Touch Me!

Touch Me!
Malam pertama



Setelah perdebatan itu, Vanya memutuskan untuk meninggalkan pesta pernikahan Lexi yang sudah hampir rampung. Tentu saja, Nath setia mengekor di belakangnya.


" Dasar siluman gorila! memangnya begitu menyenangkan ya menggoda suami orang? huh...! kalau aku jadi dia, aku tidak akan menyi-nyiakan wajah cantiknya. Aku akan mengoleksi beberapa pria tampan untuk menjadi suami ku. Tentunya, aku akan memeriksa kejantanannya dulu hihihi..


" Benarkah? " Suara itu muncul tiba-tiba. Membuat bulu kuduk Vanya serempak berdiri.


Vanya hanya bisa menelan ludahnya. Tentu saja dia tahu, itu adalah suara Nath. Sungguh, dia tidak menyadari jika Nath ada dibelakangnya. Dengan segenap keberanian, Vanya memutar tubuhnya menghadap sumber suara. Yah, meskipun ada rasa gugup dihatinya.


" Na,Nath? kau ya? haha..." Vanya mencoba berakting. Yakin sih, kalau Nath pasti mendengar ucapannya tadi.


" iya. Jadi, kau memiliki fantasi yang begitu liar ya? " Tanya Nath dengan tatapan mengancamnya.


Fantasi ku memang seliar itu? oh, aku tidak pernah merasa itu liar.


" Ti,tidak. " Vanya mengerakkan kedua tangannya agar menjadi sebuah kode penolakan.


" Ayo kita pulang, dan menyelesaikan masalah diantara kita. " Ajak Nath seraya meraih tangan Vanya.


Ditempat yang tak jauh dari mereka, Gaby memperhatikan segala yang mereka ucapkan. Dia meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.


" Kerahkan lebih banyak orang mu! habisi gadis itu. Kali ini, kau tidak boleh gagal lagi! " Gaby langsung mutuskan sambungan teleponnya setelah selesai berucap.


Dia menatap nanar punggung Nath dan Vanya yang mulai menjauh darinya. " Berbahagialah, Vanya. Kau tidak boleh menghalangi jalanku. Aku adalah orang yang pantas untuk Nath. Kau, hanya akan menjadi tumbal dari cinta bodoh mu itu.


***


" Aw!!! " Pekik Devi yang merasa kesulitan membuka resleting gaun pengantinnya.


Lexi yang sedang mengganti pakaian spontan mengetuk pintu kamar mandi. Karena, Devi memilih untuk mengganti pakaian disana.


Tok..! Tok...!


" Hei,! mulut kubangan? kau baik-baik saja? kenapa kau terus berteriak di kamar mandi? apa kau sedang melakukan malam pertama dengan sesuatu di dalam? " Goda Lexi sembari terus mengetuk pintu kamar mandi.


" Apa dia bilang? malam pertama menggunakan sesuatu? apa sih maksudnya? " Gumam Devi ya g masih kesulitan karena gaun yang sungguh sangat ribet. Kesal rasanya, biasanya dia hanya akan menggunakan celana jeans dan kaos oblong. Dan saat bekerja, dia akan menggunakan setelan baju kantor yang paling simpel. Sungguh membuatnya pusing sendiri.


" Woi,.... Mulut kubangan! apa kau masih hidup?


Brak.....!


Devi membuka pintu degan kasar. Membuat Lexi terperanjak dan sedikit memundurkan langkahnya.


Melihat Devi yang berwajah kesal, entah mengapa membuatnya sedikit bergidik ngeri.


" Kau, apa wajah mu tidak bisa, kalau tidak seram? " Tanya Lexi geram. Lagi-lagi harus melihat wajah marah Devi yang menyeramkan itu. Membuat nyalinya menciut saja batinnya.


" Buka gaunku!


" Hah?! " Lexi menatap Devi bingung. Dia bahkan menelan salivanya sendiri karena berandai-andai dengan pikiran kotornya.


" Kau tuli?! buka gaunnya! " Bentak Devi lagi. Eh, sejujurnya dia ini sedang minta tolong, tapi ya sudahlah. Namanya juga Devi. Mulut dia juga kan yang capek?


Lagi, Lexi menelan salivanya. Dengan perasaan canggung dan ragu. Dia mulai menggerakkan tangan sembari memposisikan dirinya agar leluasa menurunkan resleting gaun pengantin itu.


Semakin turun resletingnya, semakin merah pula wajah Lexi. Sungguh, dia benar-benar benci mengakuinya. Tapi, punggung Devi benar-benar mulus. Pinggangnya juga sedikit terekspos. Bisa Lexi simpulkan, gadis itu memiliki bentuk pinggul yang bagus. Tanpa sadar, Lexi sudah mengangkat tangannya lagi hendak menyentuh punggung mulus itu.


" Balikkan badan mu! " Titah Devi yang membuat Lexi terperanjak dan langsung membalikkan badannya. Padahal, dia tidak dengar jelas apa yang dikatakan Devi. Tubuhnya benar-benar patuh. Bertolak belakang sekali dengan otak dan hatinya.


" Tenanglah, mataku sangat sibuk. Tidak ada waktu untuk mengintip mu. " Ujar Lexi sedikit kesal.


Memang tubuhmu sebagus itu apa?! membuat mataku kotor saja kalau harus melihatmu. Mungkin kau tidak tahu, tapi aku ini benar-benar perjaka. Mataku sudah terbiasa melihat yang seperti itu dan aku tidak tertarik. Apalagi melihat tubuh mu yang lurus seperti angka satu. Mengintip? menggelikan sekali.


" Hei, Lexi! apa kau bisa membuat anak? " Tanya Devi sembari memilah baju yang akan ia kenakan.


Lexi terperangah tak percaya. Lagi? pertanyaan yang menjijikan! tentu saja bisalah, batinnya.


" Kau mau bukti atau apa sih? " Tanya Lexi yang sudah mulai sebal. Tapi, dia tetap membelakangi Devi.


" Aku hanya bertanya. Kalau kau bisa membuat anak, aku penasaran bagaimana caranya, jika orang tua kita meminta anak. " Ujar Devi yang sudah menemukan baju untuk ia kenakan.


" Penasaran?! mau mencobanya? " Tantang Lexi.


" Coba saja. Jangan lupa. Buat sebanyak mungkin. " Jawan Devi yang kini sudah mendudukkan dirinya agar lebih mudah mengenakan celana tidurnya.


" What?!! " Lexi yang terkejut, sontak membalikkan tubuhnya.


Blush....


Wajahnya benar-benat semakin merah karena melihat Devi dengan pakaian yang sangat minim. Hanya kain di bagian tengah dan dadalah yang menutupinya.


Ya Tuhan......! ini, indah sekali. Hehehe


" Lexi, kenapa kau diam? " Lexi kembali tersadar dan kembali pada posisi awal. Untunglah, Devi tak melihat ke arah belakang tubuhnya. Kalau tidak, melayang sudah kepala Lexi.


" Me,memang kau mau berapa anak? " Semakin merah wajah Lexi. Rasanya, tidak buruk juga kalau membuat anak dengan si mulut kubangan. Dia tidak jelek dan pintar kan? batin Lexi.


" Sebanyak mungkin. " Jawab lagi Devi.


" Benarkah? " Lexi meyakinkan jawaban Devi yang seperti angin segar.


" Iya. " Jawab Devi ringan.


" Kalau begitu, Ayo kita coba. " Lexi membalikkan tubuhnya. Untunglah, Devi sudah lengkap berpakaian. Jadi, tidak perlu lagi mendengarkan ocehan gadis bermulut kubangan itu.


" Kita? " Tanya Devi bingung.


" Iya. Ayo kita mulai. " Lexi tersenyum sembari berjalan ke arah Devi.


" Kita mulai? apa maksud perkataan mu? " Devi masih mencoba mencerna ucapan Lexi.


" Kita mau membuat anak, kan? " Lexi menekankan ucapannya agar tak membuat Devi ragu.


" Dasar homo brengsek! jangan membuat anak denganku! buat sana dengan pacar mu! bawa pulang setelah itu. Jadikan dia anak kita. Itu maksud ku! " Berang Devi yang merasa kesal dengan tatapan Lexi yang begitu cepat sudah berubah menjadi sangat mesum.


" Maksudnya apa sih? aku kan hanya mengikuti mau mu. Dimana lagi letak kesalahan ku?!" Protes.


" Diam! masih tidak tahu letak kesalahan mu?! "Kesal Devi.


Lexi hanya bisa menatap Devi kesal. Yang benar saja, membuat anak dengan orang lain dan membawanya pulang? memang membuat anak itu seperti membuat kue begitu?


" Kalau mau anak, ya harus membuatnya bersama. Aku tidak suka sembarangan menyentuh wanita. " Ujar Lexi sembari menyeringai licik.


To Be Continued.