Touch Me!

Touch Me!
S2- Janji Ivi dan Nathan



Setelah pertemuan tak terduga dengan dua iblis jahanam tadi, Ivi menjadi sangat malas untuk beraktifitas. Rasanya memaki dua orang itu telah menguras semua energinya. Bahkan hanya untuk bersuara dia sangat malas. Untunglah, bernafas adalah kegiatan otomatis yang tidak membutuhkan tenaga, kalau tidak, dia pasti memilih untuk tidak bernafas. Ivi duduk disebuah bangku panjang yang tersedia di Lobby utama sebuah pusat belanja. Dia duduk termenung sembari mengingat kejadian masa lalu yang sudah berhasil ia kubur dalam-dalam. Tapi sayang, semua ini kembali muncul ke permukaan dan mengingatkan kembali akan segalanya di masa itu. Ivi menarik nafas lalu menghembuskan nafasnya pelan. Sungguh dia tidak ingin menangis, tapi air mata brengseknya itu lolos tanpa persetujuan darinya.


Tin......


Suara klakson mobil menyadarkan Ivi agar tidak lagi bersedih.


" Apa kau sangat merindukan ku sampai menangis? " Tanya Nathan yang haru saja tiba dan membunyikan klakson mobilnya.


Ivi dengan cepat menyeka air matanya lalu tersenyum. Dia berjalan mendekat ke mobil Nathan dan langsung masuk. Sungguh tidak romantis Nathan ini. Sudah tahu istrinya menangis, bukanya keluar dan membukakan pintu, dia malah cuek saja menunggu di dalam. Maafkan saja Nathan yang kurang peka alias bodoh ini ya Reader,...


" Kenapa kau menangis? " Tanya Nathan. Dia juga menatap Ivi khawatir.


" Dimana belanjaan mu? kenapa tidak membeli apapun? apa kau di tindas? apa mereka menganggap mu sangat miskin hingga melarang mu masuk ke tokonya? apa kau di usir karena wajah mu menyedihkan dan terlihat sangat tidak meyakinkan untuk membeli barang? "


Ivi menghela nafas lalu melirik kesal ke arah Nathan. Iya, memang tadi dia membatalkan semua barang yang sudah ia ambil, dia sangat malas karena kehilangan banyak energi untuk membawa belanjaannya sendiri.


" Nathan, apa mulut mu akan menjadi bisu kalau tidak menghina ku sehati saja? " Tanya Ivi sebal.


" Tidak tahu sih, tapi saat bisa menghina mu, aku merasa sangat bahagia. Membuat bahagia suami mu adalah kewajiban mu loh. " Nathan tersenyum tapi dengan jelas kalau senyum itu sama sekali tidak ikhlas.


" Nathan, apa kau menikahi ku hanya untuk bersenang-senang saja? atau karena kau hanya ingin menghindar dari perjodohan dengan Nona Salia? "


Tadinya Nathan ingin sekali menjawab iya, tapi saat melihat manik mata Ivi yang terlihat begitu serius, dia menjadi kehilangan seleranya untuk mengerjai Ivi. Dia merasa ada luka dalam dari tatapan Ivi yang seperti itu.


" Kala aku bilang aku menyukai mu, apa kau akan percaya? "


Ovi terdiam sembari menatap manik mata Nathan. Dia memang tidak memiliki pengalaman dalam hubungan asmara, tapi tatapan Nathan terkihat sangat jujur dan yakin. Akhirnya Ivi bisa tersenyum dengan begitu manis.


" Jadi, kau sudah mengakui kan kalau wajah ku ini sangat cantik, manis, lucu dan menggemaskan se angkasa raya. "


Nathan menghela nafasnya. Lagi-lagi narsis. Padahal dia berpikir, hanya dia orang yang suka narsis. Tapi sepertinya Tuhan memberikan pasangan hidup yang lebih narsis dari pada dirinya. Tapi baguslah, melihat Ivi tersenyum bangga saat mengagumi dirinya sendiri seperti ini juga cukup menyenangkan.


" Berhentilah narsis! dasar tukang ayam! "


Ivi menjebik kan lalu mencubit pipi Nathan. " Aw! " Pekik Nathan.


" Sekarang aku bukan tukang ayam lagi. Sekarang aku adalah istrimu. Kau dengar? aku adalah istrimu! " Ivi berteriak di telinga Nathan dengan begitu lantang. Jujur saja Nathan merasa senang mendengar ucapan Ivi, tapi dia tetaplah Nathan yang akan sok jual mahal padahal sangat murah.


" Kau pikir aku tuli ya? berhentilah menyebut mu istriku. Aneh sekali. Hanya seorang istri apa istimewanya. " Gumam Nathan yang sengaja dengan nada suara lantang agar Ivi mendengarnya.


Ivi tentu saja terperangah kesal.


" Kau menyesal menikah dengan ku? dengar ya Nathan, kau kan sudah memperkosa ku, mau tidak mau kau harus bertanggung jawab atas diriku. Kau tidak boleh meremehkan status istri. Memang benar, aku menikah dengan mu karena cuan. Tapi kita tidak boleh mempermainkan pernikahan. "


Sekarang Nathan yang terperangah sebal. Lagi-lagi mendengar kultum aneh dari gadis kecil yang dia sendiri pasti tidak tahu apa yang dia katakan.


" Dengar ya, aku tidak mempermainkan pernikahan. Tapi kau yang memeprmainkan nya. "


" Aku? " Tanya Ivi bingung.


" Kapan aku mempermainkan pernikahan? dimana aku melakukanya? kau tidak boleh fitnah ya? meskipun fitnah membawa berkah, aku tidak rela kau melakukan itu padaku. "


Sejak kapan fitnah membawa berkah?


Lagi-lagi Nathan harus menghela nafas dalam-dalam. Sesuai dengan dugaan. Ivi sama sekali tidak paham dengan apa yang dia ucapkan tadi.


" Jadi kau tidak tahu? "


" Dengar, satu bukan pernikahan kita, tapi kita hanya melakukanya hanya satu kali. Jika pernikahan sungguhan, mana mungkin akan seperti ini. "


Ivi menelan salivanya. Ah, Sialan! ini memang benar sih, tapi kenapa harus dilimpahkan padanya kesalahan itu.


" I itukan karena, "


" Karena apa? "


" Ka karena kau tidak berusaha merayuku. " Ivi langsung menoleh ke arah berlawanan karena merasa malu.


Nathan menyeringai laku meraih dagu Ivi dan membuat tatapan mereka kembali bertemu.


" Aku akan berusaha sebaik mungkin nanti malam. "


Hah?! ya ampun! malu sekali membayangkan itu. Bisa tidak sih, kalau membuat anak tidak perlu telanjang?


" Nanti malam? "


" Kenapa? kau mau beralasan lagi? kalau kau menolak, itu adalah bukti kalau kau lah yang mempermainkan pernikahan. "


" Tidak kok! siapa takut! kapan pun aku siap! " Ucap Ivi lantang.


Sialan! mulut ku kenapa kehilangan kontrol sih? padahal aku berniat untuk berpura-pura menolak dulu. Kalau sudah begini, mana bisa aku menarik kata-kata ku lagi?


" Ingat ya? kau sudah janji. Pokonya, mulai sekarang, kita harus sering melakukan perkembangbiakan. "


Ivi menghela nafasnya. Sudah tidak bisa lagi ia beralasan. Lagi pula Nathan adalah suaminya. Sejenak Ivi kembali mengingat kata-kata Salia dan Ibunya tadi.


" Nathan? "


" Em? " Panggil Nathan yang baru akan mulai melajukan mobilnya.


" Apakah saat kau mengetahui identitas ku yang tidak sesuai harapan, apa kau akan langsung menceraikan aku? "


Nathan sontak menatap Ivi kesal.


" Kita baru saja berencana untuk membuat anak nanti malam. Sekarang kau mengatakan omong kosong ini apa maksudnya? apa kau berniat beralasan lagi? "


" Tidak. Aku serius. "


Nathan mengurung kan niatnya yang baru akan melajukan mobil.


" Jika Ayah dan Ibu ku setuju, bagaimana mungkin aku akan menolak. Lagi pula yang penting bagiku adalah kau yang sekarang. Semua orang memiliki masa lalu. Aku tidak terlalu memikirkan itu. "


Ivi tersenyum lalu reflek memeluk Nathan.


" Oh ya ampun, ternyata kau adalah pria kaya yang bodoh ya? "


Baru saja Nathan merasa bahagia karena mendapat pelukan, tapi sekarang sudah mendapat makian.


" Apa maksud mu? "


" Kau bodoh karena menjadikan gadis miskin dan menyebalkan sepertiku. menjadi istrimu. Kau bahkan siap menerima ku apa adanya. Semoga pria bodoh seperti mu banyak di dunia ini. Agar gadis miskin sepertiku akan mendapatkan nasib yang baik. "


To Be Continued.