Touch Me!

Touch Me!
S2- Jatuh cinta



Satu minggu sudah Nathan Dan Ivi berada di Barcelona. Hampir setiap hari mereka mendatangi berbagai destinasi wisata yang berbeda. Sungguh ini benar-benar bulan madu yang begitu manis bagi mereka. Tidak ada hinaan dan saling memaki seperti sebelumnya, tapi kemesraan mereka bertambah setiap harinya. Bahkan tidak ada lagi rasa canggung meski debaran jantung masih sama tak ada ubahnya saat saling berdekatan.


" Nathan, bisa kita jalan-jalan lagi hari ini? " Rengek Ivi sembari menggoyangkan tubuh Nathan. Iya, gadis itu begitu antusias untuk kembali berjalan-jalan ke tepat yang lain dari sebelumnya. Tapi Nathan, setelah memikirkan semalaman, dia merasa agak rugi juga terlalu banyak menghabiskan waktu di luar. Karena saat akan dia meminta untuk berhubungan badan, yang ada Ivi mengeluh karena lelah seharian. Jadi Nathan memutuskan untuk libur beberapa hari dan fokus untuk kikuk kikuk pastinya.


" Ivi, aku sangat lelah. Besok saja ya? " Jawab Nathan yang masih menutup matanya karena masih terasa sangat malas.


" Tapi kan kita disini hanya tinggal tiga hari lagi, kalau tidak jalan-jalan sekarang, nanti keburu kita sudah harus kembali pulang kan? " Rengek Ivi kembali menggoyangkan lengan Nathan beberapa kali hingga tubuh Nathan bergerak seirama tarikan tangan Ivi.


" Tidak mau! " Nathan menjauhkan tubuhnya dari jangkauan Ivi lalu menarik tinggi selimut tebalnya hingga menutupi hampir seluruh tubuhnya.


Ivi yang merasa sebal hanya bisa memajukan bibirnya. Tatapannya juga jelas sekali kalau dia tengah kesal. Tapi tunggu, dia tidak akan menyerah begitu saja. Ini adalah kali pertamanya pergi keluar negeri. Rasanya akan sangat rugi kalau dia tida menghabiskan waktunya dengan berjalan-jalan, lalu mengambil banyak photo dan memamerkan photonya di lamar media sosial nya. Heh! senang sekali rasanya bisa sombong. Dulu saat sekolah, dia adalah murid paling menyedihkan. Selain kesulitan membayar biaya pendidikan, dia juga tidak memiliki teman. Tapi lihatlah sekarang, dia bisa pergi ke luar negeri loh. Hihihi,.. Ivi tertawa bangga di dalam hati. Tapi tunggu! dari sekian banyak photo yang dia ambil, dia baru sadar kali tidak ada satu pun photo bersama Nathan yang dia unggah. Tapi itu juga bukan sengaja. Karena terlalu semangat berphoto, dia tanpa sadar menggunakan Nathan sebagai tukang photo gratisnya.


Ivi tersenyum licik setelah mendapatkan satu ide yang lumayan bagus. Dia bangkit perlahan, kakinya juga pelan menyentuh lantai bahkan berjalan dengan berjinjit agar tidak menimbulkan suara. Ivi meraih ponselnya lalu kembali tersenyum licik saat matanya menatap punggung Nathan.


Suami, aku datang.


Ivi merebahkan tubuhnya perlahan-lahan lalu mendekati Nathan hingga tubuh mereka menempel. Untunglah, meskipun Nathan tidak tidur, tapi matanya masih terpejam. Ivi mengarahkan kamera ponselnya untuk mengambil gambar mereka berdua. Oh, sungguh itu sangat lucu. Bagiamana tidak? Nathan yang terbiasa berpenampilan rapih dan tampan, kini terlihat begitu berantakan. Rambut acak-acakakkan, wajah kusut, tapi sudahlah. Penampilan seperti itu saja dia masih terlihat tampan.


Cekrek! cekrek!


Nathan yang tentu saja merasa terganggu, membuka matanya lebar dan tepat sekali pas saat Ivi menekan tombol kamera.


" Ivi! " Nathan terperanjak hingga tanpa sadar dia duduk lalu menatap Ivi sebal.


Ivi terkekeh lalu mengunci ponselnya. Untung saja Nathan begitu berbeda dari nya. Nathan sama sekali tidak pernah mengunci ponselnya, jadi Ivi bisa dengan bebas memeriksa ponsel Nathan.


" Hapus photo itu! " Titah Nathan.


" Tidak mau! "


" Ivi, sayang. Hapus ya? " Nathan mendekati Ivi lalu mulai merayunya.


" Tidak mau! "


" Hapus ya? aku janji, aku akan menuruti apa yang kau inginkan hari ini. " Ivi tersenyum penuh kemenangan.


***


Di sebuah kafe, tempat dimana Sammy kini tengah bertemu dengan sahabat saat dia kuliah dulu. Sammy yang terkenal humoris saat kuliah dulu, kini menjelma sebagai sosok yang tak kalah hebat dari Nathan. Begitulah pandangan para sahabat Sammy saat itu.


" Sammy, kemana Nathan? " Tanya aalah satu teman nya.


" Dia sedang berbulan madu. "


" Jadi rumor kalau dia sudah menikah itu benar? "


" Iya begitulah kebenarannya. " Jawab Sammy.


" Aku kira, dia sama sekali tidak akan menikah. Kalian tahu sendiri kan? Nathan itu kan dulu paling anti dekat dengan wanita. Bahkan dengan pria pun juga sulit. Dari pertama kita mengenal Nathan, yang selalu bersama dia kan hanya Sammy. Aku sampai mengira kalau kalian homo loh. "


" Awalnya aku juga penasaran, tapi setelah melihat Nathan dengan istrinya, aku baru sadar satu hal. Nathan bukan pria sembarangan atau gampangan yang akan mudah jatuh cinta kepada lawan jenisnya. "


" Iya, wanita itu pasti beruntung sekali memiliki Nathan. "


Sammy tersenyum lalu menggeleng.


" Bukan istrinya, tapi Nathan lah yang beruntung. Atau, sebenarnya mereka sama-sama beruntung. "


Sammy dan para sahabatnya semakin dalam menceritakan tentang Nathan yang kini memang santer dibicarakan karena isu pernikahannya yang di gelar secara diam-diam. Merasa mulai bosan, Sammy memutuskan untuk ke kamar mandi terlebih dulu. Lebih baik agak menjaga diri dari obrolan aneh yang tidak tahu apa artinya. Nathan, Nathan, dan Nathan lagi. Seolah Nathan adalah penguasa dunia yang menjadi kewajiban untuk dibicarakan saja. Gerutu Sammy di dalam hati.


Bruk....!


" Ah! " Pekik seorang gadis cantik sembari memegangi bahunya yang tertabrak oleh Sammy.


" Maaf! maaf Nona. " Pinta Sammy sembari menatap dengan tatapan memohon kepada seorang gadis cantik yang begitu mempesona itu.


ya ampun, dia ini cantik sekali ya? ditambah lagi penampilannya berkelas. Pasti orang kaya. Lihatlah, biasa ya orang kaya seperti gadis ini akan memaki ku seperti kebanyakan Nona kaya yang lainya.


Di luar dugaan, gadis itu justru tersenyum manis. Sungguh dia sangat manis dan cantik. Sampai-samlai, Sammy begitu lupa untuk berkedip karena terpesona.


" Tidak apa-apa. Aku juga bersalah karena fokus dengan ponsel ku. Maafkan aku juga ya, kakak? "


Gadis itu mengeryit karena tak mendapatkan jawaban apa-apa. Yang ada, Sammy hanya terdiam sembari memandangi wajahnya.


" Kakak? "


Sammy tersadar dan langsung fokus untuk apa yang seharunya dia lakukan di saat seperti ini.


" Apa? apa kau sudah selesai memarahi ku? "


Gadis itu kembali tersenyum, bahkan senyum nya semakin lebar hingga memamerkan barisan giginya yang putih dan rapih.


" Kakak, aku juga minta maaf karena terllau fokus dengan ponsel ku. "


" Eh? " Sammy menatap bingung gadis cantik yang sulit membuatnya fokus.


" Iya. Jadi kakak jangan merasa bersalah sendiri. "


" Siapa namamu? " Tanya Sammy tanpa sadar mulutnya berbicara. Tapi, setelah pertanyaan itu lolos dari bibirnya, barulah dia merasa malu sendiri hingga mengutuk dirinya yang tidak tahu malu itu.


Gadis itu tersenyum lalu menyodorkan telapak tangannya. Tentu saja Sammy tida menyia-nyiakannya.


" Namaku Ele. "


To Be Continued.