Touch Me!

Touch Me!
Because, Lunch!



Vanya menghela nafasnya beberapa kali. Dua hari dia absen, ternyata kerjaannya tersusun rapih menunggu sentuhan tangan Vanya. Vanya menatapnya sebal. Dari mana dan yang mana yang harus dikerjakan lebih dulu? apa ini sebuah hukuman karena absen selama dua hari? apa ini karena tidak ada yang bisa mengerjakannya kecuali Vanya? Entah apalah! toh apapun alasannya, dia harus tetap mengerjakannya sendiri.


Jam makan siang tiba. Rasanya, mata Vanya seakan ingin loncat keluar karena terus menatap layar laptop dan susunan kertas hasil desainnya. Lelah sudah seluruh indranya hingga untuk pergi makan siang saja, dia sungguh-sungguh menahannya. Bahkan, kaki yang tidak ikut serta bekerja, seolah ikut memprotes dan kini terasa pegal yang menjalar sampai ke ujung kaki.


Vanya menutup laptopnya. Menyusun lembaran kertas yang sudah ia kerjakan di sebelah kanan dan dibiarkan sebagian kertas disebelah kiri yang belum sempat ia kerjakan. Dia menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Menarik tangannya ke atas untuk meregangkan otot-ototnya yang terasa sangat tegang.


" Vanya, kau tidak makan siang? " Tanya Lia. Salah satu pegawai yang berada satu Divisi dengannya.


" Tidak. Terimakasih. Aku harus melanjutkan pekerjaanku. " Vanya menolak dengan sopan.


" Dia tidak akan ikut bersama kita. " Saut salah satu pegawai lainya.


" Kau tidak tahu ya? Perempuan ini, sangat tidak baik untuk dijadikan teman. Manager Nimi yang baik hati saja, dipecat secara tidak hormat gara-gara dia.


Mulai lagi.


" Lebih baik, kau berhati-hati dengannya. Jangan menegur atau mencoba akrab dengannya. Perempuan seperti dia, sangat tidak punya hati.


Dasar remahan rengginang. Nyaring jika dikunyah tapi tidak berarti apa-apa.


Vanya terdiam sembari terus membatin kesal. Kalau dia meladeni si mulut kubangan itu, bisa-bisa Nath akan mengetahuinya dan, bisa saja kan Nath memecatnya? sama seperti Manager Nimi yang dipecat tanpa kenal ampun.


" Ayo kita pergi. " Ajaknya sembari menarik tangan Lia.


Pergilah! pergilah sejauh mungkin. Bila perlu, pergilah ke planet Jupiter. Oh, bukan-bukan. Planet Saturnus. Em, bisa juga ke planet Merkurius agar bisa bertarung dengan api matahari. Jika beruntung, kau bisa menjadi Dewi matahari kan disana?


Vanya melirik kepergian dua wanita itu dengan bibir yang menjebing sebal.


***


" Nath, ini sudah jam makan siang. Ayo kita makan. " Ajak Lexi yang benar-benar tidak bisa menahan rasa laparnya lagi. Tadi pagi, dia harus datang pagi sekali karena perlu mengurus beberapa pekerjaan yang harus dirampungkan segera. Jadi tidak sempat sarapan. Tidak mungkinkan dia juga harus melewatkan makan siang.


Nath mengerutkan dahinya lalu meletakkan file yang sedang ia pelajari. " Jam berapa sekarang?


Lexi mendesah sebal. Sudah tahu memakai jam tangan. Untuk apa bertanya padanya? kan bisa memakai sedikit tenaga matanya hanya untuk sekedar melihat. Atau mungkin, dia terlalu banyak berolah raga malam jadi otaknya sedikit konslet karena kelelahan? batin Lexi menebak-nebak tanpa arah.


" Jam tiga belas. " Jawab Lexi singkat. Iya, harus sesingkat mungkin. Kan tidak sarapan dan makan siangnya sudah hampir telat. Jadi, tidak boleh banyak-banyak membuang energi. Bicara termasuk buang energi atau tidak sih? Lexi berucap sembari menatap kesal sahabat sekaligus Bosnya itu.


Diluar dugaan. Bukanya bergegas bangkit untuk makan siang, Nath justru dengan cepat menyambar ponselnya.


" Hallo Sayang? " Ucapnya setelah panggilan telepon itu terhubung.


" Kau sudah makan siang?


" Kenapa?


" Apa yang ingin kau makan?


" Mau makan bersamaku?


" Jangan terlalu banyak bekerja. Tinggalkan dan makan siang. Terlalu lelah tidak akan baik untuk tubuhmu.


" Baiklah. I love you.


Lexi menatap kesal Nath. Jika saja bisa difilter kan, maka saat ini, hidung Lexi sudah mengeluarkan asap panas yang mengepul. Wajahnya sudah merah layaknya darah dan sudah tumbuh dua tanduk serta taring.


Oh ya ampun! jangan terlalu lelah! makan siang dan tinggalkan pekerjaanmu. Terlalu lelah tidak akan baik untuk mu! WOI!!!! aku bahkan belum sarapan gara-gara pekerjaan yang kau limpahkan padaku. Apa kabar aku yang selalu kuat berdiri dan hampir tidak pernah sakit?! apa kau tidak pernah melihat ku yang begitu menderita?! demi Tuhan! demi Tuhan aku ingin menendang bokong mu sampai ke laut dan terjun ke mulut ikan hiu raksasa. Sungguh, kalau itu terjadi, aku akan membuat party tujuh hari tujuh malam non stop.


Apa?! Nath! semoga kau mati tersedak sendok! atau mati karena menelan gelas! atau, mati karena terlalu banyak makan cinta! dasar bajingan!


" Nath, aku ingin meminta izin tiga puluh menit ya? " Pinta Lexi. Dia memilih berbicara dengan nada lembut agar Nath bisa luluh dan membiarkan dia pergi.


" Pergilah.


Lexi tersenyum senang. Akhirnya, dia bisa makan siang juga.


" Tapi, pastikan pekerjaanmu selesai dulu. Barulah pergi.


" Apa?! " Meninggi sudah intonasinya.


Nath menatap Lexi kesal. Kenapa tiba-tiba nada suaranya terdengar marah? batinnya. " Kenapa?


Lexi menarik nafas dan menghembuskan perlahan.


" Kau benar-benar keterlaluan Nath! kau begitu pusing saat Vanya tidak mau makan siang! lalu bagaimana denganku?! aku bahkan belum sarapan atau meminum air setetes pun.


" Lalu? " Nath menatap Lexi dengan mimik datarnya.


"Lalu?! kenapa kau masih bertanya?! setidaknya biarkan aku pergi untuk makan atau minum!


" Pergi ya pergi saja. Kenapa kau nyolot begitu? " Jawab Nath enteng.


" Apa? " Lexi ingin sekali memaki Nath sesuka hatinya lagi. Tapi, sudahlah, rasa-rasanya percuma. Karyawan hanya punya dua pasal kan? Bos selalu benar. Pasal dua, jika Bos yang salah, kesalahan itu akan ditanggung oleh oleh karyawan.


Nath melangkahkan kaki keluar tanpa menghiraukan kekesalan Lexi. Di otaknya, hanya ada Vanya, Vanya, Vanya, dan Nathan. 🤭 jangan tanya kenapa Nama Nathan hanya satu kali ya? soalnya, Nath sedang mabuk cinta dengan Ibunya Nathan.


" Lihat saja kau Nath. Aku akan jadi orang pertama yang akan tertawa bahagia saat kalian sedang bertengkar. Aku akan jadi orang yang paling update tentang masalah perumah tanggaan mu. Aku akan menyebarkan gosip melalui media secara besar-besaran. Heh...! jangankan untuk sekedar mengingatkan makan. Bernafas pun, kau akan tidak memiliki waktu. " Cicitnya kesal.


Tapi, itu semua hanyalah ocehan semata. Umpatan yang tidak artinya. Semarah dan sekesal apapun Lexi kepada Nath, dia hanya akan sekedar mengumpat tanpa memiliki keinginan untuk merealisasikan. Baginya sudah cukup mengumpat begitu. Karena rasa sayang antar sahabat, tidak akan pernah membuat mereka saling membenci.


***


" Sayang!


Vanya mengerutkan dahinya dan menoleh ke arah sumber suara. Manik matanya menatap sosok yang bersender di ambang pintu dengan senyum yang menghiasi wajah tampannya.


" Nath? maksut ku Presdir Nath? ada apa? " Tanya Vanya yang enggan mengubah posisinya. Pegal yang menjalar ke hampir seluruh tubuhnya, membuat dirinya begitu malas walau hanya sekedar bergeser.


" Untuk Lunch.


Vanya menghela nafasnya. " Aku tidak bisa. Pekerjaanku sangat banyak.


Nath nampak berpikir lalu meraih ponsel dan menghubungi seseorang.


" Istriku terlalu banyak pekerjaan hingga tidak memiliki waktu untuk makan siang. Bereskan tentang ini sebelum kami pergi untuk makan siang.


Lexi menyemburkan mie cup yang baru ia saja masuk kedalam mulutnya. Ia bahkan tersedak-sedak mendengar perintah dari Nath. Itu adalah suapan pertama dan dia dengan terpaksa memakan mie cup karena waktu yang begitu terbatas. Langsung saja, dengan kadar kesabaran yang memang sudah limit, akhirnya dia dengan berani mengumpat dengan lantang.


" Dasar brengsek! sialan! babi buntung! kampret! dasar tidak berperasaan! kau manusia atau iblis?! bahkan aku rasa, iblis juga tidak sejahat kau! mulai hari ini, aku minta dipecat. Eh tidak! kau di pecat! jangan datang lagi besok! aku akan membuka lowongan sebagai Presdir baru!


Nath hanya menyumpal telinganya dengan jari kelingking. Kata-kata makian yang keluar dari mulut Lexi, hanya terasa gatal di telinganya.


To Be Continued.