
Vanya masih terdiam dan bergelut dengan hatinya. Apa yang harus dijelaskan? lalu, bagaimana ia bisa menjelaskan?. Ratusan, mungkin saja jutaan pertanyaan yang menuntut untuk dijawab. Vanya sendiri bingung. Bagaimana jika laki-laki yang kini sedang menatapnya mengetahui segalanya?
Vanya menatap Nath. Pandangan mereka bertemu begitu Vanya menolehkan wajahnya. Terpaan angin membawa rambut halus Vanya menutupi sebagian wajahnya. Semilir angin itu juga seakan menyeruak menyalurkan hawa dingin.
" Vanya kau masih ingin diam? " Tanya Nath sembari meraih punggung tangan Vanya.
Vanya kembali memalingkan pandangannya. Diam? sampai kapan juga harus harus diam dan lari dari kenyataan ini?. Vanya kembali menatap Nath yang terus saja menatapnya.
" Nath,... " Panggil Vanya lirih. Suara ya sedikit bergetar. Entah dia gugup, atau menahan tangis.
" Iya. Katakan.... " Nath, menatap Vanya degan tatapan yang begitu lembut. Seolah berkata, katakan. Aku disini dan akan selalu bersamamu.
Vanya tersenyum, dia seolah paham akan tatapan itu. Tatapan yang membuatnya berani. Tatapan yang membuatnya merasa aman.
" Nath, apa kau kecewa?
" Tentang apa? " Nath semakin mengeratkan genggamannya.
" Tentang kebenaran ku. " Vanya tertunduk kelu. Untuk sebagian wanita, mungkin ini hal yang memalukan. Tapi, Nathan adalah sumber kebahagiaan yang ia miliki. Cepat atau lambat, Nath juga akan tahu kan? batinnya.
" Kebenaran yang mana?
" Semuanya. Siapa aku, dan tentang anakku. " Vanya tak bisa lagi menahan air matanya untuk jatuh. Entahlah, Vanya merasa, tiba-tiba merasa takut jika Nath akan meninggalkannya.
Nath menghela nafasnya sesaat, menghapus air mata gadis itu. Lalu kembali menatapnya. " Awalnya, aku memang terkejut. Tapi, aku tidak mau hanya karena masalah ini, kita harus berpisah. " Nath menatap Vanya dengan tatapan tegas.
" Vanya dengar, tidak perduli apapun, mari kita fokus untuk masa depan. Aku mencintaimu dan berharap kau juga merasakan hal yang sama. Mari kita bahagia tanpa melihat masa lalu.
Vanya tersenyum dan mengangguk.
" Vanya,...
" Emm? " Vanya kini menatap intens manik mata yang terlihat indah. Hanya saja, Nath nampak ingin menyampaikan sesuatu namun bimbang.
" Ada apa? " Tanya Vanya lagi. Ia tahu, keraguan kini sedang menyelimuti hatinya.
Nath mengeratkan genggaman tangan mereka. Menatap Vanya dengan keseriusan. " Vanya, aku juga memiliki seorang anak.
" Apa?! " Vanya menatap mata Nath mencari kejujuran dari tatapan itu. Dia jujur. Tapi kenapa hatiku sakit? jika aku memang memiliki anak, anak itu kan anaknya juga. Aku harus bagaimana?
Nath menelan salivanya. Dia gugup melihat keraguan di mata Vanya. Benar, dia tidak perduli dengan Vanya yang sudah memiliki anak. Tapi entah mengapa, timbul rasa takut jika Vanya tidak bisa menerima keadaanya yang sudah memiliki anak.
" Vanya? apa kau keberatan dengan itu? " Tanya Nath dengan tatapan mata yang memelas.
Keberatan? apa aku pantas? kau bahkan menerima dengan mudah keadaanku. Meski anak itu, adalah anakmu. Bagaimana mungkin aku memiliki hak keberatan?
" Vanya? " Panggil Nath lagi. Dia benar-benar menunggu jawaban dari Vanya.
Vanya tersenyum. Dia melepaskan tangannya dari genggaman Nath.
Deg.....!
Nath tercengang melihat Vanya menarik keluar tangannya. Entah bagaiman menggambarkan kesedihannya sekarang. Ia merasa, harus menerima keadaan Vanya agar Vanya juga menerima keadaannya. Tapi, mungkin itu tidak mungkin.
" Kenapa kau terlihat sedih? " Vanya memegang wajah Nath dengan senyum yang menghiasi wajah cantiknya.
Nath yang tadinya sudah larut dengan pendapatnya sendiri, yang justru membuat dirinya berduka cita tanpa alasan, akhirnya bisa bernafas lega.
" Kau tidak marah? " Tanya Nath yang masih belum bisa mempercayainya.
" Kenapa aku marah? " Tanya lagi Vanya masih dengan senyum diwajahnya.
Kini Nath juga memegang wajah Vanya. " Kau akan menerima keadaanku?
Vanya mengangguk. " Kau juga akan melakukan hal yang sama?
Mereka saling menatap dengan perasaan yang sama. ' Bahagia. ' Vanya juga tidak tahu pastinya. Sejak kapan hatinya dipenuhi seorang Nath? sejak kapan ia mulai begitu menginginkan Nath? sejak kapan hatinya berubah seratus delapan puluh derajat.
Begitu juga Nath. Jika ada yang bertanya, kenapa dia mencintai Vanya? jawabannya adalah tidak ada alasan. Yang ia tahu, ia hanya mengikuti kata hatinya. Hati yang selalu membuatnya ingin bersama Vanya. Hati yang begitu mendambakan seorang Vanya. Hati yang membuatnya tak mengenal malu atau lelah dalam mengejar cinta.
Mereka mengakhiri percakapan dengan sebuah ciuman. Ciuman dalam perasaan penuh cinta. Ciuman yang terasa begitu menenangkan. Bagi Vanya, juga bagi Nath.
" Cukup Nath. " Ucap Vanya setelah memundurkan wajah agar terlepas dari bibir Nath yang enggan untuk berhenti.
Nath tersenyum. " Sayang, lipstick mu berantakan. " Ujar Nath sembari mengusap pinggiran bibir Vanya menggunakan jempolnya.
" Kau juga. Lipstick ku menempel di bibirmu. " Vanya juga melakukan hal yang sama.
Lagi, pandangan mereka saling bertemu. Kembali menginginkan hal yang baru saja terjadi. Baik Nath dan Vanya, mereka sudah mulai mendekatkan wajah.
" Nath!
Vanya mendorong tubuh Nath hingga menjauh darinya. Dengan wajah salah tingkah, Vanya berpura-pura tak terjadi apa-apa sembari membenahi tatanan rambutnya.
Lain dengan Nath. Wajah kesal ditujukan untuk seorang pria yang mengganggunya. Rasanya, ingin sekali melindas tubuh itu dengan truk sampah. Batinnya.
" Ada apa?! " Tanya Nath dengan wajah yang ia buat sebiasa mungkin. Maklum saja, dia juga harus terlihat baik dan berwibawa dihadapan Vanya. Meski sejujurnya ingin sekali dia memaki dan menyebut nama-nama hewan dari kebun binatang.
" Ups... maaf menganggu adegan hot kalian. " Ucap Pria itu. Yang tak lain adalah Lexi. Si Rajanya penganggu. Maklum saja, dia jomblo abadi. Entah kapan gelar itu akan lengser dari namanya.
" Kami bahkan belum pemanasan. Dari mananya terlihat Hot? " Nath berucap sembari menatap kesal.
Oh yes.....! untung saja, ada Vanya. Kalau tidak, dia pasti sudah meninjuku. Oh, bisa juga dia mengeluarkan satu telurku.
Sejujurnya, Lexi sudah hampir dua puluh menit mencari sahabat sekaligus Bosnya itu. Namun, betapa kesalnya dia saat melihat Nath dan Vanya saling menerkam satu sama lain. Perasaan jomblo itu merasa benar-benar kesal. Sudah susah payah menahan kekesalan dari tadi, Nath dan Vanya ingin mengulangi lagi? tentu saja, jiwa kejombloan itu merasa tidak terima.
" Ada apa kau mencari ku? " Tanya Nath yang justru malah dibingungkan dengan Lexi yang terlihat bodoh dengan senyum yang terlihat mencurigakan.
"Ah, itu, kau belum menemui Tuan Rudi dirgantara. Tadi beliau sempat drop. Tapi sekarang, beliau sudah baik-baik saja. Setidaknya, temui dia sebentar.
Nath mendesah sebal. " Baiklah.
" Ayo. " Ajak Lexi sembari membalikan badan menuju pintu utama.
" Aku punya pasangan. Tidak butuh kau lagi.
Krak......! Sudah seperti cangkang telur yang terinjak kaki. Kesal sekali rasanya. Demi Nath, dia bahkan rela di maki kedua orang tuanya karena menolak kencan buta yang sudah diatur orang tuanya. Demi Nath yang dengan tidak berperasaan dan mencampakkan begitu saja dirinya.
Nath, jika aku lajang sampai usia tiga puluh lima, aku akan memisahkan kalian dan menikah denganmu Nath. Kau sialan! kau yang membuatku terus menerus menjadi jomblo.
" Carilah pacar! memalukan sekali. Hari gini tidak punya pacar? " Cibir Nath sembari meraih tangan Vanya dan berlalu meninggalkan Lexi dalam kekesalan.
Lexi mengambil sebuah batu kecil dan melemparnya kesembarang arah. Dia benar-benar berharap, hal itu dapat membuang rasa kesalnya.
" Awh.....! " Pekik seorang gadis yang berada ta jauh darinya. Dia berjalan mendekati Lexi dengan tatapan marahnya.
Lexi menyadari apa yang ia lakukan. Bagaimana tidak? wanita itu memegang batu yang tadi Lexi lemparkan.
Ia hanya bisa menelan ludahnya sendiri dengan perasaan gugup dan takut. Wanita yang ada dihadapannya ini, benar-benar terlihat sangat garang.
" Heh?! ternyata Asisten sekretaris homo ini yang melempar batu ke kepalaku.
Asisten Sekretaris homo? homo? maksutnya? dia pikir aku homo? I'm? what the ****!
" Nona, maaf. Aku tidak sengaja. Dan kata-katamu tadi, lebih baik kau revisi. Jika kau mengenalku, berarti kau pegawai disana kan? " Ucap Lexi dengan nada rendah dan terkesan tenang.
" Lalu? kau mau memecat ku? Kau pikir aku takut? lakukan saja. Dan aku, akan melaporkanmu ke polisi.
To Be Continued.