
Tidak ada kata menyerah. Berly masih aja berusaha untuk bisa lebih dekat dengan Dodi. Bingung kenapa dia bisa begitu terobsesi? tidak tahu bagaimana menjelaskan bagaimana rasa di hati Berly terhadap Dodi. Pria itu memang memiliki wajah tampan. Tapi di mata Berly, Dodi adalah pria yang memiliki banyak ketertarikan sendiri. Selain mengagumi kulit Dodi yang kecoklatan, Dodi juga terlihat begitu cuek dengan penampilannya. Jauh sekali berbeda dari pria-pria yang selama ini mendekatinya. Memang semua pria yang pernah dekat dengannya rata-rata memiliki cukup uang dan ketenaran sendiri. Awalnya juga Berly berpikir, dia akan terus menjalin hubungan pacaran dengan orang yang lumayan terkenal untuk mengimbangi popularitasnya. Tapi setelah melihat Dodi, semua seolah berbanding terbalik. Dulu dia sangat tidak ingin menjalin hubungan pernikahan, tapi sepertinya Dodi tanpa melakukan apa-apa, bisa membuat Berly berubah pikiran.
Sementara di tempat lain, Nathan dan Ivi juga masih betah menghabiskan waktu untuk bersama. Dua hari yang lalu mereka sudah mengabari kepada orang terdekat untuk berlibur sementara waktu. Bukan hanya akan menghabiskan waktu disana saja, tapi mereka berdua berencana untuk pergi berlibur ke luar negeri beberapa hari lagi sembari mengurus paspor Ivi beres.
" Bagaimana? " Tanya Nathan memastikan bagaimana keadaan telor ceplok yang Ivi bikin pagi ini.
" Lihat ini. Aku berhasil! sudah tidak gosong lagi kan? " Ivi melompat kegirangan karena untuk pertama kalinya dia memasak telur mata sapi dan itu berhasil. Iya, berhasil setelah kemarin seharian menghabiskan hampir satu kilogram telur hanya untuk membuat telur mata sapi.
Nathan tersenyum senang. Iya, dua bocah itu kan sama sekali tidak bisa memasak. Kemarin seharian mereka belajar memasak dengan panduan resep online, memang cantik tampilannya, tapi tida ada satu pun makanan yang bisa mereka makan. Mulai dari ke asinan, kemanisan, bahkan pahit dan banyak bagian yang gosong. Pada akhirnya mereka tetap juga memesan makanan dari restauran terdekat.
" Jadi hari ini kita bisa makan sandwich kan? " Tanya Nathan yang kelihatan sangat senang.
" Bisa! " Dengan semangat mereka akhirnya kompak membuat sandwich. sederhana memang, tapi ini adalah menu makanan yang untuk pertama kali mereka membuat nya sendiri. Jika ada yang bertanya, mengapa Ivi tidak bisa memasak? itu karena Ivi terlalu dekat dengan Ayahnya. Dia lebih menyukai keluyuran dan membantu Ayahnya mencari uang. Ibu juga tidak pernah menuntut keharusan dari Ivi. Baginya melihat Ivi tumbuh menjadi gadis yang periang pergi sekarang adalah kebahagiaan bagi nya. Ditambah lagi setelah lulus sekolah Ivi langsung bekerja. Dia bukanya tidak mau belajar memasak, hanya saja dia tida memiliki waktu untuk itu.
Setelah semua sandwich dan susu tersedia di meja dengan rapih, akhirnya mereka mulai duduk untuk menikmati sarapan mereka.
" Selamat makan, istri. " Ucap Nathan.
" Selamat makan, Suami. " Jawab lagi Ivi.
Mereka benar-benar terlihat sumringah sekali. Rasanya benar-benar enak karena ini adalah buatan mereka sendiri.
***
Jika semua sedang bahagia, maka lain apa yang sedang dirasakan seorang pria tampan yang saat ini sedang berwajah kusut. Bagaimana tidak kusut? Nathan dan istrinya sedang berlibur penuh suka cita. Ditambah lagi, mereka juga akan berlibur ke luar negeri setelah itu. Gadis pujaannya juga terkihat begitu berbunga-bunga wajahnya beberapa hari ini. Setiap hari yang dia ceritakan hanyalah Dodi, Dodi, dan Dodi. Muak? iya tentu saja muak. Biarpun Jomblo, dia juga ingin berlibur seperti Nathan. Kalau dia sibuk terus menerus begini, kapan punya waktu untuk cari pacar?
" Ah...! aku lelah sekali. " Keluh Sammy sembari berjalan menuju meja kerjanya. Mengurus semua pekerjaan Nathan memang lah sangat lelah. Belum lagi pekerjaan dirinya sendiri juga sudah menumpuk. Ayahnya, Nath juga selaku beralasan ini itu. Padahal hanya sibuk menemani Vanya belanja.
" Tuan, ada tamu yang ingin bertemu. "
" Siapa? "
" Nyonya Marhen. "
Sammy terdiam sesaat. Sebenarnya dia memang tidak melihat secara langsung apa yang terjadi di pesta ulang tahun Nathalie dan Nathania. Tapi sepertinya masalah ini akan memanjang untuk beberapa waktu.
" Persilahkan saja masuk. "
" Baik. "
Beberapa saat kemudian, Nyonya Marhen berjalan masuk setelah mengetuk pintu beberapa kali. Langkahnya terlihat begitu tidak biasa. Tatapannya juga terlihat begitu aneh dan tidak tegas seperti Nyonya Marhen beberapa saat lalu.
" Selamat siang, Nyonya. Silahkan duduk. " Nyonya Marhen tersenyum lalu duduk perlahan.
" Ada yang bisa saya bantu, Nyonya? " Tanya Sammy sopan.
" Nak Sammy, apakah Nathan belum bisa untuk di temui? " Tanya Nyonya Marhen. Sebenarnya dari hari pertama setelah kejadian itu, dia selalu berusaha untuk menemui Nathan, tapi resepsionis mengatakan bahwa Nathan tidak akan datang ke perusahaan. Tapi untuk memastikan dia tetap menunggu agar bisa bertemu Nathan. Bukan hanya ke perusahaan saja, dia juga sudah mencoba menemui Ivi dan Nathan di rumahnya, tapi Nathan dan Ivi pergi dan belum juga kembali.
Sammy terdiam sesaat.
" Nathan dan istrinya sedang berlibur, Nyonya. "
Nyonya Marhen tampak sedikit kecewa. Jujur, dia ingin sekali menemui Ivi dan menceritakan segalanya. Tapi ternyata sangat sulit untuk bertemu dengannya.
" Nak, boleh berikan nomor telepon Nathan atau Ivi? "
" Begini, Nyonya Marhen. Setelah mengabari kami untuk berlibur sementara waktu ini, mereka sama sekali tidak mengaktifkan ponselnya. Jadi meskipun anda memiliki nomor telepon sala satu di antara mereka, mereka tidak akan merespon, Nyonya. "
Nyonya Marhen nampak terlihat begitu sedih. Air mata yang sudah tak terbendung selama beberapa terakhir ini selalu saja lolos begitu saja dari pelupuk matanya.
" Kalau boleh tahu, mereka pergi kemana? apa keluar negeri? "
" Untuk sementara mereka berlibur di sini duku Nyonya. Setelah paspor Ivi jadi, barulah mereka akan ke luar negeri. "
" Nak Sammy, bisakah berikan saja nomor ponsel salah satu di antara mereka? ada hal yang harus saya sampaikan kepada Silvia, anak saya. "
Sammy kembali terdiam. Jujur dia sungguh bingung harus bagaimana. Melihat Nyonya Marhen yang sampai menangis cukup membuat harinya iba. Tapi, Nathan akan marah kalau aku memberi tahu nomor teleponnya tanpa izin dari nya.
" Nyonya, bisakah saya saja yang menyimpan nomor Nyonya? kalau nanti Nathan atau Ivi bisa do hubungi, saya akan meminta izin dulu dari mereka. Maaf, Nyonya. Nathan sangat lah tidak suka kalau saya membocorkan nomor ponsel nya. Kalau Ivi, saya juga takut Nathan akan marah. "
Nyoya Marhen menyeka air matanya lalu mengangguk pelan.
" Tidak apa-apa, Nak Sammy. "
Setelah memberikan nomor ponselnya kepada Sammy, Nyonya Marhen mengeluarkan sebuah gelang anak-anak yang bertuliskan Silvia Marhen. Nyonya Marhen menyerahkan itu kepada Sammy.
" Kalau bertemu dengan Ivi nanti, tolong katakan pada nya. Selama bertahun-tahun, aku terus saja merindukannya. Aku selaku berdoa agar ia selalu bahagia. Tolong katakan padanya, aku butuh bicara sebentar saja. "
To Be Continued.