Touch Me!

Touch Me!
Wife's Duty



Vanya melangkahkan kaki santai menuju lift khusus untuk para petinggi perusahaan.


Dia juga mengacuhkan penjaga resepsionis yang dulu sangat suka menggunjingnya dari belakang.


" Tunggu! " Resepsionis itu berjalan mendekati Vanya dengan tatapan sinis nya. Kenapa datang lagi? padahal kan sudah dipecat? batinnya.


Orang ini masih saja menatapku begitu. Memang melihatku dengan cara biasa saja tidak bisa ya? oh,.. aku tahu. Aku pasti sangat menawan kan? iya kan haha


" Iya, ada apa ya? " Tanya Vanya yang tak mau memperlihatkan rasa tidak sukanya juga.


" Mau kemana? " Tanyanya dengan tatapan heran.


" Ruangan Presdir. " Jawab Vanya singkat.


" Heh? kau lupa ya kalau sudah dipecat? " Ejek resepsionis itu.


" Iya tidak lupa sih. " Ujar Vanya sembari menatap datar lawan bicaranya.


" Kalau begitu, silahkan pergi. Tempat ini tidak cocok untuk mu. " Ucap resepsionis itu dengan wajah mengejeknya.


" Oh? begitu ya? tapi, bukankah terlalu jahat kau mengucapkan kata-kata itu? " Tanya Vanya dengan wajah melas.


" Tidak ada kata jahat yang tidak pantas untuk orang tidak tahu malu seperti mu. " Ujarnya sembari tersenyum sinis.


" Oh begitu ya? kalau aku tidak tahu malu, lalu sebutan apa yang pantas untukmu? " Tanya balik Vanya tak kalah sinis.


" Jangan kurang ajar! kau memang pantas disebut tidak tahu malu! kau kan pernah merebut Presdir dari calon istrinya? oh, lebih tepatnya menggoda Presdir. "


Eh? sialan! meski aku suka menggodanya di atas tempat tidur, tapi dia kan suamiku? jadi mana bisa aku di sebut tidak tahu malu?


" Mba resepsionis, aku beri tahu ya? menggoda Presdir Nath adalah tugasku. " Ujar Vanya tersenyum senang.


" Dasar jal*ng tidak tahu malu! " Bentaknya lagi.


" Ah, terserah saja. Aku buru-buru. Sampai jumpa. " Vanya berjalan masuk ke dalam Lift tanpa menghiraukan lagi mulut resepsionis yang masih saja sibuk memakinya.


" Dasar gila! se enaknya saja memaki orang. Kalau aku mengatakan padanya bahwa aku istri Nath, huh...! jantungan kau pasti! " Gumam Vanya.


***


Sherin meregangkan otot-ototnya dengan beberapa gerakan. Dia memutar ke kanan dan ke kiri tubuhnya.


" Huh...! hari ini lumayan juga. Syukurlah, operasi kedua pasien lancar.


Sherin melihat jam tangan yang melingkar dipergelangan nya. Pantas saja perutnya begitu keroncongan. Ini udah lewat jam makan siang batinnya.


Sherin melangkahkan kakinya menuju kantin rumah sakit. Dia selalu makan siang sendiri akhir-akhir ini. Kenapa? tentu saja karena para Dokter maupun Suster menjauhinya. Dan biang dari masalah ini, adalah Kevin. Dia selalu saja muncul dimana-mana. Sudah seperti arwah gentayangan.


Sherin membawa nampan yang berisi makanan dan minuman. Dia mengambil posisi paling pojok dan jauh dari para rekan kerjanya. Untuk apa? tentu saja untuk menghindari tatapan sinis dan sindiran-sindiran tak masuk akal.


" Ah, akhirnya aku bisa menikmati makan siang dengan tenang. " Ujar Sherin setelah memastikan tidak ada Kevin disana.


" Aku rasa aku juga. " Kevin muncul dari belakang punggung Sherin. Wajahnya tersenyum menatap gadis yang menatapnya kaget.


" Dokter Kevin? " Sherin menghela nafasnya. Sungguh, sulit sekali menjauhi orang gila itu. Batinnya.


" Hai,... aku senang sekali kita bisa makan bersama lagi. " Ucapnya sembari mengambil posisi duduk berseberangan dengan Sherin.


Aku sebal sekali kita harus makan siang bersama lagi!


" Oh, iya. " Jawab Sherin yang mencoba memaksa bibirnya untuk tersenyum.


" Ayo mulai makan siangnya. " Ajak Kevin sembari menyuap nasi ke mulutnya.


Sudah tidak lapar, Tahu! melihat wajahmu benar-benar membuat nafsu makan ku hilang!


" Apa kau mau aku menyuapi mu? " Tanya Kevin yang gak kunjung melihat Sherin menyuap nasi ke mulutnya.


Najis!! tidak mau! gila ya orang ini?! dia ini tidak peka atau apa sih?! para fans mu sedang memelototi ku. Mana bisa aku menelan makanan ku kalau begini?


" A,... " Kevin menyodorkan sesendok nasi dihadapan wajah Sherin.


Sherin membulatkan matanya karena terkejut.


Ma,matilah aku! apa-apaan sih orang ini? mau membunuhku ya?!


" Bukalah mulutmu, atau aku akan mencium mu disini. " Ancam Kevin dengan senyum yang mengembang sempurna.


Sialan!


Baru saja Sherin akan membuka mulutnya, Kevin sudah lebih duku bangkit dari posisinya. Dia membungkukkan tubuhnya dan, Cup...! Kecupan singkat mendarat di bibir Sherin.


Sherin sontak bangkit dari posisinya. Dia menatap marah wajah Kevin yang justru terlihat senang.


" Kurang ajar! " Umpat Sherin sembari menutupi bibir menggunakan punggung tangannya.


" Berteriklah lagi, karena aku juga bisa melakukannya lagi. " Ucap Kevin dengan nada pelan yang kemungkinan, hanya bisa di dengar oleh Sherin.


" Apa?! " Kekesalan Sherin sudah berada di ubun-ubun rasanya.


Dasar gila! kenapa dihadapan ku dia selalu tersenyum seperti itu?! kalau ada kesempatan, aku ingin memasukkan sianida di makananmu!


" Berhenti merencanakan sesuatu untuk membunuhku. Aku tidak akan mati sebelum menikah dan memiliki banyak anak serta cucu denganmu. Setidaknya, aku akan hidup sekitar tujuh puluh tahunan lagi. Kau, harus menunggu tujuh puluh tahun lagi untuk bisa lepas dariku. "


Sherin hanya bisa menahan kekesalan dan kembali duduk. Pasrah, itulah yang dia lakukan saat ini. Mau tida mau hanya bisa menerima suapan dari Kevin.


***


Lexi meraih ponselnya yang terus bergetar. Dia nampak mengeryit saat mengetahui siapa yang menghubunginya.


" Kenapa perempuan gila ini menghubungiku? " Tanya Lexi kepada sirinya sendiri.


" Siapa? " Tanya Devi yang penasaran karena mendengar gerutu Lexi.


" Seseorang. " Jawabnya singkat.


" Em... " Devi tak lagi mau bertanya. Entah mengapa, saat Lexi menyebut kata perempuan dia begitu penasaran. Mulutnya pun, dengan reflek langsung bertanya. Tapi, saat melihat Lexi nampak tak ingin memberi tahunya, terbesit rasa kecewa di hatinya.


Lagi, ponsel Lexi tak henti-hentinya bergetar. Lexi menghela nafas lalu dengan terpaksa menerima panggilan telepon itu.


" Iya. " Ucap Lexi sesaat setelah panggilan telepon itu terhubung.


' Lexi, apa kabar? '


" Baik. " Lexi.


' Bisa kita bertemu? aku tahu, aku mengganggu mu. Tapi, ini benar-benar penting. '


" Tentang apa? " Lexi.


' Nath. Tolong, ayo kita bertemu. '


'' Tapi, aku sedang bersama istriku. " Bohong Lexi yang enggan menemui Gaby.


' Please.... '


Lexi menghela nafasnya. " Ok. Kirim saja alamat dimana kita akan bertemu. "


' Baiklah, terimakasih Lexi. '


Panggilan telepon terputus.


Lexi terdiam sesaat. Dia nampak berpikir. Tak lama ke kemudian, dia bangkit dari posisinya.


" Kau mau pergi? " Tanya Devi.


" Hem. Kau mau pulang sekarang atau nanti? " Tanya Lexi sembari membenahi pakaiannya.


" Boleh aku menumpang? aku tidak membawa apapun kecuali ponsel. Lagi pula, apa yang akan aku jelaskan jika Ibu bertanya tentang keberadaan mu? " Pinta Devi.


" Baiklah. Tapi, aku akan menemui seseorang. Kalau kau mau bersabar menunggu, kita bisa pergi bersama. "


" Baiklah. Tidak masalah. " Ujar Devi yang langsung menyetujuinya.


Tiga puluh menit lebih Devi dan Lexi menempuh perjalanan, akhirnya mereka sampai juga di sebuah restauran yang nampak elit menurut Devi.


" Tunggulah di sini. Aku harus menemui seseorang didalam. " Ucap Lexi yang diangguki oleh Devi.


Devi menatap punggung Lexi sembari berpikir, " Ini adalah kali pertama dia berbicara dengan sangat serius. Siapa memang yang dia temui? bagaimana bisa membuat Lexi yang suka mengajakku bertengkar menjadi pendiam begitu? "


" Lex? " Gaby bangkit dari duduknya saat melihat kedatangan Lexi. Dia tersenyum seraya mendekat Lexi laku mencium pipi kanan dan pipi kiri Lexi secara bergantian.


Jika saja, Lexi masih bodoh dengan mencintai wanita itu, dia pasti akan bersorak bahagia karena tindakan Gaby barusan. Sayang, saat ini Lexi bahkan ingin sekali mencekik leher Gaby dan mengirim mayatnya ke sungai Amazon sebagai camilan ikan piranha.


" Duduklah. " Pinta Gaby sembari melayangkan senyumannya. Dia benar-benar berpikir, jika diamnya Lexi, karena gugup akan tindakannya.


" Kau sudah makan? kau mau makan apa? " Tanya sembari menyentuh punggung tangan Lexi yang tergeletak di meja.


Lexi mengeraskan rahangnya menahan geram. Dia benar-benar ingin menepis dengan kasar tangan kotor itu.


Eh, ngomong-ngomong soal makan, mulut kubangan kan belum makan? kalau dia mati gara-gara tidak makam siang bagaimana?


" Lex? " Tanya Gaby sembari menjentikkan jari dihadapan Lexi.


Lexi menatap Gaby kaget. " Apa? "


" Kau mau makan apa? " Tanyanya lagi.


" Apa saja. " Jawab Lexi yang enggan menanggapi perempuan dihadapannya itu.


" Sayang! " Panggil seseorang yang entah mengapa membuat Lexi gugup.


Lexi dan Gaby sontak menatap ke arah yang sama.


Heh! wanita sialan ini, berani-berani nya muncul untuk menemui si bodoh Lexi. Aku harus menimbrung. Dia pasti sedang merencanakan sesuatu untuk menjahati Vanya kan? heh! kita lihat saja, apa yang bisa kau lakukan jika ada aku, dasar siluman ulet keket!


To Be Continued.