
Hallo Reader tersayang,...
Aku banyak-banyak terimakasih untuk kalian yang memberi saran dan masukkan. Aku terima dengan senang hati baik atau tidak nya komentar dari kalian. 😊.
Dan, terimakasih juga untuk kalian yang memberiku dukungan melalui komentar, like, gift, Vote dan tips.
Semoga karyaku ini bisa menghibur kalian ya,....
Happy Reading Everyone ❤️❤️❤️❤️❤️
STAR....
Nath dan Vanya masih dalam obrolan mereka. Saling menuduh dan membantah, itu lah yang mereka lakukan. Sesekali, Nath menatap Vanya sinis agar sang istri mau berkata jujur. Tapi tetap saja, namanya juga perempuan. Salah atau tidak salah ya tetap saja benar.
" Sayang, bagaimana perasaan mu saat itu? " Pertanyaan ini, sebenarnya Nath hanya berniat menggodanya. Tapi, kalau Vanya berniat menjawabnya juga tidak masalah.
Perasaan? berani-beraninya bertanya seperti itu! memang kau tidak kasihan padaku ya?! aku tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Iya, sebenarnya sangat memuaskan sih. Haha.........
" Nath, apa kau tidak menyesal menikahi wanita sepertiku? " Tanya Vanya sembari mengalihkan pertanyaan Nath yang membuatnya tidak bisa menjawab.
" Tidak. Tentu tidak. Aku mencintaimu. Alasan itulah yang paling utama. Lagi pula, kau juga Ibu dari anakku. Tidak ada alasan bagiku untuk menyesal. " Tutur Nath sembari mengeratkan pelukannya.
Bagi Nath, Vanya adalah sebuah keajaiban didalam hidupnya. Entah bagaimana takdir membawa mereka bertemu melalui perasaan Nath yang tidak biasa saat bertemu Vanya. Terkadang, Nath juga bingung. Bagaimana dan kapan perasaan cinta itu tumbuh dihatinya?. Dia juga tak henti-hentinya bersyukur untuk semua keajaiban yang datang dalam hidupnya karena sosok Vanya. Sosok yang membantunya sadar dari koma. Sosok yang tiba-tiba membuat hatinya merasakan rasa cinta yang begitu besar. Sosok yang memberinya seorang Nathan kecil bahkan tanpa dia ketahui.
Nath semakin mengeratkan pelukannya dan menghujani pucuk kepala istrinya dengan ciuman mesra penuh kasih sayang.
" Aku bukanlah satu-satunya Ibu dari anakmu kan? " Vanya hanya fokus pada satu pernyataan Nath. Dia mengingat kembali akan putra Nath yang lain. Maklum saja, Nath belum menjelaskan yang sebenarnya. Karena kejadian saat itu, mereka hanya fokus pada Vanya dan Nathan saja. Tentu saja Nath tidak membahas. Dia pikir, Vanya sudah menebaknya.
" Maksutnya? " Nath mencoba untuk bertanya kembali apa maksut pertanyaan Vanya. Dia takut, ada perbedaan asumsi diantara mereka.
" Bagaimana perasaanmu dengan Mage? lalu, bagai mana kabar anak kalian? " Vanya menguatkan hatinya untuk menanyakan ini.
Dia masih mengingat dengan jelas. Bagaimana, sakitnya saat Mage mengatakan, jika Nathan juga adalah anaknya. Dasar rakus! semua anak ingin di miliki. Batinnya kesal.
Nath tersenyum saat mengerti jika istrinya tengah salah paham. Dia tidak menyangka, jika istrinya belum menyadari apa yang sebenarnya terjadi.
" Sayang, kau bodoh atau apa sih?
" Eh? " Vanya bingung. Dan akhirnya, hanya bisa merespon seperti itu sembari berpikir. Memang dimana letak kesalahan dari pertanyaannya.
" Anak yang aku ceritakan saat itu, adalah Nathan anak kita.
" Apa?! " Vanya mendongak menatap Nath untuk menuntut kepastian.
" Iya. Kevin yang mengerjai ku.
" Aku masih tidak mengerti. " Ujar Vanya yang kini malah kebingungan sendiri.
Nath menceritakan segalanya tentang Nathan saat itu.
***
Lexi sedang duduk di sebuah Restauran. Dia hanya bisa terus menghela nafas memandang wanita yang kini berada diseberang mejanya. Tuntutan dari Orang tuanya yang sangat ingin melihat putranya menikah, membuat Lexi dengan berat hati menghadiri perjodohan itu.
Cantik memang. Tapi, entahlah. Lexi seperti tak memiliki ketertarikan sama sekali. Dia terus berpikir sepanjang waktu bersama wanita pilihan orang tuanya itu. Kata-kata Homo yang dulu pernah Devi berikan padanya, apakah mungkin benar itu penyebabnya? apakah dia benar-benar Homo?
Semakin memikirkan itu, Lexi justru terus mengingat Devi dan segala tingkah gilanya. Dia juga tersenyum mengingat betapa kasar mulut wanita itu saat berbicara padanya.
" Kakak? " Sapa wanita itu yang sedari tadi bertanya tapi tak kunjung mendapatkan jawaban.
Lexi tersadar dari lamunannya saat wanita dihadapannya memanggil sembari mengetuk meja beberapa kali.
" Iya. " Jawabnya meski malas mulutnya menanggapi.
" Kakak, aku akan menyetujui perjodohan ini. Bagaimana dengan Kakak?
Kakak? haruskah aku memanggilnya adik?
" Aku, belum tahu apa keputusanku. " Jawab Lexi.
" Kita jalani saja Kak. Aku yakin, lama kelamaan, Kakak pasti akan menyukai aku. " Ucapnya dengan senyum yang mengembang diwajah gadis itu.
Manis. Andai saja, gadis bermulut kubangan itu tersenyum seperti itu.
Batin Lexi yang justru malah membayangkan wajah Devi saat tersenyum seperti gadis di hadapannya.
" Kakak?
" Bagaimana? mau ya? " Tanyanya penuh harap.
" Itu, aku tidak bisa.
" Kenapa? " Gadis itu terlihat kecewa.
Kenapa? aku sendiri tidak tahu jawabannya.
" Maaf, gadis. Aku sudah memiliki kekasih. " Alasan Lexi yang entah dari mana bisa muncul di otaknya.
" Jangan bohong kak! Paman dan Bibi sendiri yang memberi tahu, jika Kakak tidak pernah menjalin hubungan dengan siapapun. Apa, apa Kakak tidak menyukai perempuan?
Lexi menahan kesalnya. Bisa-bisanya, orang tua kandungnya mengatakan semua itu. Memang dia tidak kasihan apa? bagaimana mungkin lelaki setampan dia tidak pernah pacaran? bukankah akan membuat para gadis berpikir, bahwa dia tidak memiliki ketertarikan kepada lawan jenis?
" Bukan itu. Aku benar-benar sudah memiliki kekasih. Dia sangat cantik dan begitu sempurna. Aku hanya belum memiliki waktu untuk mengenalkannya kepada orang tuaku.
" Kakak jangan mencari alasan.
Pucuk dicinta batin Lexi sembari tersenyum. Dia melihat sosok Wanita yang sedari tadi menganggu otaknya. Dia sedang berjalan menuju sebuah meja tanpa menyadari adanya dia disana.
Dia bangkit mendekatinya. " Sayang, kau datang?
" Sayang kepala.... Em...! " Lexi menahan mulut gadis itu dengan kecupan dibibirnya. Iya. Gadis itu adalah Devi.
" Sayang, ayo ikut denganku. " Ajak Lexi dengan nada yang lantang.
" Sialan! Em.... " Lexi kembali membungkam mulut Devi dengan ciuman tapi sedikit ditekan olehnya.
" Bantu aku kali ini. Aku akan melakukan apapun yang kau katakan nanti. " Bisik nya tanpa perduli wajah Devi yang begitu merah. Entah karena marah atau karena malu.
Brengsek! berani-berani dia mencium ku!
" Ayo Sayang. " Lexi meraih tangan Devi lalu membawanya ke hadapan wanita yang dijodohkan oleh orang tuanya.
" Ini adalah pacarku.
Gadis itu menatapnya sedih lalu pergi meninggalkan Lexi dan Devi begitu saja.
Lexi tersenyum sembari mendesah lega. Tapi lain yang Devi rasakan. Saat ini, dia benar-benar ingin mencekik leher laki-laki sialan dihadapannya itu.
Lexi terdiam sesaat saat melihat tatapan membunuh dari Devi. Iya, dia sadar benar apa yang dia lakukan. Tapi kan dia juga terpaksa. Dia juga rugi kok harus mencium wanita bermulut kubangan itu. Lexi kembali mengingatnya.
Ya ampun! aku mencium mulut kubangan?!
" Sekretaris Lexi, bersiaplah untuk mati! " Ucap Devi yang masih menatap pria itu dengan tatapan kesalnya.
Tapi, belum juga Debi sempat bertindak, sebuah jeweran mendarat ditelinga gadis cantik itu.
Ah, iya. Dia sampai lupa. Sedari tadi Ibunya ada didekatnya. Lexi juga tak kalah terkejut melihat Devi yang tiba-tiba dijewer oleh wanita paruh baya yang entah dari mana datangnya.
" Kau! sejak kapan kau punya kekasih?! " Tanyanya dengan wajah kesal.
" Aw! bukan, bukan Ibu. Itu bukan.
" Berani sekali kau berbohong. Aku akan menghubungi Ayahmu dan menikahkan kalian hari ini juga. " Ancamnya.
" Bukan begitu Ibu. " Ucap Devi sembari menanam sakit di telinganya.
Tapi tiba-tiba, tangan itu terlepas begitu saja saat mata Ibu berpindah ke arah Lexi. Dia tersenyum cerah saat manik mata mereka bertemu.
" Jadi, kau adalah kekasih anakku? " Tanyanya dengan senyum yang terlihat begitu lembut dan ke ibuan.
Harus jawab apa aku ini? sialan! aku tidak tahu kalau dia datang bersama Ibunya.
" Itu, aku...
Grep....
Lexi terpaksa menghentikan ucapannya saat Ibunya Devi meraih kedua tangannya dengan tatapan penuh harap.
Akhirnya, anakku yang pembangkang dan ketus itu ada juga yang mau. Aku harus cepat-cepat menikahkan mereka. Sebelum, pria tampan ini mengetahui sifat buruk anakku dan menyesalinya. aku tidak bisa membiarkan dia lari sebelum menikahi anakku. Syukur syukur, setelah menikah Devi akan cepat hamil. Pria ini terlihat pintar dan tampan. Ah! benar-benar bibit unggul.
To Be Continued.