Touch Me!

Touch Me!
Hello, Dad!



Setelah perdebatan tak berarti itu, akhirnya Vanya memutuskan untuk kembali ke apartemen nya. Tadinya, ia sudah membulatkan tekat nya untuk mengatakan segalanya kepada Nath, tapi entahlah, keberanian itu seolah sirna entah kemana dengan tiba-tiba.


" Aku kembali ke unit ku ya? " Pinta Vanya seraya bangkit dari duduknya.


" Aku juga. Berly dan Nathan pasti sudah tidur. " Ujar Sherin yang ikut bangkit mengikuti Vanya.


Nathan? lagi? sebenarnya, kenapa ada kebetulan yang seperti ini? Nath.


Nath hanya bisa menatap punggung Vanya yang semakin menjauh darinya. Perasaan bersalah selalu muncul ketika melihat Vanya berjalan menjauh darinya. Seolah ada sesuatu yang tidak biasa ada pada dirinya.


" Kejarlah dia. " Titah Kevin yang sedari tadi terus memperhatikan mimik wajah Nath yang tampak tak rela melihat Vanya pergi.


Nath menatap Kevin dengan tatapan kaget. Ia, dia kaget. Nath tidak pernah mengatakan apapun. Baru hari ini dia datang untuk menemui Vanya, dan Kevin sudah langsung tahu maksudnya? Nath tersenyum. Sungguh, Kevin adalah sahabat baiknya.


" Dengar Nath, jangan pernah meragukan dirinya. Percayalah apa yang kau rasakan. " Kevin mengucapkan kata-kata ini penuh keyakinan. Membuat Nath juga mengangguk yakin.


" Tapi, aku tidak tahu harus bicara apa? " Tiba-tiba, niat untuk mengejar Vanya menciut. Tetu saja dia bingung. Bingung apa yang akan dia bicarakan dengan Vanya. Tidak mungkin kan dia tiba-tiba membahas perasaanya begitu saja?


Kevin tersenyum. Dia memberikan tepukan ringan di pundak Nath untuk menguatkan sahabatnya itu.


" Temui dia dan dengarkan apa yang dia katakan. " Ujar Kevin yang tentu saja merasa yakin. KBR Group, akan melindungi Vanya dengan sangat detail. Terbukti, banyaknya orang yang Gaby kirim, tak bisa menyentuh sedikitpun Vanya. Baik di tempat kerja, tempat umum pokoknya dimana pun mereka akan melindungi Vanya secara diam-diam.


" Kau yakin? " Nath kembali memastikan. Akan sangat memalukan kalau sampai dia kebingungan saat bertemu Vanya kan?


" Iya. Tentu saja. " Jawab Kevin yang merasa yakin.


Nath sudah akan bangkit untuk menemui Vanya.


" tunggu! " Cegah Kevin dan sontak membuat langkah Nath terhenti mendadak.


" Kenapa? " Tanya Nath bingung.


" Jika kau bertemu Nathan, em.. maksud ku, putranya Vanya, bersikaplah seharusnya. Jika kau bingung, maka temui Vanya. Karena itu, adalah salah satu alasan untuk menemuinya.


Meski merasa bingung, Nath hanya mengangguk sebelum melangkahkan kaki.


Ting...! Tong....!


Suara bel pintu menghentikan langkah kaki Nathan ya g terbangun dari tidurnya untuk mengambil air di dapur. Nathan berjalan ingin membukakan pintu, tapi di cegah oleh pengawal yang berjaga disana.


" Biar saya saja, Tuan kecil. " Ujar salah satu pengawal itu.


Nathan mengangguk tapi ia tak beranjak dari tempatnya. Dia penasaran, siapa yang datang di malam begini? terbesit dihatinya, apakah Ayahnya pulang?


" Selamat malam? " Ucap Nath saat pintu itu terbuka.


Nampak dua pengawal itu kaget. Terlihat manik mata mereka yang membulat menatap Nath yang berada di hadapan mereka.


" Tuan? " Sapa salah satu penjaga.


" Ayah! " Nathan berlari dan langsung mendekap kedua kaki jenjang Nath.


Deg...


Nath terkejut dengan adanya bocah laki-laki yang berlari ke arahnya dan langsung memeluk kedua kakinya.


Ayah?


Nath memandang kepala anak laki-laki yang memeluk kakinya sembari menangis pelan. Tangannya tiba-tiba terulur dan mengusap rambut tebal anak itu.


Nath menjauhkan tubuh Nathan dan mensejajarkan tubuhnya agar bisa menatap anak kecil itu. Awalnya Nath tersenyum, tapi setelah melihat wajah anak itu, Nath membulatkan matanya. Jantung yang sedari tadi memang berdejak hebat, seolah tak cukup. Tangan serta tubuhnya menjadi gemetar saat manik mata mereka bertemu. Bibirnya juga seakan kehilangan kekuatan hanya untuk sekedar kembali tersenyum.


Kenapa anak ini begitu mirip denganku? apa aku? aku benar-benaf Ayahnya? tapi, ingat dengan jelas, apa yang terjadi di masa lalu. Aku yakin aku belum memiliki anak. Tapi, kenapa ada anak yang begitu mirip denganku? kebetulan macam apa ini?


" Ayah, kenapa Ayah baru kembali? aku merindukan Ayah. " Ucap Nathan sembari terisak-isak dan langsung beringsut ke pelukan Nath yang masih terdiam karena rasa terkejutnya.


Nath kembali mengingat apa yang di ucapkan Kevin. Tapi saat ini, dia hanya ingin mengikuti kata hatinya. Iya, kata hatinya yang seolah ingin memeluk erat tubuh mungil yang kini jatuh di dadanya.


Nath memeluk Nathan erat. Dia menghirup aroma tubuh Nathan yang seolah sangat ia rindukan. Cukup lama mereka berpelukan. Sampai air mata jatuh menetes di pipi Nath pun dia sampai tak merasakannya.


" Ayah, kenapa kau sangat jahat?! kau berbohong! Ayah bilang, tidak akan lama. Tapi, Tapi, tapi, Ayah.


Sakit! sungguh sangat sakit melihat Nathan menangis seperti itu.


Kenapa ini semakin membingungkan? dan perasaanku, semua mengatakan ini nyata.


Nath mengelus puncak kepala Nathan. " Jangan menangis lagi, anak pintar.


" Ayah, berjanjilah padaku. Ayah tidak boleh meninggalkan kami lagi! " Nathan mengacungkan jari kelingkingnya untuk mengikat janji.


Tanpa pikir panjang, Nath mengaitkan nari kelingkingnya.


" Promise? " Tanya Nathan yang kini sudah bisa mulai tersenyum.


" Promise! " Jawab Nath penuh keyakinan.


" Kembalilah tidur, anak pintar. Aku, maksudnya, Ayah ingin menemui Ibumu. " Ujar Nath sembari mengacak rambut Nathan.


Nathan tersenyum dan mengangguk. Tidak ada lagi air mata. Kini dia berjalan dengan bahagia menuju kamarnya. Begitu bahagia hingga tak lagi mengingat dahaga yang tadi sempat melanda tenggorokannya.


Dari sela pintu, Vanya mengusap air matanya. Tentu saja air mata haru. Entah bagaimana dia bisa menjelaskan betapa bahagianya ia melihat kejadian barusan.


*Nath, kau pernah mengatakan, jika aku harus mengingatkan mu jika kau melupakan tentangku kan? ini adalah tugas ku. Maka, aku akan mengingatkan mu dengan segenap cinta yang aku miliki.


Thank you God. Thanks karena memberikan takdir yang begitu baik. Kau tetap membawa Nath yang dalam keadaan tidak mengingat tentang kami. Tapi, ikatan cinta tidak akan mudah untuk di putuskan.


Terimakasih untukmu, Nath. Rasa cinta yang kau miliki begitu besar. Aku benar-benar yakin akan hal itu. Dan mulai dari hari ini, aku akan lebih mencintaimu. Bahkan lebih dari yang kau bayangkan*.


" Dimana Vanya? " Tanya Nath kepada pengawal yang masih menunduk hormat.


" Dikamar, Tuan. " Jawabnya sopan.


" Bisa tolong panggilkan? " Pinta Nath.


" Eh?! " Dua pengawal itu malah menatapnya keheranan.


" Kenapa? " Nath bertanya karena merasa heran juga dengan tatapan dua pengawal itu.


" Maaf, Tuan. Tapi biasanya, anda akan langsung menemui Nyonya langsung kan?


Apa?! mereka apa benar-benar tidak salah mengenali orang? menemui Vanya langsung?


" A, ada dimana? " Tanya Nath yang kini merasa gugup.


" Dikamar, Tuan. " Jawab pengawal itu.


What? kamar? aku harus menemui Vanya di kamar? kenapa? sekamar dengan wanita kan, bisa membuat hal tidak senonoh terjadi.


" Ka, kamarnya, ada disebelah mana? " Tanya Nath yang masih merasa gugup.


Kedua pengawal itu saling menatap bingung. Tapi, dengan cepat mereka menjawab karena tidak ingin membuat Tuannya terlalu lama menunggu.


" Disebelah sana, Tuan. " Jawab salah satu pengawal itu sembari menunjuk arah dengan telapak tangannya.


Nath berjalan mengikuti arah yang sudah ditunjukkan oleh pengawal itu.


Deg..!


Lagi-lagi langkahnya terhenti dengan tatapan yang terkejut. Nath tak sengaja melihat sebuah past photo yang membuat ia tak percaya. Photonya bersama Vanya. Photo yang bisa dengan mudah Nath tebak. Iya, Photo pernikahan. Sejenak Nath mencoba mengingat. Tapi, sungguh. Dia tidak bisa menemukan Vanya di memorinya.


" Vanya,... tolong bantu aku. " Gumam Nath yang semakin cepat melangkahkan kaki menuju kamar Vanya.


To Be Continued.


Maaf kalau banyak typo para Reader kesayangan. Dan maaf juga nggak bisa bales komen dari kalian. Maaf banget ya, aku bener-bener sibuk banget di dunia nyata. Tapi aku selalu baca kok komen kalian yang selalu buat aku semangat.


Thanks buat support kalian. I Lopek yu pokoknya....


Jangan lupa jaga kesehatan ya....