
Vanya dan Lexi, kini sudah berada di lobby kantor. Vanya menyerahkan kartu anggota pegawai untuk di scan baru bisa masuk lift dan menuju Divisinya.
Sudah beberapa kali di scan, tapi kartu anggota pegawai milik Vanya sudah tidak bisa digunakan lagi.
" Maaf Nona, kartu anda sepertinya sudah di blokir. Maaf, karena anda tidak di perbolehkan masuk. " Ucap penjaga itu sembari menyerahkan kartu anggota pegawai kepada Vanya.
" Apa?! di blokir? " Vanya dan Lexi saling menatap bingung.
" Bagaimana mungkin? " Tanya Vanya sembari menatap Lexi dan penjaga itu bergantian.
" Biarkan dia masuk bersama ku. Dia adalah temanku. " Ucap Lexi yang langsung di angguki oleh penjaga itu.
" Lexi, kenapa kartu ku di blokir? " Tanya Vanya bingung.
" Jawabannya hanya satu. " Jawab Lexi sembari menekan tombol lift.
" Apa?
" Kau, sudah di pecat. " Jawab Lexi sembari menatap Vanya serius.
" Kenapa? bagaimana mungkin? aku dipecat dari kantor suamiku sendiri? " Tanya Vanya yang kebingungan. Dia kembali mengingat dimana letak kesalahannya.
" Tentu saja, orang tua Nath yang melakukannya. " Lexi menghela nafasnya.
" Jadi Vanya, apa yang akan kau lakukan?
Ting.......!
Pintu lift terbuka.
Manik mata Vanya menatap tajam sepasang anak manusia yang berada di dalam lift.
Sedangkan Lexi, dia merasa gugup tapi juga terlihat kemarahan dimatanya.
" Nath? Gaby? " Di lihatnya Nath dan Gaby berada di dalam. Gaby melingkarkan tangannya di lengan Nath. Dia benar-benar nampak bahagia. Tapi Nath, wajah datarnya tidak menunjukkan ekspresi apapun.
" Sampai kapan aku harus menahan tombol lift ini? " Pertanyaan Nath menyadarkan Nath dan Lexi dari lamunannya.
Tanpa berkata apapun lagi, Lexi mendorong pelan tubuh Vanya agar segera masuk ke dalam lift.
Manik matanya masih terus menatap tajam Gaby dan Nath.
" Dasar wanita sialan! siluman rubah! " Maki Vanya sembari melirik Gaby yang berada disampingnya.
" Siapa yang sedang kau maki? " Tanya Gaby dengan tatapan kesalnya. Benar, dia masih tidak menyangka. Kenapa Lexi malah membawanya masuk? padahal sudah di pecat batinnya.
" Tentu saja kau lah! apa begitu menyenangkan merebut suamiku?!
Baik Lexi atau Nath kini sedang menatap Vanya kaget.
" Vanya! hentikan! " Ucap Lexi lirih.
" Kau juga! " Vanya menunjuk wajah Nath.
" Dasar bodoh! kemana kau yang biasanya sangat cerdas?! kenapa mudah sekali di hipnotis dan melupakan istrimu begitu saja?
" Apa? " Nath menatap bingung wanita yang memakinya itu. Tapi entahlah. Dia sendiri tidak tahu apa yang harus dilakukan. Rasanya dia tidak bisa memarahinya. Bahkan, saat melihat dia memaki tunangannya pun, dia seakan tidak ingin menghentikannya.
" Dasar brengsek! kau juga! " Vanya menunjuk wajah Gaby yang sekarang ini sudah merah padam karena menahan kesal.
" Aku akan mencekik mu sampai mati dan aku akan, em,.....
Vanya tidak bisa lagi meneruskan ucapannya. Karena Lexi, sudah terlebih dulu membungkam mulut Vanya.
Ting......!
Pintu lift terbuka. Lexi mendorong tubuh Vanya agar cepat meninggalkan Nath dan Gaby.
Nath dan Gaby juga ikut keluar. Karena ruangan Lexi dan Nath berada di satu lantai. Nath terus menatap kepergian Lexi dan Vanya. Ada perasaan aneh yang kini ia rasakan. Makian dari Vanya, kini tengah menghantui pikirannya.
" Ayo sayang. " Ajak Gaby sembari menarik lengan Nath.
Sialan! kenapa wanita jal*ang itu bisa bertemu Lexi?! aku harus benar-benar memastikan, dia tidak akan bisa lagi menginjakkan kaki di perusahaan ini.
" Kenapa kau begitu brutal? " Tanya Lexi yang sudah berada di ruangannya.
Vanya berdecih sebal. " Bukankah itu wajar?
" Bukankah aku juga ada disini? " Devi menatap Lexi dan Vanya bergantian.
" Jangan ikut campur! dasar mulut kubangan! " Ucap Lexi sembari menatapnya sesaat lalu kembali menatap Vanya.
Dasar sialan! kubangan? heh! kemarin kau mencium mulut kubangan ini! dasar homo!
" Sudah lah, Lexi. Aku paling mengenal Nath. Jadi, jangan menghentikan ku.
" Baiklah. " Jawab Lexi yang memang tidak pandai bertengkar dengan Vanya.
" Jadi kapan kalian akan menikah? " Tanya Vanya sembari menatap Lexi dan Devi bergantian.
Vanya sudah mengetahui ini dari Ibunya Devi. Dia begitu antusias hingga langsung menghubungi Vanya. Dia mengatakan segalanya kepada Vanya. Termasuk, meminta bantuan Vanya untuk mendekatkan mereka.
" Itu tidak akan terjadi. " Ujar Lexi yang kini berwajah masam.
" Jangan lupa, aku lebih tidak sudi lagi. " Gumam Devi tanpa menatap lawan bicaranya.
Vanya tersenyum. Dia menghampiri Devi dan duduk dikursi sebrang Devi.
" Nona, kau nampak sudah uzur. Apa kau akan melajang seumur hidupmu? kau tidak berniat menjebol keperawanan mu? ini sudah dua puluh enam tahun loh,... " Ledek Vanya.
" Vanya! bisa-bisanya kau mengatakan hal-hal tidak masuk akan disini! " Bentak Devi yang merasa kesal dengan ucapan Vanya.
Menjebol perawan? memangnya dia pikir, perawan ku ini tidak berharga apa?!
" Pft....! " Lexi menahan tawanya.
" Perawan? bingung memilih? lucu sekali. Haha.... " Lolos sudah apa yang ada dipikiran Lexi. Mana mungkin gadis seperti Devi masih perawan? dan apa lagi dia bilang? bingung memilih? memang siapa yang mau menikahi mulut kubangan seperti itu? batin Lexi.
" Sekretaris Lexi, aku menghormati mu sebagai rival ku. Tapi, jika menyangkut masalah pribadi, aku tidak akan segan. " Ancam Devi.
" Heh? begitu ya? anak perawan? " Tanya Lexi dengan mimik wajah mengejek.
" Dasar H O M O !
" Aku tidak homo! " Bantah Lexi.
" Bahkan sampai kiamat pun, aku tidak akan percaya. " Elak Devi.
" Kalau kau tidak percaya, aku akan membuktikannya padamu! " Ancam Lexi.
" Buktikanlah,... siapa yang takut. " Ujar Devi dengan wajah meremehkan.
Lain dipikiran Lexi, lain pula apa yang Devi pikirkan.
Jika maksud Lexi membuktikan bersama Devi, maka yang di maksud Devi adalah membuat Video sedang, itulah ya. Dan menunjukkannya padanya.
" Kau yakin? sudah siap menjebol keperawanan palsu mu?
Devi menatapnya bingung. " Apa yang kau maksud?
Sadar mereka sedang salah paham, lagi, mereka kembali adu mulut.
Vanya yang menjadi saksi betapa serunya perdebatan mereka, hanya bisa tersenyum. Dia mengingat kembali awal mula Nath mendekatinya. Rindu, dia benar-benar merindukan suaminya itu. Tatapan penuh cinta yang selalu ia lihat dari mata Nath. Sikap lembutnya, harum tubuhnya, pelukannya, perhatian dan kata-kata yang selalu ia dengar setiap hari. ' Sayang, I Love You. '
Vanya keluar dari ruangan Lexi. Karena masih asik dengan perdebatan mereka, sampai-sampai tak menyadari jika Vanya sudah meninggalkan ruangan.
Langkah kakinya terhenti saat melihat Gaby yang juga keluar dari ruangan Nath.
Mereka menatap dalam artian yang sama. KEMARAHAN.
" Pergilah dan jangan pernah kembali. " Ucap Gaby. Nada bicaranya memang lembut. Tapi, Vanya tidak buta untuk melihat kebengisan dari tatapan Gaby.
Vanya tersenyum.
" Tidak kah kau merasa, kau adalah pengganggu?
" Kau adalah pengganggu! dari awal, kau yang mengganggu ku dan Nath.
" Oh ya? se ingatku, Suamiku itu, bahkan mati-matian menolak mu. Dia bahkan, tidak ragu memilihku dari pada dirimu. Bahkan, dihadapan mu kan?
" Diam kau! " Kesal Gaby.
" Baik lah aku akan diam. " Vanya tersenyum.
" Gaby?
Gaby kaget dan langsung membalikkan tubuhnya.
" Nath?! sejak kapan kau ada disini? " Tanya Gaby dengan wajah yang gugup.
Yups.. dan Vanya sudah mengetahui keberadaan Nath dari awal.
" Sejak tadi. " Jawab Nath dengan wajah datarnya.
" Oh, Nath. Ada apa? " Gaby terlihat berusaha menghilangkan wajah gugupnya.
" Ponsel mu. " Nath menyerahkan ponsel milik Gaby yang tertinggal di ruangannya.
Vanya menghela nafasnya. Dia mencoba tersenyum meski hatinya serasa ingin hancur.
" Baiklah, Suamiku. Aku pergi dulu. " Ucap Vanya sembari berjalan melintasi Gaby dan Nath begitu saja.
Gaby menahan geramnya didalam hati.
Sialan! aku benar-benar akan membunuh mu!
Sementara Nath, matanya masih mengikuti punggung Vanya yang semakin menjauh.
Sebenarnya, ada apa dengan hatiku? kenapa tiba-tiba terasa sakit melihatnya pergi? sebenarnya, siapa suaminya? kenapa aku yang merasa bersalah?
Setelah memasuki lift, Vanya memegangi dadanya yang terasa sesak dan nyeri.
Kuatlah, Vanya. Nath juga korban. Jangan membencinya karena tidak mengingat mu. Karena jika dia tahu, dia akan membenci dirinya sendiri karena telah membuat mu menangis.
Vanya meraih ponselnya dan menghubungi Bibi Nhanti.
" Bibi, bisa kirimkan aku seseorang yang Bibi percaya? aku sangat membutuhkannya.
" Dan, sampaikan padanya juga. Untuk membeli mini cafe yang ada di dekat perusahaan tempatku bekerja. Apapun caranya.
" Baiklah Bibi. Terimakasih banyak.
Vanya menutup sambungan teleponnya.
" Nath, ayo kita mulai dari awal lagi.
To Be Continued.
( Untuk Bibinya Vanya, othor kasih tambahan huruf ya? takut kebingungan. Antara Nanti dan nanti gituh 🤣🤣 )
Selamat membaca....
Jangan lupa jaga kesehatan ya? para kesayangan ❤️❤️❤️