Touch Me!

Touch Me!
S2- Bertemu Nyonya Marhen



Setelah berpikir seharian dan juga mendapatkan saran dari Ibu mertuanya, Ivi akhirnya memutuskan untuk menemui Nyonya Marhen di rumah sakit. Tentu saja ada Nathan yang selalu berada disampingnya. Pasangan suami istri yang hanya akur saat berada di atas ranjang, kini terlihat akur dengan jemari yang saling mengait mesra. Awalnya Ivi sungguh sangat tidak ingin menemui Nyonya Marhen karena tidak mau berurusan lagi dengan keluarga Marhen. Nathan juga hanya bisa mengikuti saja apa yang di inginkan oleh istrinya. Bukanya tidak perduli dengan mertuanya, tapi dia cukup paham kenapa Ivi tidak ingin ada hubungan lagi dengan Ibu kandungnya. Tapi saat Sammy meminta tolong kepada Vanya untuk berbicara kepada Ivi, barulah hati Ivi sedikit meluluh dan sudi untuk menemui Ibu kandungnya yang juga terlihat sekali sangat terpukul.


Nyonya Marhen menatap Ivi yang baru saja masuk kedalam bersama dengan Nathan. Di sana juga ada Salia dan Salied. Nyonya Marhen mulai menitikkan air mata seraya Ivi dan Nathan berjalan mendekat ke arahnya. Sungguh dia ingin bangkit dan memeluk erat tubuh mungil putrinya.


Salied juga sama. Dia juga ingin sekali memeluk erat adik yang selama ini dia rindukan. Tapi sudah pasti, Ivi tidak akan sudi jika dia melakukan itu. Sungguh sangat sakit melihat orang yang dirindukan selama tiga belas tahun tapi tidak memiliki kesempatan untuk memeluk tubuhnya. Salied mengeraskan rahang menahan air matanya agar tidak jatuh di hadapan Ivi. Walau bagaimana pun dia masih bisa melihat tatapan benci di mata Ivi.


Salia tertunduk karena tidak ingin terlihat malu. Bukan hanya malu saja, tapi dia juga begitu tidak sanggup melihat wajah Ivi. Wajah adik nya, wajah gadis yang harusnya ia sayangi tapi malah ia khianati dan ia sakiti secara berulang-ulang. Padahal dia pernah memantapkan diri untuk bersujud di kaki Ivi dan memohon ampun untuk segala kesalahan dan ke egoisan yang ia lakukan.


" Selamat pagi, Nyonya Marhen. Bagaimana keadaan anda hari ini? "


Nyonya Marhen menyeka air matanya cepat saat Nathan menyapanya. Dia mencoba sebaik mungkin untuk tersenyum di hadapan menantunya itu.


" Sudah lebih baik. Bagaimana kabar kalian? "


" Kami juga baik. " Nathan menatap ke arah Ivi sesaat dan tersenyum ke arah Nyonya Marhen. Nathan hanya bisa terus merespon ucapan Nyonya Marhen karena istrinya terlihat enggan untuk menjawab.


Salied mengepalkan tangan kuat untuk mencari kekuatan dari sana. Sungguh dia sudah tidak tahan berada di posisi sekarang ini. Dia dan adik sulungnya begitu dekat, tapi jarak batin mereka begitu jauh seakan sangat sulit untuk tergapai.


" Silvi, boleh beri waktu kakak untuk bicara? mau kan kau mendengar kakak? "


Ivi tak menjawab. Sedari tadi juga pandangannya sama sekali tak tertuju kepada Salia, Salied ataupun Nyonya Marhen. Dia lebih memilih untuk menatap ke sembarang arah yang penting bukan wajah dari ke tiganya. Nathan menoleh ke arah samping dimana istrinya berada. Nampaknya Ivi sama sekali tidak berniat untuk membicarakan masa lalu nya. Tapi tatapan memohon Salied, serta matanya yang memerah menahan tangis membuat Nathan berpikir jika sepertinya harus di luruskan semua masalah ini agar jelas dan tidak mengganjal di hati satu sama lain.


" Aku tunggu di luar saja. " Ucap Nathan tapi Ivi dengan cepat mengeratkan genggaman tangan mereka seolah berkata untuk Nathan jangan pergi meninggalkannya.


" Maaf, tidak jadi keluar. " Ucap Nathan lagi.


" Tidak. Semua ini terjadi karena Ibu. Jadi tolong dengarkan Ibu. Ibu tahu kau pasti sangat membenci Ibu, tapi tolong dengarlah penjelasan Ibu. Semua yang terjadi benar-benar di luar dugaan Ibu. " Ibu menatap wajah Ivi dengan tatapan memohon hingga ia menitikkan air matanya lagi.


" Dengar Nak, saat itu Ayahnya dan juga bibi kalian berselingkuh. Ibu tidak sengaja memergoki mereka. Sebagai seorang istri, pastilah Ibu marah dan kecewa. Ibu berpikir jika Ibu menggertak Ayah mu, pasti Ayah mu akan memilih untuk kembali kepada keluarganya. Tapi untuk berjaga-jaga, Ibu meninggalkan mu dengan Ayah mu. Ibu tahu Ibu salah. Tapi, kau adalah anak yang paling dekat dengan Ibu. Ibu tahu kau pasti akan menangis dan merengek meminta untuk bertemu Ibu. Maka dari itu Ibu meninggalkan mu disana. Seharian Ibu menunggu mu datang. Tapi sama sekali tidak ada kabar. Sampai ke tiga harinya, Ibu mendengar kalau Ayah mu sudah menikah lagi dengan Bibi mu. Ibu marah, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Ibu sungguh sudah berusaha untuk menemui mu. Tapi Bibi mu mengusir Ibu pergi. "


Ivi mengepal tangannya hingga Nathan juga bisa merasakan kuatnya kepalan tangan Ivi yang menekan jemarinya. Sungguh dia sudah begitu tidak ingin mendengar apapun, karena kalau dia mendengarkan cerita Ibunya, dia takut akan goyah dan luluh. Selana ini dia sudah terbiasa menjadi kuat karena luka masa lalu. Tapi kalau tiba-tiba Ibu dan kedua kakaknya juga menderita, dia belum siap untuk menghadapinya.


" Setiap hari Ibu menghubungi Ayah mu dan memohon untuk bertemu dengan mu. Tapi Ayah mu tidak memberikan izin sama sekali. Saat Ibu datang ke rumah Ayah mu, security disana pasti akan mengusir Ibu. Salied juga sudah berusaha untuk bertemu dengan mu. Tapi Ibu tahu dia juga gagal. Setelah itu, tiba-tiba Ibu dengar kalau kau Ayah mu dan Bibi pindah ke luar negeri. Ibu kelabakan mencari informasi tapi tidak mendapatkan apa-apa. " Nyonya Marhen menghentikan ucapannya karena tidak sanggup menahan tangisnya lagi. Terus berbicara dengan suara bergetar menahan tangis sungguh membuat kerongkongannya tersengal hingga beberapa kali.


" Berhentilah bicara omong kosong. Aku tidak akan mempercayai kalian atau pun laki-laki itu. " Ucap Ivi yang masih saja enggan menatap Ibunya.


" Tidak! " Salia yang sudah tidak kuat lagi akhirnya juga ikut berbicara.


" Ibu tidak berbohong! sehari setelah kami pergi, Ibu membeli semua barang perlengkapan untuk mu. Baju, sepatu dan semua yang kau butuhkan. Tapi kau tak kunjung datang. Bukan hanya sehari dua hari, tapi sepanjang tahun dan disetiap malam Ibu memandangi baju-baju mu sembari menangis. Ibu tidak pernah tidur dengan tenang. Jika kau pikir aku berbohong, maka datang lah kerumah dan lihatlah kamar yang pintunya warna merah. Warna yang paking kau sukai sejak kecil. Di sana masih tersusun rapi semua baju-baju yang sudah Ibu siapkan untuk mu. "


Ivi menatap marah Salia.


" Aku tidak pernah memintanya. "


" Aku tahu. Aku juga bersalah. Aku akui, aku adalah orang yang menyebabkan semua luka yang kau alami. Bukan Ayah, bukan Ibu, bukan kakak, tapi aku. Aku lah yang bersalah. Hukum saja aku. Pukul aku sebanyak pukulan yang kau dapatkan. Lakukan dan lampiaskan saja padaku. "


" Apa yang kau katakan? " Tanya Ivi.


" Aku, " Salia mengepalkan tangannya kuat sebelum melanjutkan pembicaraannya.


" Saat di pusat belanja dulu, aku melihat mu berlari ke arah ku. Tapi aku dengan sengaja mengajak Ibu pergi dengan alasan sakit perut. "


To Be Continued.