Touch Me!

Touch Me!
Devi VS Lexi



Lexi terus saja menggerutu kesal, bagaimana tidak? lagi-lagi si Presdirnya kabur entah kemana. Tidak memberinya kabar, malah meninggalkan kebingungan untuknya. Jadilah dia harus mengurus semua pekerjaannya. Padahal ini hari pertamanya masuk kerja setelah menikah, dan apa yang di dapat? pekerjaan hari kemarin yang masih menumpuk, apalagi tadi pagi dia harus mengambil keputusan sendiri saat rapat, sebenarnya dia ini kerja atau dikerjai sih?


Lexi kembali menghela nafasnya. " Dasar sialan! mana yang harus aku kerjakan terlebih dulu? kenapa sangat banyak?! ini apalagi sih? kenapa laporan-laporan ini seperti sampah? cara menulis mereka benar-benar seperti bocah TK. "


Brak...


Devi meletakkan tumpukan dokumen di mejanya dengan kasar, matanya tajam menatap Lexi yang kini berstatus suaminya.


" Apa? kenapa menatapku begitu? aku tahu aku sangat tampan, tidak perlu mengatakannya kok. " Ujar Lexi.


" Tampan kepalamu pitak! apa kau tidak bisa menghentikan mulutmu? otakku sudah sangat sibuk dengan pekerjaan ini, jangan membuat kupingku ikut sibuk! " Protes Devi yang sedari tadi tidak bisa konsentrasi karena mendengar mulut Lexi yang terus menggerutu.


" Kau! kau lupa ya? aku adalah atasanmu! " Lexi menatap Devi tak kalah tajam. Seenaknya saja memakinya batin Lexi.


" Kau juga lupa? kalau aku adalah istrimu! " Devi tak mau kalah, iya namanya juga Devi.


Lexi terperangah mendengar ucapan Devi yang mengingatkan tentang statusnya seolah-olah lebih tinggi darinya.


" Memang kenapa kalau kau istriku?! " Protes Lexi yang masih tak mau kalah.


" Dimana-mana, suami itu harus banyak mengalah demi istri. " Ujar Devi.


" Diam! " Bentak Lexi.


" Kau juga diam! " Devi.


" Kau yang mulai duluan! " Lexi.


" Itu karena mulutmu yang tidak ada remnya! " Bantah Devi.


Merasa tak bisa menyaingi Devi dari segi Verbal, Lexi yang kesal mengambil selembar kertas lalu meremasnya dan membuatnya menjadi bulatan lalu melemparkannya ke wajah Devi. Tentu saja, Devi yang somplak otaknya tidak mau mengalah, Dia juga melakukan hal yang sama, ini terjadi terus menerus hingga banyak sekali kertas diruangan mereka.


" Kau masih tidak mau berhenti?! " Tanya Devi seraya berjalan dan berdiri tepat dihadapan Lexi.


" Kenapa?! kau mau meminta maaf? " Tanya Lexi dengan tatapan mengejek.


" Maaf?! sampai lebaran monyet pun aku tidak sudi meminta maaf! " Devi semakin kesal dibuatnya.


Lexi bangkit dari posisinya dan berdiri berhadapan dengan Devi. Lexi yang sulit menahan kekesalannya hanya bisa menatap tajam penuh marah, dia hanya memilih untuk meninju angin dicela tubuh mereka berhadapan. Devi berdecih dengan tatapan mengejek.


" Kenapa kau hanya memukul angin? kau takut padaku? "


Lexi meremas-remas kedua jemarinya karena kesal.


" Aku sama sekali tidak takut padamu! "


Devi kembali tersenyum mengejek. Rasanya memang tidak puas kalau tidak main pukul ya? Devi kembali mengingat, sudah berapa lama dia tidak memukul orang. Yah, sepertinya lumayan lama juga.


" Benarkah? " Dengan tatapan tajam yang dihiasi senyum itu, Devi memajukan langkahnya, Lexi yang merasa sedikit gugup justru memundurkan langkahnya Hingga beberapa langkah dan hampir membentur tembok. Merasa terpojok, Lexi kembali melayangkan ancaman untuk Devi.


" Jangan mendekat! atau aku akan berbuat kasar! " Ancam Lexi dengan berani meski ia begitu gugup.


" Ayo lakukan! aku ingin lihat, seberapa kasar kau akan bertindak? " Ucap Devi yang masih terus memajukan langkahnya.


" Berhenti! " Pinta Lexi.


" Tidak akan! "


Dengan segenap keberanian, Lexi mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Bukan untuk memukul, tapi dia lebih memilih untuk sedikit menarik rambut Devi yang tergerai hari ini.


" Lepas! " Titah Devi dengan wajah mengancamnya.


Devi tersenyum sinis, dengan cekatan dia juga menarik rambut Lexi. Mereka cukup lama dengan adegan tarik menarik rambut hingga mereka saling terpental dan menjauh.


" Dasar gila! " Lexi memaki sembari memegangi kepalanya yang benar-benar terasa sakit. Padahal, dia kan hanya sedikit menarik rambutnya, kenapa dia begitu bersemangat menggunakan seluruh tenaga untuk membalas? gerutu Lexi di dalam hati.


" Kau yang gila! kenapa kau melakukan kekerasan dalam rumah tangga?! " Kilah Devi yang tak kalah tajam tatapan matanya.


" Apa?! " Lexi hanya diam terperangah mendengar ucapan Devi. Bukanya dia yang memintanya tadi? batinnya.


" Aku hanya sedikit memberi tekanan pada tanganku, dan kau yang begitu bersemangat menarik rambutku. Menurutmu, siapa yang melakukan kekerasan dalam rumah tangga?! huh?! "


Devi hendak membalas ucapan Lexi, tapi mulutnya seketika terkunci dengan bibir yang terbuka lebar. Lexi yang melihat ekspresi Devi justru tersenyum miring. Dia pikir, Devi tidak bisa lagi bicara karena merasa bersalah.


" Baiklah mulut kubangan, kita jangan bertengkar lagi. Cium tanganku dan aku akan memaafkan mu. " Ujar Lexi sembari menyodorkan tangan kanannya.


Devi menatap Lexi dan langsung menepak tangan Lexi dengan kuat.


" Aw! " Pekik Lexi sembari mengusap punggung tangannya yang terasa panas karena ulah Devi.


" Kau sialan! aku akan membuatmu di pecat! " Ancam Lexi.


" Iya, benar. Sepertinya kita yang akan dipecat. " Jawab Devi dengan wajah kaget.


" Apa maksudmu? " Tanya Lexi bingung.


" Matamu tidak buta kan? lihat ke lantai! " Lexi mengikuti ucapan Devi dan melihat ke lantai. Dia menarik nafas dengan mata yang membulat sempurna, Dia juga menutup mulutnya yang terbuka menggunakan telapak tangannya.


Asik mengikuti amarah mereka hingga tak sadar dengan apa yang mereka lakukan. Dokumen yang harus segera di kerjakan ternyata mereka buat bola kertas untuk melempari satu sama lain.


" Ba bagaimana ini? " Lexi berjongkok dan memunguti tiap bola kertas dan membukanya, menepuk-nepuk lalu mengusapnya agar tak lecek. Tapi bagaimana lagi? mana mungkin kertas yang sudah lecek itu bisa kembali sempurna?


" Apa kita harus mengundurkan diri dari sekarang? " Tanya Devi yang ikut berjongkok dan memunguti bola kertas yang berceceran di lantai.


" Kau pikir itu akan menyelesaikan masalah? " Tanya Leci yang kini terlihat frustasi.


Devi menghela nafasnya. " Ayo kita salin dan langsung kita cek, dengan begitu kita tidak akan bekerja dua kali. "


Lexi mengangguk dan dengan cepat mereka memunguti bola-bola kertas itu.


Hingga jam makan siang sudah terlewat, Devi dan Lexi masih saja sibuk dengan pekerjaan mereka. Tak tahan dengan rasa lapar yang mengganggu konsentrasinya, Devi memutuskan untuk memesan makanan melalui aplikasi.


" Kau mau makan? " Tanya Devi yang sebenarnya juga merasa bersalah.


" Mau. " Jawab Lexi yang masih sibuk mengetik di laptopnya.


" Ok.


Setelah satu jam, makanan yang Devi pesan akhirnya datang. Dia sudah mengatakan kepada Lexi untuk berhenti sejenak agar bisa memakan makanannya, tapi pria itu benar-benar tidak menghiraukannya, dia hanya mengangguk tapi tak kunjung beranjak. Devi meliriknya saat akan menyuap nasi ke mulutnya. Dia menjadi tak tega melihat pria yang sekarang menjadi suaminya itu sampai tak memiliki waktu untuk makan. Dia berjalan sembari menarik kursi dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya memegang makanannya. Lexi yang terlalu fokus dengan pekerjaannya tak menghiraukan apa yang sedang Devi lakukan.


" Buku mulutmu! " Pinta Devi sembari menyodorkan sesendok nasi kepada Lexi.


Lexi tersentak dan langsung menatap Devi bingung.


Kenapa dia? kenapa tiba-tiba perhatian? kenapa juga dia terlihat manis saat begini?


Lexi membuka mulutnya dan menerima suapan itu, yah meski ada perasaan gugup dan ragu-ragu. Lexi melirik setelahnya, dan betapa kaget dia saat Devi menyendok makanan untuknya sendiri dari piring dan sendok yang sama dengannya tadi.


To Be Continued.