
Brak.....!
Suara benda pecah belah terdengar nyaring dari dalam kamar Gaby. Seperti biasa,tak ada satupun pelayan yang berani mendekat atau sekedar melihat atau bahkan mendengarnya.
Gaby meremas lalu menyobek lembaran kertas yang diberikan oleh orang suruhannya.
" Sialan! jadi ini alasannya kenapa orang suruhan ku tidak ada yang berhasil menyingkirkan Vanya? wanita jal*ng itu benar-benar beruntung rupanya. Kalau dia adalah pewaris KBR Group, akan sulit bagiku menyingkirkan dia.
Gaby nampak berpikir sesaat. " Lexi. Aku bisa menggunakan Lexi. " Gaby tersenyum cerah.
Gaby tahu, Lexi memiliki perasaan terhadapnya. Dan dia juga tahu, Lexi bertahan dengan rasa itu hingga bertahun-tahun tanpa henti.
" Lexi, kau harus bisa membantuku. " Gumam Gaby sembari menyeringai jahat.
***
" Apa yang sedang kau lakukan? " Tanya Devi sembari berjalan ke arah Lexi yang sedang memainkan ponselnya.
Dia memilih duduk di sofa dari pada duduk di ranjang bersama Lexi.
" Rahasia. " Jawabnya tanpa menatap Devi. Matanya benar-benar fokus menatap layar ponselnya.
" Cih! sok sibuk sekali. " Devi menghela nafasnya. Nath memberi mereka waktu untuk bersantai beberapa hari. Tapi, untuk apa sebenarnya itu? mereka kan tidak memiliki perasaan. Bukankah lebih baik jika bekerja saja? batinnya.
" Bisa kita bicara sebentar? " Tanya Devi. Kali ini, Devi benar-benar bertanya dengan lembut. Membuat Lexi tak tahan untuk tidak menatap wajah Devi.
Andai saja, dia selalu berbicara dengan nada lembut begini. Pasti bagus sekali ya? heee
" Apa yang ingin kau bicarakan? " Lexi meletakkan ponselnya dan fokus dengan apa yang akan dikatakan Devi.
" Mari kita buat perjanjian pra nikah. " Ajak Devi yang terlihat tak main-main.
" Perjanjian pra nikah? " Tanya Lexi bingung. Mungkin, pernikahan ini tidak ada unsur cinta. Tapi, Lexi tidak pernah berpikir, jika akan menikah dan memiliki perjanjian pra nikah.
" Iya. Aku akan membuatnya nanti. Tapi, mari kita bahas pokok isi perjanjian pra nikah itu. Atau ya, jaman sekarang bilang, nikah kontrak begitu.
Lexi mengerutkan dahinya bingung. Perjanjian pra nikah? nikah kontrak? benar, Lexi memang membenci sifat dan mulut Devi yang ketus dan sembrono kalau berbicara. Tapi, tidak pernah terfikir olehnya hal-hal semacam itu di benaknya.
" Maksudmu? " Tanya Lagi Lexi yang mencoba menjabarkan tiap kata yang keluar dari mulut Devi.
" Baiklah. Tho the point saja. Isinya hanya satu. Dilarang mengurusi urusan pribadi masing-masing. Dan kau, tidak perlu memberiku nafkah apapun. Dan,
" Dan apa? " Tanya Lexi yang entah mengapa sudah mulai kesal.
" Setelah satu tahun, mari kita bercerai dan hidup dengan bebas seperti sebelumnya.
Deg....!
Untuk sesaat, Lexi menatap tajam bola mata Devi yang nampak tak terbebani sama sekali saat menyampaikan niatnya. Entahlah, perasaan kesal tiba-tiba menyeruak dari dalam hatinya. Pernikahan ini, memang terjadi karena kesalahpahaman. Tapi, Lexi tidak pernah memikirkan semua yang Devi sampaikan. Apalagi bercerai? bahkan dia sangat terkejut mendengar ucapan Devi tadi.
" Bagaimana? " Tanya Devi sembari menatap Lexi dengan kedua alisnya yang terangkat seolah memohon untuk sebuah jawaban.
" Akan aku pikirkan. " Lexi memilih untuk meninggalkan Devi di kamar hotel dan menuju balkon.
Devi tertunduk meremas ujung baju yang ia kenakan.
Lexi, maaf karena membuatmu terjebak dengan pernikahan bodoh ini! jika saja, jika saja Ibuku tidak begitu berambisi untuk menikahkan ku, mungkin kau bisa memilih pasangan yang kau inginkan. Aku memang tidak tau bagaimana rasanya mencintai sesama jenis. Tapi, aku tahu. Menikah denganku pasti sangat membebani mu kan? jadi tolong, satu tahun saja. Beri aku waktu satu tahun untuk memuaskan Ibuku yang tidak tahu malu itu.
Devi memandangi punggung Lexi. Dia menghela nafas panjangnya. " Sungguh. Kau benar-benar sangat tampan. Ck! sayang sekali, kau tidak tertarik dengan perempuan. Seandainya, kau tertarik padaku aku juga tidak keberatan.
Devi memukul wajahnya sendiri. Kesal rasanya. Mulutnya asal bicara hingga membuat pipinya merona.
Sialan! sejak kapan otakku berani-beraninya mengianati ku.
Lexi menatap indahnya pemandangan kota dari balkon. Tapi sayang, hal itupun tidak membuat suasana hatinya membaik.
Apa begitu jelek wajahku? sampai gadis bermulut kubangan tidak mau terus bersamaku? harus bagaimana sekarang? mengiyakan atau menolak? ada banyak alasan untuk mengiyakan. Tapi, apa alasan untuk menolak? lebih baik, iyakan saja dulu.
***
" Morning, Sayang. " Sapa Nath saat Vanya membuka matanya.
Vanya mengerutkan dahinya lalu menggosok matanya beberapa kali. Dia pikir, adanya Nath dihadapannya adalah mimpi.
Vanya tersenyum saat menyadari jika itu nyata. Vanya kembali menjatuhkan wajahnya di dada bidang Nath.
" Kau masih mau tidur? " Tanya Nath sembari menghujani kecupan di pucuk kepala Vanya.
" Tidak. Aku hanya mengira ini mimpi. " Ujar Vanya yang semakin erat memeluk tubuh Nath.
Nath juga membalas pelukannya.
" Sayang, kau pasti sangat merindukan ku ya? " Ejek Nath sembari tersenyum senang.
" Terimakasih karena sudah merindukan ku. " Ucap Nath sembari mendekatkan wajahnya untuk mencium bibir Vanya.
Brak......!
" Ayah! " Panggil Nathan.
Sontak, Vanya dan Nath langsung menjauh satu sama lain.
Nathan Langsung berlari menghampiri Nath yang sudah mulai bangkit dari posisinya. Untung saja, saat fajar hampir tiba tadi Nath langsung mandi dan menggunakan celana pendeknya.
Nath merentangkan tangannya menyambut putra kesayangannya itu.
" Ayah, kemarin pagi Ayah kemana? " Tanya Nathan yang menang mencari keberadaanya saat itu.
" Oh, itu. Ayah sudah berangkat ke kantor. " Nath memeluk tubuh mungil putranya. Sungguh, dia sangat merindukan putranya. Dia menciumi kedua pipi Nathan hingga berkali-kali. Rasanya, tidak bisa puas walau sudah banyak kecupan yang ia berikan untuk putranya itu.
" Kau merindukan Ayah? " Tanya Nath yang entah mengapa malah ingin menangis rasanya.
Nathan mengangguk-anggukan kepalanya. " Ayah, hari ini aku ingin ikut bersama Ayah. Boleh?
Nath tersenyum sembari mengusap rambut tebal putranya itu. " Ayah harus bekerja hari ini. Tidak ada paman Lexi. Jadi Ayah akan sangat sibuk.
Nathan yang tadinya penuh semangat, kini tiba-tiba menjadi murung.
" Sayang, kalau kau ikut Ayah, kau akan bosan nantinya. " Bujuk Nath.
" Tidak! aku tidak akan bosan. Aku akan membawa ponsel ku dan bermain game saat Ayah sibuk. Aku janji, Ayah. Aku tida akan mengganggu. Aku hanya akan diam di dekatmu. " Ucap Nathan dengan wajah memohon.
Nath menghela nafasnya. Sungguh, dia tidak bisa menolak permintaan putranya itu. " Baiklah, Ayah akan bersiap sekarang. Kau juga bersiap ya?
Sontak, Nathan kembali bersemangat. Dia meninggalkan kecupan di pipi Nath sebelum beranjak pergi.
" Sayang, " Panggil Nath yang melihat istrinya itu berpura-pura tidur. Bagaimana tidak? kalau Vanya membuka mata, dan Nathan meminta gendong bagaimana? Vanya kan tidak memakai baju sama sekali.
Vanya menurunkan selimut tebal yang hampir menutupi seluruh bagian tubuhnya.
" huh....! sudah aman?
" Ya. " Jawab Nath sembari tersenyum. Dia ingin kembali melanjutkan kegiatan yang tadi sempat tertunda karena Nathan yang menerobos masuk. Tapi,
" Ayah! " Panggil Nathan kembali.
Membuat Vanya dan Nath kembali menjauh. Dan Vanya, dia beringsut ke dalam selimut tebal lagi.
Dasar bocah nakal! kenapa mengganggu sepagi ini sih?!!
" Sa,sayang ada apa lagi? " Tanya Nath yang gugup karena anaknya kembali masuk kedalam kamar.
" Em, tadi aku lupa menayangkan sesuatu. " Ujar Nathan dengan tatapan polosnya.
" Tentang apa? " Tanya Nath sembari berjalan mendekati putranya itu. Dia mensejajarkan tingginya dengan tinggi putranya.
" Apa semalam banyak nyamuk? " Tanya Nathan. Masih dengan tatapan polos khas anak-anak.
" Tidak. Hampir tidak ada nyamuk. " Jawab Nath yang sedikit aneh dengan pertanyaan Nathan.
" Lalu, kenapa di badan Ayah banyak merah-merah? " Tunjuk Nathan ke tubuh Nath.
Nath membulatkan matanya sembari menunduk. Gila! Nath sendiri sampai terperangah tidak percaya.
" Banyak sekali. " Ucap Nath sembari menatap dadanya.
" Iya. Bahkan, di leher Ayah juga sangat banyak. " Timpal Nathan.
Nath menelan ludahnya sendiri sembari menutupi lehernya menggunakan tangannya.
" Haha,.. iya sepertinya, tanpa sadar Ayah banyak digigit nyamuk semalam. " Nath beralasan agar tak membuat anak menjadi buruk pemikiran.
Aduh, istriku. Kenapa kau membuat tanda begitu banyak? kau mau balas dendam atau apa sih?
" Nyamuknya pasti besar ya yah? bekas gigitannya sangat besar dan mengerikan. " Ujar Nathan yang menatap sedih tubuh Ayahnya.
Hei hei.. nyamuknya adalah Ibumu.
" Iya sepertinya begitu. " Nath gugup dan tidak lagi bisa mencari alasan.
" Ka, kalau begitu, pergilah bersiap ya. Ayah juga harus segera bersiap.
" Baik, Ayah.
To Be Continued.