
Seperti yang sudah direncanakan dari satu bulan lalu, hari ini adalah hari pernikahan Berly dan Dodi. Sangat berdekatan memang dengan hari Nathalie dan Nathania menikah. Tapi sungguh, satu tahun ini adalah tahun yang begitu membahagiakan bagi mereka semua. Nathan sudah menikah, kedua adiknya juga, kemudian Berly dan Dodi, heh! hanya tinggal satu lagi dan masih saja belum menikah. Yah, mungkin perlu memasang plang harga obral agar si pria melas itu cepat laku. Tapi sudah lah, kembali ke Berly dan Dodi. Seperti yang di inginkan Dodi dan keluarganya, pernikahan sederhana itu akhirnya terlaksana dengan lancar. Memang butuh satu bulan untuk mempersiapkan pernikahan karena ada beberapa hal yang perlu di selesaikan. Seperti Ibunya Berly yang awalnya tidak merestui, perdebatan tentang resepsi pernikahan yang berbeda keinginan, tapi syukurlah pada akhirnya semua berjalan dengan lancar akibat turun tangannya seorang Kevin.
" Hei, penggemar! " Panggil Berly yang ia tujukan untuk Sammy. Tentulah Sammy tahu kalau yang dimaksud adalah dirinya maka dia hanya perlu tersenyum dan membalas sapaan dari sang mantan pujaan hati itu.
" Hei, mantan idola ku. " Sammy mengangkat telapak tangannya seiring mulutnya menyapa.
" Kau masih belum ingin menikah? apa mau jadi suami kedua ku? " Berly tersenyum lucu.
Sammy mendesah sebal.
" Aku bukanya tidak mau menikah. Tapi jadwal pernikahan kalian terlalu berdekatan. Aku harus mengurangi uang tabungan untuk ku menikah dan membelikan kalian hadiah. " Sammy membuang wajahnya sebal.
Semua orang kompak tertawa mendengar Sammy. Nath yang melihat Sammy dari kejauhan berjalan mendekati nya sembari mengingat hari dimana dia bertemu degan Sammy saat itu.
###
Dua puluh tahun yang lalu. Vanya dan Nath yang baru kembali dari perjalanan bisnis tersentak melihat seorang anak laki-laki yang menangis di tepian jalan dalam keadaan hujan deras. Dengan segera, Nath dan Vanya mengentikan mobilnya lalu berjalan keluar menghampiri Sammy kecil. Nath memberikan jas nya sebagai selimut agar bocah itu tak lagi kedinginan, sedangkan Vanya memegangi payung untuk mereka.
" Kenapa kau ada di jalan saat hujan sederas ini? " Tanya Vanya yang terlihat begitu khawatir. Karena tak mendapatkan jawaban, Nath hanya bisa membawa Sammy ke dalam mobil. Untunglah, tidak jauh dari sana ada sebuah apartemen yang Nath beli beberapa bulan lalu dan memutuskan untuk membawanya kesana. Sesampainya di apartemen, Nath memandikan Sammy dengan air hangat agar tak demam nantinya. Tapi alangkah terkejutnya Nath karena melihat banyaknya luka di sekujur tubuh bocah itu. Dengan hati-hati Nath memandikan Sammy dan memutuskan untuk merawat nya.
" Siapa namamu? " Tanya Nath.
" Sammy. "
" Kenapa kau ada disana tadi? " Sammy menunduk dan tak berniat menjawab. Tangannya gemetar menandakan adanya trauma atau ketakutan yang menghantuinya.
" Kau punya orang tua? " Tanya lagi Nath. Sammy semakin menunduk dan kini justru mulai terisak.
" Sayang. " Vanya menggeleng seolah meminta Nathan untuk tidak lagi bertanya. Melihat bagaimana keadaan Sammy yang begitu buruk, Nath dan Vanya paham benar kalau dia pasti mengalami situasi buruk sebelumnya.
" Apa kau mau ikut bersama kami? " Ajak Vanya lalu tersenyum dengan begitu lembut. Sammy mengangkat wajahnya menatap bola mata Vanya yang membuat hatinya merasa tenang dan seolah terlindungi hanya dengan caranya menatap.
" Kau mau? " Tanya lagi Vanya masih dengan ekspresi yang sama. Perlahan Sammy mengangguk.
Semenjak hari itu, Sammy di bawa ke rumah Nath dan Vanya. Dia menjadi bagian keluarga tanpa adanya perbedaan. Awalnya memang dia begitu kaku karena harus menghadapi dinginnya Nathan ditambah lagi Nathania dan Nathalie yang begitu manja dan suka sekali mencari gara-gara. Tapi berjalannya waktu, Sammy tumbuh dengan bahagia dan tidak lagi terlihat murung seperti awal-awal datang ke rumah Nath dan Vanya. Dari situlah Vanya dan Nath tidak mau mempermasalahkan masa lalu Sammy. Bahkan dengan segala cara, dia menjadikan Sammy sebagai anak dan mencantumkan namanya di kartu keluarga mereka.
###
Grep....
Dengan tubuh gagahnya Nath memeluk erat Sammy.
Sammy yang tercengang karena tiba-tiba mendapatkan pelukan dari Nath, kini tidak bisa berkata-kata karena merasa begitu terharu dengan ucapan pria yang selama ini memberikan kehidupan yang layak untuknya. Tentu dia memang diberikan kartu kredit tanpa batas oleh Nath dan Vanya sama seperti anak-anak mereka yang lainya. Tapi karena ucapan Nyonya Chloe yang selalu menghinanya, dia sama sekali tak berani menggunakan kartu itu. Semua yang dia beli tentulah itu dari gajinya sebagai sekretaris Nathan.
" Ayah, aku. " Sammy sama sekali sudah tidak bisa berkata apapun lagi. Bibirnya tertutup rapat menahan tangis yang seolah sudah memenuhi tenggorokan nya.
" Oh, aku juga ingin berpelukan. " Nathalie ikut memeluk dua pria itu lalu di susul oleh Nathania.
" Hei, kakak pertama! tidak bisakah kau melihat kami sedang saling memeluk? apa kau tidak memiliki niat bergabung? " Tanya Nathalie kesal.
" Pergilah. " Ucap Ivi karena suasananya memang sedang mengharukan. Nathan menghela nafasnya lalu berjalan mendekati mereka. Sungguh dia memang malas harus melakukan ini. Tapi sudahlah, siapa tahu ini juga termasuk ngidam istrinya.
" Ya ampun, ini adalah hari pernikahan kita. Tapi kenapa mereka seperti pemilik acara. " Gumam Berly kepada Dodi yang kini juga ikut terharu melihat bagaimana baiknya keluarga adik iparnya.
Setelah kembalinya dari acara pernikahan Berly dan Dodi, Ivi dan Nathan kini kembali ke rumah bersama Nath dan Vanya tak lupa juga Sammy. Begitu juga dengan Nathalie dan Keenan yang memutuskan untuk tinggal di rumah mereka. Nathania dan Zadet juga sudah mulai tinggal di apartemen yang baru di beli Zadet beberapa waktu lalu.
" Sayang, kita langsung istirahat saja ya? kau pasti sudah lelah kan? " Ajak Nathan dengan nada yang begitu lembut.
" Ya ampun, anak itu benar-benar menjadi sangat perhatian dan lembut ya? " Ujar Vanya sembari memandangi punggung Nathan dan Ivi yang tengah menuju kamar mereka.
" Itu karena dia mirip dengan ku. " Nath tersenyum manis menatap Vanya yang juga langsung mengiyakan.
" Sammy, ikut Ayah dulu. " Ajak Nath ke ruang kerjanya.
" Ada apa, Ayah? " Tanya Sammy sesampainya disana.
" Duduklah. " Titah Nath. Sammy tentu saja mengikuti apa yang diminta oleh Nath dengan segera.
Nath menyerahkan sebuah amplop coklat berukuran besar dan juga tebal.
" Bukalah. "
" Baik. " Sammy mulai membuka amplop itu. Perlahan dia mengeluarkan satu persatu beberapa lembar kertas yang berada di dalam amplop itu. Dahinya mengeryit lalu menatap Nath penuh tanya.
" Ayah, ini? "
Nath tersenyum laku mengangguk.
" Semua itu adalah milik mu. Kami sengaja mendirikan perusahaan ritel khusus untukmu tanpa embel-embel Chloe. Itu juga tabungan yang kami siapkan untuk mu karena selama ini kau sama sekali tidak menggunakan uang yang kami berikan. "
To Be Continued