
Ivi melajukan motor maticnya dengan kecepatan sedang. Mulutnya juga ikut bergumam kesal mengingat keluarga iblis yang aneh itu. Untuk membuang rasa penat hari ini, dia menarik nafas dan menghembuskannya beberapa kali sembari memandangi jalanan ibu kota yang mulai berkurang kepadatan nya. Semilir angin yang menerpa kulit wajahnya membuat hatinya sedikit melega seolah terbawa pergi.
Perlahan Ivi memarkirkan motornya di pelataran rumah dan menggembok motor kesayangannya. Maklum saja, rumah Ivi tidaklah luas dan hanya terdiri dari dua kamar tidur, dapur beserta kamar mandi dan ruang tamu yang digunakan sebagai ruang keluarga juga.
" Ibu, Ayah. " Panggil Ivi pelan karena mengira Ayah dan Ibu ya sudah tidur. Tak mendapat jawaban setelah beberapa kali memanggil, Ivi memutuskan untuk membuka pintu kamar orang tuanya, tapi sebelum itu dia sempat mengetuknya beberapa kali. Ivi mengeryitkan kening karena tak mendapati orang tuanya di dalam Dia lalu menutup kembali pintu kamar orang tuanya dan memanggil kakak laki-lakinya.
Ivi semakin kebingungan karena tak ada satupun orang di dalam rumahnya. Dia berjalan keluar lalu mengetuk pintu tetangganya. Tapi jawabannya yang membingungkan membuat Ivi semakin mengeryit dan kebingungan.
Tidak tahu, aku tidak tahu menahu tentang keluargamu.
Begitulah jawaban tetangga itu. Seorang wanita paruh baya yang selalu berselisih paham dengan Ibunya. Mulai dari sampah, ataupun air yang mengenai pelataran rumahnya saat Ibunya menyiram tanaman di halaman rumah. Mulanya memang hanya karena hal-hal remeh dan sepele, tapi tidak tahu kenapa, lama kelamaan mereka menjadi sering berselisih paham dan tidak pernah akur barang sedetikpun.
Ivi yang mulai panik berjalan kesana kemari sembari mencoba menyalakan ponselnya yang entah dari kapan non aktifnya. Membayangkan terjadi sesuatu kepada anggota keluarganya membuat jantungnya berdegup tak karuan. Air matanya juga jatuh dengan tidak sopan nya.
" Ayah, Ibu, kakak. Jangan terjadi apa-apa ya. Aku tidak mau kehilangan salah satu di antara kalian. Aku sangat mencintai kalian. " Karena tak bisa juga menyala ponselnya, Ivi akhirnya masuk kembali ke dalam rumah untuk mengisi baterai ponselnya.
Kembali lagi dia memikirkan sakit yang di derita Ayahnya. Rasanya dia semakin tidak tenang. Air mata juga sudah mulai banyak berjatuhan membasahi pipi tirusnya.
" Ayah, Ibu, kakak. Aku hanya punya kalian di dunia ini. Kalau sampai kehilangan salah satu di antara kalian, bagaimana aku akan bisa bertahan hidup? aku janji akan jadi gadis yang baik dan anggun seperti yang Ibu mau. Aku juga akan menjadi gadis manis dan cantik selamanya untuk Ayah. Aku juga tidak akan pernah marah kalau kakak menjitak kepalaku lagi. Ibu juga bebas memukul pantat dan betis ku. Menjewer kuping ku sampai merah, tidak! sampai putus juga tidak apa-apa. Tapi aku ingin kalian terap bersama ku. Aku janji akan memanjangkan rambutku sesuai keinginan kalian. Aku akan membiarkannya panjang sampai ke tanah dan tidak akan ku potong walaupun setengah senti. Tapi tolong jangan sampai kalian meninggalkan aku. " Ivi merengkuh sembari terus terisak dengan segala ucapannya.
" Yang benar? "
Suara serak berat yang sangat Ivi kenal terdengar di telinganya. Ivi menghentikan tangisnya lalu mengangkat wajahnya. Dia mengedipkan matanya beberapa kali lalu menggosoknya. Tiga manusia penghuni rumahnya kini tengah berjejer menatapnya dengan bibir yang menyeringai.
" Ayah! Ibu! kakak! " Ivi bangkit dan memeluk mereka secara bersamaan.
" Huhuhu... kenapa tadi kalian lenyap tanpa jejak? untung saja jantung ku ciptaan Tuhan, kalau ciptaan Ibu, pasti sudah sering di servis karena sering copot. "
Ibu menghela nafas kesalnya.
" Dasar anak durhaka! selalu saja kau punya bahan untuk mencela Ibumu ini. "
" Jadi kau tidak akan marah kalau aku menjitak mu? " Tanya Dodi yang masih tersenyum licik dibalik punggung Ivi.
" Kau juga sudah berjanji akan memanjangkan rambut mu sampai ke tanah loh. " Timpal Ayah.
" Kau juga sudah berjanji untuk menjadi gadis anggun dan baik hati loh. "
Ivi langsung melepaskan pelukan nya.
" Tadi hanya asal bicara saja. Jangan terlalu di ambil hati. " Ivi meringis malu.
Melihat Ivi begitu bersedih, Ayah langsung memeluk tubuh mungil anaknya yang kini terlihat semakin kurus. Sebenarnya dia tidak takut jika malaikat maut akan mengambil nyawanya kapan saja. Tapi membayangkan putrinya yang pasti akan sangat terpukul, membuat hatinya begitu sakit. Apalagi saat melihat putri cantiknya menangis seperti ini, rasanya dia begitu enggan untuk mati.
Ivi semakin meraung di pelukan Ayahnya. Ibu yang biasanya terlihat beringas dan hampir tak pernah bersedih, kini tiba-tiba menitihkan air mata. Sungguh dia tahu benar apa yang dirasakan oleh putrinya. Ivi memang sangat dekat dengan Ayahnya. Dan pastilah Ivi ketakutan jika harus kehilangan Ayahnya.
" Hei, anak manja. Kami hanya menjenguk tetangga yang sakit. Kenapa kau menangis seolah kami pergi ke Yunani. "
Tak menjawab, Ivi terus memeluk erat tubuh Ayahnya dan masih meraung disana. Mungkin semua orang memang akan mati. Tapi tak bisa dipungkiri perasaan takut akan kehilangan itu tidak mudah untuk bisa di mengerti.
" Ivi diamlah! orang akan mengira kami memukuli mu. " Ujar Ibu yang sudah bisa menyembunyikan kesedihannya.
" Kenapa gadis kecil ku menangis? katakan kepada Ayah, siapa yang berani membuat anak gadis ku menangis? " Ivi mulai tenang perlahan saat tangan Ayah terus mengusap kepalanya penuh kasih sayang.
" Ada apa? " Tanya Ayah lagi saat Ivi sudah mulai tenang.
" Tidak ada Ayah. Aku, aku hanya lelah meghadapi iblis hari ini. " Ivi beralasan agar tak membuat Ayahnya bersedih karenanya.
" Iblis? bukankah iblis nya kau? " Protes Ibu yang di angguki oleh kakaknya, Dodi.
" Jangan sembarangan! Ibu mana boleh mencela putrinya sendiri. "
Ibu berdecih lalu mencubit pipi Ivi pelan.
" Kau menjengkelkan dan suka membantah Ibu mu. Kau bahkan dengan terang-terangan memilih Ayah mu dibandingkan dengan Ibu mu. Bagaimana aku tidak menyebut mu iblis? kau selalu berpihak pada Ayahmu meskipun kau tahu Ayah mu salah. "
Ivi merengut sebal lalu mulai bergelayut manja di lengan Ayahnya.
" Ayah.... "
Ayah tersenyum lalu kembali mendekap tubuh putrinya.
Maaf, Tuan putriku. Mungkin waktu Ayah tidak banyak lagi. Semoga kau tetap menjadi gadis yang kuat dan semakin kuat.
Ivi kembali menitihkan air mata meski sukses menyembunyikan suara isakkan nya.
Ayah, bersabarlah sedikit. Aku akan mencari uang untuk Ayah berobat. Bertahanlah Ayah, aku mohon.
To Be Continued.