
Setelah menyelesaikan urusan Zalia, Sammy kini juga harus mengantar bocah kunyuk itu pulang. Seperti biasa, meski jarang bertemu, sekalinya bertemu dengan Sammy, Zalia akan merengek meminta banyak hal. Mulai dari makanan ringan, minuman kekinian yang sebenarnya dia tidak menyukainya. Aneh kan? padahal dia hanya membeli nya untuk ia unggah di laman media sosial. Tentu tujuannya adalah untuk pamer saja. Gila memang anak jaman sekarang. Mau makan sudah berbeda tata Krama. Kalau dulu, aturan pertama makan adalah cuci tangan, lalu berdoa, barulah makan. Sekarang? sesi pemotretan dulu adalah hal yang lumrah.
Setelah membeli minuman dan makanan kekinian yang hanya ingin dia unggah, Zalia kembali merengek meminta penjepit rambut yang ada pinggir jalan. Tentu saja Sammy menghentikan mobilnya dan membiarkan bocah menyebalkan itu membeli apa yang dia mau. Dari pada mendengarnya merengek lalu mengoceh kesana kemari tidak tahu arah.
Deg......
Mata Sammy membulat kaget melihat Berly dan Dodi berjalan di trotoar jalan. Berly benar-benar seperti kena pelet cinta. Bergelayut seperti monyet dengan tidak tahu situasi seperti itu. Memang dia memakai masker dan kaca mata, tapi tetap saja Sammy bisa dengan jelas mengenalinya. Kesal sekali rasanya melihat Berly seperti ini. Dia bahkan tanpa sadar mengigit bibir bawahnya menahan diri agar tidak menangis. Tangannya mencengkram kemudi erat hingga terlihat gemetar. Sammy juga semakin terlihat kesal melihat Dodi yang terus mencoba menjauhkan diri dari Berly. Apa dia menganggap Berly adalah kuman? lalu kenapa Berly sama sekali tifak tersinggung? padahal saat dia mencoba untuk menyentuh tangannya saja, dia sering kali menepisnya kalau tidak dia akan melotot tajam hingga membuat Sammy ketakutan.
" Dasar pria kurang ajar! sok jual mahal sekali kau ini! kau tidak tahu ya? Berly adalah seorang artis dan model terkenal. Tapi kau malah sok jual mahal padahal kau jelas hanyalah produk gagal yang di obral. "
" Tabrak saja, kakak kedua. " Saran Zalia yang entah dari kapan sudah kembali kedalam mobil.
Sammy melotot marah ke arah Zalia yang malah memasang wajah imutnya. Sungguh dia kini menjadi tambah kesal.
" Kau gila ya? kau mau aku membusuk di penjara sampai tua dengan keadaan bujangan? "
" Kalau kau begitu membenci dirimu yang masih bujangan, apa perlu aku menghilangkan bujangan mu itu? "
" Dasar bocah ingusan! apa kau tahu apa yang kau katakan? " Kesal Sammy. Tentu saja dalam keadaan ini dia sama sekali tidak ingin berdebat. Tapi mau bagaimana lagi? mulutnya terlalu gatal dan sulit untuk di tahan.
" Tahu. Tentu saja aku tahu. Kita tinggal di kamar berdua, lalu melakukan adegan dua puluh satu plus. Memang nya kakak kedua pikir aku tidak bisa me- um! " Ucapan Zalia berhenti karena Sammy menyumpal mulut nya dengan makanan yang tadi Zalia beli.
" Bocah ingusan. Menstruasi pertama mu saja baru satu tahun yang lalu. Bisa-bisanya berbicara hal mesum seperti itu. "
Zalia melepeh makanan yang tadi masuk ke mulutnya.
" Jangan begitu kakak kedua, menstruasi ku datang saat usiaku lima belas tahun. Sekarang usiamu dua puluh satu. Bagaimana bisa kau memfitnah ku seperti itu. Lagian, aku sudah biasa menonton film anu. Jadi tentu saja aku tahu. "
Sammy melongo kesal mendengar penuturan Zalia.
" Dasar anak kurang ajar! aku benar-benar akan mengadukan mu kepada Ibu dan Ayah mu. "
Zalia membulatkan matanya terkejut.
" jangan dong, kakak pertama. Aku janji tidak akan menonton film itu lagi. Sumpah! "
" Dimana kau menyimpannya? " Tanya Sammy serius.
" Di ponsel ku. "
" Kirimkan padaku. " Ucap Sammy.
" Kakak kedua! "
Setelah obrolan tak berarti itu, Sammy akhirnya memutudkan untuk kembali mengemudikan mobionya. Dia menarik nafas lalu menghembuskan perlahan. Dia mencoba mengontrol diri beberapa saat lalu mulai kembali melajukan mobilnya. Tali saat hampir melintasi Berly dan Dodi, dia begitu kesal. Bagaimana tidak? Berly dengan terang-terangan mencium pipi Dodi tanpa perduli dimana dia sekarang.
" Sialan! aku benar-benar akan menabrak mereka! "
Sammy langsung Kembai fokus mengemudi. Jujur, rasanya sangat sakit melihat itu. Tapi sepertinya dia sama sekali tidak memiliki harapan. Selama belasan tahun dia mengenal Berly, tidak sekalipun Berly seperti ini. Dia memang pernah menjalin hubungan asmara dengan beberapa pria, tapi Berly tetap saja dingin dan memiliki batasan sendiri karena dia memiliki komitmen untuk tidak menikah. Tapi melihat bagaimana Berly sekarang, sepertinya komitmen itu sudah tidak akan berlaku lagi di hidupnya.
Setelah mengantar Zalia sampai kerumahnya, Sammy kembali ke kantor dan menyelesaikan pekerjaan yang sudah beberapa jam dia tinggalkan.
***
Disebuah rumah kecil yang bertembok kaca, Nathan dan Ivi kini tengah berkemas. Hari ini dia sudah mendapatkan paspornya, dan tentu saja mereka akan segera berangkat untuk liburan. Setelah mengemas pakaian yang mereka butuhkan, Ivi yang merasa lapar akhirnya memutuskan untuk memakan sesuatu yang ada di dapur. Hah! seperti siang tadi, dia lagi-lagi hanya bisa memakan roti dengan selai. Jujur saja, makanan seperti itu tidak bisa membuatnya merasa kenyang meski sudah tiga atau empat lembar roti dia makan. Jujur dia juga merasa aneh. Rasanya sangat memalukan karena sama sekali tidak bisa mengimbangi Nathan yang hanya butuh dua lembar dan sudah langsung sendawa.
" Ivi? " Panggil Nathan seraya berjalan mendekatinya yang sedang mengoles selai.
" iya. "
" Aku ke kantor ya? ada beberapa hal yang harus aku kerjakan sebelum liburan kita. Kau mau ikut? " Tanya Nathan.
" Tentu saja ikut. Aku mau makan nasi dan banyak lauk. Aku sama sekali tidak bisa merasa kenyang hanya karena memakan roti. "
" Sepertinya kau perlu meminum banyak obat cacing. " Ucap Nathan mengejek.
" Jangan lagi menghina ku ya? semalam kita sudah janji tidak akan saling menghina. "
Nathan mengusap tengkuknya. Iya memang benar apa yang diucapkan Ivi. Tapi entahlah, rasanya dia begitu nyaman bersama Ivi hingga tidak perlu menahan diri seperti saat bersama orang lain.
" Aku tidak menghina. Aku hanya mengingatkan. Coba lihat tubuh mu. Selain kau sangat kurus, tinggi mu juga hanya sekitar seratus lima puluh. Tapi kau sendiri ingat dengan jelas kan kalau kau banyak makan? "
" Jangan memfitnah ku! "
Nathan menghela nafasnya.
" Aku ku beri contoh apa yang di maksud memfitnah. Kalau aku mengatakan kau cantik, itu berarti fitnah. "
" Dimlah atau akan ku robek mulut sialan mu itu! " Ancam Ivi.
" Merobek mulut? bukankah lebih baik merobek baju ku saja? " Nathan tersenyum menatap Ivi.
Ivi menarik tangan Nathan dan membuatnya dalam posisi yang begitu dekat. Ivi tersenyum licik, meraih kemeja bagian dada Nathan dan benar-benar merobeknya. Tapi sungguh, dia hanya ingin merobek saja tidak lebih. Tapi Nathan yang sudah kecanduan kikuk kikuk itu mulai lagi tidak bisa menahan diri. Dia meraih pergelangan tangan Ivi lalu membawanya masuk kedalam kamar.
" Nathan! kau bilang ingin ke kantor kan? "
" Yang ini lebih penting. "
" Bagaimana kalau kau bangkrut?! "
" Bukankah aku akan menganggur dan memiliki banyak waktu untuk melakukan ini? "
To Be Continued.