
Nathan masih melirik sinis gadis yang biasanya ketus tiba-tiba menjadi seperti anjing sirkus yang sangat penurut. Wajahnya juga bersemu merah seolah menandakan dengan jelas kalau dia sedang jatuh cinta.
Cih! apa sih hebatnya laki-laki itu? kalau dibandingkan dengan ku, harusnya aku menang kan? tinggi badan ku, seratus delapan puluh enam. Kulit ku putih, mulus terawat dengan baik. Aku juga tidak pernah bau badan sedikitpun. Aku juga memiliki tubuh atletis. Sedangkan pria itu? badannya saja lurus seperti papan selancar. Hidungnya mengembang saat dia tertawa. Ah benar-benar buta gadis itu. Bagaimana pria dengan pipi Chuby itu menjadi sangat tampan di matanya? ah ya ampun! saat dia tersenyum giginya kuning. Apa gadis itu menganggap gigi kuning itu emas? hah! menyebalkan! aku harus membuang waktu dengan bangun pagi hanya untuk melihat pria aneh yang katanya lebih tampan dariku. Tidak masuk akal sekali!
" Kau pasti sedang menggerutu didalam hati? hihihi.... " Sindir Sammy yang tentu saja sudah menghafal bagaimana sifat asli sahabatnya itu. Nahan memang irit bicara, tapi sebenarnya dia adalah anak yang manja dan cemburuan.
" Omong kosong! " Bantah Nathan. Meskipun iya, mana mungkin dia mengakuinya. Dia adalah orang yang paling anti memperlihatkan sifat aslinya meskipun itu didepan Sammy atau pun anggota keluarga terdekatnya.
" Cih! masih saja tidak mau mengaku. "
Nathan melepas kaca mata hitamnya lalu menatap Sammy tajam.
" Aku tidak bercanda! "
Sammy menghela nafasnya. Lebih baik di iyakan saja dan biarkan anjing mabuk itu membantah. Sebenar apapun dia, lawannya adalah Nathan yang tidak akan mau kalah atau mengaku kalah. Sama seperti empat iblis didikannya. Yaitu Kenan, Zadet, Nathania yang akrab dipanggil Nana dan Nathalie yang akrab dipanggil Lili. Ke empat murid iblis itu sama persis seperti Nathan. Sangat suka menyeringai dan memiliki otak busuk yang tidak mau kalah. Dan yang lebih meresahkan lagi, saat mereka bersekolah di sekolah yang sama, Sammy hampir setiap hari datang sebagai wakil mereka. Untuk apa? tentu saja untuk menerima petuah-petuah dari guru wali kelas untuk mendidik empat iblis itu. Tapi mau bagaimana lagi? sifat jahanam Nathan sudah mendarah daging pada mereka.
" Jadi kita sudah akan pergi? " Tanya Sammy.
" Tidak! aku ingin memastikan wajah pria busuk itu dari dekat. "
Sammy terperangah tapi tak berani berkomentar. Karena kalau sampai dia melakukan itu, bisa-bisa telinganya meledak karena terlalu sering mendengar kultum dari Nathan.
Suka-suka kau sajalah, Nathan! aku pusing memikirkan mu! hanya karena merasa tersaingi, kau sampai begitu antusias nya. Lama-lama kau pasti benar-benar jatuh cinta dengan gadis pengantar ayam goreng itu.
" Jangan menggerutu tentang ku di dalam hati! " Bertahun-tahun bersama dengan Sammy, tentulah Nathan tahu bagaimana dan arti dari gerak gerik Sammy.
" Jangan sok tahu! " Kilah Sammy yang tidak mungkin mengakuinya.
" Pembohong! "
" Sama seperti mu! "
" Kau! "
" Dengar ya Nathan, kalau kau meneriaki ku disini, aku akan mencium bibir mu penuh gairah. " Ancam Sammy lalu menyeruput susu nya.
Nathan tentulah dia langsung diam setelah beberapa kali menelan ludah. Meskipun dia jomblo dan terkesan tidak laku, tapi dia juga pria lurus yang menyukai gadis.
" Ayo bergabung bersama mereka. " Ajak Sammy dan langsung bangkit dari posisinya menuju meja dimana Ivi dan Bien berada.
" Tunggu! " Awalnya Nathan memang ragu-ragu, tapi karena ini adalah satu-satunya kesempatan untuk melihat wajah pria busuk itu dari dekat, Nathan dengan wajah datarnya mengikuti langkah Sammy yang terkesan sangat percaya diri.
" Selamat pagi, boleh kami bergabung? " Tanya Sammy lalu tersenyum ramah.
" Tidak boleh! tidak boleh! tidak boleh!tidak boleh! " Jawab Ivi yang merasa sangat amat dan kalau ada di atas kata itu. Yang pasti dia tidak mau kalau Upin dan Ipin itu duduk di meja yang sama dengannya. Maklum saja, momen berduaan dengan Bien sangat jarang sekali bisa ia dapatkan.
" Ivi, kau tidak boleh seperti itu. "
" Tapi, kakak Bien- " Ivi berucap dengan nada dan wajah yang manja.
" Tamu adalah raja dan penghasil uang. Jadi berlaku sopan dan baik padanya juga perlu. " Bien bangkit dan tersenyum. Lalu mempersilahkan Sammy dan Nathan untuk duduk bersamanya. Dia sendiri juga sudah tidak sabar dengan segala ocehan Ivi yang sangat basi dan tidak penting baginya.
Mereka mulai berbincang meski ada sedikit rasa canggung.
" Apa kalian pasangan? " Tanya Sammy sembari menatap Bien dan Ivi bergantian untuk mendapatkan jawaban.
" Iya! " Ivi.
" Bukan! " Bien.
" Tidak baik berbohong. " Ucap Bien dan langsung membuat Ivi terdiam. Bukanya dia ingin mengambil keuntungan, dia hanya merasa risih dengan dua pria yang membuat hari-harinya buruk itu. Tapi siapa sangka, Bien juga dengan terang-terangan melakukan hal yang sama.
" Maaf. " Satu kata itulah yang hanya bisa Ivi ucapkan. Entah mengapa rasanya sangat sakit saat Bien dengan begitu teganya melukai perasaannya. Seharusnya Bien bisa membaca situasi kan? seharusnya dia mengiyakan walau ia merasa berat. hari ini, Bien sekali lagi telah mematahkan hati Ivi seperti biasanya.
Berbeda dengan Sammy yang mulai asik mengobrol dengan Bien, Nathan malah jadi tak konsentrasi lagi dengan apa yang menjadi tujuan utamanya. Dia merasa kesal entah mengapa saat melihat wajah Ivi yang menjadi sedih.
Dasar gadis bodoh! makanya jangan jatuh cinta dengan pria yang kau bilang bermiliar-miliar lebih tampan dariku. Sudah jelek dan dekil seperti anak tikus keluar dari got, masih saja kau bilang tampan. Lihat lah kenyataan dengan benar, hei gadis pengantar ayam. Pria yang kau agung-agungkan itu malah tidak memperdulikan mu.
" Jadi apa pekerjaan mu, Bien? " Tanya Sammy setelah beberapa lama mereka saling berbosa-basi.
" Aku hanya seorang pemilik kafe di ujung sana. " Tunjuk Bien ke arah sebrang jalan. Sammy manggut-manggut mengerti.
" Aku pikir kau khusus datang untuk menemui pacar mu ini. " Lirik Sammy ke arah Ivi yang kini menatapnya sebal.
" Aku sudah memiliki kekasih. "
Nathan yang sudah sangat bosan dengan tema pembicaraan Sammy dan Bien, kini mencoba untuk mengubah posisi duduk nya yang terasa mulai pegal. Dia mengangkat sebelah kakinya hendak berjegang, tapi siapa sangka kalau kakinya tidak sengaja menepak kaki Ivi yang duduk berseberangan dengannya.
Ivi yang saat itu dalam kondisi kesal, akhirnya melampiaskan kekesalannya dan membalas menendang Nathan.
" Ah! " Pekik Nathan yang membuat Sammy dan Bien menoleh. Tapi dengan cepat Nathan menggelengkan kepala.
Ivi tersenyum sinis setelah berhasil melakukan itu. Tapi bukan Nathan namanya kalau akan diam saja. Dia menyeringai lalu membalas apa yang dilakukan Ivi barusan.
" Ah! " Lagi, Sammy dan Bien menatapnya penuh tanya. Ivi tertawa dan menepuk lengannya seolah mengisyaratkan kalau dia sedang mengusir nyamuk.
Nathan kembali tersenyum penuh kemenangan. Tapi karena sifat mereka yang sama-sama tidak mau mengalah, mereka terus saja melakukan itu dan juga tak juga berhenti memekik saat terasa sakit akibat tendangan.
" Hentikan!! " Ivi dan Nathan bangkit karena merasa lelah dengan apa yang mereka lakukan.
Semua mata mengarah kepada mereka, tapi mereka sama sekali tidak perduli. Mereka justru asik menatap marah satu sama lain.
" Dasar kurang ajar! kau yang menendang ku duluan! " Protes Ivi.
" Kau yang duluan! "
" Kau! "
" Kau! "
" Hentikan! " Sammy bangkit dan menghentikan Ivi dan Nathan yang seperti anak-anak sekolah dasar sat bertengkar.
" Kau yang diam! " Bentak Ivi dan Nathan bersamaan kepada Sammy.
To be Continued.
Hallo kesayangan.....
Terimakasih sudah memberikan pendapat kalian melalui komentar yang kalian berikan sebelumnya ya....
gk usah khawatir aku marah mengenai saran kalian. Aku malah bersyukur banget ketika kalian komen dan kasih unjuk dimana letak kekurangan ku sebagai penulis yang baru belajar ini.
Jangan pernah bosen untuk kasih aku komentar ya kesayangan....❤️
salam sayang dari aku, jangan lupa jaga kesehatan dan bahagia selalu.