Touch Me!

Touch Me!
Maafkan Aku



Seperti yang sudah dijadwalkan, tepat pukul Dua puluh malam, tiga pasang suami istri itu telah sampai di Bandara international Velana. Tak membuang waktu, mereka langsung menuju hotel yang tidak jauh dari Bandara.


Vanya menghempaskan tubuhnya di tempat tidur yang empuk itu.Memang tidak terlalu lama di perjalanan sih, hanya saja Vanya sudah merasa lelah dengan beberapa pekerjaannya akhir-akhir ini.


" Nath? " Panggil Vanya seraya memiringkan tubuh untuk melihat suaminya yang sedang merapihkan beberapa barang yang akan mereka butuhkan.


" Iya. " Jawab Nath sejenak memandang istrinya sembari tersenyum, lalu kembali dengan kegiatannya.


Vanya bangun dan berjalan mendekati Nath yang begitu tidak kenal lelah. Entah dari mana perasaan ini muncul. Tapi melihat Nath akhir-akhir ini kerepotan karena harus mengurus lalu menyiapkan kebutuhan putra dan dirinya, membuat Vanya merasa bersalah. Dia merasa begitu gagal dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang istri. Beberapa minggu terakhir ini, dia bahkan sering menolak melakukan hubungan suami istri dengan Nath karena sudah merasa begitu kelelahan.


" Nath, maafkan aku. "


Nath menghentikan kegiatannya dan memutar tubuhnya untuk menghadap ke arah istrinya. Dia begitu bingung melihat Vanya yang tiba-tiba terlihat begitu sedih.


" Sayang, ada apa? apa kau tidak senang datang ke sini? "


Nath menangkup wajah Vanya dan menatapnya dengan alis yang dibuat naik untuk mengekspresikan maksud hatinya. Semetara Vanya, dia begitu tak kuasa menahan air matanya yang tak bisa ia tahan lagi. Hatinya begitu sedih karena benar-benar melupakan Nath akhir-ahir ini. Bukan hanya Nath, bahkan dia juga mengesampingkan tugas seorang Ibu hanya demi fokus mengurus dua perusahaan sekaligus.


" Nath, " Panggil Vanya lalu memeluk tubuh suaminya dengan erat.


" Ada apa? " Nath yang kebingungan, hanya bisa mengusap wajah istrinya dan mengecupnya penuh kasih.


" Maafkan aku yang mulai lalai dengan tugasku sebagai istri dan Ibu dari anakmu. "


Nath menghela nafas dan membalas erat pelukan istrinya. Dia memang sempat merasa kesal dengan perubahan istrinya yang begitu signifikan. Jujur, dia juga sempat menyalahkan Ayah mertua dan Bibi dari istrinya itu. Tapi mau bagaimana lagi? cinta yang begitu besar dihatinya, tidak pernah lelah untuk mengerti dan memaafkan.


" Jangan pikirkan itu lagi. Anggap saja kita sedang menebus waktu kita yang tersita akhir-akhir ini. "


Vanya tersenyum dan mengangguk.


Aku tidak tahu, dari apa hatimu terbuat? kau begitu mencintaiku sampai seperti ini? aku benar-benar beruntung sekali memiliki mu, Nath.


Setelah beberapa saat, Nath dan Vanya memutuskan untuk menyusul Devi, Sherin, Lexi dan Kevin di restauran yang ada di hotel itu. Butuh hampir dua puluh menit hingga akhirnya sampai di meja mereka. Tanpa membuang-buang waktu lagi, mereka langsung menyantap makanan yang memang sudah Lexi dan Devi pesan. Karena, mereka lah yang pertama kali sampai disana. Setelah selesai dengan kegiatannya. Vanya dan Devi memutuskan untuk ke kamar mandi.


" Vanya, aku boleh minta tolong perbaiki resleting bajuku? " Pinta Devi. Vanya mengangguk dan melajukan apa yang diminta oleh Devi. Setelah selesai, Mereka memutuskan untuk segera kembali bergabung dengan suami mereka.


Brak......!


" Maaf! " Ucap Vanya dan wanita yang ia tabrak secara bersamaan.


" Maafkan aku ya? " Pinta Vanya kembali kepada gadis yang saat ini sedang menunduk karena memungut tasnya yang terjatuh.


" Tidak apa-a " Ucapannya berhenti saat melihat Vanya ada dihadapannya. Devi dan Vanya juga menatapnya terkejut.


" Kau?! " Devi.


" Gaby? " Vanya masih tidak percaya bahwa ia akan bertemu dengan Gaby di tempat ini. Padahal, dunia tidak selebar jidat othor kan?


Gaby tersenyum menatap kedua wanita yang duku pernah ia sakiti itu.


Wanita itu hanya diam tak mengatakan apapun. Di akhir kalimat Devi, dia hanya tersenyum tapi tak menunjukkan kekesalan atau ekspresi bahagia.


" Devi hentikan! " Vanya yang sedari tadi memperhatikan Gaby yang sangat berbeda dari beberapa bulan yang lalu saat terakhir bertemu. Wanita itu tampak sangat kurus sekarang ini. Bukan hanya itu, ada beberapa luka lebam di bagian tangan dan lehernya. Dan yang paling mencolok adalah dibagian sudut bibir dan telinganya. Meski sudah ditutupi consiler, tapi Vanya masih bisa melihatnya walau tidak terlalu jelas.


" Kau kenapa membelanya?! " Protes Devi.


Vanya menatap Devi dan menggelengkan kepalanya pelan. Devi yang tidak paham maksud Vanya, dia hanya bergumam kesal degan suara yang lirih.


" Bagaimana kabarmu, Gaby? "


Gaby tersenyum. " Aku baik-baik saja. Kalian sedang berlibur? "


Vanya mengangguk. Dia semakin tak tega melihat mata Gaby yang seolah menahan sejuta luka. Baik secara Verbal, fisik ataupun mental. Gadis yang dulu begitu cantik dan percaya diri, kini terlihat begitu ringkih dan mudah sekali ambruk.


" Iya, kau sendiri? apa yang sedang kau lakukan? " Tanya Vanya yang seolah tidak pernah terjadi apapun di antara mereka.


Gaby masih menutupi rasanya degan tersenyum. Meski sejujurnya, dia ingin sekali menangis. Tapi, dia tidak mau memberikan masalah untuk orang-orang yang dulu ia sakiti. Ia beranggapan, jika apa yang ia alami saat ini adalah karma yang harus ia jalani.


" Aku sedang berbulan madu, Vanya. "


Vanya menatapnya terkejut. " Kau sudah menikah? "


Gaby mengangguk. " Dua bulan lalu. "


" Begitu ya? " Sejujurnya, Vanya begitu ingin tahu tentang kehidupan Gaby. Tapi, tidak mungkin ia bertanya kan? walau bagaimanapun, Gaby adalah manusia normal yang punya dua sisi kan? sisi baik dan sisi jahat. Tidak ada manusia yang dominan dengan salah satunya. Maka dari itu, Vanya hanya bisa mengakhiri obrolan mereka dengan senyum yang ia buat setulus mungkin.


" Vanya, Devi, aku tidak tahu lagi kapan kita akan bertemu setelah ini. Tolong maafkan aku. Maafkan segala kesalahanku. " Pinta Gaby sebelum Vanya dan Devi meninggalkan tempat itu.


Vanya berjalan mendekati Gaby dan memeluknya.


" Aku memaafkan mu. Kau pantas untuk mendapatkan kesempatan bahagia untuk hidupmu. "


Devi yang sejujurnya sebal dengan Gaby, kini hanya bisa menerima permohonan maaf dari wanita itu. Bagaimanapun juga, cara meminta maaf dan ekspresi Gaby tidak main-main. Wanita itu benar-benar terlihat menderita dan merasa terpukul oleh kesalahan yang pernah ia buat. Devi akhirnya mendekat dan memeluknya juga.


" Aku memang pemarah, tapi aku bukan pendendam. "


Gaby sontak menangis tersedu-sedu. Ini adalah kali pertama baginya di peluk dengan penuh kasih, setelah kematian seluruh keluarganya pada masa itu. Dia yang begitu menderita karena perbuatan jahatnya, kini bisa sedikit bernafas lega. Biarlah dia akan menerima segala penderitaan di masa depan. Semoga, semua luka yang akan ia dapatkan nanti, mampu mengurangi dosanya dimasa lalu.


To Be Continued.


Maaf kalau masih banyak Typo.


komen dan like ya supaya othor semangat....


Jangan lupa bahagia dan jaga kesehatan ya kesayangan ❤️❤️