Touch Me!

Touch Me!
S2- Secret



Ivi menatap marah Salied tak berkedip. Iya, rasa benci, kecewa, luka yang mendalam membuatnya sudah tidak bisa menahan diri lebih lama lagi. Ivi menyeka air matanya lalu berjalan ingin meninggalkan balkon. Hah! benar-benar sialan. Padahal dia berniat untuk menghilangkan penat, yang di dapat malah tambahan penat. Ivi terus melajukan langkahnya hingga dia sampai dimana Salied berhenti. Dia menatap Salied lalu tersenyum dingin.


" Mari kita akhiri ini, Tuan muda Marhen. "


Setelah mengatakan Itu, Ivi kembali melangkahkan kakinya menjauh dari Salied yang tidak tahu kenapa dia tiba-tiba meneteskan air mata. Salied mengepal kedua tangannya kuat.


" Sebenarnya apa yang terjadi? kenapa rasanya sakit sekali melihat tatapan mu? "


Ivi berjalan menghampiri Nathan yang masih saja berbincang dengan rekan bisnisnya.


" Kau sudah kem, " Nathan menatap Ivi dan terdiam saat melihat mata Ivi memerah.


" Apa yang terjadi? kenapa kau menangis? " Nathan berpamitan dengan rekan bisnisnya lalu membawa Ivi menjauh dari kerumunan.


" Apa yang terjadi? kenapa kau tidak memberitahuku jika terjadi sesuatu. "


Bukanya mengadu, Ivi justru memeluk tubuh Nathan erat. Sungguh itu sangat menenangkan. Tidak mau bohong juga, di dalam hati Nathan justru senang kalau Ivi sedih. Karena kalau dia dalam keadaan bahagia, yang keluar dari mulut nya pastilah hal-hal yang menyebalkan.


" Tadi ada yang berniat merebut mu dariku. Iya, sebagai seorang istri aku harus menangis walaupun tidak sedih kan? "


Nathan mendesah sebal. Ternyata sama saja. Mulut Ivi memang tidak bisa lembut dan penuh kasih seperti kebanyakan wanita. Tapi, seperti inilah Ivi yang Nathan sukai. Ivi yamg sesungguhnya tanpa harus berpura-pura menjadi wanita anggun.


" Ivi! "


Ivi dan Nathan sontak menoleh ke arah sumber suara dan melerai pekukannya.


" Ibu? " Ivi menatap bingung Ibunya yang entah mengapa juga hadir. Wanita paruh baya yang selalu energik itu berjalan cepat menghampirinya.


" Kalian ini bermesraan begitu, membuat Ibu iri saja. " Ucap Ibu menatap ke arah Nathan dan Ivi bergantian.


" Ibu, kenapa ada disini? " Tanya Ivi bingung.


" Bukan hanya Ibu. Tapi Ayah juga ada loh. Ibu dan Ayah sudah mendapatkan izin untuk datang kemari oleh dokter. Tapi saya tetap harus memakai masker dan tidak boleh banyak beraktivitas. Jadi, Ayah duduk saja di kursi roda. "


Ivi yang biasanya senang dengan adanya Ibu serta Ayahnya, kini tiba-tiba terlihat begitu sedih dan tak bersemangat. Tentu saja Ibu dan Nathan bingung dengan reaksi Ivi.


" Hei hei! kenapa kau sedih melihat Ibumu? apa kau masih marah karena Ibu menggunakan motor mu untuk balapan? " Tanya Ibu sinis.


Ivi menghela nafasnya.


" Bukan bu, lebih baik Ibu pulang saja dan balapan lagi. Sampai ke angkasa, bahkan sampai ke planet Pluto juga tidak apa-apa kok. "


Ibu terperangah kesal mendengar ucapan Ivi.


" Kau mengusir Ibu? "


" Ibu, lebih baik Ibu marah karena aku mengusir Ibu. Dari pada Ibu melihat apa yang akan terjadi nanti. " Gumam Ivi pelan.


Nathan yang samar mendengar itu hanya bisa menatap Ivi kaget. Dia meraih tangan Ivi dan menggenggamnya kuat. Tidak tahu apa yang di maksud Ivi, apakah itu dilakukan oleh Neneknya? apa ada dari pihak lain?


" Tunggulah disini. Aku akan memastikan tidak akan ada yang terjadi padamu. " Ucap Nathan sebelum berniat pergi.


" Tunggu! " Ivi menahan tangan Nathan.


Ivi menatap ke arah Nyonya besar Chloe, Salia dan Nyonya Marhen. Mereka nampak tengah melihat beberapa lembar yang bisa Ivi tebak, itu adalah photo. Setelah melihat itu semua, Nyonya besar Chloe mengedarkan pandangan mencari keberadaan Ivi. Dia menatap marah gadis itu. Tapi tak berlangsung lama, karena beberapa detik setelahnya acara ulang tahun Nathalie dan Nathania di mulai. Seperti beberapa acara biasanya. Semua berjalan dengan baik dan sangat membahagiakan. Begitu juga dengan Berly yang saat ini terus memeluk lengan Dodi meski pria itu terlihat risih. Nathan juga tak henti-hentinya memperhatikan wajah Ivi. Tangannya juga masih menggenggam erat tangan Ivi. Sungguh dia sangat tida berdaya. Dia ingin melakukan sesuatu untuk istrinya, tapi tidak di beri kesempatan. Maka setidaknya dia ingin selalu menggenggam tangan Ivi yang terasa dingin agar selalu merasa jika mereka akan tetap bersama.


Setelah acara selesai, Nyonya besar Chloe mulai mengambil alih panggung. Dia mengucapkan terimakasih kepada semua tamu yang sudah hadir. Dan juga, dia memperkenalkan Salia sebagai calon cucu menantunya.


" Selamat malam semua, terimakasih karena sudah hadir di acara ulang tahun cucu kembar ku terasayang. Hari ini juga, kami akan mengenalkan calon cucu menantu ku. Yaitu, Salia Marhen. " Salia tersenyum berdiri di samping Nyonya besar Chloe.


Tentu saja semua orang terkejut. Begitu juga dengan keluarga Ivi.


" Nenek! jangan bercanda, aku sudah menikah. Apa maksud Nenek, untuk Sammy? " Tanya Nathan yang terlihat menahan emosi.


" Sammy bukanlah anggota keluarga Chloe. Dia hanyalah anak pungut. Tentu saja untuk dinikahkan dengan mu. "


Nathan menatap Nenek kesal. Begitu juga dengan kakak, dan orang tua Ivi. Ibu menatap Ivi dengan tubuh yang gemetar. Jadi ini alasan Ivi mengusirnya pergi?


" Ibu, tolong hentikan! " Nath berjalan mendekati Ibunya dan mengajaknya untuk pergi.


" Tidak! " Nyonya besar Chloe menghempaskan tangan Nath.


" Kau tidak boleh menghentikan ku. Kau ini bodoh atau apa? dia adalah anak dari keluarga kriminal! dan kalian masih saja menikahkan mereka? orang tua macam apa kalian? menikahkan Nathan cucuku, tentu harus tahu bibit, bebet, bobotnya. ''


Vanya juga terlihat tidak terima, dia berjalan mendekati Nyonya besar Chloe.


" Tolong hentikan, Ibu mertua. Lihatlah, banyak orang yang memperhatikan kita. "


" Kau juga sama! " Bentak Nyonya besar Chloe kepada Vanya.


" Kau juga selalu saja melakukan hal yang bertentangan dengan tradisi keluarga Chloe. "


" Ibu mertua, aku adalah Ibunya Nathan. Aku tahu apa yang baik dan buruk untuk putraku. Tolong berhentilah memaksa putraku karena sampai kapan pun putraku tidak akan bisa menikah dengan gadis lain. " Tegas Vanya.


Nath meraih pundak Vanya dan mengusapnya.


" Ibu, tolong hentikan dan biarkan acara ini berakhir. "


" Tidak! anak dari kriminal itu harus segera enyah dari keluarga Chloe. "


Vanya dan Nath terlihat tidak bisa lagi menahan diri. Mereka berniat terus melawan agar Nyonya besar Chloe berhenti. Tapi Ivi meminta Nathan untuk melepaskan genggaman tangannya. Dia berjalan ke arah Ibu dan Ayah mertuanya.


" Ayah, Ibu mertua. Tidak apa-apa. Biarkan saja Nenek menyelesaikan kalimatnya. " Ucap Ivi dari balik punggung Vanya dan Nath.


" Ivi? " Nath dan Vanya membalikkan tubuh menatap Ivi.


" Tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Biarkan saja, Ayah, Ibu. " Ivi tersenyum menatap kedua mertuanya bergantian.


To Be Continued.


Ok, Aku akan Up lagi beberapa saat lagi ya guys.


Tolong jangan lupa Like, Komen, vote, hadiah dan tepuk tangan nya ya 😂 gk usah di subscribe ya? ☺️