
Nathan menatap ponselnya tiada henti sembari berpikir. Di sana ada nomor telepon yang ragu-ragu ingin dia hubungi. Sudah seharian ini dia tidak bertemu dengan si pemilik nomor ponsel itu, ada perasaan penasaran tentang keadaanya. Siapa lagi kalau bukan Ivi. Wanita yang selalu membuatnya sebal tapi juga selalu membuatnya betah walaupun hanya saling menyindir dan memaki satu sama lain.
Nathan menghela nafasnya lalu meletakkan ponselnya kembali. Tapi pada akhirnya dia kembali mengambil ponselnya ingin menghubungi Ivi. Antara penasaran dan ingin tahu tapi gengsinya terlalu tinggi untuk ia kalahkan. Jadilah dia hanya bisa kembali menatap ponsel tanpa berani untuk menghubungi Ivi. Gadis menyebalkan tapi juga selalu membuatnya penasaran.
Tak mau membuang waktu akhirnya Nathan memutuskan untuk menemui Sammy dan memintanya agar segera menghubungi Ivi.
" Sammy! ''
Nathan melangkahkan kaki kesana kemari mencari keberadaan Sammy. Si bajingan tengik yang susah sekali di cari keberadaannya.
" Sammy! munculah kau! kalau tidak, aku akan menyunat batang hidung mu! "
Masih tida mendapati Sammy, Nathan memutuskan untuk menuju ke kamarnya Sammy dan menggedor pintu kamarnya beberapa kali.
" Woi..! Cu path kay! keluar! aku lapar! "
" Ckckck....! Kaka kedua sedang keluar. " Lili yang mendengar teriakan kakaknya akhirnya memutuskan untuk menemui nya.
" Pergi kemana dia? " Tanya Nathan kesal.
" Tidak tahu lah. Dia itu kan bujangan, biarkan saja dia pergi. Mungkin saja, dia ingin menemui kekasihnya. " Ujar Lili lalu mengigit apel hijau yang ia ambil saat melintasi meja makan tadi.
" Kekasih? memang siapa yang mau berpacaran dengan siluman babi? "
Lili menghela nafas. Kakak nya memang selalu bisa menghina Sammy tapi tidak mau dihina. Terkadang dia juga merasa kasihan kepada Sammy yang hanya menjadi bahan pelampiasan kakaknya. Apalagi saat kakaknya dipaksa untuk menemui gadis yang dijodohkan dengannya. Dia akan pulang dengan wajah kesal dan menjadikan Sammy sebagai bahan pelampiasan nya.
" Cepat suruh dia pulang! " Titah Nathan.
Lili atau Nathalie, terperangah lalu menatap kesal manik mata kakak laki-lakinya yang amat sangat menyebalkan itu.
" Hei kakak pertama alias siluman kera! mana boleh kakak seperti itu? jangan mengganggunya, dia pasti sedang mengerjakan sesuatu yang penting. " Lili menjebik lalu melangkah pergi.
" Tunggu Lili! "
Lili yang baru saja beberapa langkah beranjak, terpaksa menghentikannya lalu menatap kembali kakak nya.
" Apa? "
Nathan berdehem beberapa kali. Rasanya dia sudah tidak tahan lagi untuk berpura-pura.
" Aku lapar. " Ucap Nathan lirih.
" Makan lah sana! Memang aku ini Ibu? lagi pula, kakak kan sudah besar, apa mau disuapi? kalau minta disuapi, akan dengan senang hati aku lakukan. Tapi, aku akan menyuapi mu dengan kaki ku. " Ketus Lili.
" Aku tahu. Masalahnya aku tidak mau makan makanan yang ada di rumah. " Ucap Nathan lagi, masih dengan ekspresi wajah yang sama.
" Ya sudah kakak pesan saja. "
" Aku tidak mau makan sembarangan. "
" Kalai begitu, pesan saja dari restauran langganan Ibu. Di sana kan semua makanan nya teruji Healthy food. "
" Healthy food apanya? aku hanya ingin memakan makanan yang biasa aku makan. " Semakin lama, wajah Nathan semakin memelas. Tapi bukanya merasa kasihan, Lili justru ingin sekali mengulek habis kakaknya yang selalu menguji kesabaran itu.
Lili menarik nafas dan menghembuskan beberapa kali. Semoga saja dia bisa mendapati stok kesabaran dari sana.
" Kakak, sebenarnya kakak mau makan apa sih? " Kesal Lili.
" Aku, makanan yang biasa di makan saja." Setelah mengucapkan itu, Nathan mengalihkan padangan menahan gengsi.
Lili mengeryit bingung karena memang dia masih tidak paham apa yang dimaksud kakak laki-lakinya itu. Dia terus menatap manik mata Kakaknya agar menemukan jawaban dari kebingungannya. Lupakan saja! ternyata gadis cantik kembaran Nathania itu tidak dapat menemukan apa-apa dari mata kakak laki-lakinya.
" Maksud kakak sebenarnya apa sih? aku masih tidak paham loh. "
Nathan menghela nafas menahan kesal.
" Kak? kalau kakak bingung, lebih baik kaka masuk lagi kedalam kamar, lalu merenung sampai kakak menemukan makanan yang ingin kakak makan. Siapa tahu juga, kakak bisa kenyang hanya dengan memikirkannya saja. "
Nathan langsung menatap Lili dengan mimik yang terlihat keberatan.
" Enak saja! kau ingin aku berpikir sendirian? "
" Mau ku panggilkan penghuni satu RT untuk membantu kakak memikirkan makanan apa yang ingin kakak makan? "
Nathan berdehem tapi juga memaki di dalam hatinya. Sudah sulit sekali menahan diri untuk memberitahu maksudnya. Tapi kalau Lili tidak peka juga, peluang untuk bertemu gadis ayam goreng itu pasti akan sirna kan? apalagi ini sudah mau pukul tujuh tiga puluh. Kios ayam goreng itu kan tutup sampai pukul delapan malam.
" Ayam goreng sepertinya enak ya? " Nathan menoleh ke arah lain tak berani menghadap Lili apalagi menatap matanya.
" Minta saja pelayan untuk menggoreng ayam untuk mu. " Lili berucap enteng. Yah, meskipun kini sudah mulai paham, tapi dia ingin sekali membuat ego kakaknya sedikit menghilang.
Nathan kembali menatap Lili kesal.
" Tidak mau! aku mau ayam yang biasa di pesan oleh Sammy. "
Lili tersenyum miring menatap manik mata kakaknya yang mulai banyak berkedip dan tidak fokus. Tentulah dia sudah tahu menebaknya beberapa saat tadi.
Dasar, siluman kera! kelepasan juga kan akhirnya.
Lili mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Ivi agar mengantarkan satu porsi ayam goreng mentega ke rumahnya. Lili menaikkan sebelah alisnya setelah menghubungi Ivi dan tersenyum miring. Nathan yang mendapati ekspresi menyebalkan dari adiknya seketika mengalihkan pandangan karena tidak mau lagi terlihat rona malu dari wajahnya.
" Dasar tukang gengsi! sudah ya? aku harus segera ke kamar untuk menyiapkan bahan meeting besok pagi bersama kakek Rudi. "
Nathan menaikkan sisi bibirnya,. berkomat kamit tidak jelas dengan mata yang mendelik kesal saat Lili sudah beberapa langkah darinya. Tapi saat Lili berbalik arah, Nathan kembali ke ke posisi awal dan bersikap biasa saja.
" Cih! aku tahu kau sedang memaki ku kan? " Lili mendengus lalu pergi begitu saja karena sang kakak tetap diam tak mau menjawab.
Setelah empat puluh menit menunggu kedatangan Ivi dengan gelisah, akhirnya gadis yang sedari tadi membuat pikirannya tak tenang muncul juga.
" Selamat malam? " Sapa Ivi kepada Nathan yang berduri lalu mondar mandir tak jelas saat Ivi tidak senagaja melihatnya dari kejauhan sebelum penjaga gerbang membukakan gerbangnya.
Nathan tersentak lalu sigap berdiri tegak dan mengatur wajahnya agar tak terlihat sedang khawatir menunggunya.
Setelah menjawab sapaan dari Ivi dengan canggung, Nathan langsung meraih sekotak ayam goreng dari tangan Ivi. Kenapa? karena agar terlihat dia tengah gelisah menunggu ayam goreng, bukan Ivi.
" Baiklah, aku permisi dulu ya calon suami bohongan. Ayamnya sudah dibayar oleh Nathalie. "
Baru saja Ivi ingin melangkah, Nathan sudah lebih dulu menghentikannya.
" Tunggu! "
" Kenapa? "
Nathan terdiam sesaat untuk mencari alasan apa yang paling masuk akal untuk menahan Ivi disana.
" Aku tidak bisa makan sendiri. Nathania menginap di rumah nenek dan kakek ku. Nathalie sedang menyiapkan bahan meeting untuk besok. Sammy sedang pergi berkencan. "
Ivi menghela nafas kasarnya. Dia kan hanya bisa mengiyakan ucapan Nathan mulai dari sekarang.
" Jadi kau mau aku menemani, begitu? "
" Iya. "
" Oh, Ok. "
Jangan harap kau bisa menelan makanan mu dengan baik ya?
To Be Continued.