Touch Me!

Touch Me!
S2- Canggung



Setelah pembicaraan mesum antara Ivi dan Ibu mertuanya, Ivi memutuskan untuk kembali ke kamar dan langsung menuju kamar mandi. Untunglah, Nathan tidak memperhatikan karena sedang fokus dengan ponselnya.


Ivi melucuti seluruh pakaian saat sudah berada di dalam kamar mandi dan langsung mengguyur tubuhnya dari air yang mengalir melakui shower. Sungguh ini aneh tapi sangat nyata. Bagaimana bisa dia membicarakan hal-hal aneh begitu dengan Ibu mertuanya sendiri.


Kau hanya perlu bertingkah berani. Sentuh bagian-bagian sensitif pria mu perlahan dengan lembut dan tatapan liar mu tidak boleh hilang.


Ivi membelalak kaget. Bagaimana tidak, semua ucapan-ucapan mesum Ibu mertuanya terngiang-ngiang dengan jelas di kepalanya.


Leher, telinga, bibir, lengan, dada, bagian perut, tentu saja bagian tengah pahanya tidak boleh ketinggalan.


Ivi tiba-tiba membayangkan seluruh bagian yang Ibu mertuanya sebut sensitif. Didalam otaknya, Ivi sedang menghayal degan menyentuh lembut bagian leher, lalu ke telinga, bibir, turun ke bagian lengan milik Nathan, laku bagian dada, lalu turun ke paha, dan, tentunya bagian tengah.


" Ya ampun!! " Ivi memukul pipinya sendiri begitu kuat. Entah bagaimana otak mesumnya bisa bekerja dengan baik. Bahkan Ivi sana sekali tidak pernah memikirkan hal-hal gila seperti itu meski sudah lama jatuh cinta dengan kakak Bien.


" Ibu mertua benar-benar sudah meracuni otakku. Tapi kalau aku tidak bisa memberikannya cucu bagaimana? Ah! " Ivi mengacak-acak rambutnya yang sudah basah oleh air dan menggaruk-garuk nya karena efek dari pusing membuat kepalanya terasa gatal.


Ivi kembali memikirkan janjinya kepada Ibu mertuanya. Sungguh dia sangat dilema. Tidak mungkinkan tiba-tiba dia mengajak Nathan. Nathan, ayo kita membuat anak. Ivi kembali mendesah frustasi. Bagaimana caranya gadis sepolos dan secantik dia begitu tidak tahu diri karena mengajak laki-laki membuat anak?


" Coba saja kalau aku bawa ponsel ke kamar mandi, aku kan bisa mencari tahu dulu di internet tentang tutorial pembuatan anak. "


Cukup lama Ivi bergelut dengan pemikirannya sendiri, dia keluar dengan jubah mandi yang menutupi tubuhnya. Berjalan menuju lemari untuk mengambil baju tidur yang sudah tersedia disana. Sebenarnya, Nathan sedari tadi tidaklah fokus dengan ponselnya. Kenapa? saat Ibunya mengajak Ivi untuk bicara, diam-diam dia menguping pembicaraan Ivi dan Ibunya. Jujur, dia sampai merona malu mendengar saran dari Ibunya sendiri. Dia pikir, Ayahnya adalah orang paling mesum, tapi malam itu dia mulai menyadari jika Ibunya jauh lebih mesum dari Ayahnya. Tapi ini juga membuat Nathan begitu bahagia. Karena sepertinya, semua akan berjalan baik dan menguntungkannya.


Ibu, kalau aku dan Ivi melakukanya nanti, orang pertama yang akan ku beri tahu adalah Ibu.


Pemikiran yang aneh memang, tapi sebenarnya, Seperti itulah Nathan. Sifat dingin tapi manja. Nathan adalah cucu laki-laki satu-satunya di tiga keluarga ternama. Maka dari itu, hampir semua mengistimewakan Nathan. Dan jadilah Nathan yang seperti saat ini, jauh berbeda dengan Nathan saat kecil yang begitu dewasa.


Mata Nathan mengikuti kemana Ivi melangkah meski itu terkesan sembunyi-sembunyi. Sebenarnya, di sedikit merasa kesal karena sepertinya Ivi sengaja berjalan kesana kemari lalu berujung ke kamar mandi begitu lama. Walau bagaimanapun, dia kan juga menunggu Ivi melakukan apa yang disarankan Ibunya.


Ck! benar-benar menyebalkan! kenapa juga dia begitu lama di kamar mandi? apa dia sengaja?


Nathan kembali menyalakan layar ponselnya, bukan untuk mengecek bagaimana keadaan pekerjaan di perusahaanya, tapi untuk mencari tutorial menghadapi wanita yang liar di tempat tidur. Dan semua itu justru membuat jantung Nathan berdegup sangat kencang. Entah mengapa, jari-jari Nathan mengikuti beberapa petunjuk yang di tunjukan oleh internet. Sungguh, wajahnya benar-benar merona karena merasa tidak biasa dengan itu. Cara berciuman, cara merespon wanita saat menyentuh area sensitif, cara membangunkan gairah wanita dan sebagainya.


" Sialan! " Nathan membalikkan ponselnya lalu mengusap wajah kasarnya. Kesal, dia sungguh sangat kesal. Mengingat bagaimana caranya berciuman dengan benar saja, dia sudah kebingungan. Apalagi yang lain-lainya.


Bagaimana ini? kalau Ivi menyerang ku dengan buas, masak aku harus diam saja seperti batang pohon pisang?


Nathan menggeleng kan kepalanya kuat. Sungguh dia begitu merasa bodoh karena kebingungan harus bagaimana. Kalau mengikuti cara di internet, belum melakukanya saja, dia sudah kebelet pipis.


Nathan berhenti berpikir dan mencoba memperbaiki suasana wajah nya agar Ivi tak mencurigainya. Sungguh jantungnya semakin berdegup kencang saat Ivi berjalan ke arahnya. Entah cobaan apa lagi, tapi malam itu Ivi benar-brnar terlihat sangat menawan di mata Nathan. Rambut yang masih sedikit basah itu juga membuat Ivi lebih terlihat seksi. Ditambah lagi, model baju tidur Ivi sedikit terbuka malam ini.


Dengan perasaan gugup, Ivi berjalan menuju tempat tidur. Dia sengaja tak mau menatap ke arah Nathan dan memilih langsung merebahkan tubuhnya dengan posisi memunggungi Nathan. Ivi menjitak jidatnya sendiri karena merasa kesal pada dirinya. Padahal dia sengaja berada lama di kamar mandi untuk berlatih berbicara.


Nathan, bagaimana kalau kita membuat anak?


Nathan, kita buat anak yuk?


Nathan, apa sebaiknya kita membuat anak?


Nathan, berikan anak kepadaku!


Nathan, ayo kita membuat anak?


Nathan, aku sangat membutuhkan anak darimu.


Kira-kira seperti itulah kata-kata yang Ivi ucapkan sebagai latihan. Tadinya dia sudah cukup mantap dan yakin akan menggunakan salah satu kosa kata yang sebenarnya sama saja artinya. Tapi saat dia keluar dari kamar mandi dan sesaat melihat Nathan, semua yang sudah ia rencanakan hilang berhamburan entah kemana. Tinggallah Ivi yang hanya bisa menahan semua di dalam hati karena tertekan oleh rasa malunya.


Melihat Ivi memunggunginya, tentulah Nathan mengeryit bingung dan merasa kesal. Bagaimana bisa dia melakukan itu? apa dia sedang menganggap remeh saran dari Ibunya? rasanya mulut Nathan sudah gatal sekali ingin bertanya, tapi nanti Ivi pasti aja curiga dari mana dia tahu?. Dan lagi, mana mungkin dia menanyakan itu, bisa- bisa Ivi jadi terbang tinggi karena mengira Nathan mengharapkannya, walaupun memang benar.


Lama sudah hingga Nathan merasa kesal sendiri, akhirnya Nathan tidak tahan dan memutuskan untuk bertanya.


" Hoi, Ivi! " Nathan menggoyangkan tubuh Ivi dengan jari telunjuknya. Hah! jika ada yang melihat secara langsung, mungkin orang pikir Nathan sangat jijik menyentuh istrinya. Padahal, dia sangat takut kalau Ivi marah karena sudah sembarangan menyentuhnya.


" Hem? " Jawab Ivi yang masih saja tidak bisa mengumpulkan keberanian.


" Kau tidak mau membicarakan sesuatu? ma maksudku, apa kau akan langsung tidur begitu saja?"


Ivi sempat mengeryit bingung. Hatinya menebak, apakah Nathan mengetahui apa yang sedang dipikirkan oleh nya?


" Membicarakan apa? " Tanya Ivi yang masih berada di posisi yang sama. Tentu saja dia takut kalau sampai pandangannya bertemu dengan Nathan. Karena dia masih belum siap untuk itu.


" Apa saja, kau juga boleh menceritakan apa yang sedang kau pikirkan. "


Ivi kembali mengingat janji yang di berikan kepadanya. Ibu mertuanya itu akan memindahkan Ayahnya ke rumah sakit terbaik agar cepat sembuh dan tida ada lagi kangker dalam tubuh ayahnya. Ivi menarik nafas lalu menghembuskan perlahan untuk mencari kekuatan dari sana.


" Nathan, bagaimana kalau kita mulai berlatih membuat anak? "


To Be Continued.