Touch Me!

Touch Me!
Make A Baby



Devi dan Sherin masih menganga melihat apa yang Vanya lakukan dan yang ia bawa untuk diberikan kepada Devi. Mata Vanya mengerling beberapa kali sembari mengangkat tinggi-tinggi sebuah lingerie berwarna maron itu.


" Bagaimana dengan ini? lucu kan? " Tanya Vanya uang benar-benar tidak memahami jika mereka ini perawan yang tidak memiliki pengalaman dalam penggunaan lingerie.


Sherin menepuk dadanya karena merasa pengap melihat lingerie itu.


" Itu bukanya yang sering manekin di mall pakai? " Tanya Devi sembari menunjuk lingerie ditangan Vanya.


Vanya mengangguk dengan semangat. " Bisa bayangkan kan? kira-kira bagaimana kalau kau yang memakai ini? "


Devi bangkit dari posisinya sembari melotot.


" Gila ya?! baju seperti ini, aku yang pakai?! anjing kesayanganku saja, bisa malu kalau memakai ini! " Protes Devi. Yang benar saja, baju yang sama transparannya dengan angin itu dia yang pakai? saat kritis pun dia tetap akan bangun untuk menolak, batinnya berseru.


Vanya mendesah sebal sembari menatap kedua sahabatnya itu. " Kau ini mau ku bantu atau tidak sih?! "


" Aku tidak ikut-ikut, kok. " Protes Sherin yang merasa geli melihat lingerie itu hingga tak sadar terus memegangi dadanya.


" Tapi, apa harus menggunakan ini? " Devi memegang lingerie itu dengan perasaan jijik.


" Tentu saja. Kau itu harus sadar diri! lihatlah! dada mu begitu rata, pantat mu juga rata, tubuhmu kurus, kau juga tidak pernah menggunakan make up, kau juga malas menyisir rambut kan? kau juga memiliki telapak kaki yang begitu panjang! meskipun kau tidak bau badan, kau juga malas menggunakan parfum! kau ini gadis atau preman bawah jembatan sih?! " Kesal Vanya sembari menunjuk satu persatu bagian tubuh Devi yang ia cela.


Devi hanya bisa menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Tidak perlu diperjelas begitu juga, dia tadi pagi pun sudah puas memaki tubuhnya yang tipis seperti tiang gantungan. Kenapa lagi harus mendengar makian dari sahabatnya sendiri sih?


" Turuti saja, Dev. Se sepertinya saran Vanya lumayan juga. " Ujar Sherin.


Devi menatap manik mata Sherin dengan tajam. Bisa-bisanya mengiyakan saran Vanya, padahal wajahnya saja terlihat jijik. Devi kembali menatap Vanya yang masih tajam menatapnya.


Iyakan saja dulu lah, Vanya kan orangnya keras kepala.


" Ok, baiklah.."


Sherin mengangguk, akhirnya tidak perlu mendengar mulut melengking Vanya lagi, batinnya.


Sherin, Devi dan Vanya kini sudah mulai kembali tutorial penjinakan tongkat ajaib. Vanya memberikan beberapa contoh sentuhan untuk menggoda Lexi, tapi sayang sekali, gadis itu hanya bisa bergidik ngeri dibuatnya, apalagi Sherin, dia sedari tadi hanya bisa menahan nafas dan mengusap dadanya, jantungnya benar berderu cepat. Dia sendiri juga bingung, Vanya yang bercerita, kenapa seolah dia merasakan dirinya sedang menjadi Vanya?


" Vanya, tutorial itu kenapa terdengar sangat menakutkan ya? " Ujar Devi yang merasa ngeri.


Vanya berdecih sembari menghela nafasnya. " Begini ya, tidak perlu lagi malu-malu di depan suamimu! jangan biarkan dia kendur. Jaman sekarang sudah biasa bagi wanita menyergap duluan. Anggap saja kau adalah seekor singa yang akan memangsa. Berikan sentuhan-sentuhan lembut yang membuat suamimu tidak tahan menolak mu. " Bisik Vanya yang justru terdengar horor bagi Devi. Apalagi hembusan nafas Vanya seakan menyembur membuatnya semakin ngeri.


Sherin menelan ludahnya sendiri. Dia membayangkan apabila dirinya yang sedang melakukan itu. Sungguh, dia merona hanya karena membayangkannya.


" Kau amati wajah tampan Lexi. Betapa tampan dia, dadanya yang lebar itu, uh.....! sshhh! kau hirup wangi tubuhnya dan biarkan tubuh mu melakukan apa yang dia inginkan. "


Devi menatap Vanya kaget, sungguh ngeri batinnya. Akhirnya Vanya benar-benar kehilangan kewarasannya. Kenapa dia sampai berdesis saat membicarakan suaminya? sungguh sangat mengganggu!


" Vanya, kenapa kau begitu cabul? " Tanya Sherin yang masih merona membayangkan nya.


Vanya tersenyum sembari menyenderkan tubuhnya di senderan sofa.


Kalau tidak cabul, mana mungkin ada Nathan? hehe.


" Jadi, apa kau akan melakukan apa yang aku katakan tadi? " Tanya Vanya kepada Devi yang masih terlihat kebingungan dan sesekali mengusap tengkuknya.


Vanya kembali menghela nafasnya. " Kalau kau merasa tidak bisa menggunakan cara itu, iya pakai saja lingerie ini dan tidurlah tanpa menggunakan selimut. "


" Akan aku pikirkan nanti. " Devi sudah tidak mau lagi berdebat dengan Vanya. Ilmu Vanya dalam menggoda suami memang hebat, tapi kan ini berbeda konteks, Lexi dan dia menikah tanpa cinta, aneh kalau dia menggoda Lexi dengan cara menyentuh titik-titik sensitifnya Lexi kan? walau bagaimanpun, dia masih punya rasa malu yang terjunjung tinggi.


" Dengar, kau boleh menggunakan caramu sendiri, tapi ingat! terkam dia dan jangan biarkan dia menoleh ke arah wanita lain! yang paling penting, buat dia ketagihan dengan mu! do you understand?! "


Sialan! sejak kapan Vanya begitu tidak tahu diri?! dia berubah menjadi sangat mesum setelah menikah. Ya Tuhan, tolong jangan buat aku segila Vanya nantinya.


Devi yang sedari tadi memperhatikan setiap ucapan Vanya, dia kini sudah bisa bernafas lega saat semuanya terlihat sudah selesai.


***


Lexi yang terpaksa menemui Gaby akhirnya memenuhi keinginan mantan orang yang dia cintai itu.


Gaby menatapnya sendu, dia terlihat begitu kacau sekarang ini. Jujur, Lexi ingin sekali bertanya ada apa dengan gadis itu, tapi sepertinya tidak akan baik untuk kedepannya. Lexi lebih memilih menahan segala pertanyaannya dan menatap gadis itu dengan tatapan penuh tanya.


" Lex, kenapa kau begitu acuh padaku? apa aku melakukan kesalahan padamu? " Tanya Gaby sembari meraih jemari Lexi. Ingin sekali Lexi menghempaskan jemari Gaby yang semakin erat menggenggam jemarinya, tapi dia juga tidak bisa terang-terangan menunjukkan kemarahan nya, al hasil, dia hanya bisa diam dan menahannya.


" Ada apa kau mengajakku bertemu? " Tanya Lexi dengan tatapan yang masih dingin menatap Gaby.


Sejujurnya, gadis itu sangat ingin memeluk Lexi dan menumpahkan segala kesedihannya, dia menginginkan Lexi seperti beberapa saat lalu, Lexi yang begitu mengagumi dan selalu memeluknya saat sedang merasa sedih. Sayang, Lexi yang kini ada dihadapannya adalah Lexi yang begitu berbeda. Gadis itu hanya bisa menahan tangisnya agar tak terlihat lemah. Iya, Gaby yang dulu begitu angkuh dan merasa hebat, kini sedang dalam keadaan hancur karena ulah keluarga Chloe dan KBR Group yang bekerja sama menghancurkannya dan menghancurkan keluarga angkatnya. Tidak berhenti disitu, keluarga Dirgantara juga ikut menekan perekonomian keluarganya. Semua orang menyalahkannya, baik karena kegagalan untuk memasuki keluarga Chloe, juga untuk kehancuran yang dialami oleh keluarga angkatnya, dia adalah sosok yang dituntut untuk bertanggung jawab.


" Gaby, aku tidak mengerti apa maksudmu mengajakku bertemu. Hanya saja, tolong jangan menggangguku. Aku sudah menikah, dan akan sangat tidak baik jika kau terus menghubungiku. Aku datang untuk mengatakan ini, selamat tinggal dan jaga dirimu baik-baik. " Lexi bangkit dari posisinya meninggalkan Gaby yang mulai menjatuhkan air matanya. Hatinya sakit melihat sikap Lexi yang begitu dingin kepadanya.


" Lex, aku hanya ingin memelukmu dan mengatakan selamat tinggal. Apa kau tidak bisa menahan dirimu sebentar saja? aku harus pergi, dan orang yang ingin aku lihat sebelum pergi adalah kau, Lexi. Tapi, kau begitu tidak tahan berada didekat ku. Benar, aku memang tidak pantas untuk ini, selamat tinggal, Lexi. Selamat tinggal cinta pertamaku. " Ucap Devi lirih sembari mengusap air matanya. Dia berjalan dengan air mata yang tak henti-hentinya jatuh meski tangannya terus menyeka. Kenangan-kenangan bersama Lexi berkelebatan di kepalanya, Lexi yang akan memeluknya saat dia sedang bersedih, Lexi yang akan berlari untuk memberi tahu nilai ujiannya yang tinggi. Lexi yang tertawa sembari mengajaknya mengobrol. Saat itu, dia juga begitu jatuh hati kepada Lexi, tapi karena keluarga angkatnya yang terus mendesaknya untuk masuk kelurga Chloe dan menghancurkannya perlahan, dia tidak memiliki pilihan selain memendam perasaan cintanya.


***


Lexi berjalan menuju menuju kamarnya, setelah menemui Gaby, dia langsung menemui sahabat kampusnya dulu untuk sekedar mengobrol, hingga tak sadar waktu mulai larut dan dia memutuskan untuk pulang.


Lexi melihat Devi yang sedang berbaring saat ia membuka pintu. Dia tersenyum lalu segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai dan sudah menggunakan setelan baju santai, Lexi langsung berbaring disamping Devi.


Baru saja akan meletakkan kepalanya, Devi dengan tiba-tiba terbangun, membuat Lexi terperanjak dan langsung menatap Devi.


" Ada apa? " Tanya Lexi bingung, dia tidak bisa melihat mimik wajah Devi karena posisinya, Devi membelakangi lampu tidur, membuatnya remang dan tidak jelas.


" K kau su sudah makan? " Tanya Devi yang tidak bisa menolak gugup pada dirinya.


" Sudah, bersama teman-teman ku tadi. " Jawab Lexi bingung.


" Em, itu, aku,- " Devi kebingungan saat ucapannya serasa sudah berada di ujung bibirnya.


" Kenapa? kau kenapa? apa yang ingin kau tanyakan? "


Devi berdehem sembari menarik nafas dengan hembusan yang ia buat sehalus mungkin, dia juga memalingkan pandangannya agar tak lagi merasa gugup.


" Ada apa? " Tanya Lexi lagi.


" Ayo kita buat anak! " Ajak Devi dengan suara lantangnya, tentu saja wajahnya masih berpaling tak berani menatap Lexi.


To Be Continued.