Touch Me!

Touch Me!
Kekhawatiran Kevin



Deg...


Mage terdiam dengan debaran jantung yang begitu kencang. Benar, dia hampir melupakan itu. Dia hampir menjadi egois dan ingin menyakiti orang lain. Dia hampir buta dan tidak bisa menerima kenyataan. Dia ingat, Nath lebih memilihnya dibanding Gaby. Karena ada satu hal yang membuatnya jatuh hati. Yaitu, Mage yang baik dan rendah hati.


Mage menjatuhkan tubuhnya dilantai dengan posisi duduk. " Nath, maaf.... Maafkan aku...,


Air mata penyesalan jatuh membanjiri pipi tirusnya. Tangannya mencengkram kuat kain dress yang ia kenakan. Benar, sulit memang menerima kenyataan yang menyakitkan. Tapi, akan lebih sakit lagi, jika kita tidak mencoba menerima kenyataan agar terbebas dari rasa sakit yang semakin dalam.


" Bangunlah, Mage. Jangan bertahan dengan posisi seperti itu. Maaf, aku tidak bisa membantumu bangkit. " Nath menatapnya iba. Sekuat apapun keinginannya untuk tidak perduli, tetap saja ia merasa begitu tidak tega.


" Nath! " Panggil Kevin yang baru sampai dirumah sahabatnya itu. Matanya tajam menatap sosok yang kini sedang terduduk di lantai sembari menangis.


Setelah mendapatkan kabar dari Lexi tentang Mage, dia membatalkan jadwal malamnya untuk menanyakan pada Nath langsung. Dan, sudah tidak perlu bertanya lagi. Orang yang membuatnya penasaran juga khawatir, kini sedang berada didepan matanya.


" Bangunlah,..... " Pinta Nath dengan tatapan yang terlihat semakin iba.


Mage semakin deras menitikan air mata. Entah perasaan sakit karena harus kehilangan Nath, ataukah perasaan karena kehilangan jati diri? atau, perasaan harus mencoba melupakan segalanya dan harus beranjak pergi dari Nath. Satu-satunya orang yang dia harapkan mampu melindunginya. Orang yang begitu ia percaya untuk menitipkan masa depannya.


Hancur.... Semuanya sudah hancur. Tapi ia harus bisa mengumpulkan kepingan-kepingan itu. Bukan untuk ditata kembali, tapi untuk dibuang sejauh mungkin. Jauh, jauh sekali hingga tidak perlu baginya untuk bisa melihat masa lalu bahkan hanya sekilas pun.


Nath yang semakin tak tega, sudah memajukan langkah untuk membantu Mage bangkit.


" Tunggu! " Kevin mencengkram erat pundak Nath.


" Biarkan aku yang membantunya bangkit. " Kevin berjalan cepat menghampiri Mage dan membantunya bangkit.


" Pulanglah. Sopir Nath akan mengantarmu. " Ucap Kevin sembari berjalan mendekati mobil Nath.


" Kemana aku harus pulang? " Tanya Mage lirih.


" Tentu saja ke rumahmu. Tidak mungkin kan kau berniat tinggal dirumah Nath? " Ejek Kevin dengan wajah datarnya.


" Aku tidak memiliki rumah.


" Jadi, kau tinggal dimana sekarang?


" Aku menginap di hotel.


" Hotel mana?


" Hotel x.


" Baiklah...


Kevin membantu Mage untuk mengambil posisi duduk di dalam mobil. Memberikan alamat kepada sopir dan memberikan pesan agar membantunya hingga sampai ke kamarnya.


***


Nath dan Kevin sudah berada diruang tamu. Seperti biasa, Kevin akan selalu mengkhawatirkan Nath layaknya anak-anak. Apalagi, ini menyangkut seseorang yang begitu dalam menyakitinya dan dicintainya.


" Nath kau baik-baik saja? bagaimana perasaanmu? apa kau gelisah? apa sekarang kau gundah?


" Stop! " Nath mengangkat telapak tangannya. Lelah sudah telinganya mendengar pertanyaan-pertanyaan yang selalu sama setiap kali mengenai Mage.


" Nath,... katakan sesuatu. " Pinta Kevin dengan wajah khawatir.


" Apa yang mau kau dengar? " Tanya Nath sembari menatap Kevin.


" Banyak hal. " Jawab Kevin yang masih terlihat khawatir.


" Intinya saja. Aku tidak memiliki banyak tenaga untuk berceloteh.


" Apa ada rasa goyah di hatimu, Nath?


" Aku sudah tahu jawaban mu Nath. " Kevin menatap Nath tajam. Bukan marah, tapi dia khawatir. Sakit yang diderita Nath, baik fisik maupun batinnya, seolah tak berbekas saat Mage muncul secara tiba-tiba.


Nath menghela nafasnya. " Apa yang kau ketahui?


" Kau, tidak boleh goyah Nath. " Kevin masih menatap tajam. Tatapan tajam kali ini, seolah perintah yang tidak boleh dilanggar.


Nath mengerutkan keningnya, bingung. " Maksut mu?


" Percayalah padaku. Vanya, adalah wanita yang cocok untukmu. Jika kau goyah, maka kau akan kehilangan banyak hal. " Tatapan Kevin benar-benar terlihat serius. Bahkan Nath, tidak pernah melihat tatapan seperti ini sebelumnya.


" Aku tidak goyah jika mengenai Vanya. Aku tahu, hatiku sudah terikat dengan kuat oleh Vanya. Aku hanya, sedikit iba melihat Mage yang kacau seperti sekarang ini. " Ujar Nath sembari mengingat wajah Mage yang benar-benat terlihat murung dan menyedihkan.


" Jangan berani-berani mengasihaninya, Nath. Percayalah padaku. Rasa kasihan itu, akan membawa dampak buruk bagi hubunganmu dan Vanya. " Kevin masih dengan tatapan yang sama. Tegas seolah tak terbantahkan.


" Cih! sejak kapan kau menjadi pujangga cinta? " Tanya Nath yang mulai merasa sebal. Dia merasa,ucapan Kevin adalah sebuah guyonan yang tidak perlu di dengarkan, apalagi dilaksanakan. Bersikap baik kan tidak harus mengenal mantan kekasih atau bukan? batinnya.


Kevin mendesah sebal. " Anggap saja kata-kataku adalah isapan jempol semata. Dan kau akan lihat, berapa banyak kau akan kehilangan.


Demi Tuhan Nath. Mulutku ingin sekali mengatakan siapa Ibu kandung Nathan anakmu. Tapi masalahnya, Orang tuamu sedang mencari tahu tentang Vanya. Dia mengerahkan banyak sumber untuk itu. Untungnya, aku bisa menutupi semua itu. Terutama Nathan. Jika orang tuamu Tahu, dia akan merebut Nathan dari Vanya. Aku harus melindungi Vanya dan Nathan terlebih dahulu.


" Baiklah Pak Dokter. Berhentilah mengoceh. Ayo kita bersulang. " Nath menyodorkan segelas minuman sembari menyambut gelas Kevin.


" Aku sudah cukup untuk minum Nath. Kau tahu sendiri. Aku tidak terlalu hobi menenggak minuman beralkohol. " Ujar Kevin yang langsung memaksa tangan Nath beserta gelas yang dipegangnya untuk turun.


" Kau baru putus cinta, tapi tidak terlihat murung. " Ujar Nath sembari menatap Kevin menyelidik.


" Aku memang putus cinta. Tapi juga sudah menemukan cinta yang baru. " Kevin menjawab tanpa menyiratkan ekspresi yang memiliki makna di wajahnya.


Nath menyunggingkan senyum mengejeknya. " Dasar murahan! kenapa cepat sekali kau menemukan cinta yang baru.


" Karena aku, tidak mau terlalu lama terikat dengan masa lalu.


Sepertimu Nath. Aku tidak mau begitu menyedihkan sepertimu. Tersiksa karena mencintai sosok yang hanya bisa menyakiti. Aku, akan bangkit tanpa melihat lagi orang yang berada di masa laluku.


" Cih! sombong sekali. " Kesal Nath lalu menenggak habis sisa minuman yang tertinggal di gelasnya.


" Nath, setelah melihat Mage, bagaimana perasaanmu untuk Vanya?


Nath menatap Kevin. " Apa maksut pertanyaan mu?


" Apa kau masih ingin bersamanya? apa kau masih menginginkannya seperti beberapa waktu lalu? apa kau masih terobsesi olehnya?


Nath kembali menatap Kevin kesal. " Dengar, aku tidak perduli apapun. Bahkan Mage sekalipun. Aku hanya ingin Vanya, Vanya, Vanya, Nathan dan uang. " Nath mengakhiri ucapannya dengan senyum penuh kesombongan.


Brep......!


Kevin menyemburkan air minum yang sedang ia tenggak. Untunglah, hanya air putih.


" Kau mau mati ya?! " Nath menatap kesal sembari mengibas baju yang ia kenakan.


Dasar sinting! sejak kapan kau begitu gila? apa kau juga segila ini dulu? tapi, aku tidak melihat dirimu yang sekarang ini dulu. Oh ya ampun,... Vanya, kau membuat sahabatku gila.


" Aku hanya terkejut Nath. Bagaimana bisa? kau mengatakan, Vanya, Vanya, Vanya, Nathan dan Uang. Kau menyebut nama Vanya tiga kali. Tapi kau menyebut nama anakmu sekali.


Nathan nampak berpikir. " Begitu ya?


Ya tuhan..... sejak kapan? dia mau membahas hal-hal remeh begini? aku benar-benar merinding. Takutnya, Nath yang ini adalah orang lain yang hanya mirip Nath. Aku perlu memastikan DNA nya dulu.


To Be Continued.