
Satu bulan telah berlalu, dan jari ini adalah hari dimana Nathalie dan Nathania akan melangsungkan pernikahan di sebuah hotel berbintang lima yang terletak di tengah-tengah kota. Tidak seperti Nathan yang memilih untuk menikah secara tertutup, Nathania dan Nathalie sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk melakukannya. Bukan hanya karena desakan dari keluarga besarnya saja, tapi juga karena permintaan prang tua Keenan dan Zadet. Tentu saja asalnya Nathania dan Nathalie masih berusaha untuk tidak membuat pernikahan mereka begitu mewah. Selain untuk menghindari banyaknya orang yang tahu, mereka juga masih belum siap menghadapi pernikahan yang begitu buru-buru ini. Ditambah lagi, saat hari penentuan pernikahan, baik keluarga nya atau keluarga Keenan dan Zadet malah sudah membahas tentang cucu. Jadilah mereka berdua hanya bisa menahan lesu sendiri.
" Zadet, apa kau tidak gugup? " Tanya Keenan sembari memegangi lututnya yang gemetar.
" Aku, gugup. " Mau mengatakan tidak juga tidak mungkin. Meskipun mereka sudah bersiap dan berlatih dari jaih-jauh hari, rasanya masih saja gugup saat hari nya tiba.
" Kau, lebih baik kembalilah ke kamar mu. " Pinta Zadet yang kini duduk sembari menatap ke arah jendela.
" Zadet, aku bukanya tidak mau kembali ke kamar ku sendiri, tapi kaki ku sangat gemetar loh. " Keenan masih saja memegangi lututnya.
" Cih! " Zadet membuang wajah nya karena sebal. Dia juga ingin bertingkah seperti Keenan. Tapi dia terlu malu untuk menunjukkan bagaimana gugupnya dia saat ini. Bahkan kalau boleh jujur, dia ini jauh lebih gugup dari pada Keenan. Bayangkan saja, pacaran tidak pernah tapi dia langsung menikah. Sementara Keenan pria itu sudah terbiasa mengganti pacar dan terbiasa pula mengalami hal-hal menegangkan. Apalagi saat kedua pacarnya tidak senagaja bentrok. Jantungnya pasti sudah terlatih kan?
Satu jam kemudian, pesta pernikahan di gelar dengan meriah. Dua pasang pengantin muda kini menjadi sorotan para tamu undangan. Ribuan ucapan terimakasih juga mereka dapatkan, doa dan harapan-harapan agar mereka langgeng juga selalu terdengar di telinga mereka. Sungguh, Nathalie dan Nathania malah ingin ada yang mendoakan yang sebaliknya. Tapi sudahlah, tidak mungkin akan terjadi juga kan? Malam semakin larut, gedung juga sudah mulai sunyi karena acara pernikahan telah usai. Kini waktunya bagi dua pasang pengantin baru itu memulai hari mereka sebagai pasangan suami istri.
" Nana, apa kau masih butuh waktu lama di dalam kamar mandi? " Tanya Zadet yang kini tengah berdiri di depan pintu kamar mandi. Bukan tidak sabar untuk melakukan ritual malam pertama, sesungguhnya dia kini tengah menahan hajat yang ingin sekali dia buang. Sudah dua hari terakhir, dia sering sekali buang air kec. Yah, mungkin ini adalah efek dari rasa gugupnya karena akan segera menikah. Apalagi sekarang mereka sudah menikah, rasanya lima menit sekali Zadet ingin membuang air kecil. Tapi sudah lebih dari dua menit Nathania berada di dalam kamar mandi. Kesal tapi dia juga gugup kalau Nathania keluar dari kamar mandi. Bagaimana nantinya akan menjalani malam pertama mereka.
" Zadet, lebih baik kau tunggu saja dengan sabar. Aku masih ingin berendam sebentar lagi. " Zadet hanya bisa menghela nafasnya. Sudahlah, sepertinya dia memang harus menahan lebih lama lagi.
Tiga puluh menit kemudian. Nathania keluar dari kamar mandi lengkap dengan jubah mandi dan handuk yang melilit di kepalanya. Tadinya Nathania memang sempat merasa ragu-ragu keluar dari kamar mandi, dia merasa canggung dan bingung harus bagaimana menghadapi Zadet yang dari teman sedari kecil dan tumbuh bersama, lalu sekarang menjadi suaminya. Memang sih, ini semua terjadi karena kesepakatan berdua, tapi sungguh dia tidak bisa untuk tidak merasa canggung saat ini.
" Zadet? " Panggil Nathania sembari menggoyangkan lengan pria itu.
" Em? " jawabnya setengah sadar karena terlalu lama menunggu Nathania, dia terpaksa membuat dirinya tidur agar menghilangkan rasa ingin buang air kecilnya.
" Kau bilang tadi ingin ke kamar mandi kan? " Tanya Nathania.
" I iya. " Hah?! ya ampun! begitu dia bangun, yang di lihat adalah Nathania yang terlihat begitu menggoda dengan jubah mandinya. Bagian ujung dadanya juga samar-samar tergambar bentuknya. Melihat mata Zadet yang begitu intens menatap dadanya, Nathania sontak menutupinya dengan menyilangkan kedua lengannya.
" Dasar kau mesum! "
***
" Lili, ini kan malam pertama kita. Apa tidak bisa kita melakukan anu-anu? " Pinta Keenan dengan tatapan memohon. Tentu saja Nathalie tercengang mendengarnya. Memang sih, mereka adalah suami istri sekarang. Tapi mana bisa langsung melakukan itu? yah, meskipun dia begitu penasaran bagaimana rasanya sampai kakak iparnya bersuara aneh saat itu.
" Lili? mau ya? "
Hah?! sialan! kau ini sedang mengajakku bercinta atau sedang meminta permen sih?!
" Aku ngantuk. "
" Lili, kan aku sudah berjanji padamu kalau tidak akan ada wanita manapun setelah kita menikah. Tapi kalau kau menolak, bisa-bisa aku khilaf lalu menyergap milik tetangga bagaimana? "
" Keenan, jangan memasang wajah seperti itu! " Kesal Nathalie karena wajah Keenan benar-benar seperti bayi yang ingin meminta susu.
Baiklah, rupanya memohon dengan cara manja memang tidak membuat Nathalie merasa tersentuh. Maka hanya perlu sedikit memaksa saja. Lagi pula, selama beberapa bulan terakhir dia sama sekali tidak berhubungan dengan wanita manapun karena fokus kepada Nathalie, dan ingin menunjukkan kepada wanita yang ia cintai dari remaja itu bahwa dia bisa berubah menjadi lebih baik.
Keenan dan Nathalie terdiam sesaat di tempat tidur mereka dengan posisi duduk. Baik Nathalie atau pun Keenan, mereka kini memikirkan hal sama dengan cara yang mereka.
" Lili? " Panggil Keenan lembut. Merasa namanya di panggil, Nathalie tentu saja menoleh ke arah Keenan yang memanggil namanya.
Deg....
Sungguh Nathalie begitu kaget tapi juga anehnya tatapannya terkunci. Kini matanya juga menatap Keenan yang entah sejak kapan wajahnya begitu dekat dengannya.
" Ke kenapa kau sedekat ini? " Tanya Nathalie dan kini mencoba menjauhkan dirinya. Tapi sayang, tangan Keenan mengunci pergerakannya dan tetap saja pandangan mata mereka tak teralihkan.
" Jika kau belum siap, bisakah berikan saja ciuman untukku? "
***
" Ayah, sampai kapan Ayah akan menangis terus? " Tanya Sammy yang. merasa pegal juga menunggui Nath tengah bersedih. Iya, sebagai seorang Ayah, sebenarnya dia masih belum bisa terima putrinya di ambil orang lain. Apalagi dua anak itu adalah anak yang manja terhadapnya. Hah! membayangkan anaknya akan menjalani tugas seorang istri, rasanya dia begitu kesal dan tidak terima.
" Kalai tahu akan sekesal ini, seharusnya aku memukuli Zadet dan Keenan dulu kan? "
Bukan hanya ada Sammy, tapi juga ada Vanya, Nathan dan Ivi yang kini sudah mulai membesar perutnya. Mereka menyaksikan betapa tidak biasanya Nath. Biasanya wajah itu hanya akan terlihat dingin, tapi hari ini dia terlihat seperti bocah yang kehilangan lolipop nya.
" Sudah lah, Ayah. Tidak usah berlebihan, lagi pula mereka berdua akan sering datang kemari kan? "
" Iya. " Timpal Vanya. Wanita itu tersenyum lalu mengusap punggung suaminya.
" Ngomong-ngomong, kenapa kau juga tidak menikah? hanya tinggal kau saja yang masih saja belum laku. Gadis idaman besok kan akan menikah, memang kau tidak iri? " Tanya Nath kepada Sammy.
" Eh? "
To Be Continued.