Touch Me!

Touch Me!
S2- Tipe Idealnya Berly



Setelah kejadian tak terduga yang memalukan itu, Nathan dan Ivi terpaksa harus keluar dan menemui Berly yang sudah menunggunya sedari tadi diruang tamu. Tentu saja mereka sangat canggung dan malu. Tapi Nathan juga terlihat sangat kesal. Kesal karena telah diganggu oleh tiga siluman betina yang menyebalkan. Sialan! bahkan kepala nya juga jadi berdenyut sakit karena menahan sesuatu yang seharusnya di keluarkan. Tadinya Nathan ingin melanjutkan saja karena merasa tanggung. Tapi Ivi terus memohon agar berhenti dan menemui mereka sebelum mereka berpikir macam-macam. Mau tak mau Nathan hanya bisa mengikuti apa yang Ivi inginkan meski dia sendiri sangat kecewa. Sekarang yang sedang Nathan pikirkan adalah pindah rumah atau apartemen juga boleh. Dia tidak mau lagi kejadian seperti ini terulang lagi. Padahal sudah hampir satu bulan menunggu, tetap saja ada pengganggu. Sial! kenapa juga tadi lupa mengunci pintu? Batin Nathan yang tiada hentinya bergerundel di dalam hati.


Berly menatap Ivi dan Nathan yang duduk berdampingan dengan perasaan canggung. Oh, ya ampun! bayangan-bayangan kemesraan tadi masih saja berkelebatan di otaknya. Begitu juga dengan Nathania dan Nathalie yang lebih banyak diam karena memikirkan hal yang sama seperti Berly. Sementara Sammy, dia hanya melompong kebingungan karena manusia-manusia di dekatnya tidak ada yang bicara. Apalagi saat melihat Berly. Awalnya Sammy mengira kalau Berly merasa malu karena dekat dengan dia, tapi sepertinya itu hanyalah dugaan karena ke percayaan dirinya saja. Karena sekarang, bukan hanya pipi Berly yang merona, tapi semua orang selain dia semuanya merona.


Sialan! hal menarik apa yang aku lewati?


Karena masih saja tak ada yang mau bicara, akhirnya Sammy memutuskan untuk mengawali pembicaraan mereka.


" Be, besok kau ada acara? "


Berly menoleh ke arah Sammy sesaat lalu fokus dengan Ivi dan Nathan.


" Banyak. Banyak sekali sampai aku bingung. "


Sammy menghela nafasnya. Seperti inilah Berly, gadis pujaannya yang sangat jutek dan tidak mudah di dekati itu.


" Be, sebenarnya, apa yang sedang kau pikirkan? " Tanya Sammy yang sudah tidak tahan lagi karena terus menerus di acuhkan oleh Berly.


" Aku sedang memikirkan, bagaimana Than than ku menjadi singa. "


Semua orang kini menatap ke arah Berly. Begitu juga dengan Ivi.


Than than ku kau bilang? heh! sudah lupa ya? aku ini istrinya than than mu! berani-berani nya mengklaim suamiku sebagai milik mu.


" Apa maksudnya? " Tanya Sammy bingung.


Berly menelan ludahnya menatap Nathan dan Ivi bergantian.


" A aku tadi melihat, mereka. "


Nathan melotot tajam ke arah Berly, dan sontak membuat Berly langsung terdiam.


" Bagaimana kalau kau menikah saja? usia mu sudah hampir tiga puluh, tapi kau masih belum mau menikah. Kalau kau menikah, hal yang seperti tadi adalah hal yang biasa. "


" A aku memang mau menikah. Tapi aku cari yang seperti mu saja deh. " Ujar Berly.


Ivi terperangah kesal mendengarnya. Dia menatap Nathan yang terlihat malas bereaksi. Tapi tentulah Ivi yang akan bereaksi.


" Nona Berly, kau kan model yang terkenal, aku juga melihat beberapa photo mu di sebuah gedung. Tapi kenapa kau mau mencari yang seperti suamiku? "


Berly mengeryit karena bingung. Tapi kemudian dia tersenyum.


" Memang kenapa? dia kan tampan, kaya, tubuhnya jika Ok, cara dia berpakaian juga stylish. Everything is God lah. "


Sialan! ucapan mu memang benar sih, tapi aku tidak mau berbagi suami.


" Apanya yang tubuhnya Ok? Nona Berly, asal kau tahu saja ya? Nathan memiliki banyak panu di beberapa bagian tubuhnya. " Ivi mengubah posisinya menjadi sangat serius.


" Saat malam saja, dia terus menggaruk-garuk kulitnya karena gatal. Selain itu, dia juga memiliki kadas. Oh, ada juga kurap dan kutu air lalu penyakit kulit lainya yang sangat parah. " Nathan hanya bisa terperangah lalu menggeleng heran. Lagi? kenapa Ivi selalu mempermalukannya dengan tuduhan dan segala penyakit kulit yang bahkan dia tidak tahu apa artinya.


" Oh, benarkah? kalau Ivi keberatan, aku siap kok menampung Nathan. " Berly tersenyum.


Menampung? bola matamu sini yang ku tampol!


" Oh, maaf Nona Berly. Penyakit kulit Nathan ini sangat serius. Takutnya menular ke kulit mulus Nona Berly yang seperti pantat babi, eh! maksud ku, pantat bayi. "


Nathan tidak tahan lagi dan berniat ingin protes dengan Ivi. Tapi sayang, ancaman Ivi membuatnya tidak mampu berkata-kata bahkan membuka mulut pun dia tidak sanggup.


" Jangan protes! kalau tidak, yang tadi itu tidak akan dilanjutkan. " Ancam Ivi berbisik kepada Nathan.


Nathalie dan Nathania tentu saja Tahu kalau Ivi sedang berbohong. Dan Berly, dia sengaja memprovokasi Ivi karena mengaggap Ivi itu sangat lucu.


" Aku jadi penasaran, padahal beberapa bulan lalu, seluruh tubuh Nathan sangat mulus. Nona Ivi, bolehlah aku mematikannya sendiri? "


Memastikan? apa maksudnya dia ingin melihat tubuh Nathan?


" Ke kenapa Nona Berly penasaran? aku sudah memastikannya kok. "


" Benarkah? " Berly nampak berpikir serius.


" Padahal, saat aku menyentuh tubuh Nathan waktu itu, sangat mulus loh. "


Sialan! melihat? menyentuh? dia pikir aku sudah mati apa? woi!! aku disini! aku istrinya!


Ivi memegang paha Nathan dan meremasnya. Marah, cemburu, itulah yang dia rasakan. Ternyata bukan hanya dia saja yang sudah merasakan tubuh Nathan?


Nathan yang merasakan sakit di area paha nya hanya bisa menahan sekuat tenaga. Pokoknya, dia tidak boleh banyak protes dan diam saja demi rencana indah nanti malam.


" Nona Berly, bagaimana kalau ku kenal kan dengan kenalan ku? dia itu sangat tampan loh. "


" Seberapa mirip dengan Nathan? "


Sialan! hati ku saja sampai pegal mengumpat mu!


" Dia lebih baik dari Nathan. Dia sangat tampan dan mempesona pokonya. " Ivi memaksakan senyumnya setelah selesai berkata.


" Ah, pria tampan memang banyak, tapi yang membuat ku terpesona ya hanya Nathan seorang. "


Ivi semakin kuat meremas paha Nathan menahan kekesalannya kepada Berly.


" Oh, benarkah? bagaimana dengan Sammy? "


Iya, selain Nathania dan Nathalie, pria malang itu juga terlupakan. Karena sedari tadi dia sedang menahan duka yang teramat dalam. Bagaimana tidak? gadis pujaannya terus menerus mengungkit nama Nathan sebagai pria idamannya.


" Sammy memang tampan, tapi belum cukup untuk membuat ku terpesona. "


Jleb....


Lagi, Berly mengatakan kata-kata yang sama untuk mematah kan hati Sammy.


" Wah, selera Nona Berly sangat tinggi ya? aku jadi tidak bisa berkata-kata. " Ucap Ivi terpaksa karena tidak tahu lagi harus berkata apa.


" Nona Ivi, kakak anda datang ingin bertemu anda. " Ucap salah satu pelayan yang bekerja di kediaman Chloe.


" Kakak? " Ivi tersenyum melihat kakak laki-laki nya di balik tubuh pelayan itu.


Dodi melambaikan tangan lalu menunjukkan jam tangan Nathan yang tadi siang tertinggal.


Berly menatap Dodi yang begitu sempurna di matanya. Wajah tampan yang memiliki susunan indah. Alis tebal, hidung mancung, mata yang tegas, lesung pipi saat tersenyum, bibir yang proporsional, kulit coklat yang eksotis, tubuh tinggi dan berisi, rambut acak-acakan yang membuat pria itu terlihat maskulin, dan setelan baju yang sederhana membuat nya justru terlihat sangat santai dan gagah.


" Kak Be! " Panggil Nathania yang sebenarnya sudah beberapa kali.


" A apa? "


" Air liur mu keluar kak! " Berly dengan cepat menyeka bibirnya. Hah! sial! benar-benar ileran dia rupanya.


To Be Continued.