
Lexi mengumpat kesal setelah masuk kedalam kamarnya. Kenapa dia selalu ada ditempat yang salah? batinnya.
" Dasar sialan! Vanya dan Sherin benar-benar membuatku sangat menderita, apa mereka tidak tahu kalau dua pria itu mengerikan? bisa-bisanya omong kosong begitu?! " Gerutu Lexi sembari membuka kancing bajunya.
Devi hanya bisa menghela nafasnya. Jujur saja, dia memang merasa kasihan dengan Lexi. Tapi mau bagaimana lagi? dia juga tidak tahu harus melakukan apa.
Lexi berjalan menuju kamar mandi masih sembari menggerutu tak jelas. Tak lama kemudian, dering ponsel Lexi terdengar, Devi yang merasa terganggu karena sudah beberapa kali berdering, akhirnya memutuskan untuk mengangkat teleponnya. Devi mengeryit melihat nama di layar ponsel yang sedang menghubunginya.
" Wanita ini lagi? " Gumam Devi sebelum mengangkat sambungan teleponnya.
" Ada apa, Nona Gaby? "
' Dimana Lexi? ' Gaby.
" Sedang mandi. " Devi.
' Katakan padanya untuk menghubungiku nanti. '
Sambungan terputus.
Wanita ini kenapa sih? apa yang dia inginkan? mungkin dia bisa berbohong dengan mengaggap Lexi sebagai teman, tapi aku tidak buta. Aku bisa melihat kecemburuannya saat melihat Lexi dan aku kemarin.
Devi meletakkan kembali ponsel sembari terus berpikir apa yang Gaby inginkan sekarang? apakah dia sudah menyerah dengan Nath? dan sekarang menyadari perasaan yang sebenarnya?
Memang tidak akan ada jawabannya kalau tidak mencari tahu, mungkin,mungkin kalau mungkin terus menerus ya tidak akan ada habisnya. Entah perasaan apa yang kini bergelut dihatinya. Dia mengkhawatirkan temannya tapi juga merasa terganggu kalau sampai dia masuk ke dalam hubungan abu-abu antara dia dan Lexi. Sejujurnya, hubungan antara dia dan Lexi tidak seburuk itu. Meski sering bertengkar, Lexi tetap saja mengalah dan membiarkannya melampiaskan segala kekesalannya. Devi memiringkan tubuhnya dan tak sengaja menatap photo pernikahannya.
Andai saja kita saling mencintai, pasti itu indah kan?
" Kau tidak mandi? " Tanya Lexi sembari berjalan menuju lemari untuk mengambil bajunya.
Deg.....
Devi yang sedari tadi sibuk dengan lamunannya, dia sampai tak sadar dengan Lexi yang entah sejak kapan keluar dari kamar mandi. Saat Devi bangkit dari posisinya, Lexi juga melintas dihadapannya. Ah! tiba-tiba wajah Devi merona, benar! tubuhnya memang kekar, bidang dan terlihat gagah, tak mau munafik, wajah Lexi memang sangat tampan. Sejenak Devi terpesona oleh Lexi, tapi dia tak mau begitu hanyut dan langsung menggelengkan kepala untuk mengusir pikiran anehnya. Dengan langkah cepat, dia menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Leci yang melihat tingkah aneh Devi hanya bisa menggeleng keheranan.
Devi mengatur nafasnya sembari menepuk-nepuk pelan pipinya, agar bayangan-banyangan Lexi lari di otaknya yang sudah mulai terkontaminasi itu. Sayang sekali, bukanya menghilang dari pikirannya, justru semua malah berkelebatan bagai sebuah drama. Devi menyentuh bibir yang tadi ia gunakan untuk mencium bibir Lexi. Sungguh, dia tak merasakan apapun saat menciumnya tadi. Lalu kenapa dia begitu gugup dan berdebar sekarang? tanpa Devi sadari, bibirnya kini tengah tersenyum.
Ah gila! apa yang aku pikirkan?! kenapa jadi begini?!
Devi menggelengkan kepalanya lagi. Dia menatap wajahnya yang terpantul sari cermin yang ada di wastafel kamar mandi.
Kurang ajar! berani-berani otakku memikirkan itu! dengar ya otak, mulai sekarang kau tidak diperbolehkan memikirkan si homo itu!
Tak mau membuang waktu lagi, Devi memutuskan untuk mengguyur tubuhnya di bawah shower, berharap pikiran kotornya mengalir pergi bersama air yang mengalir membasahi tubuhnya.
Beberapa saat kemudian, Devi keluar dari kamar mandi dan sudah menggunakan piama tidurnya. Entahlah, beberapa waktu lalu dia pernah mengatakan jika tidak akan ada rasa keberatan bertelanjang dihadapan Lexi, nyatanya? sekarang dia bahkan malu hanya untuk menggunakan baju yang sedikit terbuka. Tidak tahu dari mana asal perasaan malu dan canggung itu.
Lexi menatap Devi yang sedang menuju tempat tidur hingga gadis itu berbaring disampingnya. Bukanya tak melihat tatapan Lexi, hanya saja dia terlalu gugup untuk bertanya apa maksud tatapan itu. Devi berbaring dan memunggungi Lexi.
Kenapa menatapku begitu? membuatku gerogi saja.
" Kau sudah mau tidur? " Tanya Lexi.
" Ada yang ingin aku bicarakan. " Ucap Lexi yang entah bagaimana ekspresinya karena Devi masih memunggunginya.
" Tentang apa? "
" Tentang hubungan kita. " Lexi masih menatap punggung Devi. Saat Devi pergi mandi tadi, ia mendengar ponselnya berdering dan melihat siapa yang menghubunginya. Dia hanya menghela nafas lalu meletakkan ponselnya kembali, hingga satu pesan masuk ke ponselnya.
' Lexi, ayo kita bertemu. Aku mohon jangan ada Devi. Aku ingin berbicara padamu, ada hal penting yang ingin aku katakan. '
'Maaf, aku tidak bisa.'
' Tolong, aku tidak akan berbuat macam-macam, temui aku sekali saja, please....'
'Sorry.'
' Aku akan datang kerumah mu besok pagi. No more, Reason ok? '
" Hubungan? hubungan apa yang kau maksud? hubungan kebohongan ini? " Tanya Devi yang masih enggan membalikkan tubuhnya untuk menatap Lexi.
Lexi terdiam sesaat, rahangnya juga mengeras mendengar pertanyaan Devi.
" Jadi hanya sampai disitu pendapat mu tentang hubungan kita ini? apa kau tidak bisa belajar menerima? " Tanya Lexi.
" Aku? " Menerima? bahkan dia begitu takut akan rasa sakitnya nanti. Yang dia tahu, hubungan tentang dua hati sangat lah rumit dan membuat mereka saling mencintai lalu menyakiti.
" Baiklah, tidak perlu dijawab. " Lexi ikut memiringkan tubuhnya memunggungi Devi.
Kenapa begini sih? kenapa aku jadi sedih? apa yang terjadi dengan ku? Batin Devi sembari memegangi dadanya gang seolah berdenyut ngeri.
" Itu, tadi Gaby menghubungi mu. " Devi mencoba kembali berinteraksi dengan Lexi, meski dia sendiri tidak yakin dengan apa yang dia lakukan.
" Aku tahu. Aku akan menemuinya besok. " Ujar Lexi.
" Menemui? kau masih ma menemuinya? " Tanya Devi yang entah mengapa dia merasa kesal.
" Iya. " Jawab Lexi sembari menahan senyum dibibirnya.
Mari kita lihat, seberapa pentingnya aku bagimu saat ini.
" Pergilah dan jadikan dia istri muda mu! " Ucap Devi yang sudah tidak bisa menahan kekesalannya lagi.
" Dengan senang hati, istriku. " Lexi kini menutup bibirnya yang hampir tidak bisa menahan tawanya. Memang siapa juga yang mau menjadikan Gaby istri mudanya? dekat saja sudah membuatnya merinding saat ini, Devi memang galak dan tempramen tinggi, tapi dia bukan sosok yang mampu berkonspirasi dan mengacaukan kedamaian. Yah, mungkin dia mampu mengacaukan hatinya Lexi saja.
Dasar bodoh! kurang ajar! sialan! memang dia lupa ya kalau dia itu homo? satu istri saja dia tidak berani menyentuh, apalagi dua? dia mau mengkoleksi istri sebagai pelengkap saja begitu? cih! gagah? kekar? apa ya yang gagah? aku saja tidak yakin itunya masih berdiri.
Tak lagi ada percakapan, Lexi dan Devi sudah mulai merangkak ke alam mimpi.
To Be Continued.