Touch Me!

Touch Me!
S2- Menstruasi



Pukul tujuh pagi waktu Barcelona. Nathan dan Ivi masih saja merengkuh di balik selimut hangat yang menghangatkan tubuh mereka. Seperti inilah mereka selama sepuluh hari disana. Bangun akan lebih siang dari biasanya, sarapan juga tidak tentu jam nya. Tapi tenanglah, ini sama sekali bukan masalah bagi keduanya. Mereka kedua kompak dalan hal apapun sekarang. Bahkan mandi juga tak jarang mereka lakukan bersama.


Bugh!


Nathan terperanjak saat tangan dan kaki Ivi jatuh menimpa tubuhnya. Sayup-sayup mata Nathan mulai terbuka melihat benda sialan apa yang menimpa tubuhnya. Hah! untung saja tongkat ajaibnya tidak kena, kalau sampai terjadi sesuatu dengan benda pusaka yang paling berharga itu, dia tidak segan-segan untuk menyentil telinga Ivi menggunakan bom atom. Perlahan Nathan mulai memindai tangan dan kaki Ivi dari tubuh nya agar memudahkannya untuk bangkit dari posisi nya sekarang ini.


" Hah? baru jam tujuh? " Ucap Nathan setelah melihat jam di ponselnya. Bukanya terkaget-kaget karena merasa kesiangan, dia malah kembali merebahkan tubuhnya. Di dekapnya tubuh Ivi yang masih terlelap lalu dia juga ikut kembali tidur. Sebenarnya aneh memang karena mereka lebih mementingkan tidur dari pada mendatangi tempat wisata. Nanti setelah puas tidur, barulah mereka akan memikirkan kemana tujuan mereka selanjutnya. Karena kalau mengikuti anjuran Sammy, yang ada mereka hanya berkeliling saja di blok yang sama.


Setelah pukul delapan lewat dua puluh menit, barulah mereka kompak bangun lalu sarapan bersama. Seperti biasa Ivi akan bergerundel kesal karena lagi-lagi dia harus memakan makanan aneh yang tidak biasa ia makan.


" Nathan, ayo kita ke restauran yang menyediakan makanan lokal. Kalau masih saja memakan makanan seperti ini, aku takut tidak bisa bicara bahasa negara kita. "


Nathan menghela nafas nya. Sebenarnya bukan tidak mau, hanya saja makanan yang di minta Ivi kadang-kadang sangat aneh. Sup pare, semangka kuah coklat, pisang goreng lalu di bakar, masih banyak lagi makanan aneh yang belum di sebutkan.


" Ivi, lebih baik kau pikirkan dulu makanan apa yang sedang ingin kau makan. " Ujar Nathan yang jelas lah dia tidak mau sakit kepala setiap kali memikirkan makanan yang ingin di makan istrinya. Awalnya sih Nathan membiarkan saja makanan aneh yang di inginkan Ivi. Tapi semakin ke sini, dia menjadi cengeng dan menyebalkan. Bagaimana tidak? hari pertama sampai di Barcelona, di Saudah meminta makan ini itu yang aneh. Belum lagi selama liburan alias bulan madu ini dia hanya menjadi tukang photo nya Ivi saja. Boro-boro mengambil photo bersama, ingat kalau Nathan suaminya saja tidak.


Ivi masih terdiam dan nampak berpikir kalau di lihat dari ekspresinya.


" Bagaimana kalau makan sayur asam tapi tidak mau ada rasa asam nya? "


Nathan mengehembuskan nafas kasarnya. Benarkan? sudah gila kali ya? makan sayur asam tapi tidak mau ada rasa asam.


" Ivi, bagaimana kalau kita belanja bahannya saja lalu memasak sendiri? "


" Nathan, kau lupa ya kalau aku tidak bisa memasak? "


Nathan menggaruk kepalanya yang gatal karena efek pusing yang tak tertahankan.


" Lalu mau beli dimana? sayur asam yang tidak ada rasa asam ya? lalat mabuk saja pasti akan menggeleng heran mendengar apa yang kau ucapkan itu. "


Ivi berdecak sebal. Iya memang agak sulit apa yang di inginkan oleh seleranya. Tapi sungguh hanya dengan membayangkan nya saja, Ivi merasa kalau makanan yang dia sebutkan tadi itu akan terasa enak.


" Bagaimana kalau kita coba cari dulu? "


Nathan tak menyahut. Tentulah dia bingung mau bilang apa. Kalau menolak, nanti Ivi akan memakinya lalu menangis seperti dua hari belakangan ini. Menjawab iya pun juga bingung. Dimana ada nya makanan yang di inginkan Ivi? apalagi makanan lokal hanya ada beberapa tempat saja di sekitar mereka.


" Nathan, diam berarti setuju kan? " Tanya Ivi yang ingin memastikan. Nathan tersenyum lalu mengangguk. Masa bodoh mau cari dimana. Kalaupun tidak dapat yang namanya sayur asam tapi tidak asam, makam atau tidak makam ya masa bodoh. Batin Nathan kesal.


" Puih! rasanya sangat aneh. " Ucap Ivi sembari meraih tisu dan menyeka mulutnya. Sementara Nathan, pria itu tersenyum tipis dengan tatapan sebal yang seolah berkata Bhawa, yang aneh itu kau, bukan sayur yang kau makan. Dasar tidak pakai logika kalau menginginkan sesuatu.


" Nathan, aku tidak mau makan ini. Kau saja yang makan ya? " Ivi menggeser mangkok sayur asam itu ke hadapan Nathan. Ya sudah pasti lah Nathan kesal meski tanpa berkata-kata. Sudah jelas aneh rasanya, ditambah makanan yang Ivi muntah kan tadi juga ada disana. Halo?! gila ya? memang nya aku ini anjing peliharaan mu apa? gerutu Nathan di dalam hati.


" Aku kenyang. Sudah tidak mau makan apapun lagi. " Nathan menjauhkan mangkuk sayur itu dari hadapannya.


" Nathan, jangan bilang kau merasa jijik. Aku kan hanya sekali saja, maksud ku hanya memakannya satu sendok saja. " Protes Ivi.


Nathan menatap Ivi dengan tatapan tidak percaya.


Tapi kau memuntahkan sayur dari mulut mu ke mangkuk ini juga!!!


" Ivi, aku sungguh sangat kenyang. "


" Nathan, tidak baik loh membuang-buang makanan. " Bujuk Ivi lalu menggesernya lagi sampai kembali ke hadapan Nathan.


" Ivi, meskipun aku bangkrut pun, aku akan tetap membuang makanan uang tidak ingin aku makan. "


" Sombong sekali. " Ujar Ivi sebal lalu mengalihkan pandangan. Ivi mengeryit menatap seorang wanita yang sepertinya sedang menstruasi tanpa di sadari, sehingga noda darahnya menempel pada rok mini berwarna krem yang tengah di pakai wanita itu.


" Ya ampun, noda darah gadis itu menempel di roknya. " Ucap Ivi. Nathan yang penasaran akhirnya mengikuti arah bola mata Ivi memandang.


" Roknya kenapa? " Tanya Nathan yang juga penasaran.


" Sepertinya dia sedang menstruasi. " Jawab Ivi tapi bola matanya masih tak teralihkan dari rok gadis itu. Tali syukurlah, tak lama kemudian seorang pria yang tadi duduk bersamanya memberikan jaket nya untuk menutupi bagian rok yang terkena noda darah.


" Tinggu dulu! " Ivi menatap Nathan dengan tatapan kaget.


" Ada apa? " Tanya Nathan bingung.


" Ngomong-ngomong, aku belum datang bulan kan? padahal ini sudah lebih dari dua Minggu dari jadwalnya. "


To Be Continued.