Touch Me!

Touch Me!
S2- Ayam Goreng



Pagi hari yang cerah, tapi tak secerah hati Nathan yang kini tengah merasa gusar. Entah apa yang terjadi dengan pria tampan itu. Seharian ini dia terlihat kesal dan hampir tidak mau berbicara. Sammy sampai-sampai bisa menghitung kata yang keluar dari mulut Nathan. Tak banyak, hanya tiga puluh enam kata yang keluar dari mulutnya seharian ini. Dia hanya menjawab beberapa pertanyaan penting dengan simpel. Iya, tidak, bagus, jelek, ulang lagi! , pergi sana!, tidak mau!, terserah!, jangan membuatku kesal!. Hanya seputaran kata-kata itu yang terus ia katakan.


" Than-than, kau ini kenapa sih? " Sammy bertanya dengan tatapan sebal. Maklum saja, dia kebingungan mengerjakan pekerjaan yang mengharuskannya banyak berdiskusi dengan Nathan.


Nathan menatap sebal Sammy karena berani-beraninya memanggil nama aneh yang sebelumnya hanya Berly memanggilnya begitu.


" Jangan berani-beraninya memanggil namaku dengan sebutan itu! "


Sammy tersenyum juga kali ini. Setelah seharian otot diwajahnya bekerja hanya untuk mengeryit, kini bisa digunakan untuk tersenyum. Baguslah, sebelum wajahnya mengkerut alot dan menjadi tua hanya dengan hitungan hari.


" Makanya kembalilah seperti Nathan yang gila kerja. Kalau kau lebih pendiam dari sebelumnya, aku yang pusing, tahu tidak? "


Nathan berdecih tapi enggan untuk menjawab ucapan menyebalkan dari Sammy. Sammy yang merasa Nathan sudah bisa di ajak bicara, akhirnya memutuskan untuk membahas sebuah dokumen yang sudah dibiarkan begitu saja sedari pagi.


Lain yang Sammy bicarakan, kain pula yang Nathan pikirkan. Sebenarnya dia ingin bertanya sesuatu, tapi mulutnya terasa begitu sulit bergerak hari ini. Apalagi kalau sampai Sammy salah paham, bisa-bisa mulut blong Sammy mengoceh kesana kemari. Belum lagi pasti dia akan meminta imbalan sebagai tutup mulut. Maklum saja, yang ada di otak Sammy hanya uang, uang, uang, dan uang. No more again.


" Bagaimana menurut mu? " Tanya Sammy setelah menyampaikan isi dari dokumen yang sedari tadi ia jelaskan.


" Tidak tahu, mungkin dia sedang bersama curut mabuk itu. " Ucap Nathan dengan tatapan kosongnya.


Sammy yang tahu jika Nathan tidak mendengarkan apa yang dia jelaskan, dia merasa kesal tapi hanya bisa menggaruk kepala sebagai bahan pelampiasan dari kekesalannya.


Eh, wait! dia bilang apa tadi? curut mabuk? bukanya julukan itu milik pangeran impiannya Ivi? jadi dari pagi dia memikirkan Ivi ya? hehe.


" Nathan, kau merindukannya? "


Nathan yang mulai sadar dari lamunannya, kini mengernyit lalu menoyor kepala Sammy.


" Apa yang kau bicarakan? "


Eh? sudah sadar ya?


Sammy menghela nafas lalu mengeluarkan ponselnya.


" Sepertinya aku ingin memakan ayam goreng. " Ucap Sammy sembari berpura-pura menggeser layar ponsel ke bawah untuk mencari-cari nomor pemilik ayam goreng langganannya. Ekor matanya melirik untuk melihat bagaimana ekspresi Nathan. Dan benar saja, diam-diam dia juga mencuri pandang ke arah ponsel Sammy.


" Huh! tapi aku bosan memakan ayam goreng. Bagaimana dengan pizza? hah? iya! pizza saja. "


Nathan memukul punggung Sammy reflek.


" Jangan memakan pizza! bukanya biasanya kau lebih suka ayam goreng?! " Nathan yang merasa bersalah karena telah memukul Sammy, dia hanya berdehem lalu berpura-pura tidak terjadi apa-apa.


Tentu saja Sammy kesal, tapi mau bagaimana lagi? Nathan adalah anak dari orang yang sudah mengadopsinya. Terlebih, Nathan juga adalah sahabatnya. Mau tidak mau dia hanya bisa memukuli Nathan sampai berdarah-darah di imajinasinya saja.


" Ya sudah kalau begitu, aku akan memesan ayam. " Ucapan Sammy ini sukses membuat Nathan tersenyum meski dia mencoba membuang muka, tentulah Sammy tahu senyum sialan itu.


Dasar iblis! tersenyum merona begitu, memang kau pikir akan ku biarkan begitu saja?


" Tapi aku ingin memakan ayam penyet yang ada di dekat kantor saja. Sepertinya itu lebih enak. " Sammy kembali menggeser layar ponselnya berpura-pura mencari nomor telepon dari restauran yang di maksud.


" Jangan gila! kau kan tidak suka pedas?! " Protes Nathan yang terlihat menggebu-gebu tidak jelas.


" Kan ayamnya dipenyet saja, tidak pakai cabai kan tidak apa-apa. "


" Tidak boleh! " Nathan sampai bangkit dari duduknya hanya untuk melarang Sammy.


" Kenapa? "


Nathan menelan ludahnya lalu terdiam sesaat untuk berpikir mencari alasan.


" Itu, restauran itu curang. Kemarin ayam yang dijual sudah mati. "


Sammy terperangah tapi juga ingin tertawa, untunglah tawa itu bisa ia tahan.


Nathan menggerakkan bola matanya ke kanan dan ke kiri karena bingung mencari alasan apa lagi.


" Ayamnya, ayamnya... "


" Ayamnya kenapa? "


" Ayam itu tidak higienis. Kemarin aku lihat sendiri cara koki yang memasak ayam itu. Dia menggaruk ketiak, lalu menggali kotoran hidung, dan menggaruk kepala. Setelah itu, dia memegang ayamnya tanpa mencuci dulu tangannya. Kau mau makan ayam yang terkontaminasi jutaan virus? " Nathan menatap Sammy dengan mata yang membulat tapi tidak fokus. Tentu saja, karena Nathan bukanlah orang yang terbiasa berbohong.


Hahahahah... ya Tuhan, seandainya kau adalah adikku, aku pasti sudah menjitak kepala mu sampai berlubang. Memang kau ini kurang kerjaan apa? ayam goreng yang di dekat kantor, kau pikir ada?


" Ya ampun! aku sampai lupa. " Ujar Sammy setelah menepak jidatnya menggunakan telapak tangannya.


" Apa? " Tanya Nathan bingung.


" Ayam goreng yang ada di dekat kantor, sepertinya hanya ada di dalam mimpiku. Jadi, dari mana dan kapan kau melihat kejadian menjijikkan itu? " Sammy tersenyum licik saat Nathan mengalihkan pandangan sembari mengusap tengkuknya.


" aku, sepertinya juga hanya bermimpi deh. " Ujar Nathan tapi tak berani menatap manik mata Sammy.


Sialan! aku ini kenapa sih?!


" Apa aku minta Ivi mengantar ayam goreng mentega kesukaan ku saja ya? " Tanya Nathan kepada dirinya sendiri. Tapi tentulah ekor matanya setia mengintip ekspresi bodoh Nathan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Nathan tersenyum tipis dengan kepala yang mengangguk dengan tatapan semangatnya.


" Tapi aku bosan, tapi aku lapar, tapi kalau aku tidak makan nanti aku chakiet. ah, tapi kalau aku makan ayam, aku nanti muntah karena bosan. " Sammy menimbamg-nimbang pendapatnya sendiri.


" Makan ya makan saja! dari tadi kau hanya bingung! tapi, tapi, tapi, tapi, tapi! bosan aku dengarnya tahu tidak?! kau kan biasanya makan ayam goreng itu setiap hari. Kenapa tiba-tiba bilang bosan?! kalau kau makan, pesan saja ayam goreng biasanya! NOW!!! " Nathan sudah tegak berdiri. Jari telunjuknya juga lurus tajam ke arah Sammy yang membelalak kaget.


Sammy mengangguk dengan cepat lalu langsung menghubungi Ivi. Satu, dua panggilan tidak terjawab. Dan pada panggilan ke tiga, barulah panggilan itu di terima oleh Ivi.


" Hallo Ivi? "


Iya?


" Bisa antar ayam? "


Tidak bisa, aku sedang bersama ayahku.


" Please...." Sammy memohon karena Nathan terus menatapnya tajam.


Maaf, Ayah ku sedang sakit. Kau minta saja Bos ku untuk mengantarnya padamu.


" Apa?! sakit?! " Nathan menatap Sammy dengan tatapan penuh tanya. Seolah bertanya siapa yang sakit dan sakit apa?


" Apa kau membutuhkan biaya besar? " Tanya Sammy.


Apa aku bisa merepotkan mu? kalau boleh, aku bisa meminjam nya? aku janji akan membayarnya dengan menyicil.


Sammy tersenyum lalu memberikan jempolnya kepada Nathan. Lain dari Sammy, Nathan yang tidak bisa mendengar apapun hanya bisa mengeryit bingung.


" Tentu saja, tapi kau juga harus membantuku. "


Baiklah, apapun akan aku lakukan.


" Termasuk menikah dengan teman ku? "


Ivi terdiam beberapa saat.


Iya. Baiklah.


To Be Continued.