Touch Me!

Touch Me!
Siapa Namanya?



Lexi terus saja mengumpat kesal. Rasanya, ingin sekali ia menandai hari ini sebagai hari tersial dalam hidupnya. Bayangan serta makian wanita yang tadi mengumpatnya, masih jelas berkelibatan di otaknya. Seandainya, ada jurus untuk menghapus ingatan, sudah pasti akan Lexi gunakan.


" Cih! sampai kapan aku harus duduk disini? berteman dengan nyamuk dan jangkrik yang sedari tadi bernyanyi. " Gerutu Lexi. Dia terus saja menepuk-nepuk bagian kulit yang tergigit nyamuk. Heh....! jangan tanya bagaimana Lexi berekspresi. Wajah kesalnya benar-benar seperti macan kerasukan jin🤭


***


" Selamat malam, Tuan Rudi? " Sapa Nath sembari mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Ayahnya Vanya.


Mereka terdiam dalam sesaat saat melihat Nath menggenggam erat jemari Vanya di bagian kirinya. Tapi itu tak berlangsung lama. Karena, Rina menyenggol lengan Ayah agar segera menyambut tangan Presdir yang cukup berpengaruh di dunia bisnis.


" Selamat malam, Presdir Nath. " Jawab Ayah sembari menatap Nath dan Vanya bergantian.


" Selamat ulang tahun, Tuan. Saya mendoakan yang terbaik. Baik dalam kesehatan juga masa depan dan kesuksesan.


" Terimakasih, Presdir Nath.


Nath tersenyum dan mengangguk. Vanya hanya terdiam tanpa ingin bereaksi. Jauh didalam lubuk hatinya, ada kelegaan saat melihat sang Ayah, kini mampu berdiri dan terlihat baik-baik saja.


Sementara Rina, dia terus saja menatap Vanya kesal. Iya, dia merasa iri dengan yang ia lihat. Bagaiman mungkin? seorang Vanya yang bahkan, memiliki anak haram bisa berpasangan dengan seorang Presdir seperti Nath.


" Presdir Nath, silahkan nikmati jamuannya. Kami harap, jamuan sederhana ini tidak mengecewakan anda. " Ujar Rina sopan. Wajahnya yang dihiasi senyum merona menambah kesan Ayu.


Rubah sialan! wajahmu berani-beraninya merona dihadapan pacarku?! dasar tidak tahu malu! belum cukup memang suamimu itu? apa kau sudah lupa? Tristan adalah pria tampan sekaligus populer disekolah kami dulu? kau bahkan merebutnya dengan cara licik. Sekarang, kau lupa diri ya? Eh,... tunggu! kenapa aku marah sih? cemburu?


" Sayang, bisa kita pulang? aku lelah. " Rengek Vanya yang tiba-tiba bergelayut dilengan Nath.


Nath tersenyum senang. Sayang? ini adalah panggilan pertama dari Vanya menggunakan kata-kata itu. Nath bahkan tak bisa menahan bibirnya agar tak tersenyum. Meski sebenarnya dia tahu, Vanya hanya memanfaatkannya saja. Tapi entahlah, tidak perduli. Panggilan sayang tadi, sudah yang paling penting.


" Sayang, kau yakin? " Nath membelai rambut Vanya dengan mesra.


Vanya mengangguk mengiyakan.


Sayang? mereka sedekat itu? kenapa? anak sialan ini selalu lebih unggul dariku? padahal, akulah yang paling bisa bersikap lembut. Akulah yang sering mendapatkan pujian dan prestasi. Kenapa? kenapa harus anak sialan ini yang mendapat keberuntungan sebesar ini?


Rina masih saja terlihat kesal. Sementara Ayah, dia hanya bisa menatap Vanya penuh kerinduan. Ia memang sempat terkejut menyadari hubungan putri bungsunya dan Presdir Nath. Tapi, dibandingkan itu, perasaan rindunya lah yang lebih menguasai hatinya.


" Maaf, Tuan Rudi. Saya lupa mengenalkan kekasih saya. Namanya Vanya. " Ujar Nath dengan senyum yang tertinggal diakhir kalimat.


Apa-apaan si? kan sudah tahu? kenapa harus mengenalkanku? membuatku merasa aneh saja.


" Sayang, itu tidak perlu. " Ujar Vanya.


" Kami saling mengenal. Bahkan sangat. " Ayah menimpali dengan tatapan yang tak beralih dari Vanya.


" Benarkah? " Nath berpura-pura terkejut sembari menatap Ayah dan Vanya bergantian.


" Iya. Vanya, adalah Putri bungsu ku. " Ayah menegaskan kepada Nath.


" Ya tuhan! benarkah?


Aktingmu sungguh hebat, Presdir Nath. Untung saja kau adalah pacarku, kalau bukan, akan ku cincang seluruh tubuhmu.


***


" Sayang, kenapa masih diam saja? " Tanya Nath sembari membelai rambut Vanya. Kini mereka sudah dijalan pulang.


" Tidak apa-apa. " Jawab Vanya tanpa menatap Nath.


" Boleh ku tanya sesuatu?


" Tentang apa?


" Tentang keluargamu. Kenapa, kau tidak menggunakan nama dirgantara? Ayahmu kan orang yang hebat?


Vanya menghela nafasnya. Seolah sangat malas membicarakan tentang pria yang disebut Ayah itu.


" Baiklah, jika kau tidak bersedia bercerita. Kita masih punya banyak waktu untuk saling terbuka. " Nath meraih kepala Vanya dan menjatuhkannya di dada bidangnya.


Sialan!!!!!! dasar tidak berperasaan! berani-beraninya mesra-mesraan di dekatku! aku jadi sangat merindingu. Batin Lexi mengumpat kesal. Dia kan juga mau bermesraan, tapi apalah daya, yang ada disampingnya, adalah seorang sopir yang bahkan sudah setengah abad usianya.


Vanya membulatkan matanya. Dia melirik ke arah Lexi dan sopir. Sebagai kode, agar tak sembarangan bicara.


Dasar kurang ajar! memang apa yang akan kau lakukan dirumah mu?! kau memang beruntung karena memiliki rumah sendiri. Kau bebas melakukan apapun. Tapi aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Selama aku jomblo, aku akan mengganggumu terus menerus.


***


Finally, Vanya tidak memiliki alasan untuk membantah. Dia hanya bisa, mengikuti apa yang Nath inginkan. Yaitu, pulang kerumah Nath.


Dan, adalagi. Lexi. Dia juga merengek ingin menginap. Entah apa yang dia rencanakan, ini benar-benar tidak biasa.


Nath membawa segelas jus jeruk untuk Vanya dan satu gelas lagi jus leci untuk dirinya sendiri.


" Ayo diminum, Sayang. " Pinta Nath penuh perhatian. Dia menyodorkan langsung kehadapan Vanya. Eh, bukan hanya menyodorkan. Dia juga membuatnya sendiri loh...


" Mana untukku? " Celetuk Lexi. Dia kira, Nath akan menyerahkan satu gelas itu untuknya. Eh ternyata, itu cuma ada didalam mimpi. Dia hanya bisa menelan ludahnya sendiri saat melihat jus yang berada ditangan Nath, langsung ditenggak habis oleh Nath.


" Ops...sudah habis. " Ujar Nath dengan tanpa rasa bersalah. Dia langsung duduk disamping Vanya dan merangkulnya mesra.


" Nath, bisakah jangan begini? " Protes Vanya yang merasa risih dengan perlakuan Nath.


" Tidak bisa, Sayang. " Nath malah semakin menempelkan tubuhnya. Bukan tanpa maksut, dia sengaja melakukan itu, agar Lexi merasa risih dan pergi dari rumahnya.


Tentu saja, Lexi sangat paham akan hal itu. Tapi, jiwa jomblo yang iri, tidak akan memberikan celah bagi mereka untuk mesra-mesraan.


" Vanya, kita ke balkon yuk,.. " Ajak Nath. Tangannya sudah beralih menggenggam jemari Vanya.


" Aku ikut. " Pinta Lexi. Baru ia ingin bangkit dengan bokongnya baru terangkat sedikit, tatapan Nath membuatnya kehilangan keberanian dan hanya bisa duduk kembali dengan wajah tak berdaya.


Bagus. Berani-beraninya ingin menjadi penonton. Dasar jomblo! Gumam Nath dalam hati.


Yes...Akhirnya,... Akhirnya,... dia bisa mencela sahabatnya. Sekarang, ia bisa menyombongkan diri. Status kekasih, benar-benar membuatnya bahagia.


Dasar tidak berperasaan! Lihat saja, aku tidak akan membiarkan kalian menikmati malam dengan indah.


***


" Vanya, apa anakmu baik-baik saja? kau tidak menghubunginya? apa dia tidak menangis dan mencarimu? " Tanya Nath yang terlihat khawatir.


Vanya tersenyum. " Tidak. Dia anak yang mandiri. Lagi pula, aku sudah mengirimnya pesan. Sekarang dia berada di sebelah Unit ku. Dia akan bermalam disana.


" Anakmu sudah bisa membaca pesan? berapa usianya? " Tanya Nath penasaran.


" Empat tahun. Dia sudah mulai bisa membaca di usianya yang ke tiga tahun.


" Wuah,.. sama. Aku juga sudah lancar membaca dan menulis di usia empat tahun.


Vanya tersenyum penuh arti. Iya, karena dia adalah, anakmu.


" Dia laki-laki atau perempuan?


" Laki-laki.


" Sama, Anakku juga laki-laki.


Vanya menanggapinya dengan senyum.


" Siapa namanya?


Vanya terdiam....


" Sayang, " Panggil Nath.


" Iya?


" Aku tanya, siapa nama anakmu? aku ingin bertemu dengannya. Tapi, aku juga ingin tahu dulu semua tentangnya.


To Be Continued.