
Setelah kesepakatan yang dia setujui pagi tadi, Ivi sama sekali tidak berkonsentrasi dengan semua yang dia kerjakan. Mukai dari salah alamat saat mengantar ayam goreng mentega, salah mengemas pesanan, salah menyebutkan nominal, bahkan dia juga kurang menekan angka digit di mesin debit yang ia bawa. Jadilah Bos nya yang bernama Ira itu konser kemarahan seharian ini.
Ivi melajukan sepeda motor matik nya dengan kecepatan sedang. Dia lagi-lagi mengingat persyaratan yang begitu tidak masuk akal.
" Kalau aku menikah dengan Upin, bagaimana ya dengan kakak Bien? apa di akan patah hati? apa dia akan menangis seharian karena patah hati? heh...! tentu saja iya lah. Tapi mimpi! "
Ivi menarik nafas dan menghembuskan nya perlahan. Dia melakukan kegiatan itu hingga beberapa kali untuk mengusir segala hal tidak menyenangkan yang mengganggu harinya.
" A............. A............. " Ivi berteriak ringan untuk mengurangi stres di otaknya.
" Gila ya! tidak boleh menyebut nama kakak Bien adalah hal terberat bagiku. Tidak membayangkan Kakak Bien satu jam saja, otakku otomatis mengejang dan keram kalau tidak segera menyebut nama Kakak Bien. Berani-beraninya bajingan tengik itu melarang ku menyebut nama kakak Bien?! " Ivi berdecih lalu menaikkan sisi bibirnya dengan raut wajah kesal.
Sesampainya dirumah sederhananya, Ivi memarkirkan motor matic kesayangannya di pelataran rumahnya. Tak lupa dia menggembok satu-satunya kendaraan yang ia punya.
" Ibu! Kakak! gadis cantik jelita se jagad raya sudah pulang. " Teriak Ivi pelan. Seperti inilah Ivi kalau pulang tepat waktu, kalau telat dia pasti akan mengendap-ngendap layaknya maling amatiran.
" Oh, adik ku tersayang yang paling cantik sedunia lain. Tolong jangan berteriak. Aku ingin muntah setiap kali kau menyebut dirimu cantik jelita. Aku kasihan dengan gadis yang cantik sungguhan. Mereka pasti sangat terhina karena julukan untuk mereka dirampas oleh gadis burung hantu sepertimu. "
Ivi benar-benar kesal mendengar ucapan Kakaknya yang terlihat begitu santai dengan posisi setengah duduknya sembari menikmati camilan.
Plak........
Ivi menepak pundak kakaknya yang menyebalkan itu.
" Kak, aku adalah adik perempuan mu satu-satunya. Mau tidak mau, kau harus mengakui ku sebagai adik paling cantik di dunia ini. "
" Mulut ku akan busuk kalau harus berbohong tentang itu terus menerus. "
Ivi menggigit bibir bawahnya kesal. Memang mulut kakak laki-lakinya tidak memiliki rem dan selalu saja sembrono saat memaki Ivi.
" Kak, aku bersumpah jika ada gadis yang mau menikah dengan mu, aku akan membuat kalian gagal menikah. "
Dodi bangkit dengan tatapan terkejutnya. Mulut yang terperangah tidak percaya membuat camilan yang baru saja masuk kedalam mulutnya terjatuh begitu saja. Secepat kilat dia menggosok mulutnya menggunakan telapak tangan untuk menyingkirkan camilan yang tertinggal di dekat mulutnya.
" Dasar laknat! kau sudah gila ya?! mana boleh kau melakukan itu?! "
Ivi yang sudah jauh beberapa langkah itu menjulurkan lidah meledek kakak laki-lakinya dan langsung masuk kedalam kamarnya.
" Dasar makhluk astral! kau pikir, aku akan diam saja hah?! awas saja kalau sampai berani melakukan itu. Aku tidak akan segan-segan menggantung tubuhmu dengan posisi terbalik di atas WC setelah aku membuang air besar! "
Ibu yang melihat pertengkaran kedua anaknya hanya bisa menggeleng heran. Sebenarnya hal-hal yang kadang menyebalkan seperti ini adalah hal yang selalu di rindukan oleh Ayah mereka selama berada dirumah sakit. Ayah tak henti-hentinya menceritakan tentang kelucuan anak-anak mereka saat bertengkar, kemudian berbaikan, saling memeluk dan menyayangi satu sama lain.
" Tetaplah sehat dan bahagia anak-anakku. Kalian adalah semangat bagi Ibu dan Ayah. Kalian adalah hal yang paling berharga bagi kami. Maaf karena kami harus membebankan kalian kali ini. Maafkan Ibu yang tidak bisa membantu kalian. " Ucap Ibu lirih sembari mengusap air matanya.
***
Jika Ivi begitu tidak baik-baik saja seharian ini, maka lain sekali dengan Nathan. Pria tampan itu terus saja tersenyum diam-diam. Bukan hanya sekali dua kali dia begitu, bahkan saat rapat dan membahas proyek besar, bibir sialan itu membuat Sammy terus saja merinding dan kesal. Bahkan staf yang hadir saat rapat juga kebingungan karena Bos mereka hanya tersenyum dan tida menyahut saat ditanyai pendapat tentang rencana proyek yang tinggal beberapa bulan lagi harus segera dijalankan.
Sammy dan Nathan kini berada di sebuah mobil menuju kediaman Nathan. Lagi-lagi senyum sialan itu tak kunjung lenyap dan masih saja terlihat di wajah brengsek Nathan.
Sialan! aku ingin sekali memukul wajahnya.
" Nathan, hari ini pasti sangat membahagiakan ya? "
Nathan berdehem lalu mengibas udara didepan wajahnya.
" Aku hanya bahagia karena kita akan segera menjalankan proyek besar. Akhirnya kerja kerasku terbayarkan juga. "
Hei hei! pakai otakmu! yang membuat rapat hari ini berjalan lancar adalah aku! yang turun langsung ke lapangan juga aku! berani-beraninya mengakui ini kerja keras mu? kau belum sadar juga kalau seharian ini kau seperti orang gila yang terus tersenyum dan tidak mendengarkan rapat sama sekali.
" Iya. " Jawab Sammy yang terlihat malas.
" Kau bangga kan terhadap ku? " Tanya Nathan.
Bangga? bangga jidat mu lebar! aku tentu saja bangga terhadap diriku yang kuat menghadapi orang gila sepertimu.
" Iya, begitulah. " Jawab Sammy yang tentu saja tidak ikhlas.
Nathan berdecih lalu menatap Sammy sebal.
" Kau tahu tidak? "
" Tidak tahu lah, kan kau belum memberi tahu. "
" Dengar ya, berada disamping orang yang memiliki kecakapan dan ketampanan tingkat tinggi sepertiku adalah sebuah kebanggaan loh. Kau tahu kan? kau dulu itu jelek dan dekil. Tapi semenjak berteman dengan ku, kau sedikit tertular ketampanan ku. Ingat ya, hanya sedikit karena kau tidak bisa dibandingkan dengan ku. "
Sammy menarik nafas dan menghembuskan nafasnya perlahan. Dia benar-benar mencoba untuk terus bersabar karena dia tidak memiliki pilihan lain selain itu. Merasa suhu tubuhnya naik karena kesal, Sammy membuka kaca mobil dan membuang amarahnya disana.
" A................! "
Plak!
Belum juga hilang kesalnya, kini bertambah kesal lagi karena Nathan menepak kepalanya. Sammy mengusap kepalanya yamg begitu malang.
" Kau pikir aku tidak punya telinga apa? bersisik sekali. " Kesal Nathan lalu mengusapkan tangan yang ia gunakan untuk menepak kepala Sammy.
Sammy memasangi tangan Nathan yang secara tidak langsung kini tengah menghinanya kotoran atau semacam bakteri.
" Nathan, kalau saja kau bukan Nathan, aku pasti akan memotong jari lentik mu yang seperti gadis itu. "
" Aku akan mengadukan ancaman mu barusan kepada Ibuku. " Nathan tersenyum miring setelahnya.
Sammy langsung saja beringsut dan memeluk tubuh Nathan.
" Oh, kakak pertama, kau adalah dewa ketampanan dan juga bijaksana. Wajah mu yang bersinar layaknya rembulan malam adalah simbol dari keindahan rupa maupun hati. Tolong berikanlah sedikit kerendahan hati untuk menerima permohonan maaf ku ini. Dan tolong jangan mendendam ya? " Sammy masih saja erat memeluk Nathan yang kini tengah memberontak kesal.
" Lepaskan aku! "
" Tidak mau! maafkan aku dulu. "
" Kau gila ya?! "
" Iya aku gila dan bodoh. "
To Be Continued.
Hallo kesayangan, apa kabar? semoga tetap baik-baik saja dan selalu bahagia.
Aku mau meminta maaf jika banyak argumen yang kesannya seperti pembulian. Tolong jangan ditiru kalau memang kesannya tidak bagus ya? aku cuma berniat menghibur dan tidak memiliki maksud lain.
Thanks untuk kalian yang selalu setia stay untuk membaca, memberi like, komentar, vote dan gift nya. Maaf karena waktu ku terbatas untuk online di Noveltoon, aku jadi jarang bisa balas komentar dari kalian. Tapi aku semangat karena membaca komentar dam like dari kalian.
Tetap semangat dan jaga kesehatan ya kesayangan. Jangan lupa bahagia tentunya.