
( Nathan dan Ivi )
*****
Hari pernikahan hanya tinggal satu hari lagi. Ivi kini tengah melamun di kamarnya karena masih tak percaya kalau dia akan menjadi seorang istri dalam hitungan jam lagi. Tidak ada kesibukan apapun, karena semua hal yang dibutuhkan untuk pernikahan sudah di siapkan oleh orang tua Nathan. Entah harus bersyukur atau apa, tapi keputusan ini adalah keputusan pertama yang Ivi ambil di selama dua puluh dua tahun dia hidup. Dan beruntungnya, Ivi meminta pernikahan di gelar dengan sederhana dan tidak boleh ada orang luar. Bukan tanpa alasan, status Ivi yang hanya seorang kurir pengantar ayam goreng pasti akan membuat malu keluarga Chloe. Orang tua Nathan sempat keberatan, karena walau bagaimana pun, ini adalah pernikahan pertama dari ke tiga anaknya. Tapi berkat pengertian dari Ivi, akhirnya mereka memilih untuk menyetujui permintaan dari Ivi.
" Ayah, Ibu, Kakak, apakah aku bisa tanpa kalian? meskipun keputusan ini aku yang mengambilnya, tapi aku belum siap kalau harus jauh dari kalian. Sejujurnya aku takut. Takut dengan apa yang akan terjadi jika aku jauh dari kalian. " Gumam Ivi yang kini tengah duduk dipinggiran tempat tidur dengan tatapan yang kosong.
Sementara Ibu Lina kini tengah menutup mulutnya rapat-rapat agar tak mengeluarkan suara tangisnya. Ya, dia tanpa sengaja mendengar apa yang di ucapkan Ivi putrinya. Sedih? tentu saja dia sangat sedih. Ivi adalah gadis yang begitu dimanja di rumah nya. Bagi keluarga Ivi, Ivi adalah sumber kebahagiaan dan kekuatan mereka. Tapi inilah resikonya anak gadis. Suatu saat dia akan di ambil dari orang tuanya untuk ikut bersama suaminya.
Ibu berjalan mundur lalu langsung menuju kamarnya. Di sana juga ada Dodi yang kini tengah memapah Ibu Linda agar tak terjatuh. Maklum saja, Ibu jarang sekali menangis. Sekali nya menangis, seluruh tubuhnya akan menjadi gemetar.
" Duduklah, Ibu. " Dodi perlahan membantu Ibu untuk duduk di pinggiran tempat tidur.
" Ibu juga belum siap harus jauh darimu, Ivi. Ibu tidak tahu bagaimana jadinya rumah ini tanpa suara mu yang cerewet. Tidak ada lagi banyak waktu Ivi yang selalu bersitegang dengan Ibu, Ivi yang bergelayut manja dengan Ayahnya. Ivi yang selalu bertengkar dengan kakaknya. " Dodi memeluk erat tubuh Ibunya. Benar, Ivi adalah sumber kebahagiaan dan juga lampu penerang bagi mereka. Senyuman Ivi, adalah sumber kekuatan bagi keluarga. Jika tidak ada Ivi, mungkin keluarga mereka tidaklah berwarna seperti sekarang ini.
" Bagaimana? bagaimana bisa Ibu tidak rela sekarang? " Ibu terus menangis tapi tida meraung-raung karena takut Ivi akan mendengarnya. Sebenarnya kabar pernikahan Ivi adalah hal yang membahagiakan. Tapi entahlah, perasaan takut kehilangan banyak waktu bersama gadis cerewet dan tukang membantah itu membuat mereka bersedih. Terutama sang Ayah. Semenjak mengetahui Ivi akan menikah besok, Ayah sempat merasa sedih. Tentu saja sedih karena Ayah adalah orang yang paling dekat dengan Ivi. Orang yang dengan segenap jiwa dan raganya melindungi putri satu-satunya. Tidak perduli tentang apapun yang penting bisa melindungi Ivi, itulah Ayah.
" Ibu, Ivi hanya akan menikah, bukan pindah ke bulan. " Ujar Dodi ya g merasa jika Ibu nya sangat mengironisasikan keadaan. Tadi saat dirumah sakit, Ayah juga begitu. Dia merenung lalu terisak-isak karena tidak mau kehilangan Ivi. Dia jadi berpikir, apa kalau dia menikah nanti orang tuanya akan bersikap sama.
" Ibu? "
" Apa? " Ibu mulai menghapus air matanya karena benar apa yang di ucapakan oleh Dodi. Ivi kan hanya mau menikah, bukan pindah ke bulan.
" Apa kalau aku menikah nanti Ayah dan Ibu akan menangis seperti ini? "
Ivi langsung menatap kesal ke arah Dodi.
" Aku mungkin akan menangisi putraku yang tidak juga laku ini. Kalau sampai ada yang mau menikahi mu, demi Tuhan Ibu akan bersemedi di pinggiran mangkuk. "
Dodi menghela nafas kasarnya. Benar, dia dan Ivi tentu saja tidak bisa di samakan. Dodi memang sudah berusia tiga puluh satu tahun, tapi dia masih saja betah melajang. Bukanya tidak ada yang mau, hanya saja susah mencari gadis yang mampu membuatnya klik dan nyaman.
" Baiklah, jika reinkarnasi itu ada, aku akan meminta kepada Tuhan untuk membuatku lahir sebagai Ivi. Dia di sayang oleh Ayah dan Ibu, menikah dengan pria super tampan dan kaya. Memiliki mertua yang cantik dan tampan, kaya pula,. Aku rasa, dulu Ivi pasti pernah menyelamatkan kaisar dunia di kehidupan sebelumnya. "
Ibu mendengus kesal lalu memukul lengan putranya itu.
" Maka menikah lah, dan berikan banyak cucu untuk Ibu dan Ayah. "
" Menikah? menikah ya? nanti deh, aku pikir-pikir dulu. "
Ibu berdecih lalu melirik sebal kepada Dodi.
***
" Apa yang kau lakukan? " Tanya Sammy karena sudah seharian ini Nathan mengurung diri di kamar. Dan yang paling membuatnya bingung adalah Nathan yang menutup seluruh tubuh nya dengan selimut tebal.
" Tidak ada! pergilah sana! " Ucap Nathan masih tak mau membuka selimutnya.
" Ok! aku pergi ya? " Ucap Sammy sembari berjalan menuju pintu kamar. Eits, bukan keluar tujuannya, tapi untuk mengecoh Nathan. Perlahan dia kembali mendekati Nathan yang masih berada di bawah selimut dan dengan sekali gerakan membuka seluruh selimut yang menutupi wajah Nathan.
Sammy terperangah tidak percaya dengan apa yang dia lihat beberapa detik lalu. Nathan tersenyum terus menerus dan pipinya merona seperti orang yang sedang bahagia karena cintanya telah diterima oleh kekasihnya.
" Kau? gila ya? "
Nathan dengan cepat membenahi ekspresinya dan mencoba untuk bersikap seperti biasanya. Malu? tentu saja malu. Sebenarnya seharian dia mengurung diri karena perasaan bahagia yang tengah dia rasakan membuat pipinya terus bersemu merah. Bahkan bibirnya juga sulit sekali untuk tidak tersenyum. Maka dari itu, dia memutuskan untuk mengurung diri dan tersenyum sebanyak yang dia inginkan. Tapi sialnya, siluman babi kurang ajar itu datang memergokinya.
" Kau yang gila! aku kan tidak melakukan apapun. " Ujar Nathan tapi pandanganya tida berani menatap Sammy.
Sammy bergidik ngeri lalu menguap tengkuknya. Sungguh, dia tidak salah lihat tadi. Bibir sialan siluman kera itu tersenyum seperti monyet bodoh yang sedang mabuk. Pipinya juga merah merona seperti kepiting rebus siap santap. Ini benar-benar diluar akal sehatnya.
" Ayah! Ibu! kakak pertama kerasukan iblis kera! Ibu...! hup! " Nathan bangkit dan langsung menutup rapat mulut Sammy yang hilang remnya itu.
" Jangan berani-beraninya menceritakan ini ya? kalau tidak, akan kupastikan Berly akan semakin tidak sudi dengan mu. " Sammy membulatkan matanya terkejut dan langsung mengangkat dua jarinya untuk bersumpah.
" Maaf, kakak pertama. Aku kan sangat terkejut. Lagi pula, kau seperti orang gila begitu apa sebabnya? "
Tentu saja karena aku akan segera menikah. Wek.... tapi mana mungkin aku memberi tahu mu?
" Aku hanya sedang latihan tersenyum. Aku tidak mau nanti senyumku kaku saat menikah. "
Heh! kau pikir aku ini bodoh apa? kau pasti sangat bahagia kan karena mau menikah? cih! sok jaga image sekali. Dasar siluman kera! otak mu selalu saja culas dan tukang bohong. Untung aku hanya siluman babi yang imut dan jujur.
To Be Continued.