
Jika beberapa waktu yang lalu Lexi begitu acuh tak acuh, maka lain hal nya sekarang ini.
Dia harus menghadapi tatapan seorang wanita paruh baya dihadapannya. Belum lagi, ada tatapan membunuh yang seolah menusuk ke lubang hidung. Eh,!!!! bukan! ke jantung Lexi maksutnya.
" Nak, jadi, siapa namamu? " Lagi, tatapan wanita paruh baya itu, membuat Lexi bergidik ngeri. Bagaimana tidak? jika diumpamakan, seperti tatapan singa yang sedang menandai mangsanya.
" Le, Le,.. " Sungguh! rasanya mulut Lexi kehilangan tenaganya. Baik dari tatapan mata Ibunya Devi, dan juga tatapan Devi yang sangat menakutkan. Lexi yang biasanya lancar berbicara, kini hanya lesu dan terbata-bata ucapannya.
Ibunya Devi menunggu jawaban dengan tatapan lembut tapi terkesan tegas. Bibirnya tersenyum tapi matanya sangat tidak bisa dibohongi jika wanita itu sangat menakutkan.
" Jadi namamu, Lele? Ibumu kenapa memberi nama jenis ikan padamu? " Tanya Ibunya Devi.
" Bu, bukan. " Lexi masih membantahnya meski gugup.
" Lalu? " Ibu Devi kembali menatap Lexi dengan tatapan yang sebelumnya.
Lexi kembali mengumpulkan keberaniannya. Rasanya, melihat Ibunya Devi membuat nyalinya seketika menciut. Apa mungkin, dia takut benar-benar tidak bisa lepas dari Ibunya Devi yang selalu tersenyum misterius itu?
" Lexi. " Sudah tidak bisa lagi mundur. Lebih baik, sekarang ini ikuti saja alurnya. Baru rundingkan lagi dengan gadis bermulut kubangan itu. Batinnya.
Ibunya Devi tersenyum.
" Apa pekerjaanmu, nak Lexi? "
" Asisten Sekretaris, Bibi. " Jawabnya yang sudah tak lagi gugup.
Ibunya Devi nampak cemberut. " Jangan panggil Bibi. Panggil saja Ibu.
Dar....! Der.......! Dor........!
Jantung Lexi seolah sedang dipenuhi bunyi petasan.
Ibu? Ibu ya?! bagaimana ini? kalau aku bilang kita bukan sepasang kekasih, dia pasti akan memaki atau memukuli ku kan? aku sudah sembarangan mencium anak gadis orang di depan Ibunya lagi..... Ya ampun.... Tuhan,... tolong selamatkan aku kali ini.
Didalam hati Ibu.
Wuah.....! namanya sangat tampan. Persis seperti orangnya. Pekerjaannya juga lumayan. Dia tidak akan membuat anakku makan tanah. Sungguh....! menantu idaman. Lihat saja Nak Lexi. Aku akan menikahkan kalian dan membuat pesta tiga hari tiga malam non stop. Ah,.. rasanya ingin memberi lebel di tubuhmu. Calon menantu keluarga Hendrawan. Kikiki.... Ibu terkekeh didalam hati.
Sementara Devi. Sedari tadi, dia sibuk memelototkan matanya. Bibirnya bergerak-gerak entah apa maksutnya. Lexi yang tidak sengaja melihat, hanya bisa menyimpulkan, jika gadis itu pasti sedang mengomel dan memaki tidak jelas. Tapi, yang aneh adalah, Lexi justru terhibur melihat gadis itu. Apa yang dia lakukan benar-benat terlihat konyol dan lucu.
Dasar sekretaris bodoh! homo! brengsek! jika bukan karena mu, aku tidak akan mendapat masalah seperti ini.
" Nak, jadi kapan kau akan membawa orang tuamu menemui kami? " Ibu Devi tidak mau membuang waktu. Dia harus terus mengeratkan belenggunya agar si mangsa tidak bisa kabur.
Orang tua?! yang benar saja! aku tidak mau menikah dengan wanita itu! bisa-bisa aku cepat mati. Sudah pasti, aku akan mendengar mulutnya menyumpahi dan memakiku setiap hari.
Sementara yang ada di batin Ibunya Devi.
Dengar calon mantu,.. aku tidak akan menyia-nyiakan mu. Jika kau menikah dengan anakku, aku akan sangat baik padamu. Kalau suatu hari kau tidak tahan dengan sifat anakku, aku harap, putriku sudah memiliki anak darimu. Atau minimal, dia sudah mengandung anak mu.
" Masalah itu, aku belum,.. eh, maksutnya, Aku dan Devi belum siap untuk menikah. Iya kan, Sayang? " Tatapan Lexi beralih ke Devi. Wanita yang semakin menatapnya jengkel.
" Tidak Ibu. Sebenarnya, aku dan dia,...
" Sayang! sudah lah, kita akan membicarakan ini nanti. " Lexi menatap Devi dengan tatapan memohon.
Devi hanya menanggapinya dengan tatapan sinis. Dia tadinya ingin mengatakan yang sebenarnya.
Ibu hanya bisa menatap Lexi dan Devi bergantian. Wajahnya sedikit terlihat kesal melihat mimik wajah Lexi.
Dasar gadis bodoh! kenapa menatap Nak Lexi bengis begitu?! dasar bodoh! apa tidak bisa? sebentar saja, menjadi gadis lembut seperti di drama-drama? Apa tidak bisa bersikap shy shy cat? dasar tidak berguna! kenapa kau tidak mewarisi ilmu Ibu? dulu, aku ini sangat handal meluluhkan hati pria. Tapi naas sekali. Anak ku malah tidak ada bakat hebat seperti itu.
" Jadi, sampai kapan kalian akan saling menatap? " Suara Ibu mengalihkan pandangan dari dua insan yang duduk saling berseberangan. Tapi tatapannya, tak henti-hentinya mereka saling menatap. Sok-sokan bicara bahasa mata. Ibu kan sudah memiliki keahlian di bidang itu. Tentu saja Ibu bisa mengerti maksut dari tatapan mereka saat saling bertemu.
" Eh? " Aku sampai tidak sadar dan melupakan ada ibunya Selendrina disini. Eh, maksutnya si mulut kubangan.
Devi menatap Ibunya tajam.
Ibu, aku adalah anakmu. Tentu saja aku mengerti maksutmu. Ibu kenapa kau begitu murahan? aku tidak mau menikahi laki-laki homo ini. Percuma saja kan menikah dengan dia. Tongkat nya tidak akan bangun saat melihat wanita. Memang aku harus menikah tanpa uwu-uwu begitu?
Ibu membalas tatapan Devi. Iya, dia bisa menyimpulkan penolakan dari Putrinya.
Dasar anak tidak berguna! berani-berani nya membantah ku! bersikap anggun dan malu-malu! jangan seperti preman! kau harus memikirkan umurmu. kapan lagi bisa memiliki mantu yang sempurna seperti ini. jangan menghalangi jalanku! menunggu mu mencari jodohmu sendiri, sama saja menunggu bulan jatuh ke bumi.
Ibu dan Devi semakin lekat bertatapan. Bengis. Itulah yang bisa Lexi lihat dari keduanya.
Lexi hanya bisa melihat ke kanan dan ke kiri. Tepat dimana kedua wanita itu sedang berperang dengan tatapan bengis mereka.
Aku pikir, Ibu dan Ayahku adalah orang tersadis di muka bumi ini, tapi ternyata,... ada lagi yang lebih dari orang tuaku. Ibu..... Ayah...... tolong jemput aku! bawa aku pulang dan nikahkan aku dengan siapapun yang penting aku bisa selamat dari orang-orang ini.
***
Di rumah Lexi. Ibu dan Ayah sedang dirundung rasa kesal bercampur bingung. Gadis yang ia jodohkan dengan putranya, baru saja menghubungi mereka lewat telepon. Dia menceritakan apa yang terjadi malam ini.
Ayah Lexi menghela nafasnya sembari meraih cangkir di mejanya. Menyeruput teh untuk mengurangi stres di kepalanya.
" Ayah, apa menurutmu dia hanya mengada-ada? " Tanya Ibunya Lexi.
" Tidak tahu. " Bagaimana dia tahu? wong dia saja ada dirumah bersama Ibu kan? apa Ibu menganggap ikatan batin antara Ayah dan anak sangat kuat? sehingga mampu mendeteksi hati dan pikiran anaknya? tidak masuk akal!
" Ayah kenapa tidak tahu?!!!!! " Tanya Ibunya Lexi dengan nada membentak.
Brep.......!
Ayah tak sengaja menyemburkan teh yang sedang ia seruput. Untung saja, tidak mengenai Ibu. Kalau sampai itu terjadi, penindasan lah yang akan Ayah terima.
Nak, Ayah berharap, kau bertemu dengan istri yang baik, lembut, lucu, penyayang, tidak suka membentak. Dan, istri yang tidak bisa mengendalikan hidupmu sesuka hatinya. Batin seorang Ayah yang sudah merasakan bagaimana memiliki istri galak seperti Ibunya Lexi.
To Be Continued.