
Hari penuh bunga! huh.... itulah yang dirasakan oleh Lexi dan Devi. Selama diperjalanan menuju kantor, mereka terus saja tersenyum dengan rona merah yang menguasai wajahnya. Lexi yang terus melihat ke arah devi dengan senyum bahagianya, Devi yang seolah-olah tidak perduli padahal dia begitu malu.
Sesampainya di kantor, Lexi dan Devi menuju ruangan mereka bersamaan. Awalnya Lexi ingin menggandeng tangan Devi, tapi gadis itu beralasan, dia bilang tidak baik untuk pegawai yang lain. Heh! sungguh kepura-puraan yang luar biasa. Padahal, tujuan gadis itu menolak adalah karena malu. Maklum saja, dia belum pernah menjalin hubungan dengan siapapun. Seumur hidup, dia hanya biasa mencium Anjing kesayangannya dan Nathan keponakan tampannya. Dan sekarang? ada satu daftar nama yang memiliki makna tersendiri baginya.
Mereka masih kompak bersama hingga keluar lift dan mereka sudah berada dilantai tepat dimana ruangan mereka berada.
" Sekretaris Lexi! " Panggil Karin dengan langkah cepat menuju ke arah Lexi.
Lexi yang melihat sosok wanita berlari ke arahnya benar-benar merasa ngeri. Bagaimana tidak? Istrinya sudah menaikan sudut bibir dengan tatapan tajam ke arahnya.
" Sekretaris Lexi, aku menghubungimu berkali-kali semalam, kenapa tidak merespon? "
Gadis itu berucap dengan wajah manjanya. Seketika mata Lexi langsung membuang arah tatapannya saat tak sengaja melihat kancing baju Karin yang terbuka di bagian atas, dadanya terlihat menyembul ke atas karena tekanan pada kemeja sempit yang ia kenakan.
" A aku, sedang bersama istriku. Lagi pula, kenapa memang menghubungiku? memang pekerjaan apa yang mendesak? " Tanya Lexi tapi tak berani menatap lawan bicaranya.
" Istri? anda kan belum menikah? lalu kenapa anda tidak menatapku? "
Devi berdecih dengan tatapan mengejek.
" Tentu saja dia malu menatapmu! dia takut mengotori matanya. " Ujar Devi yang kini selangkah lebih maju dari Lexi. Dan Lexi, dia hanya bisa membiarkan apa yang dilakukan istrinya. Tidak mau membela gadis itu karena itu akan membuat taring Devi muncul nantinya.
" Apa maksudmu? " Tanyanya sinis.
Devi menghela nafas lalu meraih kemeja Karin yang terbuka dibagian atasnya. Devi sudah mencoba untuk mengancing nya, tapi kedua sisi baju itu bahkan tidak bisa mendekat.
" Lihat ini! kenapa kau mengenakan baju sekolah dasar mu ke kantor? "
Karin melongo kesal mendengar ucapan Devi. Ingin sekali rasanya dia menyumpal mulut Devi menggunakan kaos kakinya.
" Ini adalah tren! kau yang tidak tahu tren, kenapa menghinaku? "
" Menghina? uh?! untuk apa aku menghina yang sudah hina? merepotkan saja. " Devi meraih dasi Lexi menariknya dan mengajaknya pergi. Lexi hanya bisa pasrah mengikuti langkah Devi meski sudah seperti kambing peliharaan dibuatnya.
Karin menatap kesal kedua orang itu. Berani-beraninya bersikap sok mesra didepannya. Padahal hanya asisten sekretaris, batinnya kesal.
Setelah sampai kedalam ruangan, Devi berjalan mendekati Lexi. Laki-laki itu dengan bodohnya malah memundurkan langkah yang mana, membuat Devi memajukan langkahnya hingga tubuh Lexi menabrak dinding dan tak memiliki ruang lagi untuk mengubah posisi.
" Jangan macam-macam dengan wanita lain, atau aku akan menebang tongkat kebanggaan mu itu. "
Ancaman Devi benar-benar membuat Lexi bergidik ngeri. Dia hanya bisa pasrah dan mengangguk dihadapan wanita itu. Dia benar-benar kehilangan keahliannya untuk berdebat dengan wanita yang ia juluki mulut kubangan itu. Entah apa sebabnya. Tapi jujur, Lexi merasa senang melihat Devi yang mengancamnya begitu. Bukankah itu namanya cemburu? saat Devi akan membalikkan tubuhnya, Lexi dengan sigap langsung meraih pinggang Devi dan menyergap bibirnya.
Awalnya Devi ingin sekali mendorong Lexi karena sekarang mereka harus bekerja, tapi apalah daya, dia justru hanyut dan membalas ciuman itu.
***
Lalu lalang para pasien, pengunjung, petugas medis, dan beberapa orang lain memenuhi rumah sakit dimana Kevin dan Sherin bekerja.
" Aku akan memikirkannya! jangan memaksaku terus menerus! " Ucap Sherin lalu mengakhiri panggilan telepon nya. Dia menundukkan kepala sesegukan di ruang kerjanya. Untung saja ini jam makan siangnya, jadi tidak akan ada yang mengganggunya.
Gadis itu bangkit dan mengusap air matanya. Tapi sial! seorang pria yang entah sejak kapan berdiri di dekat pintu memperhatikannya.
" Kenapa anda disini? "
Sherin mencoba mengalihkan wajah agar tak disadari adanya air mata yang tersisa di wajahnya.
" Kenapa kau selalu berpura-pura kuat? " Tanya pria itu yang tak lain adalah Kevin.
" Jangan omong kosong! "
" Ah!! " Pekik Sherin saat Kevin menarik tubuhnya dan membuatnya duduk di pangkuannya. Sherin yang merasa terkejut mencoba untuk bangkit dengan sedikit memaksa.
" Diamlah, ada sesuatu yang sensitive dibawah mu yang akan bereaksi jika kau terus bergerak."
Diam, Sherin langsung tidak mau bergerak. Bahkan bernafas pun dia begitu pelan agar tubuhnya tak mengalami pergerakan karena naik turun perutnya saat bernafas.
" Aku tahu semua, sayangku. " Kevin menyibakkan rambut Sherin agar bisa melihat tengkuknya.
" Apa yang kau tahu? "
Kevin tersenyum lalu memberikan kecupan di tengkuk Sherin. Tentu saja gadis itu merona dan merasa geli dengan apa yang dilakukan Kevin. Tapi dia juga masih tidak berani bangkit atau melakukan gerakan apapun.
" Ibumu mengambil Berly, memaksamu untuk menikahi anak dari rekan suaminya kan? "
" Dari mana kau tahu? "
" Aku tahu semua tentangmu, sayang. "
" Lalu, apa hubungannya dengan mu? "
Kevin memeluk tubuh Sherin dan menghirup aroma tubuh wanita yang ia cintai itu.
" Karena kau adalah calon istriku, mana mungkin aku akan membiarkan hal itu terjadi? "
" Jangan bermimpi. Ibu dan Ayah tiri ku sangat keras kepala. Saat aku mengatakan akan menikahi pria baik hati dan memiliki jabatan tinggi pun, dia tetap memaksaku untuk menikah. "
" Maka kau hanya perlu hamil. "
Sherin menatap Kevin dengan tatapan tidak percaya. Bagaimana bisa dia berkata hamil dengan mudahnya? pacar saja dia tidak punya, dua kali kencan buta juga gagal. Lalu dengan siapa dia akan hamil? guling?
" Kau ini gila atau apa sih?! "
Kevin mengurai pelukannya dan menatap manik mata Sherin.
" Percaya atau tidak, hanya aku yang bisa membantumu saat ini. Kau meragukan harta? maka tenanglah, sampai sepuluh turunan pun, harta ku tidak akan habis. Kalau setiap hari makan tahu tempe. ".
" Jangan membawa harta dalam masalah ini. "
Kevin berdecih.
" Ibumu menikahkan mu karena tergiur tawaran yang diberikan dari calon mempelai pria. "
Sherin terdiam sembari berpikir. Apakah harus mempercayakan ini kepada orang yang menyebalkan ini? tapi, dibanding menikahi pria pilihan Ibunya, bukankah lebih baik menikahi Kevin? konsekuensinya kan hanya satu, semakin dimusuhi oleh oleh tenaga medis disana. Tapi, kan dia bisa pindah rumah sakit?
Hah ide bagus!
" Baiklah! aku setuju. "
To Be Continued.
Maaf kalau banyak Typo.😁
Jangan lupa Like dan komen ya.....
Jaga kesehatan dan selalu bahagia ya kesayangan❤️