Touch Me!

Touch Me!
Waktu Itu



Vanya masih saja terdiam dengan posisi duduk di ranjang rumah sakit. Dia menatap jemarinya yang saling mengait dan mengepal dengan kuat. Sedangkan Nath, dia lebih memilih berdiri di dekat jendela kaca yang menampilkan indahnya pemandangan kota.


Nath, aku takut dan bingung. Bagaimana menjelaskannya padamu? saat aku mengingat kejadian itu, aku bahkan merasa jijik dengan diriku sendiri. Lalu bagaimana aku bisa memberi tahu tentang itu?


Vanya menatap Nath yang masih saja berdiri melihat keluar. Dia mengira, jika Nath sedang sangat marah saat ini. Padahal, Nath sengaja menjauhkan wajahnya dan menjaga jarak agar Vanya tidak pingsan lagi. Dan dia diam agar Vanya memiliki keberanian untuk mengatakan yang sebenarnya.


Vanya semakin memberikan tekanan pada kedua tangannya yang masih dalam keadaan berkaitan dan saling menekan. Vanya menarik nafas dan menghembuskan perlahan. Dia mencoba segala cara agar bisa kuat. Kuat untuk mengatakan yang sebenarnya. Kini yang ia pikirkan adalah Nathan. Tidak lagi berharap untuk cintanya kepada Nath. Apapun keputusan Nath, asalkan tidak mengambil Nathan darinya, maka Vanya akan berdamai dengan kenyataan.


Vanya menurunkan perlahan kedua kakinya. Dia melepas paksa jarum infus yang masih menusuk di pergelangan tangannya. Dia melakukannya dengan sangat pelan agar tidak menimbulkan suara. Entah apa tujuannya. Mungkin saja, rasa takut itu membuatnya ingin bertindak hati-hati. Bahkan sampai tidak ingin deru nafasnya juga terdengar. Perlahan, Vanya berjalan mendekat ke arah Nath yang sama sekali tidak merubah posisinya sedikitpun.


" Nath, " Panggil Vanya setelah beberapa kali menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Percayalah, Vanya benar-benar melakukannya tanpa suara. Dia sendiri juga tidak menyadari apa yang dia lakukan.


Nath terperanjak mendengar suara dibalik punggungnya. Dia sontak mengubah arah tubuhnya untuk melihat sosok di belakang punggung yang sudah ia tahu siapa orangnya.


" Apa yang kau lakukan?! kenapa kau tiba-tiba berdiri disini?! " Tanya Nath dengan nada membentak.


Dia membentak ku? padahal, dia selalu lembut dan tersenyum tapi Nath yang ini,.


" Kenapa kau mencabut infus mu? apa sakit? ayo kembali ke ranjang.


Eh? dia marah dan membentak karena khawatir? ini nyata atau tidak sih?


Nath membopong tubuh Vanya dan membaringkan perlahan. " Tunggu disini. Aku akan memanggil dokter untuk memasang kembali infus mu.


" Tidak. Tunggu! " Vanya meraih pergelangan tangan Nath. Membuat Nath kembali mendekat kepadanya.


" Aku baik-baik saja. Tidak perlu menyakiti pergelangan tanganku dengan menusuk jarum sialan itu. " Ujar Vanya yang memang merasa kesal melihat tangannya memakai infus. Selang infus hanya akan mengingatkannya saat proses kelahiran Nathan di usia kandungan tujuh bulan. Itu adalah terakhir kali Vanya memakai selang infus.


Nath duduk ditepian ranjang sembari menatap dan mengelus kepala Vanya dengan lembut. Vanya ingin sekali tersenyum mendapat perlakuan yang begitu lembut ini. Tapi, dia bahkan tidak yakin jika Nath akan terus seperti ini jika mengetahui yang sebenarnya.


Vanya meraih tangan Nath dari kepalanya. Dia menggenggam tangan yang hampir dua kali lipat lebih besar dari tangannya. " Nath, aku akan mengatakan semuanya. Tapi berjanjilah padaku. " Vanya menatap Nath seolah menegaskan.


" Iya. Apa yang harus aku janjikan?


" Berjanjilah tidak akan mengambil Nathan dariku.


Eh? jadi itu yang dia pikirkan? dasar bodoh! aku bukan hanya akan mengambil Nathan. Kau juga akan ku ambil.


" Iya. Iya, aku benar-benar tidak mau berjanji.


Vanya menarik nafas dan menghembuskan perlahan. Jantungnya juga berdetak sangat cepat. Kekuatan, dimana kau kekuatan. Munculah.... aku membutuhkanmu.


" Nath, lima tahun lalu, aku datang.. " Ucapan Vanya terhenti saat manik mata mereka bertemu. Keberanian yang sudah sudah payah ia kumpulkan, kini sirna dalam hitungan detik.


Nathan mengangkat telapak tangannya dan menutup mata Vanya. " Jangan melihatku jika kau takut. Katakan saja. Aku akan mendengarkan.


Vanya mengangguk. " Lima tahun lalu, aku datang kerumah sakit. Ada hal yang terjadi diluar kendaliku. Aku berlari ke kamar mu untuk menyembunyikan diri. Lalu aku melihatmu. Awalnya aku hanya ingin singgah sebentar, tapi sebelum aku menyelinap masuk, aku mendengar para suster membicarakan keadaanmu. Mereka bilang, kau tidak akan bertahan lama. Aku merasa iba karena itu. Aku mendekatimu dan mengajakmu berkenalan. Aku juga menceritakan masalahku padamu saat itu. Aku pikir kau senang berkenalan denganku. Karena saat itu, kau selalu menggerakkan jarimu pelan.


Menggerakkan jari? Vanya apa kau tahu? saat itu,..


" Aku, aku,... " Vanya mulai ragu saat ingin melanjutkan kalimatnya. Ada rasa yang sulit untuk di realisasikan. Perasaan takut, gugup, bahkan jijik dan membenci diri sendiri.


" Tidak apa-apa. Katakan saja.


Kata-kata Nath barusan, seolah membawa kekuatan tersendiri bagi Vanya. Entahlah, dia seolah tidak lagi merasa harus membenci diri sendiri.


" Aku, benar-benar tergiur oleh wajahmu. Aku, aku mulai me,


" Katakan saja,.... tidak apa-apa.


Deg.....!


Baik Vanya dan Nath, jantung mereka seolah saling sahut menyahut dengan kencangnya.


" Lalu? " Nath masih ingin mendengar selanjutnya.


" Aku, saat itu,.. Aku, tidak sengaja menyentuh itu mu. " Jika Vanya begitu gugup, maka Nath kini sedang tersenyum sembari membayangkan apa yang sedari tadi Vanya ucapkan.


" Tapi siapa sangka, dibalik tubuhmu yang koma, bagian itu mu masih bekerja dengan baik.


" Lalu? " Nath masih ingin mendengar apa yang selanjutnya meski wajahnya kini benar-benar memerah karena malu.


" Iya,.. aku saat itu sedang kacau. Jadi aku sendiri tidak sadar dengan yang aku lakukan. Aku naik ke atas tubuhmu dan,..


" Dan apa?


" Kenapa kau masih bertanya? tentu saja itu,..


Nath menurunkan tangan yang sedari tadi ia gunakan untuk menutup mata Vanya. Manik mata mereka bertemu. Entah apa yang dipikirkan Nath. Vanya tidak di bisa menebaknya melalui sorot mata itu.


" Nath, a, apa kau marah?


Hening.......


" Nath, " Vanya mencoba memanggil Nath kembali.


Hening.....


Dia marah ya? kalau marah kan bisa memakiku. Kenapa dia diam begitu? tidak tahu ya? kalau diam begitu membuat orang salah tingkah.


" Vanya? " Panggil Nath yang mendapati kembali kesadarannya setelah melamunkan sesuatu.


" Em?


" Tanggal berapa?


" Apa? tanggal? hari ini? " Vanya merasa bingung. Kenapa malah menanyakan tanggal sih? sudah panjang lebar seperti koran dia bercerita, kenapa malah tanggal yang di tanyakan.


" Tanggal kau datang kerumah sakit waktu itu.


Apa?! tanggal? kenapa memangnya? tentu saja aku tahu. Aku bahkan membulatkan tanggal itu setiap tahun. Aku selalu ingin menghapus tanggal terkutuk itu.


" Vanya, katakan. Tanggal berapa hari itu. " Nath memegang kedua lengan Vanya penuh harap agar mendapatkan jawabannya.


" Ta, tanggal dua puluh satu mei pukul 14:40. Jam itu adalah jam dimana aku keluar dari gedung rumah sakit.


Nath menatap Vanya lekat. Senyum yang mengembang sempurna itu di iringi mata yang berkaca-kaca entah apa maksutnya.


Grep.....!


Nath memeluk Vanya erat. " Vanya terimakasih. Terimakasih untuk apa yang kau lakukan hari itu. Terimakasih banyak.


Eh? maksutnya? dia berterimakasih karena aku memperkosanya begitu?


To Be Continued