
" Apa yang kalian lakukan?! " Bentak Rina yang merasa kesal melihat Tritan dan Vanya saling berpegangan tangan.
Vanya mendesah sebal. Lagi-lagi si nenek lampir. Biang mood buruk. Vanya menghempaskan tangan Tristan.
" Tanyakan saja pada suamimu ini... " Ujar Vanya sembari melengos.
Rina berjalan mendekati Vanya dan Tristan. " Kau adalah bintang kesialan bagi keluargaku. Kenapa kau ada disini? kau kan sudah mengambil sumpah, kau sendiri yang tidak mau menjadi bagian keluarga dirgantara kan?
" Hentikan. Kita sedang berada di keramaian. Meski nada suaramu lirih, tapi semakin lama, kau akan memancing perhatian. " Tristan mengingatkan Istrinya, agar berhenti membuat ulah.
Rina terdiam sesaat, dia menarik paksa tangan Vanya hingga sampai diruang keluarga.
" Kau gila ya?! " Tanya Vanya kesal sembari menarik tangannya kuat agar lepas dari cengkraman Rina.
" Kau yang gila! " Rina menatap Vanya kesal.
Vanya memegangi pergelangan tangannya yang lumayan terasa sakit. " Berarti, kau dan aku sama-sama gila.
" Kenapa kau ada disini bintang kesialan?! " Tanya Rina yang sudah tidak bisa lagi menahan kekesalannya.
Vanya mengepalkan tangannya kuat. " Bintang kesilan?
kau pikir kau pantas mengatakan itu padaku? " Vanya menatap Rina dengan tatapan yang begitu marah.
" Iya. Itu julukan yang Ayah berikan padamu.
Tua bangka itu. Apa tidak cukup menyakitiku dan Ibuku? heh.....? wanita gila ini membuatku muak. Aku benar-benat sangat muak.
Vanya menyunggingkan senyum dingin. " Kau pikir kau siapa? kau pikir aku tidak tahu yang sebenarnya? kalian mengataiku bintang kesialan? Cih! aku justru merasa sial. Karena kalian semua, aku kehilangan Ibuku. " Vanya menatap Rina tajam seolah siap mencabik-cabiknya.
Rina menelan ludahnya sendiri. Meski terselip rasa gugup, ia dengan pandai mampu menguasai dirinya. " Kau kehilangan Ibumu karena, kau adalah bintang kesialan!
Plak.......! Vanya menampar pipi Rina sekuat tenaga. Rina memegangi pipinya yang terasa perih hingga ia meringis kesakitan. Nampak setitik darah menghiasi sisi bibirnya.
" Ibu........ " Panggil seorang gadis kecil sembari menangis. Dia berlari menghampiri Rina dan langsung memeluk kedua kakinya.
" Kenapa Bibi memukul Ibuku? Bibi orang jahat! aku benci Bibi jahat ini. " Ucap gadis kecil yang saat ini sedang meringkuh ketakutan.
Vanya menjadi gemetar seluruh tubuhnya. Khilaf? iya tentu saja. Siapa memang yang tidak akan sakit hati jika disebut bintang kesialan.
Rasanya, ingin sekali Vanya memeluk gadis kecil itu dan meminta maaf. Tapi Rina sudah mendahuluinya. " Shean, pergilah. Temui Ayahmu.
" Tidak mau! kalau aku pergi, Bibi jahat ini akan memukul Ibu lagi. " Rengek Shean yang merasa ingin melindungi Ibunya.
Shean, maaf.... Bibi tidak sengaja. Maafkan Bibi.
" Ada apa ini?
Vanya membeku mendengar suara yang sudah lama tak ia dengar. Langkah sepatu yang semakin dekat, kini melintasi punggungnya.
" Ada apa sayang? " Tanyanya sembari berjongkok mengimbangi tinggi tubuh Shean.
" Ada Bibi jahat yang memukul Ibu. " Jawab Shean sembari menunjuk Vanya yang masih diam membeku.
" Vanya?
Aku pikir, aku akan merindukanmu Ayah. Tapi, kau masih saja membuatku membencimu setelah sekian lama.
" Kau disini?
" Seperti yang anda lihat. " Ujar Vanya dengan tatapan dingin.
Ayah mengepalkan tangan menahan segala gejolak dihatinya. Ada perasaan rindu yang membendung hatinya. Tapi, saat melihat sisi bibir Rina berdarah, dia juga tidak bisa mengontrol dirinya.
" Kau baru datang, dan kau sudah membuat masalah. " Ujar Ayah menatap Vanya dengan tatapan yang sulit diartikan.
" Lebih tepatnya, putri anda yang memulainya terlebih dahulu. " Masih dengan tatapan dingin.
Cucu satu-satunya? iya. Aku bukan lagi anaknya. Mana mungkin, dia akan mengakui anakku.
" Apa yang kau katakan?! " Sahut Ibu tiri yang tak sengaja mendengar ucapan Suaminya itu.
" Aku hanya mengingatkan Vanya. Tidak baik melakukan kekerasan dihadapan anak-anak.
" Bukan itu maksut ku. " Ibu tiri menatap Ayah tajam.
Ayah mengerutkan dahinya bingung. Ia kembali mencerna ucapannya tadi. Mungkinkah ada yang salah?
" Kenapa kau mengatakan, kalau Shean adalah cucumu satu-satunya?
" Apa? " Ayah menatap Vanya yang diam tak merespon.
" Apa kau lupa? Vanya juga memiliki seorang anak?
Duar..........!
Ayah menatap Vanya sendu. Benar, iya pikir, Vanya hanya mengada-ada. Dia sama sekali belum mempercayai fakta itu. Vanya, adalah putri yang bisa menjaga dirinya dengan baik. Sebab itulah, Ayah tidak mempercayai kehamilan Vanya hingga saat ini.
" Vanya, " Ayah menatap Vanya dengan tatapan yang penuh rindu dan rasa bersalah. " Vanya, maafkan Ayah...
Vanya tersenyum. " Maaf, yang anda ucapkan memang tidak salah. Aku bukan lagi anakmu sejak lima tahun lalu. Jadi putraku, bukanlah cucumu. Dia, adalah anakku. Anak, dari seorang Vanya Braghiel.
Ayah semakin tak kuasa menahan air matanya. Rindu, sangat rindu. Ia paham, bagaimana ia memperlakukan anak bungsunya itu sedari lahir. Dia sadar, tidak pernah memberikan apa yang putri bungsunya inginkan.
Vanya, jika saja. Jika saja waktu bisa diputar, Ayah tidak akan pernah meninggalkan kalian. Ayah tidak akan menyakitimu dan Ibumu. Ayah hanya ingin menebus semua kesalahan yang pernah Ayah lakukan di masa lalu. Ayah mendidik mu dengan keras, karena Ayah ingin membuatmu menjadi pribadi yang tangguh dan mampu memimpin perusahaan. Tapi ternyata, cara Ayah ini, justru membuatmu semakin jauh dari Ayah. Kau bahkan mengganti nama belakangmu dan menggantinya dengan nama Ibumu. Apakah Ayah sudah tidak termaafkan?
Ayah terjatuh sembari memegangi dadanya yang terasa sakit.
" Ayah...! " Teriak Rina dan Ibu tiri.
" Rina, baringkan Ayahmu disana. " Ibu tiri menunjuk sebuah sofa dengan tatapannya.
Setelah membaringkan Ayah, Ibu memanggil seorang dokter yang untungnya juga menghadiri pesta ulang tahun Ayah.
Vanya beranjak dari ruangan itu setelah mendengar, bahwa Ayah baik-baik saja. Dan itu, hanya karena dia syok.
Vanya terus berjalan dengan pikiran yang tidak menentu. Hingga sampailah di sebuah taman. Taman dihalaman rumah megah milik Orang tuanya. Taman yang dulu menjadi saksi kebahagiaannya bersama sang Ibu tercinta.
" Bu, aku merindukanmu. " Vanya tersenyum sembari menatap langit yang dipenuhi bintang-bintang.
" Kau puas?! " Tanya dengan nada tinggi dari balik punggungnya.
Vanya kembali mendesah sebal. Iya, siapa lagi? kalau bukan Rina si biang kampret itu.
" Kau, benar-benar cocok disebut bintang kesialan. Baru saja, Ayah berada di sampingmu. Sekarang? dia tiba-tiba sakit. " Rina menatap kesal sembari tersenyum jahat.
" Vanya, aku sarankan, Carilah ayah kandung dari anak haram mu itu. Biarkan dia yang mengurusnya. Aku takut dia kan terkena dampak sial darimu.
" Dan kau! menjauhlah! atau kau juga akan terkena sial. Mungkin saja, suamimu sudah menyiapkan surat cerai untukmu.
Rina menatap Vanya kesal. Dia lebih memilih pergi dari pada terus berbicara dengan Vanya yang tidak ada hentinya.
Cih! lihat saja. Suatu hari, Kau akan tahu, bagaimana rasanya menahan luka sedari kecil.
" Vanya, " Satu lagi sosok yang begitu Familiar.
Vanya membalikkan tubuhnya menatap ke arah sumber suara. Dia hanya bisa menelan ludahnya sendiri mendapati sosok yang saat ini sedang mengisi ruang hatinya. " Nath?
Nath tersenyum dan memeluk Vanya. " Vanya, maaf... tapi, aku tidak sengaja mendengar semuanya.
Semuanya? sekarang dia tahu kalau aku punya anak?
To Be Continued.