
Udara pagi yang dingin membawa segumpal kehangatan bagi sepasang anak manusia yang kini terlelap sembari saling memeluk. Mentari yang bersinar hangat menyinari bumi sepertinya tidak bisa dikalahkan dengan kehangatan yang di hasilkan dari dua tubuh tanpa busana yang masih saja erat saling memeluk. Tidak ada suara burung, melainkan suara deburan ombak bergantian mengisi suasana sunyi.
Plak...! Plak......!
" Ah....! sialan! " Kesal Kenan karena sedari malam dia ikut tidur di mobil bersama Sammy dan Zadet. Sudah banyak sekali nyamuk, belum lagi ditambah dia bermimpi tsunami terus menerus, kalau pun bukan tsunami, yang ada dia bermimpi terbawa oleh banjir bandang. Sial! pilihan untuk tidur di mobil dengan kaca terbuka benar-benar pilihan yang buruk.
" Kakak kedua, bangun! " Keenan mengguncang kuat tubuh Sammy yang justru masih saja mendekur asik.
" Hem...! " Sammy menggeliat tapi terlihat masih enggan untuk membuka mata. Zadet pun sama. Pria itu benar-benar seperti patung batu saat tertidur. Padahal dari semalam dengan jelas dia melihat posisi tidur Zadet dan sampai pagi pun, dia tidak berubah posisi. Sungguh sangat menyeramkan. Batin Keenan menggerutu.
" Kalian masih saja mau tidur? " Tanya Keenan yang sama sekali tidak mendapatkan respon dari Sammy dan Zadet.
" Ah.....! tsunami!!! " Teriak Keenan.
" Diamlah! berdoa saja supaya ada sedikit tempat untuk kita masuk surga." Jawab Zadet tanpa mau membuka matanya sedikit pun.
" Dasar gila! bagaimana mungkin kalian bisa tidur di tempat begini? coba lihat kakak pertama? dia asyik saja pindah ke kamar dan berpelukan dengan wanitanya. Semetara kita? kita malah begitu membuang waktu mengkhawatirkan orang yang sedari malam asik membuat anak. Baru saja satu jam mereka berhenti, sudah ah, ih, uh, eh, oh, lagi. Kalian coba pikir pakai dengkul kalian. Kita ini sebenarnya sedang apa? kita bahkan menginap di sini, apa yang kita tunggu? " Protes Keenan.
" Ck! mulut mu tidak punya rem ya?! " Kesal Zadet dan akhirnya membuka matanya lebar.
" Maaf, rem di mulut ku los karena sering datang ke rumah mu dan mengobrol dengan Ibumu. " Ujar Keenan lalu nyengir tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Sammy yang mulai terusik dengan mulut Keenan, mau tidak mau terganggu dan mulai membuka matanya lebar.
" Jam berapa sekarang? " Tanya Sammy sembari mengusap matanya.
" Jam tujuh siang. " Jawab Keenan.
" Pagi, bodoh! " Saut Zadet.
" Ck! kau tidak tahu ya?! pukul enam aku belum bangun, Ibuku sudah seperti sirine yang begitu bising dan menggelegar. Keenan! kau pikir kau pemilik dunia hah? bangun dan tidur sesuka mu? kau tidak tahu kalau matahari sudah berada di atas kepala? "
Sammy dan Zadet menahan tawa melihat cara Keenan mempraktikkan bagaimana cara Ibunya memarahi.
***
Sementara di sebuah ruangan yang tak lain adalah tempat tidur, Nathan perlahan-lahan mulai mengerjapkan mata. Iya, dari awal menikah dengan Ivi, dia lah yang selalu bangun lebih pagi. Saat matanya terbuka lebar, dia tersenyum mendapati wajah Ivi yang ada di hadapannya. Dia juga dengan jelas bisa merasakan tangan dan kaki Ivi menindih tubuhnya. Di yang paling jelas lagi, benda kembar Ivi juga begitu terasa menempel di kulitnya. Sungguh indah ya kalau sudah menikah. Melihat dada dan paha mulus gratis setiap hari.
" Sedari tadi kau tersenyum melihat ku, apa kau sedang mengagumi wajah cantikku? " Ivi seketika langsung membuka matanya.
Hilang sudah senyum bahagia di wajah Nathan.
" Percaya diri sekali. Lihatlah, air liur mu mengalir seperti samudera di laut lepas. " Nathan lanagung mengubah posisinya dan memunggungi Ivi.
Samudera di laut lepas? membingungkan sekali.
Ivi mengusap wajahnya karena takut apa yang di katakan Nathan memang benar. Tapi iya juga sih, dia memang selalu ileran kalau sedang tidur. Tapi alangkah memalukan sekali kalau pas berhadapan dengan jarak sedekat tadi, dan ternyata yang diperhatikan Nathan adalah air liur nya yang seperti banjir bandang? hah!! kubur diri saja karena tidak sanggup menahan malu.
" Sialan! " Umpat Ivi yang mendapati sisa air liur di sisi bibirnya.
Melihat dirinya yang kacau, Ivi tiba-tiba kembali teringat dengan apa yang dilakukan nya semalam. Mulai dari berciuman, Nathan yang memegang aset berharganya, lalu melakukanya, juga melakukannya lagi di kamar. Luar biasa! malu? tidak! tapi Ivi merasa bangga.
Heh! aku ternyata hebat juga ya? hihihi... memang benar apa yang dikatakan Ibu mertua. Kalau rasanya seperti itu sih, tiap malam juga tidak apa-apa.
Ivi dengan cepat membenahi mimik wajahnya. Walau bagaimanpun, dia adalah seorang poerempuan yang harus jual mahal. Jangan sampai terlihat begitu murahan apalagi tersenyum seperti gadis cilik yang habis mendapatkan lolipop. Setelah dia bisa mengontrol dori, Ivi dengan jelas mengingat jika pakaiannya ada di ruang tamu. Tidak mungkin kan dia berjalan ke luar kamar tanpa pakaian?
" Nathan? " Panggil Ivi seraya menggoyangkan lengan Nathan.
" Em? "
" Boleh minta tolong? "
Ivi menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan. Sepertinya pria itu memang memiliki masalah kepribadian. Sedikit-sedikit marah. Kalau sudah marah, tidak lihat tempat dan situasi. Ivi tersenyum jahil. Dia kembali melorotkan tubuhnya lalu mencolek pantat Nathan.
" Ivi! " Pekik Nathan karena merasa kaget dan juga geli. Sungguh dia tidak menyangka kalau Ivi benar-benar tidak kalah mesum dari Ibunya sendiri.
" Nathan, tolong ambilkan baju ku. " Pinta Ivi lalu tersenyum manis setelahnya. Memang cukup bereaksi rupanya, bukti nya Nathan tersipu malu melihat wajah Ivi yang tersenyum begitu indah di hadapannya.
" Ambil saja sendiri. " Ujar Nathan lalu kembali merebahkan tubuhnya. Nathan menutupi wajahnya dengan selimut karena tidak sanggup lagi menahan bibirnya yang ingin sekali tersenyum. Semalaman dia sudah merasa bahagia, ditambah lagi melihat wajah Ivi yang begitu manis. Benar-benar hari yang indah.
Ivi menghembuskan nafas kasarnya. Kalau dia menarik selimut itu dan membawanya untuk menutupi tubuhnya, yang ada pasti akan seperti dulu lagi. Nathan akan menahannya, lalu mereka akan saling tarik menarik selimut. Dan pasti, salah satu dari mereka akan kehilangan penutup. Yah, kalau Nathan yang kalah sih, lumayan juga untung happy morning, tapi kalau Ivi yang kalah, malu juga kan?
Ivi kembali mencolek pantat Nathan.
" Ivi! " Nathan berbalik arah lalu menatap Ivi. Untuk sekedar mengerjai Ivi, Nathan akhirnya menindih tubuh Ivi dan mengunci tubuh mungil itu di kungkungan nya.
" Apa kau sengaja? " Tanya Nathan laku menyeringai.
Ivi terperangah melibat seringai licik dari wajah Nathan.
" Sialan! senyum macam apa itu?! "
" Tentu saja ada maksud. Misalnya, seperti ini. " Nathan mulai mencium singkat bibir Ivi.
Ivi yang tidak bisa bergerak akhirnya hanya bisa berkedip. Lagi pula, dia juga cukup terpesona oleh wajah tampan Nathan saat bangun tidur.
Sialan! lagi-lagi aku yang sulit menahan diri.
Nathan kembali mencium bibir Ivi. Lama kelamaan dia menjadi begitu agresif dan terjadilah yang seperti semalam.
***
Sammy, Zadet, dan Keenan yang sudah tidak tahan lagi karena sudah merasa lapar, akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam rumah. Bukan tanpa alasan, sekarang ini sudah pukul delapan dan tidak mungkin mereka belum angin kan? mereka juga tidak sanggup kalau harus mencari tempat sarapan yang sudah pasti sangat jauh.
" Ya ampun! Ckckck. " Keenan dan yang lain hanya bisa menggeleng heran melihat pakaian Nathan dan Ivi masih berserakan di lantai ruang tamu.
" Sepertinya mereka belum bangun. " Ujar Zadet.
" Sudahlah, pura-pura saja tidak lihat baju mereka. Ayo kita ke dapur. Cari makanan yang bisa kita makan. " Ajak Sammy.
" Ah....! "
Mendengar suara itu, mereka kompak menghentikan langkahnya. Bukan hanya kompak menghentikan langkahnya saja, mereka juga kompak menelan ludah.
" Kakak kedua, apa kita perlu berpura-pura tidak dengar juga? " Tanya Keenan.
Sammy menghirup nafas dengan wajah kesalnya.
" Sialan! pura-pura kepala mu! memang kalian bisa menelan makanan kalian dengan baik kalau mendengar suara angker itu? "
" Jadi? " Tanya Zadet.
" Balik badan dan cabut. " Jawab Sammy.
" Mau taruhan durasi tidak? " Tawar Keenan.
" Tidak mau! " Tolak Sammy.
" Iya, tidak usah. Kakak pertama sedang lupa kalau dia manusia. Dia benar-benar menganggap dirinya mesin yang tidak kenal lelah. "
To Be Continued.