
Beberapa saat sebelum Nathan meninggalkan kamar mandi, Nathan tengah menatap dirinya di pantulan cermin. Benar, dia bukanlah pria penyabar yang akan perlahan-lahan menunggu perubahan jarak antara dirinya dan Ivi terkikis alami oleh takdir. Perasaan tidak sabar sungguh tidak bisa ia tahan lebih lama lagi. Ini adalah kali pertama bagi dirinya berada di satu ruangan, yaitu kamar pribadinya. Tak menampik, dari malam pertama dia sudah dipengaruhi oleh hal-hal mesum. Mencoba untuk tidak tergoda, tentu saja sulit. Ditambah lagi, dia menguping semua yang dibicarakan oleh Ibunya dan Ivi. Jiwa yang sudah berumur tiga puluh tahun itu seolah meronta dan disirami dahaganya.
Setelah dari kamar mandi, Ivi terus mengikutinya dan mengomel entah apa itu, Nathan tidak mau mendengarnya. Lama kelamaan menganggu juga rupanya. Nathan membalikkan tubuh, niat awalnya hanyalah menatap tajam Ivi agar mulut rombengnya berhenti bicara. Tapi siapa sangka, saat tatapannya tidak sengaja turun ke bagian dada, benda kembar itu tak senagaja terlihat separuh bagian atasnya. Tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi, tapi sepertinya gaun tidur Ivi melorot karena jatuh tadi. Atau mungkin juga, karena ukurannya yang kebesaran membuat bagian dadanya menjadi lebih rendah.
Bibir Ivi yang tersenyum itu benar-benar membuat Nathan gugup. Tapi saat pandangannya turun ke bawah, cepat dia kembali memiliki gairah. Perlahan dia meraih pundak Ivi. Mendekatkan tubuh mereka, perlahan tapi pasti, Nathan mulai kembali mencium bibir Ivi lembut. Tapi tidak tahu siapa yang memulai, lama kelamaan ciuman itu semakin mengganas dan menuntut. Nathan juga tidak tahu dari mana ilmu itu berasal, dia hanya mengikuti instingnya saja. Dengan beberapa kali gerakan, Nathan sudah membawa Ivi ke tempat tidur, dan menjatuhkan tubuh mereka disana tanpa melepas bibir mereka.
" Nathan? " Panggil Ivi saat bibir Nathan terlepas dari miliknya.
" Em? " Jawab Nathan yang saat ini sedang menurunkan bibirnya mengabsen leher jenjang Ivi.
" Kita hanya akan belajar kan? " Tanya Ivi yang begitu gugup. Apalagi detak jantungnya yang begitu menderu hingga kamar sunyi itu memperjelas bunyinya.
" Em... " Respon Nathan yang sebenarnya sama sekali tidak mendengarkan apa yang di ucapkan Ivi. Fokus, fokus, dan fokus dengan apa yang sedang ia lakukan. Entahlah, dia bahkan tidak pernah se fokus ini dalam mengerjakan apapun sebelumnya.
Tidak tahu juga, kata-kata Ibu mertuanya seolah meresap ke otaknya dan begitu enggan untuk menghilang.
Yang penting, kau rajin membuatnya. Itu sudah lebih dari cukup. Dan ingat, kau harus lebih liar dan ganas di atas ranjang. Oh iya, pertama-tama memang sakit. Tapi kedua, ketiga, sampai berjuta-juta kali, kau pasti akan mendesah nikmat.
Ivi menelan salivanya tanpa menyadari apa yang sedang Nathan lakukan saat ini. Dia begitu fokus mengingat ucapan Ibu mertuanya. Hingga ia tersadar jika gaun tidur nya sudah tersingkap semua ke atas.
" Na Nathan! kenapa kau seperti ini? "
Nathan yang semakin terprovokasi tubuh Ivi, terpaksa menghentikan kegiatan nya untuk sesaat.
" Kau pikir, kita bisa belajar membuat anak degan pakaian lengkap? "
Ivi menatap Nathan seolah ingin membantah, tapi Nathan yang sudah berada di puncak gairah itu tidak bisa membiarkan mulut Ivi menghalanginya. Dengan cepat dia kembali membenamkan bibir ke bibir Ivi. Sudahlah, tidak tahu benar atau salah cara berciuman nya, Nathan hanya mengikuti insting pria yang dahaga akan kebutuhan biologisnya.
Mendapat serangan seperti ini yang belum pernah ia rasakan sebelumya, tentulah Ivi memberontak. Tapi tenaga Nathan sungguh tidak bisa ia saingi. Semakin keras Ivi mencoba, Nathan justru semakin memberikan tekanan padanya. Dan pada akhirnya, Ivi mulai menerima perlakuan Nathan bahkan tanpa sadar dia mengeluh mengeluarkan suara lembut.
" Ah! " Pekik Ivi saat bagian intinya merasai sesuatu mencoba untuk memasukinya.
" Maaf. " Ucap Nathan lalu mengurangi tekanan dan kekuatan di bagian bawahnya. Dia mulai kembali dengan lembut agar Ivi maupun Nathan tidak merasakan sakit yang sama.
Nathan mulai menjatuhkan tubuh polosnya
di atas tubuh Ivi saat penyatuan mereka berhasil. Sungguh dia tahu kalau dia begitu egois karena membiarkan saja Ivi meringis menahan sakit. Tapi mau bagaimana lagi? semua kegiatan itu sudah kepalang tanggung. Lagi pula, Nathan juga merasakan sakit karena milik Ivi yang masih tersegel juga membutuhkan perjuangan untuk bisa memasukinya.
Sahut menyahut suara ******* dari se paasang anak manusia yang kini tengah melakukan penyatuan.
Bukan hanya Vanya yang ada disana, tapi ada Nath, Sammy, Nathalie dan Nathania.
" Kakak pertama! bagaimana? " Tanya Nathalie dan Nathania yang tidak ikut menguping karena sang Ayah menghalanginya. Ditambah lagi, wajah mengancam dari Ayah nya benar-benar menakutkan.
Sammy masih tak bisa berkata-kata. Sedari tadi, dia hanya sibuk menelan ludah dengan wajah yang merona. Bukan hanya Sammy yang terlihat aneh, tapi Ibunya juga bertingkah malu-malu dengan rona yang dama dengan Sammy. Sungguh, Nathania dan Nathalie sangat penasaran.
" Ayah, kita kan sudah dewasa. Menguping sebentar kan tidak apa-apa. " Protes Nathania.
" Iya, aku juga penasaran. "
Nath menatap kedua putrinya bergantian.
" Menikahlah kalau kalian begitu penasaran. " Ucap Nath.
Kedua gadis kembar itu menghela nafas sebalnya bersamaan.
" Ayah, kenapa aku harus menikah hanya karena rasa penasaran? " Protes Nathania.
" karena kegiatan seperti ini, hanya milik orang yang sudah menikah. "
" Teman-teman ku sering bercerita, katanya dia dan pacarnya, "
" Hentikan! kalian berdua tidak boleh memperdulikan hal itu. Ayah sangat mempercayai kalian, jadi tolong jangan mengecewakan kami sebagai orang tua mu. "
" Nana, sudahlah. Apa yang Ayah bicarakan adalah benar. Kita bisa menikah kalau kita begitu ingin tahu. "
Nathania menatap saudara kembarnya sendu.
" Kalau kita menikah, bukankah kita tidak bisa tinggal bersama Ayah dan ibu lagi? jika salah satu diantara kita menikah duluan, apa kau siap berpisah dengan ku? apa kau siap memiliki teman tidur mu yang lain? " Tanya Nathania yang mulai memerah matanya.
Nathalie tertunduk pilu. Iya, meskipun usia mereka sudah dua puluh empat tahun, mereka sama sekali tidak memiliki kesiapan untuk hidup terpisah.
Nath yang mendengar pembicaraan putrinya langsung memeluk kedua putrinya erat. Sungguh dia sendiri tidak berpikir sejauh itu. Dia selalu berpikir, bahwa, dia akan selalu bersama dengan anak-anaknya. Hanya dengan membayangkannya saja, cukup membuat hati Nath sakit.
" Jangan membicarakan ini lagi. Sudah cukup. " Mereka berpelukan dengan erat. Tapi lain dengan Vanya dan Sammy. Mereka berdua masih asyik mencuri dengar dari balik pintu.
To Be Continued.