Touch Me!

Touch Me!
Masa Lalu



Vanya berjalan memasuki pintu utama. Sejenak ia menarik nafas dan menghembuskan perlahan. Setelah lima tahun lebih, kini ia kembali ke tempat yang memberikan luka dihatinya.


Vanya kembali mengingat sumpah yang pernah ia ucapkan tanpa ragu-ragu beberapa tahun silam. Sumpah yang masih ia ingat dengan jelas. Ada perasaan ragu saat akan melangkah. Tapi sudahlah, ia kan hanya memenuhi undangan, bukan untuk merajuk benang kusut diantara mereka.


Perlahan, Vanya memasuki rumah megah yang menjadi saksi tumbuhnya seorang Vanya hingga usia dua puluh satu tahun.


Vanya mengingat kembali semua kenangan-kenangan yang terjadi dirumah megah itu. Rumah dimana dia menghabiskan hari bersama Ibunya.


___________


" Vanya, cantik, kau mau mencicipi kue buatan Ibu?


" Vanya, kau sudah meminum susunya?


" Vanya, minumlah obatmu.


" Vanya, habiskan makanan mu.


" Vanya, ayo kita jalan-jalan.


" Vanya, ayo, kita ke Dokter.


" Vanya, kau benar-benar hebat. Kali ini kau juga juara satu.


" Vanya, lihat ini. Ibu membuatnya untukmu. " Ibu menunjukkan sebuah pita rambut berbentuk bunga.


" Vanya, kau adalah segalanya bagi Ibu. Kau adalah surga Ibu. Kau adalah nyawa Ibu. Kau adalah jantung Ibu.


Vanya tersenyum mengingat masa kecil yang ia habiskan bersama Ibu kandungnya. Hingga tiba-tiba, kenangan pahit yang ingin sekali ia lupakan melintas di otaknya.


Sepasang suami istri yang sedang berdebat hebat tanpa sadar seorang anak terus memperhatikan dengan cucuran air mata yang membasahi pipinya.


" Pergilah dari sini, dasar brengsek!!


" Kau pikir, siapa kau berani mengatai ku brengsek?


" Kau memang brengsek! jika memang tidak mau hidup bersamaku lagi, kau bisa mengatakannya lebih awal kan?! kenapa kau harus berselingkuh dengan orang terdekatku?!


" Itu karena salahmu! kau tidak pernah memahami perasaanku! aku tidak pernah mencintaimu! kau juga tahu akan ini kan?


" Lalu dimana salahku?! seharusnya kau mengatakannya lebih awal. Kenapa harus sekarang? sekarang, aku benar-benar mencintaimu. " Wanita itu jatuh terduduk sembari menangis.


" Aku tidak pernah mencintaimu. Itu urusanmu jika kau mencintaiku. Aku akan menyerahkan surat cerai besok.


" Tidak! jangan lakukan itu. Aku tidak mau Vanya kehilangan Ayahnya. " Ucap Wanita itu bersimpuh dan mengatupkan kedua telapak tangannya memohon.


" Aku akan datang seminggu sekali. " Jawab pria itu dingin.


" Apa?! bagaimana kau begitu tidak adil? kau menghabiskan hari-harimu bersama putrimu yang lain dan hanya sekali seminggu menemui putri kita? kenapa kau begitu tidak adil?!


" Satu minggu sekali? atau,tidak sama sekali?


" Kenapa? kenapa kau tidak adil begitu?


" Karena Vanya, ada kau yang menjaganya setiap hari kan?


" Putrimu yang lain juga memiliki Ibu kan?!


" Itu urusanku. " Ucap Pria itu sembari melangkahkan kaki.


" Tunggu!


" Apa lagi?


" Apa jika aku tidak ada? kau akan terus bersama Vanya?


" Tentu saja.


" Baiklah. " Wanita itu bangkit dari posisinya. Dia meraih sebuah pisau yang terletak di keranjang buah.


" Apa yang kau lakukan?! " Bentak pria itu sembari menatapnya nanar.


" Letakkan pisau itu! jangan mengancam ku dengan ide bodoh mu!


" Bodoh ya? aku juga baru menyadari, dari awal aku memang bodoh. Aku mengabdikan hidupku untukmu tanpa perduli, kau mencintaiku atau tidak? Rudi,.. dengarkan ini baik-baik. Vanyaku adalah segalanya bagiku. Aku tahu, kau tidak mencintai Vanya seperti kau mencintai putrimu yang lain. Karena Vanya tidak lahir dari wanita yang kau cintai. Tapi, Vanyaku sangat mencintaimu. Setiap malam sebelum tidur, dia selalu mendoakan mu. Kau juga tahu kan? setiap hari dia selalu sibuk menghubungimu untuk menanyakan kabarmu. Makanan apa yang kau makan, kau sedang apa? apa sedikitpun kau tidak menyayanginya? apa kau tahu? setiap hari aku selalu menangis saat Vanya bertanya tentangmu. Bahkan saat dia sakit, dia selalu memanggil namamu. Rudi, tolong, cintai Vanyaku meski kau tidak mencintaiku.


" Omong kosong apa yang kau bicarakan?!! " Pria itu hendak mendekat.


" Berhenti Rudi!


" Jangan bodoh!


" Selamat tinggal. Jaga Vanyaku dengan baik. Katakan padanya, tetaplah menjadi gadis yang baik. Tetaplah hidup apapun yang terjadi.


" Wanita itu mengiris pergelangan tangannya beberapa kali, dan.. jlep.... " Dia menusukkan pisau itu ke jantungnya dengan sisa tenaga yang ia miliki.


_________


" Ibu..... " Vanya memegangi dadanya yang tiba-tiba terasa begitu sesak dan sakit.


" Vanya? " Ibu tiri Vanya mendekat ke arah Vanya dengan senyum yang begitu natural.


Wanita ini? apakah wanita ini yang di maksut Ibu? apakah karena wanita ini? jadi, Rina bukanlah anak tiri Ayah? jadi itulah alasannya dia begitu menyayangi Rina? jadi, seberapa banyak hal yang mereka sembunyikan dariku?


" Vanya, kau sangat cantik hari ini. Ayo kita temui Ayahmu. " Ucap Ibu tiri sembari memegang tangan Vanya hendak menuntunnya menemui Ayah.


" Tidak perlu. Aku datang bukan untuk menemuinya. " Vanya berucap dengan wajah dingin dan menahan tangis.


" Vanya, apa yang terjadi denganmu? " Tanya Ibu tiri yang terlihat begitu khawatir saat menyadari jika mata Vanya sembab.


" Tidak ada. Hanya kenangan masa lalu yang tiba-tiba menghampiriku.


Apa dia mengingat Tristan dan Rina? apa dia masih belum bisa merelakannya? dia terlihat begitu menderita. Aku harus bagaimana?


Vanya berjalan meninggalkan Ibu tiri dan berjalan ke sembarang arah.


" Vanya! " Suara suara Pria yang menambah buruk suasana hatinya.


Vanya tak mau menoleh ke arah sumber suara. Malas rasanya.


" Vanya, kau datang? aku senang berjumpa denganmu lagi.


Vanya menatap Pria yang kini sudah berada dihadapannya. " Oiii Tristan, pergilah. Suasana hatiku sedang kacau. " Ucap Vanya lalu menenggak segelas jus buah naga.


" Vanya,apa kita bisa bicara sebentar? " Pintanya sopan.


" Tidak.


" Aku mohon... kali ini saja.


" Tidak mau.


" Baiklah, dua menit. Tolong luangkan waktumu dua menit.


Vanya menghela nafasnya. Sebal sih, tapi kalau terus menolak, malah akan membuatnya semakin nekat kan?


" Baiklah, katakan.


Tristan meraih kedua tangannya. Vanya hanya bisa diam dan bersabar menunggu dua menit itu usai.


" Vanya, kejadian lima tahun lalu itu, adalah sebuah kecelakaan. Aku datang untuk reuni dengan teman-teman kita. Tapi, aku juga bingung kenapa ada Rina. Aku mabuk dan Rina mabuk. Aku benar-benar tidak sadar dengan apa yang aku lakukan. " Tristan mengeratkan genggaman tangannya.


" Vanya, mau kah kau memberiku satu kesempatan? akan ku selesaikan semua dengan Rina dan kembali padamu.


" Ting tong! dua menit mu sudah habis. " Ucap Vanya lalu mencoba melepaskan tangannya dari Tristan.


" Tidak Vanya. Aku benar-benar tidak bisa melupakanmu. Aku tidak berbohong. Tunggu aku. Aku akan kembali meraih hatimu.


" Apa yang kalian lakukan?! " Bentak Rina yang merasa kesal melihat Tritan dan Vanya saling berpegangan tangan.


To Be Continued.