Touch Me!

Touch Me!
S2- Sedang apa?



Ivi menghempaskan tubuhnya di tempat tidur. Lelah seharian membantu Ibunya membereskan barang yang di beli Nathan. Dia bahkan tidak sempat pergi menemui Bos Ira karena sudah merasa lelah. Nathan juga langsung mandi karena sudah merasa sangat lengket tubuhnya. Selama di rumah Ivi dia benar-benar kepanasan. Memang ada kipas angin, tapi Nathan tidak terbiasa jadi memilih untuk menahan nya. Mau mandi dirumah Ivi pun dia tidak jadi karena tempatnya yang sempit dan juga dia tidak terbiasa memakai sabun batang, apalagi itu pasti digunakan oleh lebih dari satu orang. Cukup lama Nathan berada di kamar mandi karena seperti nya dia merasa belum juga bersih tubuhnya.


Tok..Tok...


Suara ketukan pintu membuat Ivi terbangun. Dia berjalan dengan wajah lelahnya untuk membuka pintu.


" Hai kakak ipar? " Sapa Nathania sembari mengangkat telapak tangannya untuk melambai.


" Nana? ada apa? "


" Dimana kakak pertama? " Tanya Nathania. Kepalanya celingukkan mencari keberadaan kakak laki-lakinya.


" Dia sedang mandi. "


" Oh, baiklah. Tolong sampaikan kepada kakak pertama ya, kakak ipar. Kak Be menunggunya di ruang tamu. "


Ivi mengeryitkan dahinya.


" Kak Be? siapa kak Be? "


" Kimberly, atau Berly. Dia teman kakak sedari kecil. Dia juga sudah kami anggap sebagai kakak kami. "


Ivi terdiam sesaat lalu mengangguk.


" Iya. Nanti akan di sampaikan. "


" Baiklah, aku kembali ke ruang tamu ya? "


" Iya. "


Ivi kembali menutup pintu kamarnya. Benar, dia kan sudah membaca pesan dari yang namanya Berly.


Dia ini benar-benar hanya teman kan? kalau lebih dari bagaimana?


" Apa yang sedang kau pikirkan? " Tanya Nathan yang baru saja keluar dari kamar mandi.


" Tidak ada. " Jawab Ivi dengan wajah kagetnya karena tidak sadar kalau Nathan sudah keluar dari kamar mandi.


" Kau tidak mandi? " Tanya Nathan.


" Mandi. " Ivi bangkit lalu berjalan menuju kamar mandi. Saat sudah sampai di pintu kamar mandi, Ivi mengentikan langkahnya karena teringat jika dia harus menyampaikan pesan kepada Nathan.


" Tadi Nathania memberi tahu kalau Berly menunggu mu di ruang tamu. " Ucap Ivi.


" Iya, Aku tahu. Maka cepatlah mandi dan kita temui dia bersama. " Ucap Nathan sembari memakai kaos polosnya.


Ivi mengangguk dengan bibir yang tersenyum. Dia pikir Nathan akan buru-buru keluar dan melupakan dirinya. Tapi ternyata Nathan malah mengajaknya. Ah! syukurlah, setidaknya dia tidak akan di lupakan secepat itu kan?


Beberapa saat kemudian, Ivi keluar dari kamar mandi dengan menggunakan jubah mandi dan handuk yang membungkus rambutnya. Dengan perasaan canggung dia berjalan mendekati lemari bajunya. Satu set baju memang sudah ia pegang, tapi kalau mau kembali ke kamar mandi sudah malas.


" Nathan? "


" Em? " Jawab Nathan yang sepertinya sedang fokus mengetik pesan.


" Tolong menghadap ke sana. " Pinta Ivi sembari menunjuk arah yang akan membelakanginya.


Nathan memang sempat menoleh, tapi dia enggan mengikuti apa yang Ivi katakan.


" Aku kan mau ganti baju. " Jawab Ivi.


Nathan tersenyum tipis lalu meletakkan ponselnya dan mulai bangkit dari posisinya. Dia berjalan ke arah Ivi dengan tatapan yang tidak tahu apa karena Ivi tidak paham tatapan semacam itu. Nathan terus berjalan meski kakinya sempat menabrak kaki Ivi. Untuk mengimbangi Nathan, Ivi memundurkan langkahnya terus, sampai tubuhnya menabrak lemari dan tidak bisa lagi untuk mundur. Tatapan mereka saling bertemu dengan intens. Nathan mengangkat tangannya lalu memegang wajah Ivi.


" Kenapa aku tidak boleh melihat? " Tanya Nathan yang semakin mendekatkan wajahnya seperti ingin mencium.


Tentu saja Ivi begitu gugup hingga kesulitan untuk menelan salivanya sendiri.


" Bu bukanya tidak boleh, aku cuma ma emmm.... " Ucapan Ivi terhenti karena Nathan sudah lebih dulu membungkam mulut nya dengan sebuah ciuman. Sejenak mereka melepaskan diri untuk mengambil nafas dan kembali menautkan bibirnya.


Lama, dan semakin kama ciuman itu menjadi buas menuntut untuk melakukan hal yang lebih. Tadinya Nathan hanya ingin sekedar mencium dan menggoda Ivi saja, tapi siapa yang sangka kalau dia justru yang sudah tergoda. Tak mau membuang waktu, Nathan menarik tali yang membuat jubah baju Ivi terkunci dan mulai menjalankan tangannya saat bagian depan jubah mandi itu sudah terbuka. Mulanya tentu Ivi merasa malu dan risih dengan apa yang sedang Nathan lakukan. Tapi kembali dia mengingat petuah dari Ibu mertua dan Ibu nya sendiri untuk mengimbangi Nathan. Ditambah lagi hari ada Berly. Kalau dia sampai menolak, lalu Nathan melakukannya dengan Berly, hah! tidak boleh! tidak akan! Nathan adalah miliknya!! Batin Ivi yang tengah bergelora.


" Emh..." Lenguh Ivi saat satu tangan Nathan menyentuh salah satu bagian dadanya. Tidak tahu lah, pokoknya suara kurang ajar itu tidak tertahankan lagi. Perlahan Nathan mulai menurunkan satu tangannya yang sedari tadi menahan tengkuk Ivi, kini sudah berada di pinggang nya. Erat ia memeluk pinggang Ivi fan sebelah tangan nya memainkan benda kembar Ivi secara bergantian. Merasa cukup puas tangannya memainkan benda itu, Nathan berniat menurunkan tangannya menuju sesuatu yang begitu sensitif. Tapi sayang, ternyata ini bukanlah waktu yang tepat untuk kikuk kikuk.


Brak.....!


" Than than! mau seberapa lama lagi kau berada di kamar?! "


Bukan hanya Ivi dan Nathan saja yang terkejut, tapi beberapa orang yang kini berada di ambang pintu juga tak kalah terkejut melihat keadaan sepasang suami istri itu. Nathan yag tadinya hanya bisa melotot menatap Berly, dan adik kembarnya, kini dia teringat dengan jubah mandi Ivi yang sudah terbuka bagian depannya. Sontak dia melihat Ivi dan untunglah, Ivi sudah lebih dulu membenahi bajunya.


" Ma maaf! a aku lupa kalau kau sudah menikah. " Ucap Berly lalu dengan cepat menutup kembali pintu kamar Nathan. Berly memegangi dadanya yang bergerumuh kaget.


" Kak Be, tadi mereka sedang mau membuat anak ya? " Tanya Nathalie yang masih terdiam karena terkejut dengan apa yang dia lihat.


" Se sepertinya begitu. " Jawab Berly yang juga tak kalah terkejut. Sejujurnya dia tida percaya jika Nathan dengan mudahnya menikah. Tapi melihat Nathan yang begitu rakus melahap bibir istrinya benar-brnar menjadi bukti bahwa Nathan tetaplah manusia biasa. Mengingat bagaiman aksi Nathan dan istrinya, Berly tanpa sadar merona malu.


" Si sialan! aku jadi ingin menikah kalau begini. " Ujar Berly lalu berjalan meninggalkan kamar Nathan.


" A aku juga. Aku jadi ingin menikah. " Ujar Nathania yang juga masih bengong karena kaget.


" Lili, apa kau lihat tadi? kakak ipar hampir telanjang. " Tanya Nathania.


" Aku tidak buta! tentu saja aku lihat. Tapi tadi, tangan kakak pertama mau melakukan apa ya? " Tanya Nathalie balik.


" Se sepertinya, ta tangan kakak pertama mau memegang itu. " Jawab Nathania malu.


" Sialan! aku jadi ingin menikah juga! " Ujar Nathania kesal.


" Menikah saja dengan Zadet. Paman Lexi kan sudah meminta mu menikah dengannya. "


" Sialan! meskipun Zadet itu snagat tampan, aku tidak sudi menikah dengan playboy seperti dia. " kesal Nathania.


" Kau juga! bagaimana kalau kau menikah dengan Keenan? " Usul Nathania.


" Keenan itu terlalu dingin dan ketus. Mulut licik dan beracun itu selalu mengingat kan ku dengan kakak pertama. Setiap kali aku bertemu dengannya, aku ingin sekali menyumpal mulutnya saat ingin berbicara. "


Nathania tersenyum.


" Sepertinya kalian berjodoh ya? "


Nathalie melotot kesal.


" Jodoh jidat mu! "


To Be Continued.