Touch Me!

Touch Me!
S2- Bertemu calon besan part 1



Hari ini adalah jari yang menggembirakan bagi Nathalie, Nathania dan Nathan. Orang tua mereka akan kembali ke negara asal untuk membicarakan perihal pernikahan yang sudah terdengar di telinga mereka.


Nathan bersama adik kembarnya tak ketinggalan juga Sammy ikut menjemput Vanya dan Nath di bandara. Tiga puluh menit ia menghabiskan waktu untuk menunggu orang tua mereka dengan tingkah mereka yang bermacam-macam. Nathan yang sibuk mengomel karena lamanya tiga puluh menit menunggu sama saja tiga puluh abad baginya, Sammy yang sibuk dengan media sosial nya untuk melihat akun media sosial milik Berly dan memberikan emoticon hati di setiap unggahannya. Sementara Nathalie, gadis yang akrab dipanggil Lili itu terus membenahi make up dan tak hentinya mengambil photo. Berbeda dengan Nathania, gadis dua puluh empat tahun kembaran dari Nathalie itu selalu sibuk menghubungi beberapa orang dikantornya dan terus saja mengomel karena pekerjaan yang tidak sesuai dengan keinginannya.


Setelah kedatangan Vanya dan Nath, mereka semua akhirnya menghentikan aktifitasnya dan berlari menghampiri mereka.


" Ayah! Ibu! " Teriak mereka bersamaan.


Vanya dan Nath kompak melambaikan tangan mereka bersamaan dengan senyum yang begitu indah menghiasi wajah mereka.


" Ayah, kenapa kerutan di wajah Ayah terlihat jelas sekarang? " Tanya Nathania yang sudah jelas hanya menggoda Ayahnya.


" Enak saja! Ayah sudah melakukan beberapa perawatan kulit bersama Ibu mu. Ayah yakin tida akan sejelas yang kau ucapkan kan? "


" Cih! ingat ya, sudah hampir enam puluh tahun. Mau dirawat bagaimanapun, tentu saja kulit yang menua akan mengkeret alot dan memampangkan kenyatannya. " Sela Nathan dengan ekspresi wajah yang sama seperti Ayahnya.


" Hei, raja iblis. Ayahmu ini baru lima puluh lima tahun. Butuh banyak waktu untuk menuju enam puluh. Jadi jangan sembarangan berbicara. "


Nathan tersenyum begitupun dengan Nath. Meski dia sering sebal dengan anak laki-lakinha itu, tapi kerinduan didalam hatinya sangatlah besar hingga rasa ingin memeluk tak bisa ia tahan.


" Kau baik-baik saja kan? " Tanya Nath saat mereka tengah berpelukan.


" Aku baik, Ayah. Bagiamana dengan Ayah? apa pinggang Ayah masih sering sakit? " Tanya Nathan yang sebenarnya adalah sindiran untuk Ayahnya.


" Jaga bicaramu ya?! aku sedang memeluk mu dan jangan membuatku ingin menendang pantat mu sampai ke negeri dongeng. " Ucap Nath lirih ditelinga putranya yang masih ia peluk erat.


" Wah, aku takut sekali kalau begitu. "


" Nada bicaramu seperti sedang mengajakku berperang. Apa itu maksud mu? " Tanya Nath yang mulai sebal.


" Ah, tidak Ayah. Tidak baik mengajak duel pria paruh baya seperti mu. "


Nathan dan Nath kompak menjauh satu sama lain lalu menatap sebal dengan tatapan yang begitu sama.


" Ya ampun... lihat lah mereka. Wajah yang sama, ekspresi wajah yang sama, postur tubuh yang sama, mereka ini mau menunjukkan pada dunia kalau mereka Ayah dan Anak yang saling mengasihi dan mencintai di sepanjang waktu apa? "


Kegiatan itu berlangsung hingga beberapa saat yang lalu sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke rumah.


Vanya dan Nath berjalan menuju kamar mereka. Rindu memang dengan suasana rumah besar ini. Rumah yang ia gunakan untuk membesarkan anak-anak mereka, rumah yang menjadi saksi seorang Sammy yang akhirnya diangkat menjadi anak setelah drama panjang dalam hidupnya. Suara tangis anak-anak, suara tawa mereka seolah kembali terdengar ditelinga mereka. Kini waktu tak terasa telah terlewati hingga anak-anak sudah tumbuh menjadi dewasa dan memiliki kesibukannya masing-masing.


" Sayang, kau yakin akan menemui Ayahnya gadis itu? " Tanya Vanya kepada Nath.


" Iya, aku dengar Nathan kesulitan mendapatkan restu. Aku ingin mencobanya mewakili anakku. "


Vanya tersenyum lalu memeluk lengan suaminya.


Nath tersenyum lalu mengangguk. Tapi ini juga waktunya dia mengatakan apa yang selalu membuat hatinya kacau belakangan ini.


" Sayang, bagaimana jika orang tuaku tidak setuju? aku tahu mereka sudah sangat renta, tapi keras kepala mereka tidak renta dan lemah. Bertambahnya usia, mereka justru menjadi biang batu yang sulit untuk dikikis perlahan. "


Vanya menghela nafas dalam-dalam. Memang benar, Ivi bukanlah gadis konglomerat seperti yang dijodohkan oleh Tuan dan Nyonya Chloe, tapi jika putranya merasa nyaman dan jatuh cinta pada gadis itu, mau apa lagi? cinta kan tidak bisa memilih dengan siapa akan timbul rasa?


" Aku tidak mau memikirkan itu, Sayang. Bagiku kebahagiaan anak-anak lebih penting. Lagi pula, siapa yang mau dilahirkan dengan keadaan kekurangan finansial? kalau saja boleh memilih sebelum dilahirkan, pastilah semua orang akan memilih lahir dari rahim orang kaya. "


" Iya, kau benar. " Ujar Nath yang setuju dengan pendapat istrinya.


" Sekarang, lebih baik kita tidur ya? besok pagi kan mau bertemu dengan calon besan mu. "


" Hanya tidur saja, Sayang? " Tanya Nath seolah mengharapkan sesuatu.


" Jangan macam-macam. Lagi pula kau ini sudah tua. Kenapa juga tidak mengurangi ke mesuman mu. Nanti kau akan mengeluh lagi kalau pinggang mu sakit. "


" Sayang, berhentilah mengatai ku tua. Bagian bawahku belum menua, sayang. Dia masih bisa bekerja dengan baik kok. Kau paling paha tentang itu kan? "


Vanya menghela nafasnya lalu menepuk bantal yang bertengger disampingnya.


" Tidurlah, sayang. Jangan membicarakan ke mesuman mu ya g tiada ujung itu. Kumpulkan semua tenaga mu untuk menghadapi calon besan kita nanti. Ok? "


Nath mendesah sebal dan mengikuti saja apa yang diucapkan istrinya. Mereka memposisikan tubuhnya seperti biasa. Saling menghadap dan memeluk hingga perlahan merangkak menuju alam mimpi yang indah.


Esok paginya.


Sesuai dengan janjinya, hari ini Nath akan menemui calon besannya dirumah sakit. Sebenarnya sebagai orang tua dia tentu tahu bagaimana bisa Nathan dan gadis bernama Silvi atau biasa dipanggil Ivi itu memilih untuk menikah. Awalnya Nath dan Vanya memang sempat menolak, tapi melihat Nathan yang tak keberatan menghabiskan banyak waktu bersama Ivi, akhirnya mereka merasa yakin jika Nathan pasti memiliki rasa yang masih belum biasa ia sadari.


Meskipun aku harus banyak berbohong, tapi tidak masalah lah demi mendapatkan hati sia pria busuk yang berani-berani menolak putraku. Kalau putraku sampai ditolak, aku juga kan ikut malu. Selain dia anakku, wajah dan semuanya sangat mirip dengan ku. dulu aku saja tidak pernah ditolak


jadi mana boleh Nath versi muda ditolak? oh, tidak bisa.


Sesampainya dirumah sakit, Nath mendapatkan tatapan bingung dari pria yang tengah berbaring dengan posisi setengah duduk. Ada juga wanita paruh baya dan seorang pria muda. Meskipun ini adalah momen paling aneh dan pertama baginya, sebisa mungkin dia menggerakkan bibirnya agar melengkung dan tersenyum.


" Anda siapa? kok saya seperti pernah melihat anda? " Tanya pria muda yang sudah pasti itu adalah kakaknya Ivi.


" Perkenalkan, saya Nathan Chloe. Ayah dari Nathan Rezef Chloe. "


" Hah? " Mereka kompak melongo melihat Ayah dari Nathan yang masih terlihat muda dan gagah. Mereka juga tidak menyangka kalau akan didatangi oleh orang sehebat Nathan Chloe.


To Be Continued.