon Ibu mertuanya itu. Jujur baru kali ini dia melihat orang yang super kaya begitu lemah lembut dan tidak perduli asal usul Ivi yang jauh dari kata cukup.
" Ba baik, Ibu. " Ivi tersenyum memandangi Vanya yang juga tersenyum lembut kepadanya.
" Baiklah, kalian lanjutkan saja obrolan kalian tadi. Ayah dan Ibu harus segera kembali ke kamar. Hari ini kami mengurus banyak hal, jadi kami benar-benar lelah. " Ivi mengangguk lalu menatap kedua punggung itu menjauh. Sungguh dia merasa amat beruntung karena telah diterima dengan baik di keluarga kaya raya yang tidak pernah sedikitpun pernah terlintas di otaknya. Baginya berpacaran dengan kakak Bien yang seorang pemilik kafe saja sudah sangat ketinggian mimpinya.
" Ehem! "
Ivi menoleh ke arah samping, dimana Nathan berada sedari tadi.
" Kenapa? "
" Tidak ada. "
Ivi menghela nafasnya. Sadar sungguh dia sadar telah membuat keputusan besar dalam hidupnya semakin cepat terjadi. Tapi mau bagaimana lagi, ada sesuatu yang harus ia lakukan dan salah satunya adalah menikah dengan Nathan secepat mungkin.
Salia Marhen, lama tidak berjumpa.
" Ivi.. " Panggil Nathan.
" Kenapa kau memutuskan untuk mempercepat pernikahan kita? "
Ivi menatap manik mata Nathan yang sepertinya sangat penasaran. Tapi tidak mungkin dia menceritakan yang sebenarnya sekarang ini.
Maaf, Nathan. Aku sekaligus memanfaatkan mu untuk memancing beberapa orang yang ingin aku lihat. Aku ingin melihat bagaimana mereka hidup selama ini. Aku yakin, jika aku menikah dengan mu, mereka akan bermunculan meski tujuannya adalah menyerang ku.
" Karena aku tidak mau melihat mu dekat dengan Salia. "
Nathan sontak bersemu merah pipinya. Tidak tahu benar atau tidak apa yang dia pikirkan karena ucapan Ivi.
Apa dia cemburu?
" Memang kenapa kalau aku dekat dengan Salia? " Nathan memalingkan wajahnya agar Ivi tidak bisa melihat rona merah di pipi yang membuatnya malu.
" Karena kalau kau dekat dengan dia, kau seperti anak babi yang ekornya terpotong. "
" Eh? "
" Iya, kau menggeliat ke sana ke sini seperti babi yang ekornya putus. Tubuh mu terus bergerak seolah ingin cepat-cepat lari. Kau juga terlihat seperti sedang mengobrol dengan hantu tadi. Wajah mu sangat pucat dan matamu seperti mata lalat yang sedang pup. " Ucap Ivi lalu tersenyum miring seolah tengah mencibir Nathan.
" Sebaiknya kau jaga kata-kata mu itu. " Kesal Nathan lalu membuang pandangan begitu saja. Padahal dia sudah lumayan bahagia saat berpikir kalau Ivi sedang cemburu. Tidak disangka, jawaban gadis itu malah ingin membuatnya menjadi psikopat yang tidak mengenal ampun.
" Berani-beraninya menyamakan pria tampan sempurna sepertiku dengan anak babi dan lalat. Artis Holywood saja kalau lewat di depan ku akan menunduk hormat, sedangkan kau? kau malah menyamai ketampanan wajah ku dengan lalat. Untung saja tidak ada yang dengar, kalau ada, kau pasti sudah akan di protes karena ucapan mu yang tidak mendasar itu. "
Ivi berdecih laku menaikkan sisi bibirnya.
" Itu hanya pendapat. Tidak perlu se serius itu. " Ivi tersenyum menatap Nathan yang masih saja terlihat sebal.
***
" Sayang, bagaimana kalau Taun dan Nyonya besar Chloe tahu tentang Ivi yang sebenarnya? " Tanya Vanya yang merasa khawatir.
Nathan merangkul istrinya dan mengusap lengan istrinya pelan. Tentulah dia sangat tahu bagaimana ketakutan Vanya saat ini. Bagi Tuan dan Nyonya besar Chloe, Nathan adalah satu-satunya penerus bagi mereka setelah Nath. Mereka pasti akan menentang pernikahan ini kalau sampai mereka tahu.
" Aku sudah menutup informasi tentang Ivi. Semoga saja semuanya akan baik-baik saja. "
Vanya menghela nafas panjangnya. Memang bukan hal mudah kalau perkara cinta. Tapi Vanya ingin anak-anak nya hidup dengan pilihan mereka masing-masing. Tidak perduli kaya atau miskin, yang paling penting anak-anak mereka bisa hidup dengan bahagia maka itu sudah jauh dari pada cukup.
" Nathan terlihat menyukai Ivi. Semoga saja mereka akan bahagia selamanya. "
To Be Continued.