Touch Me!

Touch Me!
Keluarga Lengkap



Nath dan Vanya kini saling menatap dengan arti tatapan yang berbeda.


Vanya menyeringai sembari menatap Nath yang masih intens menatapnya.


Dasar laki-laki. Seenaknya saja mau adegan rekontruksi. Jika berhasil, maka aku akan bersujud dikakimu lima kali sehari.


" Bagaimana? " Tanya Nath kembali. Sungguh, dia benar-benar ingin merasakan persatuan itu lagi.


" Ah, tentu saja. " Jawab Vanya tanpa ragu.


Eh? dia tidak menolak ya? semudah inikah memanfaatkan kelemahan orang?


" Kau yakin? " Nath kembali bertanya.


Vanya mengangguk sembari tersenyum.


Bagus sekali. Ah,... aku jadi tidak sabar.


" Baiklah, sekarang lakukan yang sama persisi seperti saat itu.


Nath berjalan menuju ranjang tidur dan membaringkan tubuhnya disana. Dia tersenyum menatap Vanya yang juga terus menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


" Ayo kita mulai. " Ucap Nath sembari memposisikan tubuhnya senyaman mungkin.


Vanya menelan ludahnya sendiri. Kejadian lima tahun lalu adalah kejadian yang paling tragis dalam hidupnya.


Dan sekarang, dia harus mengingatnya dengan detail sembari mempraktekkan. Tidak pingsan sudah syukur batinnya.


" Sayang, ayo mulai.... " Nath mengatakan kata-kata ajakan dengan begitu seksi. Mau tak mau Vanya hanya semakin merona wajahnya.


Perlahan dia mulai mendekat dengan wajah yang tertunduk.


Vanya menatap Nath saat posisi mereka sudah sangat dekat. Lakukanlah Vanya, tidak apa-apa. Dia hanya menginginkan ini kan? tebalkan saja wajahmu.


Vanya menatap Nath lalu mulai membelai wajahnya. Bukan hanya Vanya, Nath juga merasakan debaran yang begitu kuat. Tidak ada suara apapun selain jantung mereka yang saling sahut menyahut.


Vanya mulai mendekatkan wajahnya. Dia mencium pucuk kepala Nath. Tanya mulai menggerayangi tubuh Nath. Dari pipi, turun ke leher, lalu mengusap dada, lalu ke perut dan... Vanya mengentikan tangannya yang sudah hampir menyentuh bagian inti Nath.


" Lanjutkan. " Titah Nath. Yang sebenarnya, dia benar-benar menikmati tiap sentuhan yang Vanya berikan. Rasanya, seperti angin hangat yang menyusup ke kulitnya.


Vanya membuang jauh rasa malu itu. Dia melanjutkan kembali aktifitasnya. Perlahan, dia mengelus bagian inti Nath dibalik balutan celana yang masih lengkap menyelimutinya.


" Ah..... " Nath tidak mampu menahan bibirnya untuk tidak mengeluarkan suara yang menandakan rasa nikmat itu hadir.


Vanya masih terus mengelus tanpa berani mengangkat wajahnya yang sudah sangat mirip seperti kepiting rebus.


Lama kelamaan, Nath semakin tidak tahan. Dia bangkit dari posisinya. Meraih tengkuk Vanya dan menyatukan bibir mereka. Ciuman itu semakin lama semakin dalam. Entah apa yang mendasari tindakan Vanya. Dia juga


benar-benar tidak menyadari apa rencana awalnya.


Semakin lama, ciuman mereka semakin dalam dan panas. Nath menyelundupkan sebelah tangannya laku menyusup masuk kedalam baju yang Vanya kenakan.


" Emh...." Vanya mengerang saat tangan Nath menekan dan menggerakkan jemarinya pada benda kembar yang kenyal itu.


Nath kini mulai menciumi leher Vanya. Tangannya tak henti memainkan kedua benda kenyal itu.


" Sayang, aku sudah tidak tahan lagi. " Keluh Nath yang sudah tidak kuat menahan hasratnya. Dia kembali menyatukan bibirnya dengan Vanya. Perlahan dia bangkit sembari membuka kancing kemejanya. Setelah terbuka semua, Nath membuka gesper dan resletingnya. Dia juga sudah menurunkan celana yang ia pakai.


Vanya semakin gila dibuatnya. Dia hanya mengerang nikmat menikmati sentuhan demi sentuhan Nath yang memabukkan jiwanya.


Nath membuka baju Vanya dan terakhir celana panjang yang Vanya kenakan. " Ya ampun! " Nath menatap Vanya penuh kekecewaan.


" Ada apa? " Tanya Vanya yang merasa bingung. Padahal kan sudah mau itu, batinnya.


Jiah........!


Benar, Vanya sampai lupa. Padahal, dia sudah menyadari dari awal. Niat nya hanya ingin memberi pelajaran untuk Nath, tapi karena tubuhnya yang tida tahu malu itu, dia lupa dan kini, ia juga merasa kecewa karena tamu bulannya yang belum usai. Vanya mendesah sebal dan hanya bisa merutuki dirinya sendiri.


***


Setelah beberapa saat. Nath terdiam dengan wajah sebal. Dia benar-benar tidak menyangka, jika hal indah yang ia bayangkan, hanya bisa terjadi di angan-angan saja.


Argh......! setan sialan! kenapa sih harus ada datang bulan juga?! repot sekali menjadi wanita. Setiap bulan harus mengeluarkan darah selama kurang lebih satu minggu. Memang darahnya tidak habis kalau tiap bulan begitu?


Vanya menatap Nath sembari tersenyum lucu. Mengingat kembali beberapa saat yang lalu. Nath dengan wajah sebalnya langsung pergi ke kamar mandi. Iya sudah pastilah, dia melakukan pekerjaan bersama tangannya sembari membayangkan Vanya.


Nath, aku salah karena selalu berpikir buruk tentangmu. Aku janji. Mulai hari ini, aku akan memperlakukan mu dengan baik. Aku tidak akan lagi berpikir dan mencurigai mu seperti penjahat. Itu kalau tidak hilaf ya?


" Nath,...sampai kapan kau akan merengut seperti itu? " Vanya merasa bosan karena terus melihat Nath yang berwajah sebal sedari tadi.


Nath menatap Vanya lalu menghembuskan nafas kasarnya. " Vanya, ayo kita menikah.


What? menikah? Vanya hanya bisa terperangah tidak percaya. Sejujurnya, arti dari ekspresi Vanya itu adalah rasa bahagia. Hanya saja, terlalu bahagia malah membuatnya lupa berekspresi dengan benar.


Isi kepala Vanya. Menikah ya... setiap hari bisa melihat Nath telanjang dada. Yang mana, ada otot otot sixpack yang siap memanjakan mata. Apalagi kalau sudah polos dan tidak berpakaian? ah! rasanya, Vanya akan meneteskan air liur setiap waktu. Dia benar-benar bahagia hanya karena memikirkan itu.


" Bagaimana menurutmu? " Nath kembali bertanya karena tidak mendengar tanggapan Vanya. Gadis itu malah sibuk melamun entah apa batinnya.


Nath mendekati Vanya dan menangkup kedua pipinya. Vanya akhirnya kembali ke alam sadar setelah asyik bermain dengan otot otot kekar dalam khayalannya.


" Sayang, ayo kita menikah...


" Ayo! ayo kita menikah. " Vanya tersenyum dan menjawab dengan begitu antusias.


" Serius?


" Iya. Aku tidak sabar menggerayangi otot kekar mu setiap hari.


" Baiklah,.. Kita akan menikah besok.


Besok ya? tidak sekarang? ck! malas menunggu besok. Tapi sudahlah,... dari pada tidak sama sekali.


" Vanya,..." Panggil Nath kembali.


" Iya.


" Tapi, aku tidak bisa memberi tahu orang tuaku. Apa itu tidak masalah?


Deg.....!


Iya. Vanya melupakan itu. Dia lupa jika menikah bukanlah tentang mereka saja. Ada orang-orang penting yang harus ikut terseret dalam ikatan pernikahan. Vanya terdiam sembari berpikir.


Bisakah mereka menerimaku?


Vanya agak sedikit ragu jika tentang restu. Mengingat pertemuan terakhirnya dengan Ibunya Nath. Sorot matanya benar-benar menjelaskan ketidak sukaannya terhadap Vanya. Dia benar-benar terlihat tidak setuju dengan hubungan Vanya dan Nath.


" Vanya, kita hanya perlu menikah terlebih dulu. Setelah itu, bukankah mereka akan kesulitan untuk memisahkan kita? " Bujuk Nath yang menyadari jika Vanya malah terlihat ragu dengan tiba-tiba.


" Apa itu tidak akan menimbulkan masalah? " Takut? iya tentu saja. Vanya takut akan membuat hubungan Nath dan orang tuanya menjadi tidak baik. Dilain sisi, Vanya tahu benar rasanya tidak memiliki keluarga.


" Saat ini, aku hanya ingin memberi keluarga yang lengkap untuk anak kita. Dan aku, ingin mengikatmu dengan pernikahan ini. Agar kau tidak bisa nakal atau meninggalkan aku. Karena kau, mudah sekali berpikir buruk. Jika tidak menikahi mu, kau akan dengan mudahnya kabur saat pikiran buruk mu itu bekerja tanpa akal sehat.


Eh? ini cara orang melamar? kenapa aku merasa marah ya? bukanya aku harus terharu karena sedang di lamar?


To Be Continued.