
Lexi menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Kini pikirannya tertuju kepada apa yang terjadi beberapa saat lalu. Benar, dia sendiri bingung harus bagaimana menyikapi masalah ini. Sekarang memang sepele, tapi tidak tahu akan menjadi sebesar apa masalahnya jika larut oleh waktu.
Dia memiringkan tubuhnya menghadap ke sebuah jendela kamarnya.
" Mana aku tahu kalau akan jadi begini? " Gumamnya sembari menghela nafas.
Lexi bukan tidak bisa jatuh cinta. Hanya saja, hatinya terlalu biasa mencintai sosok yang tidak pernah mencintainya. Hatinya terbiasa mengalah hingga lupa jika dia juga patut untuk dicintai.
Bertahun-tahun lamanya, dia memendam perasaan cinta yang bahkan tak sedetikpun mendapat tanggapan. Apapun dia lakukan hingga dia tega mengkhianati salah satu orang terpenting di hidupnya. Belakangan, dia baru menyadari. Dia menyia-nyiakan hatinya hanya untuk mencintai wanita yang bahkan tidak perduli. Ia juga lupa untuk mencintai dirinya sendiri.
Lexi menghela nafasnya kembali. Dia sendiri bingung. Dia juga ingin menikah seperti Nath. Dia juga ingin anak dan membahagiakan orang tuanya. Tapi, dia lupa akan sesuatu. Yaitu, lupa caranya membuka hati untuk cinta yang baru.
" Bagaimana caranya? aku terlalu bodoh untuk mengenali diriku sendiri. Wanita mana yang harus aku pilih?
Lexi masih bingung dengan apa yang hatinya inginkan. Bodoh! dia memang benar-benar bodoh. Dia tidak ingin disesatkan oleh cinta seperti sebelumnya. Maka, dia hanya perlu menjaga hati agar tak salah memilih cinta.
Lama, semakin larut Lexi terbuai dengan pemikirannya. Hingga tak sadar ia mulai terlelap meninggalkan dunia nyata menuju dunia mimpi.
Pagi harinya.
Nath membantu putranya untuk bersiap. Dia mengecek tas sekolahnya. Memastikan semua perlengkapan yang dibutuhkan sudah di dalam tas. Dia juga memasukkan kotak bekal yang hampir saja tertinggal.
" Baiklah my Boy! you ready? " Tanyanya sembari menyerahkan tas sekolah Nathan.
Nathan tersenyum dan mengangguk.
" Ayah aku harus segera berangkat. Paman sopir dan Berly pasti sudah menunggu. " Ucapnya sembari memakai tas sekolah yang tentu juga Nath membantunya.
" Ok. Hati-hati dan jangan sembarangan keluar sekolah tanpa dua paman yang Ayah tugaskan untuk menjaga kalian ya?
" Em. " Nathan mengangguk.
Setelah menimbang kembali, Nath akhirnya memutuskan untuk menyewa jasa dua pengawal yang memang sudah terlatih untuk menjaga Berly dan Nathan. Nath juga mempekerjakan dua pengasuh meski sebenarnya, Nathan tidak terlalu membutuhkannya. Bukan tanpa alsan, Nath hanya berusaha untuk melindungi putranya. Semua orang yang dipekerjakan untuk menjaga Nathan dan Berly, adalah orang-orang yang memiliki kemampuan bela diri dan analisis yang kuat. Bahkan, pengasuh Nathan juga sama meskipun mereka adalah wanita.
Setelah berpamitan dengan Ayah Ibunya, Nathan bergegas menghampiri Berly dan para pengawal mereka. Awalnya, kedua anak itu menolak dengan keras. Tapi karena pengertian yang diberikan Vanya, anak-anak keras kepala itu akhirnya mengalah juga.
" Sayang, kira-kira butuh berapa lama lagi untuk kita memiliki adik untuk Nathan? " Tanya Vanya sembari melambaikan tangan menatap kepergian Nathan.
Nath tersenyum menatap istrinya yang tiba-tiba membicarakan tentang adik. " Tunggu Sayang, aku ingin fokus untuk Nathan dulu. Aku kehilangan banyak momen tentang dia. Bersabar ya? tapi, jika kau ingin berlatih membuatnya, itu aku bersedia kapan pun.
Vanya menatap Nath dengan senyum yang terlihat sebal. Kali ini, Vanya benar-benar butuh istirahat total. Semalaman menuruti Nath malah membuat pinggangnya terasa ingin patah menjadi dua belas bagian.
" Jangan bicara omong kosong! Aku bertanya begitu karena muak meminum pil sialan itu! aku jadi sulit tidur.
" Baiklah, jangan meminumnya. Kita bisa melakukan pencegahan sendiri.
" Maksutnya?
" Serahkan saja padaku.
" Hah...?
" Hanya perlu membuangnya keluar. " Bisik Nath.
" Apa yang ingin kau buang? apa pil sialan itu?
Nath mendesah sebal. " Cairan ajaib yang bisa menghadirkan Nath junior lagi.
Vanya terperangah mendengarnya. " Mubazir sekali.
" Eh? " Nath menatap Vanya yang mulai berjalan masuk ke dalam dengan bingung.
Mubazir? bahkan sampai seratus tahun usiaku, aku masih mampu Sayang. Kenapa kau menyepelekan kemampuan laki-laki?
" Sayang, kau masih ingin bekerja? " Tanya Nath yang melihat Vanya sudah mulai bersiap-siap.
" Iya. Kenapa?
" Kau tidak lelah? bukankah lebih baik kau dirumah saja?
" Justru aku bosan kalau dirumah terus.
Setelah Vanya selesai, dia membuka lemari pakaian dan menyiapkan baju untuk Nath. Lengkap dengan dasi, gesper dan sepatu serta kaos kakinya.
" Ini baju gantimu.
Nath hanya mengangguk sembari menatap Istrinya. Tubuhnya yang kurus, harus menghadapi banyak hal dimasa lalu. Problem keluarga, menghadapi kehamilan seorang diri. Bahkan, Vanya juga sempat hampir tiada saat akan melahirkan putranya yang baru berusia tujuh bulan didalam kandungan Vanya. Nath terus saja menatap Istrinya yang mondar mandir mencari ponsel yang ia lupa dimana ia meletakkannya.
Nath berjalan mendekati tempat tidur lalu mengangkat bantalnya.
" Sayang, ini ponselmu. " Nath menyodorkan ponsel milik istrinya itu.
Vanya mendesah lega. Dia berjalan mendekati Nath hendak mengambil ponsel dari tangan Suaminya itu.
Vanya hanya bisa diam sembari kebingungan.
" Sayang, kenapa ku begitu kurus? apa tubuhmu kekurangan suplai nutrisi?
" Eh? bukankah pria lebih suka wanitanya memiliki tubuh langsing?
" Tidak. Kau terlalu kurus.
" Jadi, aku harus menggemukkan badanku begitu?
" Iya.
" Tida mau ah! nanti pasti kau akan membenciku jika aku gendut.
" Tidak. Sungguh. Apapun dan bagaimana dirimu, aku akan selalu mencintaimu. " Nath menghadiahi banyak kecupan di pucuk kepala Vanya.
Drt.....! Drt.....!
Suara getar ponsel membuat mereka mengalihkan fokus kepada ponsel Nath yang bergetar.
Nath meraihnya. Dia diam sesaat seolah menimbang. Jawab atau tidak? tak lama kemudian, panggilan kedua masuk dan Nath mengangkatnya.
' Hallo?
' Iya.
' Apa?!
' Dimana?
' Kapan itu terjadi?
' Baiklah. Aku akan segera kesana.
' Iya. Akan aku usahakan secepatnya.
Panggilan telepon berakhir.
" Ada apa? " Tanya Vanya yang melihat kegelisahan di wajah Nath.
" Ayah ku terkena serangan jantung. " Ucapnya sembari menatap Vanya sendu.
" Apa?! kalau begitu, pergilah ke rumah sakit.
Nath semakin menatap Vanya pilu. " Ayah ku berada diluar negeri.
Vanya terdiam. Dia menarik nafas dan menghembuskan perlahan. Dia tersenyum agar Nath tak memikirkan Vanya sekarang. Karena orang tuanya lebih membutuhkannya. Terutama, Ayahnya.
" Negara apa?
" Belanda.
" Kapan kau akan berangkat?
" Hari ini juga.
Vanya mencoba untuk tersenyum. Dia mengangguk agar Nath tak khawatir. " Pergilah. Kami akan menunggumu.
" Maaf Sayang. Aku benar-benar harus meninggalkan kalian.
" Tidak apa-apa. Pergilah. Aku akan menyiapkan barang-baramgmu.
Nath mengangguk. Dia langsung menghubungi Lexi untuk memesankan tiket untuknya pagi ini.
Setelah beberapa saat. Vanya, Nath, dan Lexi sudah berada di bandara. Nath terus memeluk tubuh Vanya sebelum dia melanjutkan langkahnya.
" Sayang, tunggu aku. Aku akan segera kembali jika Ayah sudah baik-baik saja.
Vanya tersenyum dan mengangguk. Sejujurnya, dia benar-benar ingin sekali menangis. Entah apa alasannya. Hatinya tiba-tiba merasa takut. Takut jika pria yang kini menatapnya penuh cinta tidak kembali.
Nath memundurkan langkah sembari tersenyum dan melambaikan tangannya. Vanya yang tak lagi bisa menahan rasa itu, akhirnya berlari dan berhambur memeluk Nath.
" Aku mencintaimu Nath.
" Aku juga, sangat mencintaimu.
Mereka saling menatap dan berakhir dengan ciuman.
To Be Continued.