
Nath melangkahkan kaki perlahan mendekati anak dan istrinya yang sedang terlelap. Dia tidak ingin menimbulkan suara dan mengganggu tidur anak dan istrinya itu. Vanya tertidur dengan posisi duduk dan tubunya menyender disenderan sofa. Yang membuat Nath ingin terkekeh adalah mulut Vanya yang terbuka lebar karena wajahnya sedikit mendongak. Pandanganya beralih ke Nathan. Putranya itu nampak sangat tenang tidur dipangkuan Ibunya. Vanya yang begitu nyenyak sesekali masih mengelus pelan rambut putranya dan sebelah tangannya menepuk dada Nathan lembut.
Kau benar-benar Ibu yang penyayang.
Nath tersenyum menatap keduanya secara bergantian. Dia kembali berkutat dengan pekerjaannya. Dia bergerak dengan sangat pelan dan hati- hati. dia benar-benar tidak ingin mengganggu tidur anak dan istrinya. Sesekali, Nath menatap para kesayangan di sela kesibukannya. Hingga tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul, enam belas lewat tiga puluh lima menit. Nath menghela nafas leganya saat semua pekerjaan untuk hari ini telah rampung. Nath menatap kembali dua orang kesayangannya sembari berjalan mendekati mereka. Nath tersenyum sembari menusuk-nusuk pelan pipi Vanya menggunakan jari telunjuknya.
Merasa terganggu, Vanya sebentar mengerjapkan mata lalu menepis tangan Nath. Heh, mungkin dia mengira itu ulah lalat pengganggu.
" Sayang, bangun. Ayo pulang. " Bisik Nath di telinga istrinya itu.
Vanya menggeliat sembari perlahan membuka mata. Dia tersenyum melihat Nath yang juga tengah memandangnya dengan senyum manisnya.
" Nath? " Vanya bangkit untuk menegakkan tubuhnya. Dia tersenyum melihat wajah putranya yang begitu tenang di pangkuannya.
" Ayo pulang. Kalian sudah sangat lelah. " Aja Nath sembari mengelus kepala Nathan.
" Kau sudah selesai? " Tanya Vanya yang melihat jam dinding.
Nath mengangguk dan dengan perlahan, dia mengangkat tubuh mungil putranya lalu menggendongnya. " Ayo, sayang.
" Kau yakin? ini masih terlalu cepat kau pulang. " Ujar Naina tapi tak selaras dengan tubuhnya. Dia meraih tangan Nath yang terulur menunggunya.
" Semua sudah selesai. " Ujar Nath sembari menuntun tangan Vanya untuk membawanya pulang.
Tanpa perduli apapun. Nath melangkahkan kaki sembari menggenggam tangan Vanya. Dan satu lagi tangannya ia gunakan untuk menahan tubuh Nath digendongnya. Tentu saja, pemandangan langka ini menjadi perhatian seluruh pegawai yang melihatnya. Mulut mereka boleh tersenyum sembari menyapa. Tapi batin mereka, kini sedang bertanya-tanya dengan apa yang mereka lihat. Gosip tentang Vanya, memang sudah menyebar, tapi tak ada satupun dari mereka kalau akan menyaksikan pemandangan langka ini.
Apa anak itu benar anaknya Presdir Nath? lalu, kenapa dia menggandeng Vanya? apa mereka pasangan suami istri?
Vanya dan Nath terus melangkahkan kaki hingga melewati meja resepsionis. Vanya tak sengaja melihat wanita yang tadi memakinya masih berada disana sembari menunduk. Tak terbaca apa ekspresinya melihat Vanya sekarang ini. Tapi, bukan Vanya namanya yang tidak akan membalas apalagi, dia ka sudah banyak memakinya tadi.
" Tunggu sayang. " Vanya menghentikan langkahnya tepat didepan resepsionis itu.
Mau apa lagi perempuan jal*ng ini? apa dia mengadukan ku? apa yang harus aku lakukan kalau presdir Nath marah dan memecatku? wanita sialan ini benar-benar kurang ajar! lihat saja kalau sampai aku dipecat. Aku akan membuatmu merasakan apa yang aku rasakan.
" Sayang, ada apa? " Tanya Nath yang bingung melihat Vanya tengah menatap seorang resepsionis dengan wajah sinis.
Resepsionis itu dan dua orang disampingnya begitu kaget mendengar panggilan Presdirnya untuk Vanya.
" Sayang, orang ini tadi memaki ku loh. " Adu Vanya sembari menunjuk wajah resepsionis yang tengah menunduk.
Sialan! berani sekali kau wanita brengsek!
" Apa?! " Nath ikut menatap resepsionis itu dengan tatapan tak suka.
" Apa yang dia katakan? "
" Tidak banyak, dia hanya mengatai ku. Jal*ang. Tidak tahu diri, tidak tahu malu. Suka menggoda mu. Dan yah, beberapa yang lain. " Vanya meninggalkan senyum sinis setelahnya.
Sialan! hentikan itu! tamat sudah riwayatku.
" Apa?! " Nath tidak bisa lagi menahan marahnya. Nathan yang mendengar suara keras Ayahnya, sontak terbangun. Dia menangis karena merasa takut. Maklum saja, sedari kecil Nathan jarang mendengar suara membentak.
Nath mendekap erat putranya itu. " Sayang maaf. Ayah tidak sengaja.
Sebagai seorang Ibu, tentulah dia terkesiap saat anaknya menangis. " Sayang, maaf ya. Ini semua karena bibi nakal itu.
Ayah? Ibu?
Kompak mereka membulatkan mata karena terkejut. Untung saja, mereka dalam keadaan menunduk. Vanya memutuskan untuk membawa putranya lebih dulu ke mobil. Sementara Nath, dia masih tinggal untuk menyelesaikan masalah itu.
" Kau tahu? aku paling membenci orang yang tidak bisa mengendalikan mulutnya. " Nath menatap tajam pegawai yang kini menunduk ketakutan. Tubuhnya terlihat gemetar dan tangannya, meremas ujung kain bajunya.
" Maaf, Presdir. Saya tidak akan mengulanginya lagi. " Pintanya dengan posisi yang tak berubah.
" Lain kali? kau pikir, aku masih ingin memperkerjakan orang yang memaki istriku? " Semakin pula kini tubuhnya gemetar. Seandainya saja, dia mengetahui kebenarannya lebih awal, dia tidak akan pernah mau mengusik Vanya dari awal. Tapi, kenyataannya adalah semua yang terjadi adalah karena kekurang ajarannya. Mau membalas dendam pun, sudah tidak mungkin ia lakukan. Kalau sampai nekat membalas dendam, sudah pasti akan buruk untuk masa depannya.
" Buatlah surat permohonan maaf sebanyak seribu lembar. Serahkan kepada Lexi besok pagi. Dan, semua harus dibuat dengan tangan. Kau mengerti? " Tanya Nath dengan wajah dinginnya.
Tidak ada pilihan selain mengangguk dan menyetujui keputusan yang diberikan oleh Presdirnya. Masih untung hanya dipecat. Tidak dibawa ke jalur hukum saja dia sudah lega. Minimal, namanya tidak tercoreng karena pernah menjadi Nara pidana nantinya.
Setelah mendapati anggukan persetujuan dari resepsionis itu, Nath berjalan menyusul anak dan istrinya uang sudah menunggu di mobil.
Nath terenyuh mendapati Nathan masih sedikit sesegukan. Dia langsung mengambil Nathan dari dekapan Ibunya.
" Sayang kau takut? maafkan Ayah ya? " Pinta Nath sembari mengelus dan menghujani banyak kecupan di pucuk kepala Nathan.
" Nathan terkejut saja. Tidak usah khawatir. " Vanya mencoba menenangkan Nath karena melihat kekhawatiran yang luar biasa dari wajahnya.
" A, aku tidak takut, Ayah. " Ucap Nathan yang masih sedikit sesegukan.
Nath kembali menjatuhkan wajah Natha kedalam dekapannya. " Ayah tahu. Kau adalah anak yang hebat. Hanya perlu ingat ini. Ayah tidak akan membentak mu atau Ibumu. Ayah hanya akan membentak orang yang menyakiti kalian. "
Vanya menatap manik mata Nath. Dia tersenyum bahagia lalu menjatuhkan kepalanya dipundak Nath.
Sesampainya di Apartemen.
Nath, Vanya dan Nathan menghentikan langkahnya saat seseorang yang akhir-akhir ini mengikutinya ada di depan pintu Apartemen.
" Pak Miskana? " Vanya menatap tak percaya melihat pak Miskana berdiri disana.
Mereka melanjutkan langkahnya. Nath menatap pak Miskana dengan kening yang berkerut.
" Katakan, ada apa?
Pak Miskana menunduk setelahnya. Sebenarnya, dia benar-benar sangat risih dengan nama Miskana. Aneh dan menggelikan. Itulah yang ia rasakan.
" Tuan besar meminta anda sekeluarga untuk datang ke kediaman beliau, Tuan.
Nath mengepalkan kedua tangannya. Kesal, itulah yang ia rasakan. Selalu ikut campur tentang semuanya. Bukankah dengan ini, keluarga Chloe sudah mengetahui semuanya.
" Katakan kepada mereka, kami tidak akan,.."
" Oh, baiklah. Kapan kami harus datang? " Tanya Vanya tanpa terlihat takut sama sekali.
" Sayang! " Nath menatap Vanya tajam.
To Be Continued.