Touch Me!

Touch Me!
Pijat?



Vanya membaringkan tubuhnya di atas ranjang tidurnya. Dia menggeliat kesana kemari membuang lelah sembari meregangkan seluruh otot di tubuhnya.


Nath tersenyum menatapnya. Semakin lama, Vanya semakin terbiasa dengan adanya Nath. Jarang sekali Nath melihat Vanya yamg selalu gugup seperti dulu.


" Sayang, apa perlu pijatan? " Tanya Nath seraya berjalan mendekat.


Pijat? ya ampun,....


Vanya terdiam. Pikirannya tiba-tiba mengembara mendengar kata-kata pijat.


Kalau yang memijat pria tampan sepertimu, mana mungkin aku tidak mau. Tapi, alangkah lebih bagus lagi, kalau memijat tanpa menggunakan baju kan?


Vanya sedang membayangkan tubuh Nath yang tergolong sempurna. Bidang dan dipenuhi otot-otot sixpack. Lagi, Vanya menelan salivanya sendiri. Ini baru saja membayangkan, tapi rasanya sudah sangat menggiurkan.


" Posisikan dirimu. " Ucap Nath yang membuyarkan segala lamunan tentang otot.


" Posisi? " Vanya bertanya sembari menatap Nath. Dia yang masih belum begitu menyadari maksut Nath, hanya bisa kebingungan sendiri. Lagi-lagi, otak mesum itu berpikir lebih cepat dan mengalahkan akal sehat.


Posisi ya? kenapa aku tiba-tiba teringat waktu itu? apa dia memintaku untuk berada di atas?


" Kenapa kau melamun? " Nath menyentuh wajah Vanya dan mengusap ya penuh kasih.


Ya Tuhan.... aku benar-benar tidak tahan. Rasanya aku ingin segera memakan wanita ini. Sayang sekali dia terlihat lelah. Tapi, tongkat ajaibku sudah meronta-ronta ingin memasuki rumahnya.


Nath terlihat sedikit berbeda. Dia seperti sedang menahan sesuatu. Itu yang Vanya pahami dari wajah Nath.


Vanya mengerutkan dahinya, lalu menempelkan punggung tangannya di kening Nath. Kemudian berpindah ke pipi kanan dan kiri.


" Apa kau baik-baik saja? kau nampak tidak nyaman.


Nath menatap Vanya lekat. Sungguh, dia sudah menahan diri selama dua hari pernikahannya. Mulai dari Vanya yang datang bulan, dan sekarang Vanya yang nampak lelah. Harus bagaimana? apa ini waktunya egois dan memikirkan tongkat ajaibnya?


" Wajahmu semakin memerah, apa kau baik-baik saja? " Tanya Vanya yang mulai khawatir. Bagaimana tidak? saat ia memeriksa suhu tubuh Nath, semuanya normal. Tapi apa yang membuat wajah Nath merah seperti sedang demam ya? batinnya bertanya-tanya kebingungan.


Sialan! aku tidak tahan lagi.


Cup.... kecupan singkat itu tiba-tiba terjadi. Vanya membulatkan matanya karena ini terlalu tiba-tiba. Sedangkan Nath, dia menatap bibir Vanya dan mengusapnya menggunakan jempolnya.


Kembali, Nath membenamkan bibirnya. Bukan sebuah kecupan lagi. Tapi sebuah ciuman yang semakin dalam. Hasrat yang membutakan akal sehatnya, membawanya larut dalam adegan erotis itu. Tidak ada lagi Nath yang pengertian. Yang ada di otaknya saat ini, adalah kebutuhan tongkat ajaibnya.


Vanya mengerjapkan matanya beberapa kali. Meski ini bukan yang pertama bagi mereka melakukan itu, tapi ini adalah hari pertama bagi mereka, melakukan adegan itu dengan sadar sesadar sadarnya.


Nath semakin memperdalam ciumannya. Lidahnya sigap mengabsen setiap rongga mulut Vanya. Vanya yang tadinya dirundung keterkejutan, Kini mulai menerima dengan baik. Dia membalas ciuman Nath membuat Nath semakin dideru kehausan akan kebutuhan seksnya. Mereka terus berciuman dengan panasnya tanpa rasa canggung.


Perlahan, Nath mengedarkan ciumannya ke leher jenjang Vanya. Sedikit menggigit dan menghisap agar meninggalkan noda merah disana. Nath meraih kancing baju tidur Vanya lalu membukanya satu persatu dengan cepat. Setelah kancing berhasil terlepas semua, Nath kembali mendaratkan ciuman ke dada Vanya sembari melingkarkan tangannya untuk membuka pengait bra wanita pujaannya itu.


Nath semakin tak kuasa menahan hasratnya saat dua gundukan indah di dada Vanya terpampang nyata di hadapannya.Vanya yang mulai merasa malu, dia mencoba untuk menyilangkan tangan agar menutupi bagian dadanya yang sudah polos tak berkain. Tapi, dengan sigap Nath menahannya dan mengarahkan tangan Vanya agar melingkar di lehernya. Dia kembali mencumbui Vanya. Memberikan kenikmatan melalui kecupan serta hisapan di bagian dadanya.


" Emh.... " Suara itu lolos dari bibir Vanya tanpa ia sadari. Membuat Nath semakin bersemangat.


Nath kembali membenamkan bibirnya di bibir Vanya. Tangannya perlahan mengusap punggung Vanya. Lalu beralih ke depan perlahan yang tak lain adalah gundukan di dada Vanya yang ia incar. Nath memberikan gerakan-gerakan disana. Membuat si empunya semakin mendesah nikmat. Perlahan, Nath menurunkan tangannya. Area inti Vanya yang kini menjadi sasarannya. Dia menyelundupkan tangannya ke dalam celana tidur Vanya. Mengusap dan memberikan tusukan-tusukan kecil disana.


Setelah beberapa saat. Mereka sudah dalam keadaan yang polos tanpa busana. Nath kini tengah mengungkung tubuh wanita pujaannya itu. Dia memposisikan dirinya untuk segera memulai.


" Ah,....


Suara desahan kenikmatan terdengar begitu menggebu. Seolah nyala api yang semakin lama semakin berkobar. Tidak perduli apapun lagi. Mereka hanya fokus dengan apa yang mereka lakukan hingga fajar hampir tiba.


( Udah ya. Ngehalu tentang adegan ini tuh othor sampe panas dingin ngetiknya. Kalian bayangkan aja sesuai kadar kemesuman kalian ya.... 🤭🤭)


" Terimakasih dan maaf ya sayang? " Ucap Nath sembari menghujani pucuk kepala Vanya berkali-kali dengan ciuman.


" Ma,maaf untuk apa? " Akhirnya,.... ini adalah kata-kata pertama Vanya setelah bibirnya Vakum karena malu dengan dirinya sendiri yang terlihat begitu mendominasi beberapa saat lalu.


" Maaf karena tidak bisa menahan diri.


Kenapa minta maaf sih? kalau kau mau melakukanya lagi, aku juga tidak akan menolak.


Vanya membulatkan mata saat menyadari apa yang batinnya katakan. Benar-benar tidak tahu malu!


" Dan, terimakasih karena telah memenuhi hasrat ku meski kau begitu lelah karena pekerjaan di kantor hari ini.


Hei....! jangan meminta maaf begitu! untung saja kau tidak bisa mendengar kata hatiku. Kalau saja kau bisa mendengar, maka kau akan menggeleng keheranan. Aku bahkan tidak keberatan kalau melakukanya lagi. Hahaha.....


" Kenapa kau diam? " Tanya Nath karena tak kunjung mendapat jawaban.


Vanya semakin mengeratkan pelukannya. Untung saja, wajahnya kini berada di dada Nath. Jadi, tidak perlu malu terlihat jika wajahnya merona karena bahagia kan? Nath tidak akan mungkin bisa melihatnya. Yah, kecuali ada mata tersembunyi yang disimpan Nath di bagian dada bidangnya.


" Itu, aku tidak apa-apa.


" Benarkah?


" Hemm...


" Kalau begitu, tidurlah. Aku juga akan tidur. Kita bersiap untuk pagi Nanti. " Nath mengelus kepala Vanya.


" Kenapa kau mengingatkan ku dengan pekerjaan kantor?


Nath tersenyum. Dia meraih dagu Vanya dan mendongakkan agar manik mata mereka bertemu.


" Bukan itu sayang, aku ingin kita mengulangnya lagi saat pagi tiba.


Deg......


Vanya diam tanpa ekspresi. Hanya rona merah yang menghiasi wajahnya. Diam, dia memang diam. Tapi didalam hati, Vanya kini sedang bersorak bahagia. Entah ini disebut memalukan atau apa? yang jelas, Vanya hanya akan menikmati semua momen bersama Nath dengan bahagia. Menciptakan kenagan-kenangan indah dan tidak perlu lagi larut dalam masa lalu yang menyedihkan.


Nath, apapun itu. Aku akan bahagia bila bersama denganmu. Maka, tetaplah menjadi Nath ku yang seperti ini. Aku mencintaimu, Nath.


To Be Continued.