Touch Me!

Touch Me!
Surprise



Satu pekan sudah mereka menghabiskan waktu untuk berlibur, plus berbulan madu. Tidak ada dari mereka yang tak merasa bahagia. Ini adalah momen paling indah bagi tiga pasang sahabat itu. Sebelumnya, bahkan mereka tidak pernah menyangka akan menikah dengan lelaki yang terikat pertemanan seperti mereka. Tapi nyatanya, takdir adalah jalan Tuhan yang tidak bisa kita hindari maupun di tebak.


" Sayang, apa kau lelah? " Tanya pria yang tak lain adalah, Nath. Dia selalu bertanya dengan kalimat yang sama di setiap waktu. Sayang, apa kau lelah? Vanya benar-benar sudah sangat menghafalnya. Tapi inilah, Nath. Suami yang mencintainya tanpa batas. Suaminya yang selalu mengkhawatirkan istrinya meski ada di dihadapannya. Sulit dipercaya memang, mana mungkin ada pria seperti Nath? ada! laki-laki yang mencintaimu dengan tulus, dia akan selalu mengkhawatirkan mu dan berusaha yang terbaik untukmu.


Vanya memeluk tubuh Nath erat. Rasanya begitu sulit dipercaya dengan kebahagiaan yang ia dapatkan saat ini. Vanya memang mudah terpesona kepada pria tampan, tapi hatinya hanya milik Nath dan tidak akan goyah.


" Nath, apa kau tidak lelah menanyaiku dengan pertanyaan yang sama? "


Nath tersenyum lalu menangkup wajah istrinya. " Karena aku tidak tahu rasanya ada di dalam tubuh mu. "


" Aku tidak akan lelah saat bersama mu, Nath. Aku janji mulai sekarang, kau dan Nathan adalah prioritas utama bagiku. "


Nath tersenyum bahagia. Dan akhirnya, mereka mengakhiri percakapan mulut dan menggantinya dengan percakapan tubuh. Maksudnya itu loh ya,...


Satu bulan kemudian.......


Semua berjalan sebagai mana mestinya. Vanya dan Nath semakin hari semakin mesra. Lexi dan Devi juga sama. Mereka benar-benar seperti memasang magnet di tubuh mereka. sulit sekali untuk dipisahkan. Apalagi, semenjak mereka mengumumkan pernikahan mereka, Nath hampir gila menghadapi sepasang suami istri yang dimabuk cinta setiap hari.


Sherin dan Kevin juga sudah tak lagi canggung memamerkan kemesraan dihadapan umum. Sherin yang dulu begitu perduli tentang tatapan sengit penggemar Kevin, kini sudah tak lagi terpengaruh. Dia justru semakin sibuk mempertontonkan kemesraan mereka hingga pembencinya merasa muak sendiri dan tak lagi mengurusi Sherin lagi.


***


Vanya tersenyum memandangi sebuah benda yang membuat hatinya berbunga-bunga karena bahagia. Ternyata memilih tidak bekerja adalah pilihan tepat hari ini. Yah, meskipun harus mendengar ejekan dari putranya yang menusuk gendang telinga.


Ibu tumben tidak bekerja? apa matahari terbit dari sebelah utara? apa ibu salah minum vitamin? apa ibu meminum racun nyamuk? apa kepala Ibu terbentur dinding? apa kepala Ibu baik-baik saja?


Vanya meraih sebuah figura yang terletak di meja samping tempat tidurnya. Gambar dirinya, Nathan dan Nath. Sungguh, dia sangat bahagia.


Vanya meraih ponselnya setelah cukup puas tersenyum bahagia. Dia memutuskan untuk mengirim pesan kepada teman-temannya.


Chat Group.


Hallo? : Vanya.


Sayang? : Nath.


Ada apa? : Sherin.


Apa? : Devi.


Kevin dan Lexi kompak memberi tanda tanya.


Datang ke apartemen ku nanti malam ya? ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan kepada kalian. : Vanya.


Semua serempak mengiyakan undangan Vanya.


***


Sherin meletakkan ponselnya sembari tersenyum. Jujur, dia tengah bahagia juga hari ini.


" Aku juga ingin memberikan kejutan untuk kalian. "


***


Devi tersenyum menatap ponselnya.


" Aku ingin sekali mengatakannya sekarang, tapi aku harus menahannya. Momen ini begitu pas. Aku bisa memberikan kejutan kepada semua orang nanti.


Lexi menatap istrinya bingung. Sebenarnya, apa yang membuat istrinya begitu murah senyum hari ini? padahal, pekerjaan begitu banyak. Tapi dia sama sekali tidak terlihat kelelahan. Yang ada hanya wajah semangat dan tersenyum. Lexi akhirnya hanya menghela nafas dan membiarkan istrinya sibuk dengan hal yang membuatnya senang.


***


" Apa yang ingin istriku sampaikan? kenapa tidak langsung menghubungiku saja? jangan bilang, kalau dia ingin membangun perusahaan baru. Kalau sampai itu terjadi, aku benar-benar tidak akan memiliki waktu untuk bermesraan dengannya nanti. "


Begitulah Nath. Setiap detik, yang dia khawatirkan hanyalah kehilangan banyak waktu bersama istrinya. Maklum saja, meskipun Vanya selalu mengutamakan Nath dan Nathan, dia juga harus mengurus dua perusahaan sekaligus. Nath sebenarnya sudah menawarkan diri untuk membantu, tapi Vanya yang begitu paham banyaknya pekerjaan yang butuh fokus Nath tentu tidak mengizinkannya. Tapi untunglah, Bibi Nhanti sudah kembali dari luar negeri dua hari lalu. Dia bisa membantu Vanya.


***


Vanya kini tengah disibukkan untuk menjamu teman-temannya yang akan datang. Beberapa pelayan juga ikut membantu kegiatan Vanya. Excited, itulah yang dirasakan Vanya saat ini. Membantu menyiapkan camilan, makan malam, dan membereskan ruangan. Nathan yang melihatnya hanya bisa menggeleng keheranan. Kenapa? karena dia pusing dengan Ibunya yang beberapa kali mengubah posisi menu makanan.


" Ibu, apa bapak negara akan datang ke apartemen sempit ini? "


Vanya menatap Nathan sebal. Apartemen sempit? bahkan Nath sudah menggabungkan dua apartemen menjadi satu. Apa dia ingin tinggal ditempat selebar lapangan golf? batin Vanya menggerutu.


" Para paman dan Bibi akan datang ke sini, Sayang. "


" Tumben sekali Ibu menyambut mereka, biasanya Ibu akan merengut sebal saat mereka datang. "


Cih! salah mereka, Lexi, Devi, datang setelah pulang kantor di malam hari. Sherin dan Kevin juga kebiasaan datang pukul dua puluh dua dengan alasan ada operasi. Itu semua salah mereka lah!


Waktu berjalan seperti yang seharusnya. Hari ini, Nath terpaksa lagi pulang bersama Lexi dan Devi. Disepanjang jalan, Nath terus saja menggerutu didalam hati seperti biasa. Bagaimana tidak? sepasang manusia tidak tahu malu itu terus saja memamerkan kemesraan di hadapannya. Rasanya ingin sekali Nath memasukkan orang ketiga di antara mereka. Barulah akan menjadi seru. Lebih baik menonton pasangan bertengkar dari pada bermesraan batin Nath.


" Selamat datang.... " Ucap Vanya setelah pintu terbuka.


Nath yang sudah sangat merindukan istrinya itu langsung memeluk dan mengecup bibir istrinya. Apalagi sekarang Lexi dan Devi yang tidak berbelas kasih dan terus saja memamerkan kemesraan di hadapannya, membuat ia semakin tersiksa jauh dari istrinya. Kalau saja tidak ada KBR dan Dirgantara yang begitu sialan di mata Nath saat ini, dia pasti akan membawa istrinya kemanapun dia pergi.


Lexi dan Devi hanya bisa menggeleng keheranan melihat tingkah Bosnya itu. Dari pagi, mereka hanya melihat tampang marahnya saja. Dan sekarang, wajah bak Devil itu sudah menghilang karena bertemu pawangnya.


Vanya mempersilahkan Devi dan Lexi masuk kedalam. Sungguh! ini membuat Devi dan Lexi bingung. Tidak biasanya Vanya menyambut mereka dengan begitu formal dan seakan sudah direncanakan matang-matang. Tak lama kemudian, Sherin dan Kevin juga datang. Mereka mulai mengobrol santai, lalu menikmati makan malam bersama, dan kembali ke ruang tengah untuk bersantai sembari menikmati camilan berupa buah dan makanan ringan yang sudah Vanya siapkan.


Ditengah-tengah kegiatan, Vanya berdiri untuk menyampaikan maksud mengundang mereka datang malam ini.


" Begini, temen-teman. Sebenarnya, aku ingin mengumumkan sesuatu kepada kalian. "


" Tunggu! " Devi ikut bangkit dan berdiri disamping Vanya. Tentu saja membuat Vanya mendengus sekaligus bingung.


" Aku juga ingin mengumumkan sesuatu. "


" Aku juga! " Sherin ikut bangkit dan berdiri di samping Vanya.


Nath, Kevin, dan Lexi saling menatap bingung. Apa sebenarnya yang para istri itu rencanakan?


Vanya hanya bisa menghela nafas menatap Sherin dan Devi bergantian.


" Kalau begitu, aku dulu yang mengumumkan. " Ujar Vanya.


" Ah! punyaku lebih penting! " Ucap Devi.


" Tidak tidak! kabar dariku lebih penting. " Ujar Sherin.


Mereka akhirnya berdebat dan saling memperebutkan posisi pertama. Membuat para suami mereka kesal dibuatnya.


" Katakan saja bersamaan! " Ucap Lexi yang sebenarnya merasa kesal dengan Vanya dan Sherin. Mereka tidak mau mengalah untuk istrinya yang malang itu. Nath dan Kevin hanya bisa mengangguk setuju.


Para istri hanya bisa terdiam setelah saling menatap. Akhirnya, mereka menyingkirkan ego mereka dan mengikuti saran dari Lexi.


" Baiklah, dalam hitungan ke tiga, kita katakan bersama-sama ya? " Sherin dan Devi mengangguk.


Vanya menarik nafas dalam-dalam. Kegiatan ini juga di ikuti oleh kedua sahabatnya itu.


" Satu, dua, tiga!!! "


" Aku hamil! " Vanya, Sherin, dan Devi saling menatap bingung karena mereka mengatakan hal yang sama secara bersamaan.


ketiga pria itu juga malah saling menatap dalam artian bertanya.


" Kalian hamil juga? " Tanya Vanya kepada dua sahabatnya yang langsung mereka angguki.


" Kau juga hamil? " Tanya Sherin kepada Vanya dan Devi. Vanya mengangguk.


" Jadi? kita hamil berjamaah? " Vanya bengong sendiri karena pernah membayangkan hal ini terjadi.


" Jadi sebenarnya, siapa yang hamil? " Tanya Nath yang masih belum bisa mengerti. Lexi dan Kevin juga bingung.


" Kita bertiga hamil! " Seru Devi sembari memeluk Vanya dan Sherin.


" Apa?! " Lexi bangkit untuk menanyakan langsung kepada istrinya. Begitu juga dengan Kevin dan Nath.


" Sayang ini serius? " Tanya Nath dengan wajah gembiranya.


" Iya. " Vanya memeluk erat tubuh Nath dengan rasa bahagia yang begitu luar biasa dihatinya.


Kevin yang biasanya begitu anti air mata, hari ini sesegukan sembari memeluk istrinya. Kebahagiaan yang luar biasa akhirnya dia bisa merasakannya. Detik ini juga, dia berjanji kepada dirinya sendiri untuk mencintai anaknya sepenuh hati. Dia tidak akan membuat anaknya menjadi seperti dirinya dulu.


Semetara Lexi, pria itu sampai berlompat-lompatan karena merasa sangat senang. Kenapa? karena dia bisa membuktikan kepada seluruh dunia, jika dia benar-benar jantan.


Semetara di sudut ruangan, Nathan yang memang sudah diberi tahu oleh Ibunya hanya bisa menggeleng heran.


" Ck! aku kira hanya ada satu anak saja yang akan menjadi temanku. Ternyata ada tiga ya? baiklah, mereka akan aku jadikan iblis kecil hehe.....


To Be Continued.