
" Hu hu hu.... ini sakit sekali loh. "Rintih Ivi sembari memegangi pipinya.
Nathan mendesah sebal setelah kembali ke teras belakang. Dia membawa kotak P3K untuk mengobati luka Ivi. Dia juga membawa sekantung kecil es batu untuk mengompres pipi Ivi yang merah dan sedikit membengkak. Tanpa bicara, Nathan mulai mengobati Ivi dan membantunya untuk mengompres pipi Ivi. Vanya hanya bisa tersenyum bahagia melihatnya.
Ternyata ada bagusnya juga Ivi di tampar. Aku jadi bisa melihat anak ku yang kaku itu menjadi perhatian.
Setelah selesai, Nathan kembali ke dalam untuk mengembalikan kotak pertolongan pertama pada kecelakaan ke tempat asalnya. Tinggallah Vanya dan Ivi yang berada disana.
" Tadi itu, akting mu hebat sekali ya? " Ujar Vanya sembari tersenyum.
" Ibu tahu? " Tanya Ivi kaget.
" Tentu saja. "
Ivi tersenyum canggung. Wajahnya juga menjadi pucat karena takut jika Ibu mertuanya akan menjadi marah karena ulahnya.
" I Ibu, maaf. Aku sudah melakukan hal yang memalukan. "
Vanya tersenyum lalu menepuk bahu Ivi pelan.
" Ibu tahu. Kau tidak akan mengatakan semua itu kalau tidak memiliki alasan. Ivi, Ibu memang tidak tahu masa lalu mu karena kami memutuskan untuk tidak mencari tahu. Bagi kami, yang paling penting adalah dirimu saat ini. Lagi pula, Ibu yakin kalau kau adalah gadis yang baik. Tapi, jika kau membutuhkan bantuan atau membutuhkan teman bicara maupun berbagi duka, jangan ragu untuk menemui Ibu. "
Ivi mengangguk dengan bibir tersenyum, tapi matanya berkaca-kaca karena hatinya begitu tersentuh oleh ucapan Ibu mertuanya. Ivi berpikir, Ibunya adalah Ibu yang paling baik sedunia meskipun sangat cerewet dan pemarah. Tapi ternyata, wanita baik hati seperti Ibu mertuanya juga nyata.
" Kenapa kau menangis? " Tanya Vanya seraya berjalan mendekati Ivi yang tengah menyeka air matanya.
" Aku benar-benar bahagia, Ibu. Aku pikir, aku akan menghadapi Ibu mertua yang galak setiap hari. Tapi ternyata, Ibu sangat baik dan pengertian. " Ivi memeluk tubuh Vanya. Entah akan beraksi seperti apa Ibu mertuanya, Ivi sama sekali tida perduli. Baginya, meluapkan rasa bahagia adalah hal yang biasa ia lakukan. Meski pun menyimpan luka yang amat dalam adalah hal yang sudah biasa bagi dirinya.
Vanya menyambut pelukan Ivi dengan hangat. Vanya sama sekali tidak tega ketika melihat seorang anak bersedih. Vanya tentu sangat tahu bagaimana rasanya hidup tanpa Ibu. Dan setelah memiliki anak, dia berjanji kepada dirinya sendiri, dia tidak akan membiarkan anak dan menantu nya nanti kekurangan kasih sayang seorang Ibu.
" Ivi, Ibu juga pernah mengalami kejadian yang menyakitkan. Tapi kau sama seperti Ibu. Kau pandai dalam menyimpan luka mu dan sulit menyimpan rasa bahagia. Kau benar-benar mirip dengan Ibu. Hanya saja, "
Ivi mengubah posisi nya menatap manik mata Ibu mertuanya.
" Hanya apa bu? "
Vanya tersenyum.
" Hanya saja, Ibu lebih frontal dalam urusan ranjang. "
Blush......!
Seperti inilah Ibu mertuanya. Sangat suka mengait kan hal dengan urusan ranjang. Padahal, suasana hati Ivi sedang jauh ke arah itu.
Tak jauh dari mereka. Nathan dan Nath tersenyum melihat Ivi dan Vanya yang sedang berpelukan. Vanya memang begitu penuh kasih sayang. Bahkan sama sekali tidak ada rasa canggung saat memperlakukan Ivi seperti putrinya sendiri.
***
" Selamat malam? " Sapa Nathalie dan Nathania karena mereka baru saja sampai ke kediaman utama Chloe.
" Wah, cucu Nenek sudah sampai? " Nathalie dan Nathania memeluk Nenek dan Kakek bergantian.
" Selamat ulang tahun, Nenek. " Ucap Nathania.
" Selamat bertambah tua, Nenek. " Ucap Nathalie yang langsung di tanggapi sebal oleh Nyonya besar Chloe.
" Kalian benar-benar mengesampingkan Nenek ya? " Ucap Nenek dengan wajah sebalnya.
" Maaf Nenek, kami kan harus membeli hadiah dulu. " Ucap Nathalie dan Nathania.
" Nenek, Ayah, Ibu, kakak pertama, kakak kedua dan kakak ipar ada dimana? "
Nenek menghela nafas sebalnya.
" Kakak mu dan wanita itu ada di taman. Ibu mu juga. Kalau anak gelandangan itu tidak tahu dimana. (Sammy ) Sepertinya Ayah mu bersama dengan anak itu. "
Nathalie dan Nathania terdiam dengan tatapan kecewa. Beginilah Nenek. Dia sama sekali tidak pernah berubah. Dia selalu membenci seseorang dan melampiaskan nya setiap saat. Walau bagaimanapun, Sammy adalah kakak nya juga meski bukan Ibunya yang melahirkannya. Sammy bahkan lebih berperan sebagai kakak dibanding Nathan yang suka sekali bermain licik dan mengadu domba. Tapi tidak tahu apa yang dipikirkan neneknya sampai dia sama sekali tidak menyukai Sammy.
" Kalau begitu, kami akan menemui Ibu. " Pinta Nathalie.
" Tidak boleh! ini kan ulang tahun Nenek. Kalau kalian juga pergi ke teras belakang, bagaimana dengan acara ini?" Tolak Nenek.
Nathalie dan Nathania hanya bisa menghela nafas lalu diam dan mengikuti apa hang di inginkan Neneknya.
" Kau adalah gadis yang datang ke rumah waktu itu kan? " Tanya Nathania.
Salia mencoba tersenyum sebaik mungkin.
" Iya, apa kabar Nona? "
" Baik. " Jawab Nathania lalu mengambil posisi duduk bersamaan dengan Nathalie.
" Bagaimana dengan Salia? dia adalah gadis yang cantik dan berpendidikan. Nenek benar-benar menyukainya. " Ucap Nenek menyanjung Salia dengan senagaja.
Nathania dan Nathalie tentu tahu apa yang Nenek maksud sebenarnya. Nathania memilih tersenyum lalu diam karena malas. Tapi berbeda sekali dengan Nathalie, gadis itu kalau tidak menyukai orang akan langsung mengungkapkan di hadapan orang nya.
" Apa kami kalah cantik Nek? " Tanya Nathalie kepada Neneknya.
" Tentu saja kalian adalah cucuku yang paling cantik. Bahkan Nenek sudah menerima banyak pinangan dari putra para pembisnis besar. "
" Terimakasih, Nenek. Setidaknya, kecantikan kami ini belum memiliki saingan di hati Nenek. "
" Tapi Nenek bilang, Nenek kan menyukai Nona Salia. " Kilah Nathania yang tahu benar jika saudara kembarnya butuh provokasi.
" Iya, kalau Nenek suka kan tinggal angkat saja sebagai cucu. " Ujar Nathalie.
" Nenek berniat menikahkan Salia dengan Nathan. "
Nathalie tersenyum.
" Nenek, kakak pertama sudah menikah. Kalau Nenek ingin menjadikan Nona Salia cucu menantu, masih ada kakak Sammy. Tapi sepertinya tidak mungkin. Kakak Sammy sangat menyukai Kakak Berly. "
" Gadis tidak jelas itu akan dikembalikan ke tempatnya. " Jawab Nenek yang sukses membuat Nathalie dan Nathania geram.
" Nenek, kakak pertama tidak menyukai Nona lemah lembut seperti dia. " Tunjung Nathalie dengan tatapannya. Lemah lembut? cuih! lalat saja tidak mungkin percaya ucapan ku barusan.
" Salia adalah gadis yang paling pantas untuk Nathan. "
" Nenek, apa Nenek tidak mengenal kakak? Nenek ingat sudah berapa gadis yang Nenek suguhkan? menghabiskan satu menit bersama gadis pilihan Nenek, Ibu, Kakek Rudi, teman-teman kami, semuanya tidak bisa membuat kakak merasa betah. Tapi saat bersama Ivi, kakak bahkan lupa kalau sudah berjam-jam bersamanya. "
" Berjalannya waktu, Nathan pasti akan terbiasa. " Ucap lagi Nenek.
" Oh, Nenek. Nenek mana boleh menikahkan suami ku satu-satunya ini? padahal kami sudah bekerja keras membuat anak, siang dan malam loh. " Ucap Ivi yang baru saja tiba bersama Nathan, Vanya, Nath, dan Sammy.
To Be Continued.