Touch Me!

Touch Me!
Gundah



Hari berjalan sebagaimana mestinya bagi beberapa manusia. Tapi hari ini sungguh berbeda dari kemarin. Vanya yang sebelumnya adalah seorang karyawan Perusahaan Choe, lalu menjual kopi. Dan dalam hitungan hari, wanita itu sudah siap untuk menghadapi dirinya yang baru. Vanya berjalan melangkahkan kaki mendekati suaminya yang masih mematung didepan Cermin. Kedua tangannya sibuk memegangi kedua ujung dasi yang sudah menggantung dilehernya. Tatapannya nampak kosong seolah sedang melamunkan sesuatu. Vanya meraih pundak suaminya lalu memutarkan tubuh kekar itu agar menghadap dirinya.


Wajah tampan itu terdiam menatap manik mata istrinya. Diam tapi hatinya bertanya tiada henti sedari tadi. Malai dari istrinya mandi lalu mengganti pakaian dengan setelan kantor yang modis. Rambutnya juga dibiarkan tergerai indah. Aroma parfum yang menambah segar tubuhnya. Semua itu terngiang-ngiang di otaknya.


" Ada apa? kau baik-baik saja? " Tanya Vanya yang merasa bingung dengan tatapan suaminya itu.


" Tidak. Aku tidak baik-baik saja. " Ujar Nath yang masih tak bisa mengalihkan pandangannya dari manik mata istrinya itu. Entah bagaimana dia bisa menjalani hari-harinya mulai sekarang kalau keadaannya sudah tidak sama lagi.


" Kenapa? kau sakit? " Vanya meletakkan telapak tangannya di kening Nath. Dia mengeryit dan menatap suaminya itu. Tidak terjadi apa-apa. Suhu tubuhnya normal. Batin Vanya.


" Aku takut. " Jawab Nath yang masih tetap tak ubah ekspresinya.


Vanya menjijitkan kakinya dan melingkarkan kedua lengannya di leher Nath. Tatapan mereka begitu dekat hingga Vanya tak bisa lagi menahan diri untuk tidak mencium bibir suaminya.


" Apa yang kau takutkan? " Tanya Vanya sembari mengendurkan tangannya dan kini berpindah melingkar di pinggang Nath.


Nath menghela nafasnya. Sungguh, tatapan itu berubah menjadi tatapan memelas.


" Sayang, mulai hari ini, kau akan sibuk dengan KBR Group. Apa kita akan kehilangan banyak waktu bersama? apa kita akan bisa seperti ini terus? aku takut. Takut kau akan berubah. KBR Group, adalah salah satu perusahaan terbesar di Asia. Tidak mudah mencari waktu luang setelah kau bergabung. Dan otak mu yang selalu mesum itu, aku sangat menghawatirkan nya. "


Vanya menghela nafasnya. Dia benar-benar gemas memikirkan Suaminya yang begitu ketakutan. Vanya menangkup wajah suaminya dan membiarkan manik mata mereka bertemu dengan intens.


" Dengar, dari awal, aku adalah milikmu. Dan sampai akhir, aku hanya milikmu. " Vanya mencoba menenangkan Suaminya.


" Tapi, KBR Group selalu melakukan perjalanan bisnis dan bertemu para klien dari luar negeri. Akan banyak pria tampan yang kau temui. Dan aku? aku akan tersisihkan karena itu. "


Vanya menahan tawanya dengan mengunci rapat bibirnya menggunakan punggung telapak tangannya. Lucu! kenapa pria seperti Nath bisa tiba- tiba kehilangan kepercayaan diri?


" Percayalah padaku. Aku tidak akan menghianati mu. " Ujar Vanya yang merasa yakin dengan ucapannya. Tentu saja dia yakin. Dia sangat mengenal dirinya sendiri. Dia bukanlah orang yang mudah jatuh cinta meski otaknya sedikit gila dan mesum. Sedikit ya? hanya sedikit loh,..


" Kau janji? " Vanya menganggukkan kepala agar bisa mengekspresikan maksud persetujuannya.


Bunyi ketukan pintu membuyarkan suasana lebai pagi itu.


" Tuan, Sekretaris Lexi menunggu di ruang tamu. " Ucap Pelayan dari balik pintu.


" Baiklah. Katakan untuk menunggu sebentar. " Balas Nath.


" Baik, Tuan.


Tak lama kemudian, Nath dan Vanya keluar dari kamarnya dan menuju tempat dimana Lexi sudah menunggu.


" Hai pengantin baru? " Sapa Vanya setelah melihat Lexi di ruang tamu.


Lexi hanya bisa menghela nafasnya. Pengantin baru yang mengenaskan. Batinnya.


Tak butuh waktu lama, Nath berpamitan dengan Vanya karena sudah harus berangkat. Dan Vanya, dia akan dijemput oleh orang yang sudah di utus oleh Bibinya.


Vanya sudah sampai di sebuah gedung perusahaan yang bertuliskan KBR Group. Megah. Itulah yang Vanya kagumi saat melihat gedung itu. Vanya tak henti-hentinya berdecak kagum saat berjalan menuju ruangan Bibinya. Dia dikawal beberapa orang seiring langkah melaju. Para pegawai juga dengan sopan menundukkan kepala untuk menyapa dan memberi hormat. Sungguh, Vanya tidak pernah menyangka jika dia akan berada diposisi ini. Ibu kandungnya memang tak pernah menceritakan tentang asal usul keluarganya. Vanya hanya tahu keluarga besar Ayahnya. Vanya tersenyum sembari mengingat. Pantas saja, Ibunya memiliki banyak uang yang ia tinggalkan untuknya. Jadi dari keluarga inilah Ibunya lahir? lalu kenapa dengan bodohnya dia memilih jalan yang sulit dengan mengikuti Ayahnya? mengapa dia memilih mati demi dirinya? kenapa tidak membawanya lari dan hidup bahagia bersama?. Vanya menghela nafas di sela kegiatannya. Cara berpikir manusia memang beragam. Terkadang, manusia bisa melakukan apa yang orang lain anggap itu bodoh.


Ibu, im back. Apa Ibu bahagia dengan jalan yang Ibu pilih? Ibu, aku begitu sedih saat mengingat kejadian itu. Hanya demi mengemis kasih sayang dari Ayah, kau mengorbankan nyawamu yang berharga itu. Ayah benar-benar tidak pantas untuk ini. Ibu terlalu baik untuk laki-laki brengsek seperti, Ayah.


" Silahkan, Nona. " Ucap salah satu pengawal sembari membuka pintu. Karena mereka sudah sampai diruangan Bibi.


" Wellcome, Keponakan ku. " Bibi merentangkan tangan begitu melihat Vanya mulai masuk kedalam ruangan kerjanya.


Vanya menyambut hangat pelukan itu. Rasanya hangat. Sungguh, dia serasa tidak ingin melepaskan pelukannya. Selain wajah yang sangat mirip, Bibi juga memiliki cara bicara yang sama dengan Ibunya.


" Bagaimana kabarmu? " Tanya Bibi sembari meregangkan pelukannya untuk menatap keponakan yang ia rindukan itu.


Vanya tersenyum menatap manik mata Bibinya yang bagaikan menatap Ibunya sendiri. Tatapan itu terasa hangat hingga membuat Vanya ga kuasa menahan air matanya yang jatuh ke pipinya.


Bibi mengeryitkan keningnya menatap bingung dengan air mata yang jatuh di pipi keponakannya itu. Dengan cepat, Bibi menghapus air mata Vanya lalu menangkup wajahnya.


" Kenapa kau menangis? " Tanya Bibi yang terlihat khawatir. Yang ada didalam pikirannya, sudah pasti kelakukan keluarga Chloe.


" Aku bahagia bisa melihat Bibi. Aku merasa Bibi adalah Ibuku. " Ujar Vanya sembari menutup mulutnya untuk menahan tangis yang seakan ingin pecah itu.


Bibi memeluk erat tubuh keponakannya itu. Dia juga sangat menyayangkan semua yang telah terjadi. Hanya karena cinta yang dimilki saudara kembarnya itu, semuanya hancur dan tersakiti. Dia maupun kedua orang tuanya yang gak lain adalah Nenek dan Kakek vanya. Dan pada akhirnya, trauma yang ia rasakan membuatnya tak berani untuk menikah sampai saat ini.


Bibi menepuk punggung Vanya perlahan tanpa melepaskan pelukannya. Vanya menangis tersedu-sedu karena teringat dengan Ibunya. Tapi, Bibi juga tidak memiliki pilihan lain selain membawa Vanya kembali kepada Keluarganya. Keluarga besar yang seharusnya menjadi tempat Vanya tumbuh dan bahagia hingga saat ini.


" Bibi, kenapa Ibu sangat bodoh? kenapa Ibu menyakiti dirinya dan meninggalkan aku? kenapa dia mencintai Ayah brengsek itu? kenapa Bibi? kenapa Ayah tega meninggalkan Ibu dan memilih untuk berselingkuh? Ibuku sudah mengorbankan semuanya, Bibi. "


Bibi terdiam sesat mendengar semua pertanyaan yang keluar dari mulut Vanya. " Vanya, sepertinya banyak kesalahpahaman yang perlu diluruskan. "


To Be Continued.


Hallo kesayangan,...


Thankyou for your, Coment, Like, read, Vote and give nya.


Aku mau jawab dua pertanyaan yang aku sempat baca kemarin.


" Kenapa panggilannya gk keren? misalnya, Mama/Papa atau Mommy/Daddy ? kenapa harus Ibu dan Ayah? "


Itu karena, othor lebih menyukai sesuatu yang kental dengan Indonesia. Othor sengaja kok dari awal. Kalau kalian merasa kurang nyaman, kalian berandai-andai aja ya. Sesuai dengan nyamannya kalian.


Terus, Othor juga paling anti menyebutkan agama. Kenapa? Karena, othor tidak mau menggolongkan agama ini baik dan itu buruk. Semua agama, tujuannya adalah untuk beribadah kepada yang maha kuasa. Baik buruknya seseorang, bukan dari agamanya kan? Jadi, mohon di maklumi ya... Kesayangan❤️


Salam sayang dan jaga kesehatan ya....